Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
PAPA


__ADS_3

NANDA


Elsi sedang menikmati makanan nya di samping ku. Aku tak henti henti menatap wajah nya.


Aku tak pernah melihat dia secantik sekarang, wajah nya di make up dan bersanggul penuh bunga di rambut nya. Tubuh nya di balut dengan gaun putih yang sederhana. Memang tak salah aku memutuskan dia harus berdandan di hari pernikahan kami.


Dia tersadar aku hanya memerhatikan nya, dan tak menyentuh makanan ku sama sekali.


"Kenapa bang? Menor ya?" Dia bertanya sambil mengerutkan wajah nya. Aku tertawa.


"Cantik. Cantik banget. Sampai gak konsen abang. Syukur aja El keluar setelah abang selesai ijab kabul. Mungkin kalau gak, bisa salah ngomong abang."


Dia tertunduk dan tersipu malu. Persis seperti yang dia lakukan ketika kami berada di sekolah dulu. Padahal aku sedang berkata jujur, bukan sedang menggombal nya.


"Tapi sumpah ya bang, El benar benar takut abang salah nyebut tadi. Abang gugup gak tadi?"


Aku mengangguk sambil menyuap kan sendok kedalam mulut ku.


"Banget. Padahal kan sudah latihan 3 hari yang lalu. Tetap rasa nya gugup banget. Syukur gak ada salah salah tadi."


"Gak salah sih, tapi ngomong ngebut kaya di kejar setan." Om Leo menghampiri kami dan duduk di sebelah ku.


"Beneran om?"


Aku bertanya tak percaya. Ya aku gak merasakan aku terlalu cepat berbicara, mungkin karna sangking gugup nya.


"Nanti kalian liat aja video dari HP om."


Aku tertunduk malu. Ternyata belum sempurna sempurna banget aku melakukan nya. Padahal tadi aku berusaha setenang mungkin. Ya tapi mau gimana lagi, masa mau di ulang? Sudah syukur aku tidak ada salah salah dalam menyebut.


Padahal bukan baru bagiku untuk berbicara di depan umum seperti tadi. Aku anak organisasi, sudah terbiasa bagi ku untuk tampil di depan orang.


Tapi ternyata rasanya beda sekali jika kamu sedang ijab kabul, karna ternyata akad nikah sesakral itu. Melakukan nya juga tidak mudah sama sekali.


Tamu sudah pulang dan kami pun sudah selesai membereskan rumah. Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore.


Om Leo pun menyuruh ku untuk istirahat. Dia tau aku sangat lelah dalam beberapa hari ini.


Karna dari kemarin, kami sibuk bersih bersih rumah bangsalan yang akan kami tempati, dan juga sibuk mengurus persiapan akad kami.


Memang pernikahan kami belum terdaftar di negara. Kata om Leo, nanti itu bisa menyusul. Yang penting kami harus sah dulu menjadi pasangan suami istri.


Aku mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum aku masuk, ku dengar Elsi mempersilahkan aku masuk, baru aku berani membuka pintu nya.


Aku takut jika aku masuk dia sedang berganti baju atau apa lah, itu pasti membuat nya tidak nyaman.


karna selama kami bersama, kami memang sekamar, tapi aku tak pernah tidur dengan nya. Aku selalu tidur dengan om Leo selama ini. Sekali lagi, aku pikir kami memang belum sah. Walaupun pada saat pesta ulang tahun kami...... Ah sudah lah.


"Ngapain ngetuk? Masuk aja bang." Katanya sambil berusaha membuka ikatan rambut nya. Dia sudah berganti baju, tetapi rambut nya masih tersanggul seperti tadi.


"Mana tau El lagi ganti baju."


"Kalau ganti baju emang kenapa juga? Kan kita sudah suami istri?"

__ADS_1


Tiba tiba hati ku berdebar kencang. Astaga iya, aku kan sekarang sudah menjadi suami nya. Yang artinya aku berhak atas diri nya. Termasuk melihat dia.....


Aku menundukan wajah ku dan menarik nafas panjang.


Apa yang kau pikirkan Nanda? Jangan gila.


Jangan pikir macam macam, Masih banyak PR yang harus kamu kerjakan dari pada harus memikir kan hal hal seperti itu.


Aku mengalihkan ke "Saltingan" ku dengan membantu nya melepaskan ikatan rambut nya.


"Sini biar abang bantu."


Aku mempersilahkan nya duduk dan aku melepaskan bunga bunga kecil itu dari rambut nya satu persatu.


"Bang...." Dia menegur ku.


"Ya?"


"Pernikahan kita sah gak sih bang?"


Aku berhenti dari kegiatan ku.


"Maksud nya, kan kita tau nih kalau kita, terutama Elsi, gak ada wali nya sama sekali. Orang tua Elsi kan gak tau dan gak hadir. Masih sah gak sih bang?"


"Hm....." Aku menggantung kalimat ku. Dia membalikan tubuh nya ke arah ku. Menunggu jawaban ku.


"Sebenar nya abang ragu buat cerita ini ke Elsi...."


"Maksud nya?"


"Sebenar nya... Sebenar nya abang ada kontak Papa."


Elsi seperti tidak mengerti. Dia hanya mengerutkan alis nya.


"Jadi El, Abang ada kontak papa nya Elsi. Abang cari di instagram Elmi dan abang DM ke akun nya papa. Abang minta nomor telpon papa. Berharap papa ngasih dan abang bisa cerita semua nya. Sebenar nya abang lakukan ini sewaktu kita baru sampai disini. Karna biar bagaimana pun, abang harus minta ijin untuk menikahi Elsi. Harus minta restu. Abang gak perduli apa resiko yang abang terima nanti nya, yang jelas abang cuma minta restu ke papa."


"Dan ternyata papa merespon abang. Dia yang minta nomor telpon abang. Beliau yang telpon abang."


"Terus?"


"Ya abang ceritakan semua apa yang sudah terjadi. Ternyata papa sudah tau dari mama. Dan dia berusaha hubungin El gak bisa karna nomer Elsi di ganti dan sosmed Elsi sudah gak aktif."


"Apa respon papa?"


"Elsi mau ngomong sama papa?" Tawar ku. Dia terdiam.


"Kalau El mau, abang telpon papa sekarang. Karna sebenar nya papa pengen banget ngomong sama Elsi."


Elsi hanya terdiam sambil memain kan jari nya. Dia terlihat bingung sekali.


"Mau ya?" Tawar ku lagi.


Lama dia terdiam tetapi akhirnya dia mengiyakan tawaran ku. Walaupun dengan seribu keraguan di wajah nya.

__ADS_1


Aku menelpon papa dengan HP ku. Tak butuh waktu lama papa mengangkat nya.


"Iya pa, oke sebentar ya." Aku mematikan telpon nya.


"Papa minta panggilan video." Kata ku. Aku merubah panggilan menjadi panggilan video. Aku memberikan HP ku ke Elsi. Dia menolak dan menyuruh ku untuk berbicara terlebih dahulu.


"Assalamualaikum pa." Ucap ku begitu pertama kali papa mengangkat telpon nya. Ini pertama kali nya juga aku bertatap wajah dengan papa. Karna kemarin kami hanya telpon biasa.


"Walaikumsalam. Bagaimana tadi?"


"Alhamdulillah lancar pa. Banyak tetangga juga yang datang mendoakan."


"Syukurlah kalau begitu. Elsi?" Papa bertanya pada ku di seberang sana. Aku menoleh ke Elsi. Mengisyarat kan sudah saat nya dia berbicara pada papa. Wajah nya ragu sekali, tapi aku mengangguk meyakin kan nya.


Aku memberikan HP kepadanya. Dia mengambil nya dengan ragu ragu.


"Elsi... Anak papa...." Ucap papa. Aku hanya bisa mendengar nya dari jauh.


Kulihat Elsi hanya terdiam dan tubuh nya bergetar. Bulir bulir air keluar dari sudut mata nya. Ini momen pertama kali dia berkontak dengan keluarga nya setelah ia di usir dari rumah. Aku mendekati nya dan memegang tangan nya erat.


"Papa..." Dia menangis sesegukan. Dia tak bisa berkata banyak. Ku dengar juga isakan dari seberang sana. Sepertinya papa juga menangis.


"Sudah jangan bersedih. Sampai kapan pun Elsi tetap anak papa."


"Elsi.... Elsi minta maaf pa..."


"Tak perlu Elsi minta maaf ke papa, karna papa sudah maaf kan Elsi dari dulu. Elsi jangan menghilang dari kehidupan papa ya nak." Elsi hanya mengangguk dan masih terus menangis. Aku mengambil alih HP dan tetap mengarah kan ke wajah nya.


"Kalian berdua tetap kontak papa. Papa bakal ada buat kalian. Apa yang kalian lakukan memang sebuah kesalahan, tapi bukan untuk di sesali. Sekarang yang kita pikirkan adalah kedepan nya. Yang terjadi biar lah terjadi, arti nya ini adalah sudah takdir kita semua. Kalau papa tau, atau El cerita ke papa soal ini, pasti papa bakal suruh Elsi datangin papa disini."


"Maaf kan Elsi pa...."


"Yang penting kalian sudah sah menikah, papa sudah merestui kalian. Soal yang lain, kita pikir kan nanti."


"Tapi mama gimana pa?" Tanya Elsi di sela isakan nya.


"Untuk sementara waktu mama biar gak perlu tau kalian bagaimana dan dimana. Pelan pelan jika sudah waktu nya kita akan beri tahu. El tau kan mama gimana? Jadi kita tenang kan diri saja dulu masing masing. Elsi gak sendiri, El masih punya papa."


"Nanda..." Papa memanggil ku. Aku segera mengarahkan layar HP ke wajah ku.


"Iya pa?"


"Kalau kalian berkenan, Kalian terbang kesini, Hidup disini saja bersama papa. Semua semua nya nanti papa bantu urus."


"Baik pa, Insya Allah nanti jika semua nya sudah kembali normal kami bisa mengunjungi papa di sana."


"Pokok nya kalian hidup dengan baik ya nak, yang akur. Saling mengerti satu sama lain. Jika ada kesusahan apapun jangan ragu untuk telpon papa. Papa pasti bantu kalian. Kalian gak akan sendirian."


Aku dan Elsi sama sama mengangguk.


Papa mengakhiri telpon nya ketika sudah lama berbincang bincang dengan Elsi. Seperti nya sudah lama sekali mereka tidak mengobrol ngobrol seperti tadi.


Walaupun wajah Elsi sembab karna menangis, tetapi dia terlihat lebih bahagia dari sebelum nya. Mungkin karna dia lega, masih ada keluarga yang menerima nya. Dengan kondisi nya yang sekarang.

__ADS_1


Lagi lagi, aku banyak bersyukur dengan apa yang telah terjadi di hari ini.


Walaupun masih banyak yang harus ku lakukan, setidak nya aku sudah melaksanakan satu tugas besar, yaitu menikahi nya.


__ADS_2