
ELSI
Rasa nya malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur di hari yang dingin seperti sekarang.
Hari libur begini emang enak nya leyeh leyeh seharian di kasur.
Tetapi aku teringat bahwa keperluan bulanan ku sudah habis.
Sabun, Shampo, parfume, dan bedak ku sudah meronta ronta untuk di isi ulang. Seminggu sudah mama memberi ku uang untuk membeli nya. Tapi sampai sekarang aku belum pergi pergi juga.
Aku mengambil notes andalan ku dan pergi ke rak tempat dimana aku menyimpan barang barang itu.
Aku mencoba mengecek nya satu satu, apa saja yang perlu ku beli.
Selesai mencatat semua nya aku menutup buku ku dan berdiri, tetapi tangan ku menyenggol satu rak.
Isi nya tumpah berhamburan ke lantai. Rak yang isi nya perlengkapan kewanitaan ku. Semua pembalut itu berserakan di lantai.
Dengan malas, aku kembali berjongkok memunguti nya.
Sebentar...
Seperti nya aku tersadar sesuatu.
Kenapa rasanya lama sekali sudah aku gak menyentuh barang barang ini?
Kulihat jumlah nya, masih banyak sekali. Kuambil kalender yang ada di meja ku. Kapan terakhir aku haid ya?
Aku mengangkat bahu ku mencoba tidak perduli dan menaruh kembali kalender ke atas meja.
Ku lanjut kan memberes kan pembalut yang berserakan tadi dan mengambil jaket ku bersiap untuk segera berangkat.
Pasti karna selama ini aku stress menyebab kan aku sudah tidak datang bulan selama ini.
Setidak nya itu yang pernah ku baca, Stress mempengaruhi hormon mu.
Stress karna tugas yang menumpuk juga karna kasus dengan bang Nanda kemarin.
Sampai di mini market dekat rumah ku, aku segera mengambil keranjang dan mulai berbelanja.
Aku membuka note yang sedari tadi ku simpan di kantong jaket ku. Jujur saja, jika aku tak mencatat apa saja yang hendak ku beli, pulang pulang yang tadi nya hanya ingin membeli 3 barang berakhir dengan 1 kantongan besar.
Aku memang kalap jika ketempat tempat seperti ini, suka belanja yang tidak ku perlukan. Yang ujung ujung nya pasti kena omel mama dirumah. Karna uang yang dia beri pasti habis dan tidak jarang malah tekor.
Seperti sekarang ini, aku terlena di rak rak yang memajang bermacam macam parfume. Aku ini "budak" kemasan. Aku gak bisa melihat sesatu barang yang kemasan nya yang lucu lucu.
Dengan tidak sadar pasti aku langsung membeli nya. Butuh atau tidak, aku pasti mengambil nya tanpa berpikir dua kali.
Mungkin ada sekitar 30 menit aku berkeliling di minimarket yang kecil ini. Entah, aku suka saja melihat barang barang ini satu persatu.
Sampai akhirnya aku berdiri di depan rak obat obatan. Aku mengambil 1 kotak obat tetes mata. Aku ingat jika dirumah obat tetes mata ku sudah sisa di ujung botol.
Tidak berhenti di situ saja, aku masih berdiri mematung memperhatikan barang barang yang terpajang disana.
Padahal ini cuma setumpuk obat obatan loh. Kenapa aku juga berlama lama disini.
Pandangan ku tertuju dengan satu barang disana. Entah kenapa aku terahlikan dengan nya.
Lama sekali aku mematung melihat nya.
__ADS_1
Tunggu, kenapa aku begini.
Aku menyadarkan diriku dengan menepuk nepuk wajah.
Apaan sih El? Kamu gila ya?
Aku segera pergi ke kasir dengan keranjang yang sudah terisi penuh.
Selama di kasir perasaan ku gundah sekali. Masih memikirkan apa yang kulihat tadi.
Elo udah gila ya? Kenapa jadi ingin membeli nya? Untuk apa? Konyol sekali.
Aku terkekeh sendiri mengingat kebodohan diri ku sendiri. Aku ingin cepat cepat membayar semua nya dan pergi dari sini.
Tapi antrian di depan ku panjang sekali. Sekitar 15 menit baru ada kesempatan ku untuk membayar. Itupun karna pintu kasir yang lain telah dibuka. Karna melihat antrian yang lumayan panjang.
Aku mengeluarkan semua barang ku di atas meja kasir, sementara kasir sedang menghitung semua nya.
"Sebentar ya kak, yang ini gak bisa di scan." Dia mengangkat kotak obat tetes mata yang ku beli tadi. Aku menjawab nya dengan mengangguk dan dia pergi dari hadapan ku.
Dia kembali lagi dengan kotak yang sama dan meng-input nya ke komputer di depan nya.
"Sebentar mba." Tiba tiba aku memutus kegiatan nya. Aku berlalu dan berjalan menuju rak obat yang tadi ku datangi.
Aku mengambil 1 alat itu dan segera membawa nya ke kasir. Setelah membayar semua nya aku segera pergi dari sana.
******
Gila! Dasar Elsi gila.
Apa yang ada dipikiran mu membeli alat ini.
Aku memegang nya saat sudah sampai di kamar ku.
Untuk apa Elsiiiii? Kamu pikir kamu hamil?
Aku menepuk nepuk sendiri jidat ku. Bodoh sekali aku kali ini. Gila belanja ku memang sudah tidak terselamat kan.
Masa aku terpikir membeli ini karna bungkus nya yang pink. Iya kan? Pasti karna bungkus nya kan? Bukan karna aku curiga dengan tubuh ku sendiri.
Aku melempar nya ke bawah meja. Si bodoh, batin ku. Aku menghempas kan tubuh ku kekasur. 50 ribu tadi bisa ku pakai beli 1 paket burger di mall. Aku jadi kesal dengan diri ku sendiri.
Aku berdiri lagi dari tidur ku dan mengambil tespek yang sudah ku lempar tadi. Sangking kesal nya dengan kebodohan ku, aku ingin membuang nya di tempat sampah.
Aku berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar ku dan menginjak tempat sampah sampai tutup nya terbuka.
Tapi......
Lebih bodoh lagi kalau ku sia sia kan.
Apa ku coba saja ya? Coba aja habis itu ku buang. Hitung hitung suatu saat nanti kan jika aku bersuami aku juga akan memakai nya.
Ku urungkan niat ku untuk membuang nya, Aku duduk di atas kloset ku. Ku baca semua petunjuk pemakaian yang tercantum di kemasan nya.
Ku buka isi nya, panjang seperti spidol ku. Warna nya pink. Cantik juga, batin ku.
Ku buka tutup nya. Oh bagian ini yang di rendam di urine ku.
Aku melihat liat, Apa yang bisa ku pakai untuk menadah urine ku ya? Hm....
__ADS_1
Harus di tadah kah? Aku tak punya tempat kecil untuk itu. Masa pakai mangkok di dapur? Jorok sekali.
Ku putuskan langsung mengguyur nya saja. Kan ini hanya coba coba saja.
Setelah itu aku menunggu nya beberapa menit. Muncul garis merah nya satu. Aku tertawa melihat nya.
See? Apa yang ada di pikiran ku hari ini? Pasti hari ini aku benar benar gila. Aku keluar dari kamar mandi dan segera mengambil Laptop ku.
Lebih baik sekarang aku menonton saja dan melanjut kan leyeh leyeh ku yang sudah tertunda.
1 jam film ku sudah berlalu aku baru teringat tespek tadi masih ku taruh di atas wastafel. Bisa kacau kalau sampai mama melihat nya.
Aku berlari masuk ke dalam kamar mandi, mengambil alat itu dan bersiap siap membuang nya.
Tetapi....
Aku melihat nya lagi. Mencoba berpikir.
Ku gosok gosok mata ku. Seperti nya Kebanyakan manatap layar laptop membuat mata ku jadi salah.
Tapi ternyata tidak salah.
Ku ambil lagi bungkus nya. Aku mencoba memastikan.
Negatif 1 garis.
Positif 2 garis.
Ku lihat lagi alat itu. Perasaan tadi sewaktu ku tinggal kan dia hanya muncul 1 garis saja.
Tapi apa yang ku lihat di hadapan ku sekarang?
Kenapa bisa muncul 1 garis lagi.
Aku masih membaca lagi petunjuk di kemasan nya. Aku menaruh nya kembali di atas wastafel.
Berkali kali aku memastikan hasil nya tetap sama.
Hati ku mulai berdegup. Apa ini? Kenapa bisa berubah? Bukan kah tadi hanya 1 garis?
Jika dua seperti yang kulihat ini? Apa artinya?
Masa aku hamil?
Aku menggigit gigit kuku ku membuang semua rasa gugup ku. Gugup yang mulai muncul.
Karna ini kah aku tidak haid selama ini?
Aku mencoba mengingat nya, Memang sudah lama sekali rasanya aku tidak berurusan sama yang nama nya pembalut. Terbukti dengan stok di lemari ku yang masih banyak.
Aku berpikir keras sambil kembali duduk di atas kloset ku. Rasa rasa nya terakhir aku haid sebelum aku bertemu bang Nanda.
Elsi bodoh! Kenapa setiap haid tidak kamu catat aja sih?! Jadi nya bingung kan sudah berapa lama aku tidak datang bulan.
Aku berdiri dan berkaca, memutar mutar badan ku. Tidak ada yang berubah.
Aku mengangkat baju ku dan melihat perut ku. Seperti nya juga gak ada yang berubah. Tapi ketika aku meraba perut bawah ku, aku merasa sedikit lebih kencang dari biasa nya.
Gak bisa! Ini gak mungkin!
__ADS_1
Untuk membuktikan bahwa ini salah, aku akan pergi lagi membeli tespek nya.
Ku masukan tespek yang ku pakai tadi kedalam lemari. Tempat yang menurut ku gak akan ada yang bisa menemukan nya. Dan aku langsung pergi lagi.