
NANDA
"Ini baru sampai laundryan bang." Aku menjawab telpon dari bang Kiki ketika aku baru saja memparkirkan mobil antaran di depan perkarangan Laundry.
"Oh ya udah, entar saya habis antar anak kerumah saya mampir kesana ya." Kata nya sebelum mengakhiri telpon nya.
Memang seharian ini bang Kiki tidak datang sekedar ngecek kondisi car wash dan laundryan. Sebenar nya sudah tiga harian memang dia tidak ada muncul.
Kata Dimas dia memang lagi sibuk sekali dan meminta Dimas menjadi tangan kanan nya selama dia tidak bisa ke kantor.
Tapi aku lumayan terkejut dia tadi menelpon ku dan bertanya aku sedang dimana. Karna tau aku baru saja sampai kantor, dia bilang akan mampir sebentar.
Aku turun dari kursi kemudi dan siap siap membuka jok belakang untuk membawa cucian kotor yang ku jemput tadi.
Karna kurang hati hati kaki ku menyandung gundukan semen yang ada di parkiran. Seketika aku menjatuhkan seluruh tubuh ku ke lantai.
Telapak tangan ku menjadi lecet seketika karna ku pakai untuk tumpuan aku terjatuh tadi. Aku berdiri sambil mengibas ngibaskan pasir yang menempel di celana dan baju ku.
Dan aku kembali mengambil tumpukan pelastik berisi pakaian kotor itu mengantar nya ke dalam laundryan.
Baru setengah jalan, aku tersadar ternyata sepatu ku rusak. Alas nya terlepas dari badan sepatu ku. Sepertinya karna aku jatuh tadi.
Sebenar nya aku tidak kaget, karna sepatuku sudah berminggu minggu ini rusak. Tetapi, jangan kan membeli yang baru, membawa nya ke Sol sepatu pun aku belum bisa.
Karna kondisi keuangan ku benar benar tak baik. Uang yang ku terima hanya cukup untuk makan dan bensin kami saja.
Sepatu ini pun aku sudah usaha untuk memperbaiki nya, kemarin aku membeli lem dan mencoba merekat kan nya. Tetapi ya itu, tidak bisa bertahan lama. Akhirnya seperti sekarang ini. Jadi nya lepas lagi.
Nanti lah aku coba ke pasar, siapa tau ketemu sepatu murah atau sepatu bekas pakai. Apa saja lah yang penting murah. Yang jelas aku harus menabung dulu.
Sebenarnya bukan hanya sepatu yang rusak, HP ku juga sudah sering mati sendiri, maklum lah, HP ku memang bukan HP yang mahal dan kekinian. Jadi memang sudah waktu nya untuk di ganti. Aku sudah lama tidak pernah berganti HP.
Aku sudah berniat, jika pun nanti HP ini rusak total, aku akan membeli HP yang biasa saja. Yang yang penting bisa dipakai untuk Telpon dan SMS. Karna hanya HP itu saja yang sanggup ku beli sekarang ini.
Aku mengambil alas sepatu ku yang copot tadi dan melepas kan sepatu yang ku pakai. Aku kembali berjalan tanpa memakai alas.
Aku menyembunyikan sepatu ku dalam pelastik hitam di rak sepatu mushola. Aku mengambil sendal jepit mushola untuk ku pakai wara wiri sementara waktu. Pulang ini aku berniat membeli Lem lagi di warung untuk memperbaiki nya.
__ADS_1
Panas matahari hari ini lumayan menguras tenaga ku. Apa lagi dalam keadaan aku puasa seperti ini.
Aku sudah rutin berpuasa beberapa bulan ini. Selain untuk beribadah, hitung hitung aku sekalian berhemat.
Pokok nya kondisi susah ku sekarang sebisa mungkin jangan sampai Elsi tau. Aku benar benar tidak menunjukan gelagat seakan kami sedang tidak ada uang.
Aku tidak ingin di cap sebagai suami yang gagal dalam menafkahi istri nya. Padahal om Leo dan Papa selalu menawari kami bantuan, tetapi aku dan Elsi sepakat untuk tidak memamfaatkan nya.
Kami selalu cerita bahwa kami sedang baik baik saja, karna memang yang benar benar tau kondisi ku sekarang cuma aku seorang.
Aku tak ingin Elsi menjadi kepikiran dan menjadi tidak enak hati. Aku berjanji tidak akam membuat nya stres selama ia hamil.
Jika benar benar ku pikirkan, jujur saja aku sedih dengan kondisi keuangan ku sekarang. Aku sudah tak pernah lagi membawa Elsi jalan jalan makan di luar.
Kalau pun iya, aku akan pura pura tidak lapar, agar dia saja yang bisa makan.
Aku memang harus menghemat agar Elsi masih tetap bisa periksa kandungan nya, Aku banyak banyak minta maaf pada nya saat sekarang ini, aku tak bisa lagi membawa nya pergi untuk USG.
Selesai aku menyerahkan semua kantong cucian kotor tadi kepada Dimas, aku melihat mobil bang Kiki masuk ke parkiran car wash.
"Keruangan ku ya Nan!" Teriak nya dari dalam mobil. Aku tersenyum sambil mengancung kan jempol ku.
"Dari sekolah tadi bang?" Kata ku ketika kami sama sama memasuki ruang kerja nya.
"Iya, tapi anak anak ku antar balik tadi kerumah, baru aku kesini lagi. Masih ada yang harus ku urus soal nya habis ini Nan. Duduk dulu kamu." Jelas nya sambil menyuruh ku duduk di sofa.
"Gimana keadaan kantor selama aku gak ada Nan?"
"Baik baik aja bang, semua di handle sama Dimas pasti aman."
"Baguslah kalau begitu. Gimana Nan? Kerasan kerja di sini?"
"Alhamdulillah, kerasaan aja bang. Saya seneng disini, orang baik semua."
"Bagus lah kalau begitu. Istri kamu gimana? Sehat?"
"Alhamdulillah sehat bang..."
__ADS_1
"Kapan lahiran Nan?"
"Masih 2 bulanan lagi bang. Kemungkinan akhir tahun."
"Oh iya... Tenang aja pokok nya. Kabarin aja kalau ada perlu apa apa ya Nan... Sebenar nya abang mau nawarin kamu sesuatu."
"Apa itu bang?" Tanya ku penasaran.
"Ini kalau kamu mau aja ya, saya gak maksa. Keluarga ku ada cari supir Nan. Supir untuk anak anak nya. Dia minta aku carikan anak buah ku, kan dia tau anak buah ku banyak. Langsung aku kepikiran kamu Nan."
"Oh ya bang?"
"Iya, kamu mau gak jadi supir nya Nan? Entar aku kenalin orang nya. Dia bilang dia berani bayar mahal, soal nya dia perlu banget."
Aku hanya menjawab nya dengan tertawa.
"Mau mau aja sih bang. Saya sih apa aja saya kerjain. Cuma entar yang pegang laundry siapa bang kalau saya sudah gak di sini?"
"Ah gampang itu! Yang penting kamu mau aja dulu! Capek aku di tagih tagih orang nya, lagi butuh banget soal nya dia."
"Siapa bang kalau boleh tau?"
"Sepupu ku Nan, nama nya Dena. Dia itu banyak duit nya, cuma kasian, dia single parent. Makanya keteteran, antara kerja sama urus anak anak. Supir nya yang lama resign karna mau nikah. Makanya panik minta cari aku."
"Abang gak papa saya kerja sama Mba Dena?"
"Ya gak papa lah, kan aku yang nawarin. Soal disini gampang, masih ada Anto sama Dimas kan? Mereka bisa gantiin kamu. Jadi kamu mau nih? Kalau iya aku kabarin Dena nanti."
"Mau bang. Saya sembarang aja."
"Oke deh kalau begitu. Entar aku kabarin ya kapan aku bawa kamu ketemu sama Dena. Biar habis itu kalian aja yg berurusan soal sistem kerja dan gaji nya."
"Baik bang aman." Jawab ku dengan tersenyum penuh harap.
Kalau memang benar, aku senang sekali bisa kerja dengan gaji yang lebih besar. Aku sangat perlu itu.
Aku takut membuat Elsi nanti hidup tidak berkecukupan jika kondisi keuangan ku begini begini saja. Aku takut sekali...
__ADS_1