Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
HARI EKSEKUSI


__ADS_3

ELSI


Aku membolak balikan kotak susu yang diberikan bang Nanda kepada ku waktu di sekolah tadi.


Semenjak tau aku hamil, kami kembali seperti dulu. Walaupun aku berusaha untuk menghindari nya, tapi dia selalu datang dengan seribu kebaikan nya, yang membuat hati ku menjadi luluh.


Kadang aku juga merasa kasihan kepadanya, aku selalu berbicara ketus terhadap nya. Selalu dingin terhadap nya. Tapi itu semua tak bisa ku kontrol.


Bukan karna aku marah kepadanya, tapi karna aku stres dengan ini semua. Dampak dari kejadian ini.


Dulu aku merasa aku tidak membutuhkan nya untuk melalui ini semua, tapi ternyata aku salah. Aku memang membutuhkan nya.


Jika bertemu dengan nya, berbicara dengan nya, setengah beban ku hilang. Aku merasa aku tidak sendiri di dunia ini.


Karna aku sama sekali gak mau melibat kan Sharma dan Purna atas kejadian ini. Aku gak mau.


Mereka selalu bertanya apa yang aku akan lakukan setelah ini, aku tak pernah menjawab nya. Aku hanya berdiam seribu bahasa.


"El... Jangan lo telan sendiri masalah ini. Gue dan Sharma gak akan diam aja, kami pasti bantuin elo." Ucap Purna waktu malam itu. Dia mengajak ku pergi keluar untuk makan.


"Tenang Pur. Biar gue selesaikan sendiri."


"Nanda tanggung jawab kan?" Tanya nya. Aku hanya mengangguk.


"Semisal nya dia lari dari masalah ini, Gue yang maju."


Aku menoleh kepada nya.


"Gue yang bakal nikahin elo."


"Sinting lo." Jawab ku sewot.


"Gue serius Elsi."


"Kalau sampai itu terjadi, arti nya gue yang gak waras. Gue udah gila. Elo juga gila."


"Gak perduli. Karna elo gak mungkin melalui ini seorang diri."


"Ya tapi gak begitu juga Pur..."


"Ingat aja pokok nya janji gue malam ini. Jika Nanda lari dari masalah."


"Kalau elo nikahin gue, kasihan Sharma dong gak jadi elo nikahin." Aku mengalihkan pembicaraan dengan bercanda.


"Gak papa. Kan entar dia bisa jadi istri kedua gue." Dia membalas candaan ku.


"Orang gila."


"Gila begini elo sayang kan sama gue?" Ejek nya. Purna memang selalu begitu.


"Gak ah males. Gue mau sayang sama suami gue aja."


"Siapa emang suami lo?"

__ADS_1


"Ya nanti kalau ada stok nya."


"Kaya barang aja, ada stok nya apa gak."


sehabis itu kami tertawa bersama sama.


******


Seharian ini aku memang tidak nafsu makan apa apa. Pikiran ku cuma satu, aku harus berhasil melakukan nya tanpa ada halangan apapun.


Aku sudah membuat janji dengan klinik yang sudah ku cari beberapa hari yang lalu. Klinik yang katanya memang menyediakan aborsi.


Ku masukan lagi kotak susu itu ke dalam tas ku. Aku segera masuk ke dalam klinik.


Ku lihat kanan kiri di tempat aku menunggu. Kebanyakan anak anak usia ku yang berada di sini. Ada juga yang datang bersama orang tua nya. Ada yang bersama pasangan nya. Hanya aku yang datang seorang diri.


Wajah mereka semua sama seperti ku. Murung dan was was sekali. Sama kah permasalahan kami? Apa kami sama sama hamil yang tidak kami harapkan?


Sedari tadi HP ku, ku aktifkan "mode pesawat" nya. Aku tak ingin ada yang mengganggu ku sekarang. Sepulang sekolah tadi aku bilang ke Purna, Sharma, dan Bang Nanda bahwa aku ingin istirahat. Mereka percaya saja, dan tidak mengganggu ku untuk sementara waktu.


"Anak anak jaman sekarang...." Ucap dokter di depan ku ketika aku duduk di hadapan nya.


"Kamu sendiri kesini?" Dia bertanya kepada ku. Dokter yang kali ini berbeda dengan dokter yang ku datangi sebelum nya.


Yang kali ini jauh dari kata ramah. Pertama kali masuk pun aku tak di sambut dan tidak di bantu apa apa. Dia hanya menatap ku dengan sinis.


"Iya dok..." Aku menjawab sambil menunjukan wajah ku.


Aku hanya terdiam bingung.


"Saya tidak bisa ambil tindakan jika kamu datang sendiri, dan kamu tidak bawa orang tua mu. Saya tidak mau ambil resiko."


"Saya harus bawa orang tua dok?" Aku bertanya tak percaya.


"Lah? Iya lah. Saya tidak mau melakukan apapun tanpa ijin dari wali mu. Dan kamu harus datang di temani wali mu. Saya tidak mau di tuntut di kemudian hari. Saya kapok. Kalian yang berbuat dosa, saya yang di tuntut macam macam. Pulang saja, kembali lagi jika kamu berhasil dapat ijin dengan orang tua mu."


Aku menangis mendengar penjelasan nya. Air mata ku keluar begitu saja tanpa ku sadari.


Aku berjalan keluar ruangan dengan kaki yang lemas. Aku harus bagaimana sekarang? Mana mungkin aku bawa mama kesini. Aku tau keras nya mama. Lebih baik mati saja jika harus memberi tahu nya.


Aku segera pergi berlari meninggalkan klinik itu sejauh jauh nya. Aku berjalan tanpa tujuan.


"Tunggu abang di sana. Jangan kemana mana." Katanya di seberang telpon.


Aku menelpon bang Nanda selepas aku meninggalkan klinik tadi. Aku sudah bingung harus berbuat apa. Otak ku benar benar buntu. Dimana lagi aku harus melakukan nya?


Aku duduk di depan mini market yang menyediakan tempat untuk mengopi. Aku menunggu bang Nanda datang menjemput ku.


Kulihat dia dari kejauhan. Dan menghampiri ku yang sedang duduk seorang diri.


"Gimana El?" Tanya nya sambil mengatur nafas nya.


Terlihat sekali dia terburu buru kesini. Karna jarak antara rumah dia ke tempat kami sekarang lumayan jauh, Tapi dia tak butuh waktu yang lama untuk sampai.

__ADS_1


Air mata ku keluar lagi melihat nya datang. Aku menggeleng lesu.


"Apa kata nya?"


"Kata dokter aku harus dapat persetujuan orang tua dulu. Dan aku kesana harus ada wali. Gak boleh sendirian seperti hari ini."


"Bener kan dugaan abang El. Untuk melakukan nya, El gak bisa sendirian. Harus ada yang menemani pasca oprasi." Jelas nya.


"Jika abang pun menemani ku hari ini, tetap gak bisa bang. Dokter nya minta persetujuan orang tua. Ya mana mungkin aku ijin, aku mau gugurin kandungan sama mama. Memang nya aku gila." Aku menangis sesegukan. Aku sudah tidak tahan lagi.


Bang Nanda menggengam tangan ku.


"Kita pikirin sama sama ya Elsi. Elsi tenang dulu."


Aku hanya terus menangis. Aku ingin meluapkan rasa kesedihan ku yang ku tahan tahan dari kemarin.


"Abang bantuin cari tempat lain ya." Ucap nya lagi. Aku mengangkat wajah ku dan mengusap air mata ku.


"Ayo kita kerumah." Ajak ku pada akhirnya.


Sampai di kamar aku langsung membuka laptop ku.


"El, dapur di mana?" Tanya bang Nanda. Aku menujuk nya dan dia pergi dari kamar.


Dia datang lagi dengan secangkir teh hangat. Dia memberikan nya kepada ku.


"Minum dulu El." Aku menyambut nya dan meneguk nya sedikit.


"Ini ada bang." Aku mengarahkan layar laptop yang sedari tadi ku pegang. Dia duduk di samping ku setelah menaruh cangkir ke atas meja.


"Tapi...." Aku menggantung kalimat ku. Dia masih serius membaca apa yang ku perlihatkan tadi.


"Tapi biayanya jauh lebih besar. Ku baca komen nya disini tak perlu persetujuan orang tua. Hanya butuh wali yang menemani saat tindakan."


"35 juta?" Dia bertanya dengan tetap menatap layar. Aku mengangguk.


"Uang abang di rekening cuma ada 25 juta." Ucap nya lagi.


"Masih kurang 10 juta...." Terus ku. Dia mengangguk.


Dimana lagi dia bisa mendapatkan uang segitu? Seketika hati ku menjadi sedih kembali.


Seakan bisa membaca kegundahan hati ku, dia mengelus kepala ku lembut. Menatap ku mata ku dalam.


"Tenang ya... Nanti abang carikan uang nya." Ujar nya sambil tersenyum manis.


Lama sekali rasanya aku tidak melihat nya. Senyuman yang membuat aku selalu berdebar. Membuat hati ku selalu luluh. Senyum yang penuh ketulusan.


Dia menghapus air mata ku yang keluar dari sudut mata.


"Gimana cara nya abang dapetin uang sebanyak itu?" Aku bertanya lagi.


"Ada pokok nya. Elsi tenang saja."

__ADS_1


__ADS_2