
Seminggu setelah acara lamaran Satria dan Amel, kini tibalah giliran acara lamaran Rey dan Vane. Acara lamaran dia dan Vane diadakan dengan hari yang sama yaitu hari Sabtu di sore hari. Dengan perasaan bahagia sekaligus gugup, Rey membawa keluarganya yang terdiri dari Ibu Sarah, Om Indro, Reza, pakde bude dan om tantenya yang datang secara khusus dari Solo ke Jakarta membantu Rey untuk melamar Vane. Walaupun pernikahan ini hanya pernikahan pura-pura saja, tapi Rey mencoba memastikan bahwa proses yang akan dia dan Vane lalui sebisa mungkin harus terkesan sangat nyata dan tidak setengah-setengah agar tidak memperlihatkan kesan bohongan.
Setelah rangkaian acara lamaran selesai dan kedua pihak keluarga sudah menentukan tanggal pernikahan yang memang akan dilaksanakan awal bulan Desember sesuai kesepakatan. Dan sesuai permintaan Vane bahwa pernikahannya akan diurus oleh wedding organizer termahal di Jakarta mengingat Rey memiliki banyak uang.
Huft, rasanya Vane ingin mencekik Rey kalau dia mengingat betapa sombong dan suka pamernya laki-laki satu itu. Padahal dia sendiri juga tidak miskin-miskin amat. Bukan tidak miskin tapi dia yang tidak suka menunjukkan seberapa kaya keluarganya. Tapi ya itung-itung Vane juga tidak akan terlalu direpotkan oleh urusan pernikahannya. Toh pernikahan kakaknya juga diurus oleh wedding organizer jadi banyak waktu senggang yang dimiliki.
"Ngomong-ngomong, kenapa papahnya Rey tidak ikut acara lamaran ini?"tanya Bima serius.
Keluarga Rey saling memandang saat mendapat pertanyaan dari kakak tertua Vane.
"Maaf semuanya, kalau acara lamaran ini, suami saya tidak bisa hadir"kata Sarah dengan nada kecewa.
Vane dan keluarganya saling memandang. Oh Shit! Keluarga satu ini memang keluarga intel sejati yang punya keahlian bermain tatap-tatapan mata yang menyimpan sebuah pesan di balik tatapan mata mereka. Vane memberi isyarat melalui sorot mata kepada papahnya untuk mulai berdrama.
"Tidak apa-apa Bu Sarah"jawab Jatra.
"Memangnya papahnya Rey di mana?"tanya Indah sambil tersenyum.
Seperti tersambar aliran listrik saat mendapat pertanyaan dari Indah yang membuat Rey dan mamahnya saling memandang karena mereka tidak bisa menjawab. Rey sendiri saja tidak mengetahui di mana keberadaan papahnya.
"Papah sedang ada urusan bisnis di luar negeri, Tante"jawab Rey agak gugup.
"Oohh." Adalah kata yang keluar dari mulut Indah ditambah ekspresi wajah yang bisa dibilang sangat santai.
"Apa beliau sudah setuju dengan pernikahan Rey dan Vane? Mengingat beliau tidak hadir. Saya tidak mau kalau adik saya menikah tanpa ada restu dari salah satu orang tua"kata Satria dengan tatapan dingin.
"Saya akan pastikan kalau papah akan datang di hari pernikahan kami nanti"ucap Rey yakin.
Wah wah keluargaku sepertinya sudah tidak sabar bertemu calon mertuaku, batin Vane menahan tawa.
Ketika semua perundingan telah mencapai kesepakatan, keluarga Rey berpamitan untuk pulang karena semua hal sudah dibicarakan. Keluarga Rey pun meninggalkan kediaman Vane. Vane merebahkan tubuhnya ke sofa ruang tamu, dia merasa lega acara hari ini sudah usai berjalan dengan cukup lancar.
"Coba lihatlah Vane, isi hantaran lamaranmu semua itu adalah produk-produk terbaru dari brand terkenal"puji Ana saat melihat isi kotak hantaran yang berjejer di meja ruang tamu.
Vane pun bangkit dan menegakkan posisi duduknya menatap rentetan kotak hantaran lamarannya.
"Hhmm...biasa aja"jawab Vane santai.
"Ihh kamu loh, lihat ada parfume dari Victoria Secret, terus ini kan tas terbaru keluaran Hermes"jelas Ana menunjuk barang-barang yang dia maksud.
"Kakak ini berlebihan sekali, dia melakukan itu kan karena memang itu yang harus dipersiapkan untuk melamar seorang wanita"kata Vane dengan nada lelah.
"Ohh tidak tidak. Van kamu itu buta atau rabun sih. Kamu lihat dong ini sepatu rancangan Ralph and Russo itu harganya 300 juta. Dan sepatu itu ada di kotak hantaranmu"teriak Ana menenteng kotak hantara yang berisi high heels berwarna biru dengan ukuran daun-daun berwarna emas.
"Ya udah nanti sepatunya aku jual. Terus uangnya aku belanjain cilok depan SMP deket kompleks perumahan"kata Vane dengan nada menyebalkan.
"Hih...jajan muluk"gemas Bima mencubit pipi Vane karena gemas. Di balik dinginnya sifat Vane tersembunyi sifat yang manja, cerewet, dan menyebalkan.
"Kamu itu ya, suka makan tapi badan masih aja bagus"timpal Jatra.
"Ya bisa lah pah. Aku kan selalu rajin olah raga"jawab Vane membanggakan diri.
"Emang kamu olah raganya apa aja Van?"tanya Indah dengan keheranan
"Olah raganya Vane berat, dan nggak akan yang sanggup bahkan nggak ada yang sekuat aku"jawab Vane.
"Apaan tuh?"tanya Bima.
"Lari dari kenyataan"balas Vane yang langsung disambut suara tawa yang amat keras dari keluarganya.
"Wah capek banget tuh. Udah digantungin, dicampakkan terus lari dari kenyataan, kasian amat"seru Satria yang masih tertawa.
"Oh ya Van, emang kamu minta sama Rey diberi barang-barang dengan semua brand terkenal ini?"tanya Ana.
"Nggak lah. Tanpa aku minta juga dia bakal kasih barang-barang branded. Dia kan sombong dan suka pamer mentang-mentang dia itu artis kaya raya se-Nusantara"ketus Vane dengan wajah acuh.
"Dia nggak sombong atau suka pamer kok. Mungkin dia sudah cinta mati sama kamu, jadi dia akan memberi apapun untuk kamu, Van"timpal Satria duduk di sebelah Vane.
Vane menatap Satria hingga alisnya bertautan seraya memiringkan bibirnya keheranan mendengar perkataan Satria yang amat mengusik telinganya.
Ya iyalah, pastinya Rey akan memberi apapun yang aku minta. Kalau nggak kayak gitu mana mau aku bersedia menikah dengan dia, gerutu Vane.
__ADS_1
"Ini semua mau disimpan di mana? Markas aja??"ledek Jatra.
"Sekalian aja disimpan di gudang. Disimpan kamar tamu aja ya Mah. Kamar Vane nanti sempit dan berantakan. Bisa-bisa pusing aku kalau ngeliat kamar jadi berantakan"ujar Vane.
"Iya nanti mamah simpan di kamar tamu"sahut Indah.
Vane pun berpamitan untuk ke kamar, karena dia sudah merasa sangat lelah sekaligus risih memakai kebaya terlalu lama.
*****
Sementara Rey, sudah sampai di rumahnya. Dia langsung masuk ke kamar, melepas kemeja batiknya dan melemparnya ke box pakaian kotor.
Walaupun sudah pukul delapan malam, karena merasa gerah dan badannya lengket, dia memilih untuk mandi. Seusai mandi Rey merasakan kesegaran mendera tubuhnya. Tiba-tiba dia teringat papahnya, karena belum memberitahu tentang pernikahan dia dengan Vane. Kemudian Rey mengambil HP-nya untuk menelfon papahnya hingga akhirnya telfon dari dia diangkat oleh papahnya.
"Halo Rey..."
Beberapa detik Rey masih diam dan belum mengatakan sepatah kata pun.
"Pah...
"Ya bagaimana Rey?"
"Tadi Rey baru saja melamar calon istri Rey"
"Lalu bagaimana? Keluarganya menerima lamaran kamu?"
"Iya tentu saja. Siapa yang akan menolak lamaranku"
Rey mulai berlagak sombong. Ya ampun Rey ingatlah, Vane tidak akan mau menikah dengan kamu jika kamu tidak terkena skandal dengan Clara atau bahkan jika tidak ada pren-nup.
"Lalu kapan kamu akan menikah?"
"Rey akan menikah awal bulan Desember"
"Wah berita bagus"
"Papah bisa pulang?"
"Papah sudah janji kalau papah akan pulang"
"Hhhmmm..."
"Apa papah tahu keluarga dia bahkan mewanti-wanti jika papah tidak datang mereka pasti akan sangat kecewa"
"Ya papah tahu"
"Jika papah mengecewakan mereka, maka aku tidak akan memaafkan papah karena sudah membuat kecewa keluarga calon istriku"
Perkataan Rey terdengar seperti sebuah ancaman bagi Adam. Sepertinya Adam harus mengerahkan segala tenaga, jiwa, dan raganya agar bisa pulang ke Indonesia demi menghadiri pernikahan putranya. Dia tidak ingin mengecawakan Rey terlebih lagi keluarga calon besannya. Bahkan Adam juga belum mengetahui seperti apa rupa calon menantunya. Mungkin dia wanita yang sangat cantik, Adam berpikir demikian seakan ingat wajah Sarah saat muda dulu.
"Akan papah usahakan"
"Baik pah"
Rey pun menutup telfonnya lalu melempar HP-nya begitu saja ke kasur dan dia memilih merebahkan tubuhnya bahkan menutup kepalanya dengan bantal.
*****
Adam kembali menyimpan HP-nya di kantong celanya. Dia menarik napas dalam-dalam dengan berbagai hal yang terus dia pikirkan. Berdiri di balkon apartemen sedikit memberi udara sejuk apalagi saat sore hari di kota Tokyo.
Jade melihat Adam yang berdiri termenung lalu dia menghampiri sahabatnya itu dan dia berdiri di sebelah Adam. Menatap sekilas pria paruh baya yang bahkan tidak nampak seperti laki-laki yang memiliki anak berusia 32 tahun. Penampilan fisik yang masih dibilang cukup muda untuk usia Adam sekarang.
"Kau kenapa?"tanya Jade.
Adam tersentak lalu menoleh ke sumber suara.
"Rey akan menikah"jawab Adam diselingi deruan napasnya.
"Kapan?"tanya Jade lagi.
"Awal bulan Desember"
__ADS_1
"Wah bagus, aku bisa sekalian ikut dengan kau untuk ke Indonesia. Aku ingin mengunjungi Steven anakku juga"ucap Jade semangat.
Mendengar perkataan Jade yang begitu bersemangat tidak membuat Adam bahagia atau bahkan merasa lega. Jade heran kenapa Adam terlihat begitu sedih padahal dia akan melihat putranya menikah.
"Lalu kenapa kau bersedih?"tanya Jade.
"Aku tidak tahu harus berkata apa pada Rius"ucap Adam singkat.
"Memang ada apa dengan asisten iblis itu?"tanya Jade cuek.
Kau tidak tahu Jade, dia sangat tidak suka jika aku menjadi baik apalagi jika itu menyangkut keluargaku, batin Adam bersedih.
"Hei aku bertanya, kau malah bersemedi. Kau pikir aku bisa berkomunikasi denganmu lewat batin"sewot Jade.
Adam langsung memukul lengan Jade karena merasa kesal dengan ocehan sampahnya itu.
"Adam sakit! Kau ini sudah tua tapi masih kuat juga tenagamu"kata Jade manggut-manggut.
"Bantu aku agar Rius mengijinkan aku pulang ke Indonesia..."lirih Adam dengan tatapan memohon.
Jade langsung membulatkan matanya hingga memperlihatkan begitu jelas mata birunya. Dia tidak pernah melihat dan mendengar bahwa Adam meminta tolong bahkan memohon dengan tatapan sendu kepadanya. Jade merasa iba, bukannya melihat Adam dari sudut pandang bahwa dia adalah pria lemah, tapi dia melihat Adam dari sudut pandang di mana pria ini sedang dalam masalah yang cukup rumit.
"Baik akan ku bantu. Aku juga bosan di sini terus menerus"jawab Jade yakin.
Mereka berdua meninggalkan balkon lalu pergi menuju kamar Rius. Keduanya saling memandang dan mencoba meredakan kegugupan. Oh sepertinya kurang tepat! Bukan kegugupan tapi ketakutan. Adam mengetuk pintu kamar Rius dan tak berselang Rius membuka pintu kamarnya dan melihat Jade dan Adam berdiri di depan matanya.
"Ada apa tuan?"tanya Rius.
"Bisa kita bicara?"jawab Adam.
"Oh tentu, sepertinya ada hal serius"ucap Rius.
"Kau ini asisten tidak punya sopan santun, bos itu mau bicara serius dan kau masih menyuruh kami berdiri di depan kamarmu?"cecar Jade dengan wajah penuh kejengkelan.
Rius hanya menyunggingkan bibirnya, lalu dia mempersilahkan kedua bosnya untuk masuk ke dalam kamarnya dan mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa.
"Silahkan tuan mau bicara apa!"ucap Rius.
"Awal bulan Desember, Rey akan menikah dan aku sangat ingin menghadiri pernikahannya. Aku sudah lama tidak pulamg ke Indonesia terlebih lagi aku tidak mau mengecewakan keluarga calon besanku. Maka aku ingin kita ke Indonesia"kata Adam tanpa jeda.
"TIDAK BISA!!!"teriak Rius dengan wajah marah.
"WHATT THEEE HELL!!! Kenapa kau marah? Adam hanya ingin menghadiri pernikahan putranya bukannya akan menyerahkan diri kepada polisi. Berlebihan sekali sikapmu itu. Kau pikir aku juga tidak merindukan putraku? Aku mengkhawatirkan dia karena dia belum sepenuhnya melupakan mantan kekasihnya. Salah-salah dia bunuh diri dengan terjun dari lantai 20"tegas Jade tak kalah emosi.
"Maaf tuan tapi kita sedang menjadi buronan intel Prancis, kita tidak bisa meninggalkan Jepang, akan sangat membahayakan diri kita"sergap Rius.
"Apa kau lupa, kita ke Jepang memakai identitas palsu, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama ketika akan pergi ke Indonesia? Aku sudah banyak mengalah terhadapmu Rius,mengikuti semua rencana yang kau buat. Aku tidak pernah meminta apapun, aku hanya ingin melihat putraku menikah"timpal Adam tak kalah sengit.
Rius menatap kedua laki-laki di hadapannya secara bergantian. Dia belum yakin sepenuhnya bahwa pergi dari Jepang adalah pilihan yang baik. Apalagi jika kedua laki-laki di hadapannya itu akan bertemu keluarga mereka, maka keduanya akan menjadi lemah.
"Baiklah mungkin kau berpikir kita akan dalam bahaya jika pergi dari Jepang. Tapi coba kau pikir baik-baik, apa yang akan kita lakukan di sini? Menunggu? Menunggu apa? Pemerintah Prancis begitu memperketat penjagaan di gudang senjata bagaimana bisa kita mencurinya? Apa kau berpikir Indonesia tidak aman, faktanya apa? Jika memang Indonesia sudah tidak aman untuk kita pasti sudah sejak lama intel Indonesia mencari informasiku melalui keluargaku, jika kau belum lupa kalau aku masih punya keluarga"sarkas Adam yang sudah beranjak berdiri dari sofa.
"Aku setuju dengan Adam. Kita di sini tidak melakukan apapun hanya buang-buang waktu saja, mungkin jika kita pergi ke Indonesia kita akan menemukan ide. Misalnya kita bisa menyelundupkan senjata dari Jerman ke Indonesia. Bukankah Indonesia selalu membeli senjata militer dari negara lain?"kata Kade meyakinkan dan dia juga sudah berdiri di samping Adam.
Ayolah asisten iblis, lama sekali kau berpikir, cepat setujui rencana ini, batin Jade kesal.
Sekali lagi Rius berpikir, dia tidak mau kalau semua rencana yang sudah dia susun dengan rapih harus hancur berantakan hanya karena pernikahan Rey, dia tidak ingin bekerja dua kali untuk memperbaikinya. Dia sudah cukup kesal karena kegagalan bulan lalu di Prancis.
"Kau benar Jade, tumben kau pintar. Sepertinya aturan hukum di indonesia tidak seketat aturan hukum di Amerika atau Eropa, mungkin kita bisa melakukan itu kan?"ucap Adam dengan senyum menyeringai menaik turunkan alisnya.
Jade paham maksud tatapan sahabatnya agar mendukung dramanya lalu dia berkata, "Kita juga bisa tinggal beberapa lama di Indonesia agar kita bisa melaksanakan rencana untuk menyelundupkan senjata ke negara itu"timpal Jade setuju.
"Baiklah jika tuan meminta, sebagai asisten yang baik saya akan menuruti keinginan tuan untuk pergi ke Indonesia. Mungkin ada benarnya di sana kita bisa menyusun rencana baru seperti yang kalian usulkan tadi kepadaku"kata Rius datar.
Adam dan Jade menatap penuh kegembiraan dan kemenangan. Akhirnya mereka bisa ke Indonesia, merasakan sedikit kebebasan sebagai manusia biasa. Bisa dibilang ini liburan bagi keduanya terlepas dari segala hal yang sudah mereka lalui.
"Baik Rius, persiapkan keberangkatan kami di akhir bulan November. Jangan membuat sahabatku ini terlambat menghadiri pernikahan putranya sendiri"ucap Jade menepuk bahu Rius lalu keluar dari kamar asisten itu bersama Adam.
"Yang bos itu sebenarnya dia atau kita sih? Kenapa setiap kita mau pergi harus meminta ijin kepada dia? Harusnya kita kan yang memerintah"ketus Jade setelah keluar dari kamar Rius dan berjalan menuju dapur.
"Apa kau tidak sadar diri? Hidup kita bergantung pada dia. Semua yang terjadi di kehidupan kita seakan dia yang mengatur dan harus berjalan sesuai dengan kehendaknya"jawab Adam.
__ADS_1
"Cih, kita hanya bos bayangan saja, sementara kita tidak punya kuasa apapun justru dialah yang berkuasa. Menyebalkan"ketus Jade.