
NANDA
"Istri?"
"Iya."
"Udah nikah kamu Nan?"
Aku terdiam. Ini yang ku tunggu tunggu. Sudah saat nya aku mengakui semua nya. Aku tak mau dia lama lama berharap kepada ku karna tidak tau cerita asli kehidupan ku.
Karna satu satu nya orang yang tau aku sudah menikah adalah bang Kiki seorang. Mereka, anak anak yang kerja di sini, belum ada yang tau.
Mereka tidak bertanya, jadi untuk apa aku jelaskan. Tetapi, jika cerita nya seperti sekarang ini, yang sudah jelas jelas seperti nya Cici suka pada ku, lebih baik aku bongkar saja jika aku sudah menikah.
Aku tak ingin dia berharap kepada ku lebih jauh, apa lagi ku dengar dia tadi bilang jika dia sedang tidak punya pacar. Sudah di pastikan dia akan mendekati ku.
Maka dari itu, hari ini akan ku selesaikan semua nya. Sengaja aku mengajak nya makan, agar aku bisa membongkar siapa diri ku.
"Udah Ci, istri ku lagi hamil." Ucap ku dengan wajah yang ku buat seperti biasa saja. Padahal aku juga gugup menghadapi respon nya yang sangat sangat tidak percaya jika aku sudah menikah.
"Sebentar sebentar, kamu umur berapa sih?"
"Aku? Aku baru 17 tahun Ci..."
"Nah iya kan? Seingat ku kamu memang umur belasan. Kok?"
Dia menggantung pertanyaan nya. Aku tersenyum, aku paham apa yang ada di pikiran nya.
"Iya aku nikah kecelakaan Ci. Istri ku hamil duluan."
Wajah nya membeku lagi. Dia terdiam dalam waktu yang cukup lama. Dia merapikan rambut nya dan menyuruput es kopi nya lagi.
Bahkan sampai kami pergi dari warung itu, Cici masih saja berdiam diri. Aku paham, dia pasti syok mendengar nya. Dia butuh waktu mencerna fakta apa yang sudah dia dengar tadi.
"Jadi..." Cici menggantung kalimat nya. Akhirnya dia buka suara lagi. Aku sudah berjanji akan menceritakan apapun tentang diri ku jika ia bertanya.
"Jadi kamu tinggal berdua aja sama istri mu?"
"Iya, kami ngontrak berdua aja."
"Orang tua mu dimana?"
"Hm... Kalau aku boleh jujur, aku sama istri ku kabur dari rumah."
Mata nya terbelalak mendengar pernyataan ku.
"Iya, lebih tepat nya aku, aku yang kabur dari rumah. Istri ku di usir dari rumah saat Mama nya tau kalau dia lagi hamil."
__ADS_1
"Terus kalian kabur kesini?"
"Iya..."
"Nikah nya gimana? Kan harus ada wali tuh?"
"Syukur nya papa mertua ku mewalikan diri nya ke penghulu. Dalam artian, beliau merestui kami."
"Istri mu umur berapa?"
"Di bawah ku, dia adik kelas ku waktu di sekolah."
Dia terdiam lagi. Mencerna lagi apa yang sudah ku ceritakan.
"Jadi... Kalian berdua putus sekolah dong?"
"Iya, paling entar kami ikut paket C. Makanya aku gak bisa milih milih kerjaan Ci, apa aja yang bisa ku kerjain, bakal ku kerjain. Karna aku bakal menanggung 2 nyawa."
"Asli. Aku syok banget Nan..."
Wajah Cici langsung terlihat muram. Dalam hati ku, aku meminta maaf karna sudah membuat ia terkejut akan cerita ku.
"Aku bener bener gak tau kalau kamu sudah nikah, dalam pikiran ku, kamu itu anak SMA baru lulus, maka nya kerja di sini."
"Kaya nya cuma bang Kiki sama kamu kok yang baru tau. Ya aku juga gak cerita kesiapa siapa kalau gak di tanya."
Kami berdua sampai di tempat laundry. Cici dan aku sama sama bersiap siap untuk pulang. Karna ku lihat jalanan sudah tidak semacet tadi.
"Nan!" Teriak nya dari dalam. Aku menoleh kebelakang, Cici menyusul ku.
"Mau bareng gak? Rumah mu di sana kan?" Dia berkata sambil menunjuk arah rumah ku.
"Iya Ci, gak usah lah aku sendiri aja. Kasian kamu kalau mesti mampir mampir lagi."
"Udah barengan aja gak papa. Sekalian mau nyapa istri kamu." Ucap nya sambil menarik tangan ku mendekati motor nya. Aku terpaksa meng "iya" kan, tak enak jika menolak nya.
Aku melajukan motor memasuki perkarangan rumah ku. Aku menghentikan motor tepat di depan rumah. Aku turun dari motor dan menyerah kan Helm yang tadi ku pakai kepada Cici.
"Bentar ya." Ucap ku sambil berjalan kedepan pintu. Aku mengetok pintu memanggil Elsi keluar rumah.
Elsi dengan tergopoh gopoh datang membuka pintu. Dia terkejut aku datang dengan seseorang.
Aku menarik nya keluar rumah.
"Elsi kenalin, ini Cici teman kerja abang."
Elsi dengan wajah semuringah mengulurkan tangan nya kepada Cici. Cici meyambut nya dengan wajah yang masih tidak percaya.
__ADS_1
"Halo Elsi, aku Cici." Kata nya sambil tersenyum canggung. Mereka berdua berkenalan.
"Mampir dulu kak?" Elsi menawarkan kepada nya.
"Terima kasih, kaya nya aku langsung aja ya."
"Gak papa nih?" Tanya ku kepada nya.
"Gak papa Nan, Aku lanjut ya. Mari Elsi..." Kata nya sambil memakai helm dan berlalu dari hadapan kami berdua.
"Itu yang nama nya Cici ya bang?" Tanya Elsi ketika kami sudah masuk ke dalam rumah.
"Iya El, dia kasir nya abang. Entar kapan kapan abang bawa deh El ke sana, biar bisa ketemu anak anak lain."
"Dia seumuran kita ya bang?"
"Gak El, lebih tua loh dia. Umur 23 kalau gak salah. Badan nya aja yang mungil."
"Iya bang, Cantik dan imut orang nya. Baik lagi. Suka bagi bagi makanan kan?"
Aku memang sedikit banyak nya sudah cerita tentang orang orang sana kepada Elsi. Maka dari itu dia tau jika Cici yang suka bagi bagi makanan. Yang aku tidak cerita, jika dia berbagi makanan hanya kepada ku. Aku gak mau Elsi overthingking.
Aku mendatangi Elsi yang baru saja selesai menyantap nasi goreng yang ku belikan tadi di dapur. Aku juga sudah selesai mandi.
"El..."
"Ya bang?"
"Abang minta maaf ya?"
"Kenapa bang?"
"Selama kerja abang sadar sering cuekin Elsi. Dan selama kita tinggal di sini abang belum sempat bawa El jalan jalan. Bahkan abang belum sempat bawa Elsi periksa kandungan. Maafin abang ya?"
"Ya ampun kirain apaan bang. Gak papa abang, Elsi paham kok abang lagi capek kerja."
"Iya, tapi abang tetap merasa bersalah karna gak bawa Elsi keluar rumah. El pasti sumpek banget kan di sini."
"Gak terlalu bang, Elsi kan sering ngumpul sama ibu ibu di sebelah, lagian Elsi udah terbiasa sendiri bang dirumah."
"Gini deh, Weekend ini kita jalan jalan yuk, Kebetulan hari minggu jadwal abang off kerja. Kita periksa kandungan El, habis itu kita jalan jalan. Gimana?"
"Boleh deh. Tapi abang gak capek? Kalau abang capek gak usah bang istirahat aja dirumah."
"Gak, abang sudah niatin kok minggu ini kita pergi jalan jalan. Terserah El mau kemana, makan apa, abang temenin. Nanti abang cari tau juga kalau ada praktek kandungan buka di hari minggu."
Aku berkata sambil berjalan mendekati nya. Aku memeluk nya dengar erat.
__ADS_1
"Terima kasih ya sayang. Sudah menjadi istri yang pengertian." Aku mencium kening nya.
"Sekali lagi abang bersyukur Elsi yang menjadi istri abang..."