Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
KEADAAN BERUBAH


__ADS_3

NANDA


"Nan, ndak mangan tah?" Tegur Dimas saat dia tak sengaja menemui ku di depan mushola.


"Aku ada bekal, kalian aja pergi, biar aku jaga tempat." Mendengar pernyataan ku Dimas mengancungkan jempol nya dan pergi menyusul Anto yang sudah menunggu nya di pinggir jalan.


Memang biasa nya, kami berempat selalu istirahat bergantian. Jika yang pergi tiga orang, maka satu orang nya menunggu di laundryan.


Biasa nya aku dengan Dimas dan Anto yang pergi keluar untuk istirahat, sedangkan Cici menunggu di sini saja. Dulu sewaktu aku awal awal kerja di sini, dia selalu semangat untuk pergi makan siang bersama kami, dia akan mati matian menyuruh antara Dimas atau Anto yang tinggal agar dia bisa ikut pergi makan bersama ku.


Tetapi semenjak ia mengetahui kenyataan jika sekarang aku sudah mempunyai istri, posisi ku sudah sama seperti Anto dan Dimas. Aku hanya rekan kerja biasa. Bahkan sudah tak pernah lagi dia mentraktir ku walaupun sekedar segelas kopi.


Jujur saja aku mengurangi intensitas ku untuk pergi makan atau jajan di luar. Karna semenjak Elsi sakit waktu itu, kondisi keuangan kami memang berubah.


Uang tabungan yang dulu, sebagian sudah ku belikan motor bekas untuk kendaraan ku bersama Elsi di sini. Uang yang sisa beli motor itu, habis tak tersisa setelah membayar biaya pengobatan Elsi kemarin.


Aku sudah salah langkah sebenarnya, Seharus nya aku tak perlu membeli kendaraan. Sebenar nya aku sudah ragu untuk membeli nya waktu itu, Tetapi Elsi selalu meyakinkan ku bahwa kami butuh kendaraan dirumah kami. Agar kami tak selalu membuang uang untuk ongkos taksi online.


Motor yang kami beli juga sebenar nya bukan motor yang bagus, kami hanya mendapat motor bekas tahun tahun yang lama. Tapi aku tidak masalah sama sekali, yang penting masih bisa berfungsi dengan baik. Karna ya memang, uang kami hanya cukup untuk membeli itu.


Tapi aku sekarang sedikit menyesal, kami jadi tidak punya simpanan uang sama sekali selama ini.


Apa lagi sehabis membayar biaya rumah sakit, uang kami hanya tersisa 600 ribu di rekening ku.


Semenjak itu, subuh subuh aku selalu keluar rumah untuk pergi ke pasar. Kami sudah tidak pernah makan di luar lagi. Aku mengambil alih dapur untuk memasak makanan kami sehari hari. Karna bagi ku jauh sangat hemat jika kami memasak makanan.


Untung saja, seperti yang ku bilang, aku memang bisa memasak. Tapi jarang ku tunjukan ke siapa siapa. Elsi saja waktu pertama kali aku memasak, dia terkejut bukan main melihat isi tudung saji ku.


Dia bilang, dia kalah telak sebagai perempuan. Dia sama sekali tidak mahir memasak. Maka nya dia jarang sekali melihat masakan rumahan seperti yang ku olah. Karna mereka sewaktu dulu terbiasa untuk membeli makanan di luar.


Bakat memasak ku tentu saja datang dari Ibu, ibu rajin sekali memasak. Dan aku selalu menonton nya mulai aku kecil.


Ketertarikan ku dengan dunia dapur sudah terasah mulai dini, bahkan salah satu acara favorit ku adalah MasterChef.

__ADS_1


Tetapi aku banyak banyak minta maaf kepada Elsi jika makanan yang ku olah tidak bisa yang mewah mewah sekali.


Karna aku benar benar harus memutar otak ku agar uang 600 ribu itu cukup sampai sebulan. Aku juga memutus kan untuk sering sering berpuasa sekarang.


Hari ini aku membawa nasi goreng dan tempe untuk makan siang ku. Sebenar nya Ada ayam dirumah, tetapi itu ku sisakan untuk Elsi. Biarlah aku makan tempe saja, karna yang butuh gizi yang baik adalah dia.


Selama ini memang seperti itu, pada saat uang ku sangat menipis, aku hanya bisa membeli setengah ekor ayam. Ayam itu ku persilahkan Elsi yang memakan nya. Aku sih sebenar nya tidak repot repot amat soal makanan ku, Ibarat nasi sama sambel pun aku sudah bisa makan.


Ada kapan hari Elsi menangkap ke anehan ku, kenapa aku bisa tiba tiba makan tidak pakai lauk sama sekali. Kadang cuma pakai tumisan sayur saja. Aku sebisa mungkin "mengeles" agar dia tidak merasa tidak enak. Karna tidak mungkin jika ku bilang aku tidak punya uang membeli banyak lauk. Biar lauk yang ada dia saja yang makan.


Abang pulang jam berapa malam ini?


Elsi mengirim pesan WA kepada ku. Kenapa dia bertanya?


Seperti biasa El. Ada apa? Ada yang mau di titip?


Oh... Gak papa bang, Entar kabarin kalau mau otw rumah yak?


Jujur saja aku sangat lelah hari ini, Selain karna banyak kerjaan aku juga banyak pikiran. Entahlah, kondisi keuangan kami yang seperti ini secara tak langsung membuat pikiran ku menjadi lelah.


Aku berjanji jika pulang nanti aku akan segera mandi dan istirahat. Tenaga ku sudah benar benar habis.


Sampai rumah ternyata makanan yang ku buat tadi subuh masih tidak tersentuh. Kata Elsi tadi siang mereka para ibu ibu di sini sedang berkumpul di rumah bu Rasmi karna beliau memasak rawon.


Bahkan bu Rasmi membungkuskan rawon itu untuk ku. Dalam hati ku, aku bayak banyak bersyukur, setidak nya rawon yang di beri cukup untuk makan kami besok hari.


Malam ini, biarlah aku makan makanan di rumah. Karna jika tidak di habiskan, bisa basi semua nya.


"Pokok nya hampir seharian tadi El ngumpul sama ibu ibu. Rame banget!" Elsi bercerita dengan semangat sambil memijat mijat punggung ku ketika aku sedang makan di dapur.


"Alhamdulillah ya El, dapat makanan lagi."


"Iya abang, asli enak banget tau rawom bu Rasmi. Emang jago masak dia. Sama kaya abang."

__ADS_1


"Abang mana bisa bikin rawon El. Tapi entar belajar sama bu Rasmi deh, tadi sih abang cium bau nya enak..."


"Emang enak bang! Enak banget, jadi bingung kenapa ibu gak bikin warung makan aja ya. Kan jago tuh masak nya."


"Mungkin gak ketangkapan kali, kan anak nya masih kecil."


"Iya sih... Tapi kalau aja El bisa jago masak kaya gitu, El mau loh buka warung makan."


"Nanti belajar sama abang ya, kita belajar sama sama. Siapa tau ada rezeki buka bisnis kecil kecilan." Kata ku menyemangatinya.


Sudah selesai makan aku masuk kekamar dan bersiap beristirahat. Astaga... badan ku remuk sekali rasanya.


Aku membaringkan badan ku ke kasur, Ah.... surga sekali rasa nya. Seharian ini memang momen ini lah yang ku tunggu tunggu.


Elsi datang dari dapur habis mencuci piring bekas makan ku tadi.


Dia mengambil remot TV dan duduk di samping ku.


"Kok TV nya gak di nyalain?" Tanya nya.


"Lagi gak pengen nonton sih."


"Jadi Pengen nya apa?" Kata nya sambil meringsuk masuk di pelukan ku.


"Pengen nya bobo." Kata ku sambil memeluk nya Erat. Apa perasaan ku saja seperti nya dia lebih wangi malam ini.


Ternyata memeluk nya membuat sedikit kepenatan ku menjadi hilang.


"Abang..." Panggil nya pelan.


Aku hanya menjawab dengan gumaman. Mata ku sudah tertutup mulai tadi. Rasanya aku seperti habis meminum obat tidur.


Sayup sayup ku dengar Elsi berbicara kepada ku, tetapi tidak bisa, rasa kantuk ku tak bisa tertahankan lagi. Aku tertidur sambil memeluk nya.

__ADS_1


__ADS_2