
SHARMA
Aku gak tahan begini! Canggung sekali rasanya. Yang bisa ku lakukan hanya melirik lirik belakang ke arah Empur.
Mau sampai kapan suasana hening seperti ini?
Tapi sepanjang perlajaran tadi Empur hanya sibuk memberi ku isyarat agar tidak berbicara apapun kepada Elsi.
Ku lihat Elsi hanya terus menulis sambil menunduk. Tidak melakukan apapun dan tidak berbicara apapun semenjak dia masuk ke kelas tadi.
Ada apa sebenarnya?
Apa yang sudah aku lewat kan?
Kenapa bisa tiba tiba Elsi menghajar Bang Nanda habis habisan di kantin tadi?
Ada masalah apa mereka berdua?
Kenapa Bang Nanda di sebut bajingan oleh El?
Kenapa Elsi gak ada cerita apapun ke kami?
Aku bahkan gak tau kalau ternyata dia sedang tidak baik baik saja selama ini.
Aku membuka WA ku, WA ku cuma di read sama Purna.
Aku bertanya ke dia apakah kita jadi mengajak Elsi untuk kerumah ku sepulang sekolah nanti. Dalam keadaan dia yang seperti ini.
Tapi dia tidak merespon nya.
Ketika bel sekolah berbunyi, hati ku menjadi berdebar gak karuan. Aku gak ngerti harus gimana.
Ku lihat Empur, dia juga hanya berdiam diri ketika anak anak sudah bersiap pulang dan meninggalkan kelas satu persatu. Sampai akhirnya tinggal kami bertiga di kelas.
Elsi mulai bergerak dan menyimpun buku buku nya kedalam tas.
"Ayo kita kerumah Sharma." Dia berkata tanpa menatap kami sedikit pun
Tanpa berpikir dua kali aku dan Empur, kami berdua sama sama langsung mengemas barang barang kami.
******
Kejadian hari ini gak ada henti henti nya membuat aku terkejut bukan main.
Kali ini aku mematung lagi, tanpa bisa berkata apapun. Empur pun sama terkejut nya seperti ku.
"Apa lo bilang?" Empur bertanya lagi ke Elsi dengan apa yang barusan dia dengar. Elsi menundukan wajah nya dan menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Gue udah tidur sama Bang Nanda..." Ulang nya lagi.
Berkali kali di ulang pun aku tetap masih tidak percaya.
"Kapan?" Purna bertanya lagi.
"Waktu....... Malam itu...." Elsi menjawab dengan sangat lirih.
"Sudah ku duga..." Purna membalas. Aku sontak melihat ke arah nya. Apa cuma aku disini yang gak tau apa apa?
"Elo di paksa Nanda?" Tanya nya lagi.
Elsi menggeleng.
"Kalian mabuk?"
Elsi menggeleng lagi.
"Kami sepenuh nya sadar pur...." Ucap nya.
"Jadi waktu semalam elo gak bisa di hubungin itu elo lagi sama dia?"
Lagi lagi Elsi hanya mengangguk. Tak berbicara satu kata pun.
Aku disini hanya kebingungan mencerna apa yang mereka bicarakan. Aku tak sanggup merespon apapun.
"Kenapa pagi nya elo gak cerita yang sebenar nya dengan kami?"
Elsi mengangangkat wajah nya menatap Purna.
"Gue...... Belum siap..... Gue masih syok..."
"El...." Akhirnya aku membuka mulut ku. Dia mengalihkan pandangan nya kepada ku.
"Jujur gue masih bingung. Gue gak ngerti. Bisa elo ceritain dari awal, sampe kejadian hari ini. Sumpah gue sama Empur bingung El.... Kami ini gak tau apa apa...."
"Em..... Jadi gini...." Elsi membetul kan duduk nya.
"Malam waktu di pesta itu. Gue gak mabuk dan juga tidak dalam ke adaan terpaksa. Gue..... Ya begitu. Seperti yang gue cerita tadi. Dan gue sudah sepakat untuk minta sama Bang Nanda jangan cerita apa apa dengan siapapun tentang malam ini. Makanya gue juga gak ada cerita ke kalian. Tapi lebih tepat nya belum waktunya. Gue belum siap. Karna jujur aja, setelah kejadian malam itu, gue kaya merasa aneh dan ilfeel sama diri sendiri. Juga sama Bang Nanda. Gue menolak ajakan nya buat pacaran sama gue dan bahkan menolak untuk dekat dekat dengan nya. Gue gak ngerti kenapa gue merasa seperti itu. Lalu... Selama kalian gak ada, Bang Nanda nemenin gue. Serberapa keras usaha gue menghindar dari nya, sekeras itu juga dia datang untuk gue. Bantuin gue. Elo semua kan tau gue naksir dia dari dulu. Cuma karna habis kejadian itu gue jadi ilfeel. Tapi seminggu dengan nya membuat gue luluh lagi.... Gue jatuh cinta lagi sama dia. Dan yang gue gak tau... Kemarin, di kantin, temen nya bang Nanda, Kak jhon nyamperin gue. Lo mau tau apa?"
Dia menggantung cerita nya. Aku dan Purma sama sama terdiam menunggu kelanjutan nya.
"Dia ngomong tentang malam itu. Bertanya gue pacaran sama Nanda atau cuma one night stand sama Nanda. Dan parah nya lagi....." Elsi menyeka air mata nya nya mengalir di pipi.
"Dia ngajak gue juga...." Dia menutup wajahnya dan menangis sesegukan. Aku segera bangkit dari tempat duduk ku dan memeluk nya.
"Sialan..." Purna mengumpat.
__ADS_1
"Gue jijik Shar... Gue jijik sama diri gue sendiri. Gue..... Gue kecewa sama Bang Nanda.... ternyata dia cerita ke orang lain kalau kami sudah...... Gue pikir dia bisa di percaya...... Parah nya dia cerita ke temen temen nya yang begitu..... Gue sakit hati Shar...."
Elsi berkata sambil sesegukan. Aku makin memeluknya erat. Sekarang aku paham apa yang sudah terjadi.
Ku lihat Purna tertunduk seperti memikirkan sesuatu. Dia tak merespon apapun.
Tapi lalu dia berdiri dan mengambil sebotol minuman dari meja ku. Dan memberikan nya padaku.
Aku langsung menyambut nya dan menyuruh Elsi untuk minum.
"Tenang dulu ya...." Ujar ku sambil mengelus elus punggung nya.
"Tapi sorry, berarti Nanda pun gak tau kalo marah karna apa tadi?" Purna bertanya.
Elsi menggeleng, "Dia gak tau Pur... Bahkan dua hari yang lalu kami sudah jalan bareng. Semenjak pertemuan gue sama Kak Jhon kemarin, gue gak merespon semua pesan nya. Sepertinya dia gak tau kalau gue marah besar. Makanya gue putusin buat langsung datangin dia. Gue malas lewat Telpon. Gue kebawa emosi ketika melihat dia bercanda dengan teman teman nya di kantin tadi. sedangkan gue malu dan kecewa setengah mati. Sejujurnya gue akan bahas masalah ini ketika pulang sekolah. Bukan di kantin di tengah banyak orang. Tapi gue gak bisa nahan lagi."
Aku dan Purna mengangguk bersamaan. Sekarang sudah terjawab apa yang menjadi pertanyaan di otak kami berdua.
"Sepertinya dia bakal datangin elo El... Minta kejelaskan kenapa elo marah sama dia." Jelas ku.
"Sudah, sehabis gue datangin dia di kantin, dia ngejar gue lagi. Tapi tetap gue gak mau, dan gue pergi ninggalin dia. Gue bilang jangan pernah dekat dekat lagi sama gue. Anggap aja kita gak pernah kenal. Dia bertanya kenapa gue seperti ini, gue gak mau jawab. Gak sanggup gue menjelaskan dan berlama lama dekat dengan nya. Bahkan gue sudah memblokir nomer telpon nya."
"Terus elo mau gimana sekarang?" Aku bertanya lagi.
"Gak gimana gimana. Gue mau kembali hidup seperti dulu. Dengan tidak mengenal nya dan gak mau tau lagi soal dia."
******
Setelah mengantar Elsi pulang, Purna kembali kerumah ku. Kami sepakat untuk bertemu lagi dan mengobrol soal kejadian hari ini.
"Gue masih gak percaya Pur..." Aku membuka pembicaraan ketika kami sudah duduk di sofa ruang tamu ku.
"Gue juga..."
Aku kebingungan.
"Loh bukan nya tadi ketika Elsi mengaku, elo bilang elo sudah menduga nya?"
"Gue menduga memang pasti ada sesuatu di malam itu, tapi gak menduga kalau ternyata kejadian itu adalah Elsi tidur dengan Nanda. Itu yang buat gue gak nyangka."
"Kenapa bisa begini ya Pur kejadian nya... Dan gue heran kenapa El bisa menyembunyikan kejadian ini dengan kita berdua. Mungkin kalau gak da kejadian kak Jhon, dia gak akan cerita ke kekita Pur..."
"Mungkin dia butuh waktu Shar... Seperti yang dia bilang tadi."
"Kalau menurut hati gue aja, sekarang gue mau datangin Nanda dan Jono terus gue tonjok muka nya. Tapi gak bisa. Gue gak bisa sejauh itu. Gue hanya bisa ketika Elsi benar benar nyuruh gue untuk melakukan nya." Dia menyambung kalimat nya lagi.
"Sekarang kita harus gimana?"
__ADS_1
"Ya gak gimana gimana. Kita hanya bisa lakukan apa yang Elsi mau. Dia mau kita biasa aja, ya udah. kita nurut aja..."