
ELSI
Aku menangis. Badan ku gemetar. Lebih dahsyat daripada aku di parkiran tadi.
Aku bingung, pikiran ku kosong. Aku masih mencerna dengan apa yang sudah terjadi. perasaan seperti ini aku gak suka. Jijik dan mengerikan, dan juga merasa bersalah.
Sudah subuh. itu saja yang aku tau. Aku gak tau lebih tepat nya jam berapa sekarang. Bahkan untuk melihat jam saja aku tak sanggup.
Entah kenapa, dari sekian subuh yang sudah aku lalui, subuh hari ini terasa lebih dingin dari yang lain nya.
Aku merasakan ada seseorang duduk mendekati ku di tepi ranjang. Aku terkejut. Bang Nanda...
Dia memberikan aku Tissu sembari memanggil nama ku dengan lirih. Aku tetap menundukan kepala ku.
"Elsi..." Panggil nya lagi. Aku masih sesegukan. Baru kali ini aku gak suka Bang Nanda berada di dekat ku, memanggil ku.
Aku betul betul kehilangan akal sehat ku. Aku sudah kalut dan gak bisa konsentrasi lagi. Aku susah untuk mengingat nya lagi dengan apa yang sudah terjadi.
Bukan, bukan karna aku mabuk dan gak ingat apa apa, aku sadar, aku ingat dan benar benar sadar dengan apa yang aku lakukan.
Tapi aku tak punya nyali sedikit pun untuk mengingat detik perdetik nya. Kepala ku pusing gak karuan. Serasa ada granat yang siap untuk meledakan semua isi otak ku. Aku mual.
Seumur hidup ku, aku tak pernah merasakan ketakutan sebesar ini. Seluruh badan ku terasa remuk dan hancur. Seperti habis di tikam ribuan panah yang tajam.
__ADS_1
Hanya takut, takut dan bingung saja yang ada dipikiran ku sejak tadi.
Bang Nanda mengusap air mata ku.
"Maafin abang El..." Kata nya lirih.
Tangisan ku semakin keras. Aku menutup wajahku dengan bantal. Aku benar benar hancur.
Bang Nanda tiba tiba membalik kan tubuh ku dan menatap ku dalam.
"El, Abang bakal...." Belum selesai lagi bicara nya aku langsung memutus nya. Aku tak sanggup lagi berlama lama dekat nya. Perasaan ini membuat ku gak nyaman.
"El mau pulang Bang." Potong ku datar.
"Ya sudah abang antar ya. Sekalian pamit sama orang tua El." Aku menggeleng.
"Gak. El pulang sendiri aja." Kata ku lagi. Aku beranjak dari duduk ku. Bang Nanda menahan tangan ku.
"Abang antar El. Harus." Kali ini suara nya berubah.
******
Sepanjang perjalanan di mobil aku berdiam diri. Bang Nanda sesekali menoleh kepada ku. Aku gak pernah balas memandang nya.
__ADS_1
Yang kulakukan hanya membalikan wajah ku ke jendela. Melihat keadaan kota di subuh ini.
Kapan perasaan ini akan hilang? Aku gak suka perasaan ini. Aku menyukai nya. Aku yang suka dia duluan. Kenapa sekarang aku mual berada di dekat nya. Seharus nya aku gak begini.
Bang Nanda berkali kali ingin membuka pembicaraan dengan ku, tapi berkali kali juga dia sadar waktu nya tidak tepat untuk menjelaskan semua nya.
Aku gak tau apa yang dia rasakan, yang jelas dia sama bingung nya dengan keadaan sekarang ini.
Aku melihat rumah masih dalam keadaan gelap. Tapi aku tau orang rumah pasti sudah bangun semua nya. Ini memang sudah waktu nya mereka memulai aktivitas.
"Gak usah turun." Kata ku singkat. Masih belum bisa menatap nya. Aku bersiap siap turun. Bang Nanda hanya diam.
Ku buka pintu mobil, Belum lagi ku turun kan kaki ku bang Nanda memanggil ku.
"El...."
Aku hanya terdiam di depan pintu mobil yang setengah terbuka.
Aku mengambil nafas panjang. Aku seharus nya gak tak begini. Tapi aku gak bisa. Menatap nya pun aku tak bisa. Perasaan ku aneh. Aneh sekali.
"Belum saat nya bang."
"Gak usah merasa harus bertanggung jawab dengan apapun bang. Apa lagi harus pamit ke orang tua ku." Sambung ku lagi. Kali ini aku benar benar turun dari mobil. dan pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
Sedikit pun aku tidak ada menoleh kebelakang. Aku menghilang di balik pagar.