
Keesokan paginya.
Amel sudah bersiap untuk pergi ke restoran. Hari ini, Amel membawa mobil sendiri untuk berangkat bekerja.
"Mah, Pah, Amel berangkat dulu ya"pamit Amel mencium tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya"ujar Suseno.
"Salam buat Vanessa. Suruh dia kapan-kapan nginep sini"ucap Nadia mamahnya Amel.
"Siap komandan"kata Amel sambil hormat.
Setelah berpamitan Amel pun masuk ke mobil lalu menjalankan mobil meninggalkan kediamannya. Amel memutar lagu Crying In The Club milik Camila Cabello sembari menyanyi. Tiba-tiba saja Amel merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Amel pun memberhentikan mobilnya dan keluar untuk memeriksa mobilnya.
"Kok bannya bocor sih? Kayaknya tadi fine-fine aja"ujar Amel bingung.
"Mana nggak ada taksi lagi"ucap Amel clingak-clinguk mencari taksi.
Tak berapa lama sebuah mobil jeep warna hitam berhenti. Tiga orang pria misterius mendekati Amel.
"Siapa kalian?"tanya Amel ketakutan.
"Ayo ikut kami"
"Nggak mau"teriak Amel berusaha menahan diri saat ketiganya menarik tubuhnya.
Salah satu membekap mulut Amel tapi Amel menggigit tangannya lalu Amel mencoba berteriak.
"Ikut saja atau kami sakiti kamu sekarang juga"
"Bodo amat! Tolong!"
"Diam kamu!"
Amel terus berteriak dan meronta-ronta. Tak sengaja ada mobil lewat jalan di mana Amel berada dan itu mobil Satria.
"Itu kan Amel? Jangan-jangan..."
Satria pun memberhentikan mobilnya, keluar untuk menolong Amel.
"Lepaskan dia!"teriak Satria.
"Kamu siapa beraninya ikut campur"
Dua diantara mereka langsung menyerang Satria, sementara yang satu memegangi Amel. Amel merasa ketakutan melihat perkelahian di depan matanya. Dua orang bisa dilumpuhkan oleh Satria dengan mudah berkat pukulan mautnya. Namun satu orang yang memegangi Amel mengeluarkan pisau dari kantong jaketnya.
"Kak awas!!!"teriak Amel.
Satria belum sempat menghindar saat sebuah pisau menusuk di bahunya. Seketika darah mengalir begitu banyak. Satria langsung bertindak dengan mengeluarkan pistol dan menembak kaki ketiga pria itu agar mereka tidak lari. Seketika Satria langsung ambruk ke tanah.
"Kak Satria bangun"lirik Amel menangis menepuk pipi Satria dimana Satria sudah tak sadarkan diri.
Amel langsung menelfon polisi untuk mengamankan tiga pria itu. Segera Amel membawa Satria ke mobilnya dan membawa ke rumah sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Satria langsung dibawa ke IGD karena keadaannya cukup kritis.
"Mel, Satria kenapa?"tanya Ana yang datang menghempiri Amel saat melihat Satria.
"Nanti aku cerita kak, sekarang tolongin Kak Satria dulu"pinta Amel dengan rasa takut.
"Iya pasti. Tolong kamu hubungi keluargaku ya"ujar Ana.
"Iya kak"jawab Amel.
Ana pun langsung menuju ke IGD untuk menangani Satria.
*****
Sementara di restoran, Vane yang baru saja sampai restoran langsung bergegas ke dapur.
"Arman, apa Amel belum datang?"tanya Vane saat tak menemukan Amel di dapur.
"Saya kurang tahu chef. Biasanya kan Chef Amel datang sebelum Chef Vane datang"jawab Arman.
"Kok perasaanku nggak enak ya?"lirih Vane.
Tiba-tiba ponsel Vane berbunyi dan ternyata Amel yang menelfon.
"Halo Mel, lo di mana? Kenapa belum dateng ke restoran sih?"
"Van gue di rumah sakit. Cepet ke sini"
"Lo kenapa nangis?"
"Kak Satria.."
"Hah? Oke gue on the way"
Vane mematikan telfonnya lalu meminta ijin pada Chef Ronald untuk pergi ke rumah sakit. Dengan kecepatan tinggi Vane mengemudi agar sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Vane langsung ke IGD setelah bertanya resepsionis. Dan Vane melihat Amel yang sedang menangis di sana.
"Amel"panggil Vane yang langsung disambut peluk dan tangisan dari Amel.
"Kenapa bisa gini sih? Ada apa?"tanya Vane.
Amel pun menceritakan semuanya secara detail. Vane pun terkejut mendengar cerita Amel. Vane rasa tiga pria itu memang mengincar Amel.
"Lo udah telfon Om Suseno?"tanya Vane.
"Udah Van. Gue juga udah telfon Om Jatra juga. Katanya dia sama Kak Bima bakal bantuin papah buat nyelidikin penjahatnya"jelas Amel ditengah tangisannya.
__ADS_1
Tak berapa lama Ana keluar dari IGD dengan wajah cemas.
"Kak gimana keadaan Kak Satria?"tanya Vane.
"Kita butuh tranfusi darah. Dia kehilangan banyak darah. Golongan darahnya B-. Rumah sakit dan PMI kekosongan stok"jelas Ana.
"Golongan darahku sama. Ambil aja darahku"seru Vane.
"Oke, ikut kakak"ajak Ana.
"Lo tunggu di sini. Siapa tahu nanti mamah sama Tante Nadia dateng"kata Vane.
Vane dibawa ke ruangan khusus untuk di cek kesehatannya sebelum diambil darahnya. Seorang perawat langsung menangani Vane. Dan mengambil darah Vane sebanyak dua kantong. Hal itu cukup membuat Vane menjadi sangat lemah.
"Mba, istirahat dulu di sini. Nanti saya akan bawakan makanan untuk mba untuk memulihkan kondisi mba"ujar perawat.
Vane hanya mengangguk tak menjawab. Lalu perawat itu pergi membawa kantong darah menuju IGD.
Amel masih setia menunggu di depan IGD. Lalu datanglah Indah dan Nadia. Nadia menghampiri putrinya dan memeluk Amel. Amel pun menangis dipelukan mamahnya.
"Tante Indah maafin Amel ya, gara-gara Amel, Kak Satria jadi celaka"ujar Amel.
"Sayang, jangan salahin diri kamu sendiri ya"ujar Indah mengelus puncak kepala Amel.
Setelah 20 menit, Ana keluar dari IGD. Ana pun memberi tahu bahwa keadaan Satria sudah membaik setelah mendapat transfusi darah dari Vane. Tapi, Satria belum bisa dipindahkan ke ruang rawat sebelum dia sadar. Mengingat luka tusukannya cukup dalam. Mendengar Vane mendonorkan darah, Indah langsung pergi menemui Vane. Di dalam ruangan tadi, Vane sedang terkulai lemas di ranjang.
"Sayang..."
"Mamah..."
"Gimana keadaan kamu?"tanya Indah mengelus rambut Vane.
"Aku baik. Kakak gimana?"tanya Vane.
"Dia juga baik. Semua karena kamu. Sekarang kamu makan dulu ya, mamah suapin"ujar Indah mengambil makan di meja samping tempat tidur. Saat Indah sedang menyuapi Vane, datanglah perawat.
"Maaf bu, bisakah ibu mengurus administrasinya?"tanya perawat.
"Oh iya sampai lupa. Vane mamah tinggal dulu ya"kata Indah
"Iya mah"jawab Vane.
Indah pergi bersama perawat menuju ruang administrasi.
Amel dan mamahnya masih menunggu di depan IGD karena belum diperbolehkan masuk oleh Ana.
"Mel, mamah mau telfon papah dulu ya. Mamah mau tanya gimana hasil penyelidikannya"ujar Nadia.
"Ya udah, mamah nelfon di taman aja. Nggak enak di sini takut ganggu pasien lain"jawab Amel.
"Oke kamu di sini dulu"ujar Nadia lalu pergi.
Ya ampun, keadaan Kak Satria gimana ya, batin Amel.
"Iya kak"jawab Amel berdiri.
"Keadaan Satria udah membaik. Kamu jagain dia dulu sana. Aku mau lihat kondisi Vane"ujar Ana.
"Boleh kak?"tanya Amel.
"Boleh dong. Kakak tinggal ya"ujar Ana lalu pergi.
Amel pun bergegas masuk ke IGD. Dilihatnya Satria yang terbaring tak berdaya dengan satu selang infus dan satu selang untuk donor darah. Amel memghampiri Satria lalu duduk di kursi samping tempat tidur.
"Kak Satria"ujar Amel memegang tangan Satria.
"Makasih ya kak, udah nolongin aku. Sampai kakak ngorbanin nyawa kakak buat aku. Aku jadi ngerasa bersalah"ujar Amel dengan tangisannya.
Sebenarnya Amel memiliki rasa suka dengan Satria, tapi Amel tidak berani menunjukkannya karena takut jika rasa sukanya membuat hubungannya dengan Satria menjauh. Setidaknya bersahabat dengan Vane membuatnya tetap dekat dengan Satria.
"Aku sedih lihat kakak kaya gini. Aku lebih suka liat kakak ngomelin Vane kalau dia resek dan aku kangen lihat senyum kakak"ujar Amel yang tak sadar mengatakan isi hatinya.
Tanpa Amel ketahui, Satria sebenarnya sudah sadar hanya dia tidak membuka matanya apalagi setelah mendengar pengakuan Amel.
Amel yang masih menangis, meletakkan kepalanya di samping tubuh Satria. Melihat Amel yang memejamkan mata, Satria perlahan mengangkat tangannya dan mengelus kepala Amel sambil tersenyum. Satria tidak menyangka akan menyukai sahabat adiknya. Sifat Amel yang periang, cerewet, dan sederhana membuat Satria tertarik. Tapi sayang dulu Satria masih takut untuk memulai.
"Eh Kak Satria udah sadar"ujar Amel yang kaget merasakan sentuhan dari Satria.
"Iyaa..."
Satria membalas dengan senyum dan menatap Amel begitu lekat.
"Kamu suka sama aku?"tanya Satria yang dibalas pelototan dari Amel.
"Hah? A...ku...a..nu.."
"Aku juga suka sama kamu kok. Sayang malah"ucap Satria yang membuat mulut Amel menganga.
Astaga, ini nggak mimpikan? Serius nih?, gumam Amel.
"Kok diem?"tanya Satria.
"Kakak nggak lagi becanda kan? Kakak kan ganteng, sukses, dan mapan. Pasti banyak cewek yang lebih baik dari aku"kata Amel lesu.
"Tapi aku sukanya sama kamu"ujar Satria mengelus pipi Amel.
"Kak please deh, jangan baperin aku"rengek Amel.
"Aku serius, Mel. Mau nggak jadi pacar aku?"tanya Satria dengan wajah serius.
Papah, tolongin Amel. Jantung Amel mau copot, rengek Amel.
__ADS_1
"Eemm...iya aku mau"jawab Amel dengan seulas senyum.
Satria merentangkan tangan isyarat agar Amel mendekat. Lalu keduanya pun berpelukan begitu erat.
"Cepet-cepet deh kita nikah"ujar Satria.
Tanpa mereka berdua sadari ada empat pasang mata yang menyaksikan keromantisan mereka dibalik pintu. Mereka adalah Vane yang berada di kursi roda, Ana, Indah, dan Nadia.
"Sepertinya kita akan jadi besan, Nad"ucap Indah terkekeh.
"Kayaknya gitu deh"balas Nadia.
"Van, calon kakak ipar baru tuh"goda Ana.
"Iya nih, besok aku suruh Amel bantuin bersihin kolam renang"canda Vane dengan tawa kecil.
Amel dan Satria pun melepas pelukan. Nampak kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Setelah kedua pasangan itu selesai bermesraan, empat pengintip tadi mengetuk pintu lalu masuk ke dalam IGD.
Amel dan Satria awalnya terkejut tapi mereka berusaha menutupi keterkejutan mereka.
"Van kok kamu di kursi roda?"tanya Satria.
"Aku lemah kak. Soalnya habis nonton drama india yang menguras perasaanku kak"ucap Vane menahan tawa.
Satria mengernyitkan dahinya, dia tahu betul jika Vane sedang menyindirnya.
"Kasian Vane, Sat. Dia sampai lemah begini"sambung Indah.
"Emang berapa lama Vane nonton drama india?"tanya Amel dengan polos.
"Eemm sekitar 30 menit yang lalu"jawab Ana menatap Satria sambil menaikkan satu alisnya.
Wajah Satria langsung memerah karena malu. Aksinya ketahuan oleh keluarganya.
"Lebay banget lo, Van. Padahal lo abis donorin darah buat Kak Satria"jelas Amel.
"Kok kamu manggilnya Satria masih Kakak sih?"timpal Nadia.
"Emang harusnya apa mah?"tanya Amel tak paham.
"Udahlah Tante Nadia, anak tante ini mikirnya lemot. Susah ngomong sama dia"ejek Vane.
"Sumpah penghinaan lo"sarkas Amel.
Setelah itu, Satria dipindahkan ke ruang rawat VIP. Kemudian datanglah Jatra, Suseno, dan Bima. Mereka menjenguk Satria sekaligus memberitahu tentang penyerangan tadi.
"Mereka itu mantan narapidana kasus narkoba yang 15 tahun lalu papah tangkap dan baru bebas lima bulan lalu. Jadi mereka mau culik Amel buat balas dendam karena mereka tahu Amel anakku"
"Makasih ya Satria udah nolongin anak om"lanjut Suseno.
"Oohh..."jawab Vane ber-oh ria.
"Kok oh doang sih?"tanya Suseno.
Suseno sudah terbiasa melihat sikap datar, cuek, dan usil dari Vane. Terlebih lagi kehadiran Vane membuat Amel tak kesepian lagi.
"Ya aku harus bilang apa Om? Kan udah resiko jadi anak polisi. Belum lagi ketambahan jadi calon istri anggota BIN"sindir Vane melirik Amel dan Satria.
Tiga pria itu saling memandang dan nampak bingung dengan kode dari Vane.
"Vanessa..."seru Satria melototi Vane.
Sumpah nih adek gue mulutnya bocor banget, gerutu Satria.
Tapi Vane membalas dengan menjulurkan lidahnya.
"Ini maksudnya apa? Hubungannya sama calon istri? Apaan si Van? Om nggak ngerti deh"ujar Suseno.
"Oke kamu mau diinterogasi apa mau ngaku sendiri?"tawar Jatra menatap Satria.
Satria dan Amel pun menceritakan perihal hubungan mereka yang baru terjalin dua jam yang lalu.
"Om kasih tahu kamu ya Mel, kalau kamu siap jadi istri Satria berarti kamu harus siap dengan kehidupan istri seorang anggota BIN. Kamu nggak bisa menikah dengan tradisi pedang pora layaknya istri TNI atau Polisi, karena identitas Satria sangat dirahasiakan. Dan yang jelas tugas dia adalah prioritasnya. Dan setiap tugas yang dilaksanakan Satria itu rahasia. Tidak semua bisa diceritakan kepada siapapun termasuk kamu"jelas Jatra.
Amel yang menatap Jatra dan nampak tertegun mendengar penjelasannya. Lalu Amel memandang Indah seakan minta penjelasan.
"Amel, selama tante menikah dengan Om Jatra, kadang tante nggak bisa maksa dia buat cerita apa kasus yang sedang dia hadapi. Jika bisa diceritakan pasti dia akan cerita. Tapi kalau nggak bisa tante nggak bisa maksa. Intinya adalah saling percaya"jelas Indah seraya membelai wajah Amel.
"Jadi, lo siap nggak jadi bagian dari keluarga gue? Mengingat keluarga gue anggota BIN?"tanya Vane.
"Mau nggak mau, aku harus siap. Pelan-pelan aku bakal pahami seperti apa kehidupan Kak Satria"jelas Amel.
"Nah gitu semangat Mel, nanti Kak Ana kasih tips and trik biar nggak cemburuan"sambung Ana.
"Idih tips and trik apa? Kamu awal-awal nikah sama aku aja cemburuan kok. Selalu marah kenapa kamu rahasia-rahasiaan sama aku"timpal Bima dengan gaya bicara seperti Ana.
Ana bukan berasal dadi keluarga aparat negara. Dia adalah teman SMA Bima, dan orang tua Ana hanya pengusaha biasa. Jadi diawal pernikahannya dengan Bima memang mengalami banyak penyesuaian.
"Ya ampun mas, itu kan dulu sekarang enggak"ketus Ana dengan wajah cemberut.
"Nah loh ngambek deh"celoteh Vane dengan tawa jahilnya.
Ana yang merasa kesal dengan Bima keluar dari ruangan Satria. Bima pun mengejar Ana untuk membujuknya agar tidak marah lagi.
"Berarti tinggal Vane yang jomblo nih"ujar Nadia melirik Vane.
Vane tertegun bahkan sampai melotot mendengar perkataan Nadia.
"Lah Rey mau dikemanain Van?"goda Amel balik.
"Sorry Mel, We're just a bussines partner"jawab Vane.
__ADS_1
"Nanti juga jadi life partner"seru Amel tertawa.
Vane langsung melayangkan bantal sofa pada wajah Amel agar dia berhenti tertawa. Yang lainnya hanya geleng kepala melihat pertengkaran kedua sahabat yang akan jadi adik dan kakak ipar itu.