
Mereka memang berencana hanya akan berada di acara ini selama satu jam saja, tetapi satu jam berlanjut ke dua jam, kemudian tiga dan tanpa disadari Rey dan Vane, tamu-tamu sudah mulai berpamitan dan jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Selama satu jam pertama Rey dibawa keliling oleh Vane untuk diperkenalkan kepada anggota keluarganya. Tentu saja Vane mulai dengan mengenalkan kepada keluarga intinya. Kemudian Rey dikenalkan dengan keluarga Amel, keluarga Kak Ana, sebagian dari pakde, bude, om, tante, dan sepupu-sepupu Vane yang berasal dari keluarga mamah papahnya yang sebagian menetap di Jakarta.
Sebelum Vane bisa ingat nama mereka, tiba-tiba Khansa salah satu keponakan Vane dari pihak papahnya, yang merupakan fans berat dari Rey, menyeretnya yang dengan bangga memperkenalkannya kepada sepupu-sepupunya.
Pada akhir jam pertama, Rey bisa menyimpulkan bahwa Vane tidak mengada-ada ketika berkata bahwa keluarga besarnya berisik. Mamah Vane adalah nomer empat dari tujuh bersaudara dan papahnya nomer tiga dari lima bersaudara. Ditambah dengan anak-anak mereka yang merupakan sepupu Vane dan anak-anak dari para sepupu ini, rumah itu sudah seperti konser EDM di Tomorrowland ramainya.
Bagi seseorang yang merupakan anak tunggal, dan papahnya juga hanya anak tunggal walaupun mamahnya memiliki banyak saudara tapi Rey tidak terlalu dekat dengan keluarga mamahnya sejak dulu. Sehingga jumlah anggota keluarga Vane membuat Rey agak-agak terkesima.
Selain itu Rey juga bisa menyimpulkan bahwa keluarga Vane adalah keluarga cukup terpandang. Dilihat dari bentuk dan ukuran rumahnya, keberadaan kompleks perumahannya, brand mobil yang terparkir di depan rumah, dan penampilan anggota keluarga Vane. Rey bisa memperkirakan kalau keluarga Vane ada yang menjadi anggota wakil rakyat, pengusaha, aparat negara dan pegawai instansi pemerintah.
Jam kedua dilalui Rey untuk melayani mereka yang ingin minta tanda tangan, foto bareng, bahkan mencium dan memeluknya, tapi kebanyakan dari mereka hanya menatapnya ingin tahu dari kejauhan. Belum ada yang mengeroyoknya, tapi itu mungkin karena Vane sudah membisikkan ultimatum kepada keluarganya agar tidak melakukannya. Ditambah lagi tatapan horor dan ekspresi dingin Vane membuat semua memilih diam. Percayalah di antara anak-anak perempuan di keluarganya, Vane yang terkenal paling galak dan judes.
Semakin lama dia berdiri dan dikelilingi oleh keluarga besar Vane yang menerimanya dengan tangan terbuka ini, semakin dia lupa bahwa kehadirannya di sini adalah hanya pura-pura saja.
Jam ketiga dilalui Rey untuk menjawab berbagai macam pertanyaan mengenai huhungannya dengan Vane.
Salah satu tante Vane bertanya, "Kapan mulai dekat dengan Vane?"
"Sekitar bulan April tante"jawab Rey pasti.
"Kalian pertama kali ketemu di mana?"tanya budenya Vane.
"Di restoran tempat Vane bekerja"jawab Rey lagi.
"Sudah berapa lama kamu pacaran dengan Vane?"tanya pakdenya Vane.
"Sekitar satu bulan pakde"jawab Vane.
Rey dan Vane setuju untuk menjelaskan sedekat mungkin dengan kenyataan supaya terdengar meyakinkan juga untuk mencegah supaya mereka tidak mengganti cerita tersebut di lain waktu karena lupa akan apa yang mereka sudah katakan sebelumnya.
Dan jam inilah Rey mulai betul-betul mengenal Vane dengan memperhatikan interaksinya dengan keluarganya. Vane jelas-jelas kelihatan sedikit tidak nyaman di antara keluarganya, terutama papah dan kedua kakaknya. Apalagi saat Rey melihat tatapan tajam ketiga pria itu terhadapnya. Mungkin karena Vane anak perempuan satu-satunya maka mereka sangat memerhatikan pria yang menjadi pacar Vane.
Rey teringat akan reaksi ketakutan Vane ketika dia memojokkannya dan mamaksanya agar setuju dengan lamarannya, rasa sakit hati dan kekecewaan terpendam yang tersirat pada matanya sebelum Vane kemudian mencoba melarikan diri dari percakapan itu.
Berbeda halnya dengan Vane, jika mungkin Rey berpikir Vane terlalu dijaga pergaulannya dengan para laki-laki melihat reaksi dari papah dan kedua kakaknya, tapi tidak dengan Vane. Dia sudah memikirkan setelah acara ini berakhir, dia akan dicecar dengan berbagai pertanyaan oleh ketiga intel itu di ruang kerja papahnya.
Tapi satu hal yang disadari Rey selama dua minggu belakangan adalah bahwa Vane seorang perempuan yang selain lintar, mandiri, cute as hell, dan memiliki selera humor, dia juga memiliki kecenderungan mengeluarkan komentar yang agak-agak sarkastik. Bahkan Vane tidak jaim sama sekali dalam bersikap layaknya wanita anggun lainnya.
"Jadi sekarang Vane sama Amel mau saingan nih?"ledek Nadia.
"Saingan apa tante?"tanya Vane.
"Ya saingan punya pasanganlah. Kemarin katanya just business partner eh sekarang on the way life partner"celetuk Nadia dengan tawa girang.
__ADS_1
Vane hanya bisa mengelus dahinya melihat ulah calon mertua Kak Satria, yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan Amel anaknya.
"Kalian memang serasi, kalau calonmu kayak gini, kakak setuju seratus persen"sambung Ana sembari mengacungkan dua jempol pada Vane.
"Hahaha nggak nyangka kan. Kalau orang lain dari mata turun ke hati, kalau Vane dari makanan naik ke hati"goda Amel dengan wajah menyebalkannya.
Godaan Amel berhasil membuat wajah Vane bersemu merah seperti kepiting rebus ditambah lagi kulit Vane yang sangat putih. Rey yang melihat ekspresi malu-malu dari Vane langsung tersenyum dan merangkulnya.
"Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, sakit atau sembuh, cinta atau benci"kata Rey seraya menatap Vane penuh arti.
Vane hanya diam menerima tatapan dari Rey. Rasa-rasanya tatapan itu berhasil menghancur benteng pertahanan gunung es di hati Vane.
Oh God, pantas saja dia dinobatkan sebagai aktor terbaik se-Indonesia, lihatlah aktingnya itu, batin Vane.
Satria dan Bima hanya saling menatap kebingungan. Mereka berdua belum bisa bertindak apa-apa melihat peristiwa bersejarah di hadapan mereka.
"Akhirnya kamu bisa juga cari laki-lagi yang bagus, Van"komentar Indah kepada anaknya yang menarik perhatian Rey.
"Selama ini kamu selalu cari laki-laki yang kurang mamah suka. Gini dong..."lanjut Indah memberikan senyuman kepada Rey.
Jatra yang melihat tingkah konyol istrinya hanya bisa menatap Indah dengan tatapan bingung. Melihat kecemasan di mata suaminya, Indah memberi anggukan dan senyuman supaya suaminya mengerti bahwa apa yang dia lakukan hanyalah drama semata.
"Sebagai wanita dewasa saya yakin Vane mampu memilih laki-laki yang paling cocok untuknya sendiri tanpa dorongan atau paksaan siapa pun. Itu sebabnya dia mengatakan 'iya' waktu saya meminta dia untuk menikahi saya beberapa hari lalu, bahkan sebelum saya dikenalkan ke keluarganya." Rey tidak sempat memikirkan kata-kata itu sebelum kalimat itu meluncur keluar dari mulutnya.
Rey mendengar Vane mendengus menahan tawa ditambah lagi melihat ekspresi Satria dan Bima yang ternganga. Untuk meyakinkan keluarga Vane, Rey mengangkat tangan Vane dan memamerkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Dan aksi memamerkan cincin yang Rey lakukan berhasil membuat keluarga Vane nampak takjub. Apalagi melihat batu berlian empat karat yang berkilau karena terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela.
"Rey, what are you doing?"desis Vane.
"Wait and see"balasnya sambil tersenyum ketika melihat semua orang mendekat.
Setelah yakin mendapat perhatian semua orang, Rey meraih tangan Vane dan memulai pidatonya.
"Selamat siang semuanya. Saya tahu bahwa ini baru pertama kali keluarga Vane ketemu saya sebagai pacarnya Vane. Pakde, Bude, Om, dan Tante mungkin mikir kalau saya sedikit kurang sopan karena sudah menjadi tamu nggak diundang dan sekarang pakai ngasih pidato tanpa seizin yang punya rumah segala."
Rey mendengar gelak tawa dari beberapa tamu dan dia melanjutkan, "Saya belum lama kenal dengan Vane, tapi semenjak pertama kali saya ketemu dia, saya sudah jatuh cinta pada Vane dan tahu kalau dia adalah wanita yang tepat untuk saya. Saya coba beberapa kali mengajaknya keluar dan selalu menerima penolakan dari Vane, tapi saya pantang menyerah sampai akhirnya dia mau makan malam dengan saya."
Vane berusaha tidak terbatuk-batuk mendengar kebohongan dari mulut Rey ini. Dia melihat sekelilingnya, khawatir seseorang akan mengenali kebohongan ini, tetapi dia melihat bahwa semua orang sedang menatap Rey ingin tahu.
"Setelah kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama, saya sadar bahwa Vane adalah wanita yang saya mau sebagai pendamping hidup saya. Dua hari yang lalu saya melamar Vane dan dia setuju menjadi istri saya."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bisa berkata-kata. Rey memberikan senyuman kepada Vane yang sedang menatap wajahnya tak percaya. Dia kemudian menggiring Vane menuju orang tuanya. Ketika mereka sudah berhadapan dengan orang tua Vane, Rey menatap dan dengan setulus mungkin dia mengatakan sesuatu.
"Om, Tante, saya minta izin diperbolehkan menikahi Vane."
Orang tua Vane terdiam dan saling memandang satu sama lain selama beberapa detik, sebelum kemudian mamah Vane berkata, "Akhirnya...."sambil memeluk Vane dan Rey.
__ADS_1
Tak berapa lama Indah melepas pelukannya, lalu di susul oleh Ana yang memeluk Vane.
"Selamat ya Van, kakak seneng banget akhirnya status single kamu akan segera lepas"kata Ana dengan tampang tak berdosa.
Ini kenapa semua keluargaku pada main drama gini sih, tanya Vane dalam hati.
"Congratulation sahabatku, aku kayaknya keduluan nih"ucap Amel menghampiri Vane dan Rey.
"Maksudnya?"tanya Vane tak mengerti.
"Begini Vane, tadinya Om mau mengumumkan tentang lamaran Amel dan Satria yang akan dilaksanakan minggu depan"sambung Suseno.
"HAAHHH???"kata-kata itu yang keluar dari mulut Vane dengan wajah terkejut.
"Eh malah udah keduluan sama pidatonya Rey yang menggemparkan warga Bintaro"celetuk Nadia terkekeh.
"Selamat Kak Satria"teriak Vane memeluk Satria seperti anak kecil.
Rey tersenyum melihat kedekatan Vane dengan kakak keduanya.
"Kak Satria nggak cerita apa-apa ke aku?"tanya Vane menatap tajam Satria.
"Kamu juga nggak cerita apa-apa ke kakak. Jadi kita impas"balas Satria menyunggingkan senyumnya.
"Mending sekalian kamu ajak Rey buat datang ke acara lamarannya Satria dan Amel"kata Indah.
"HAH???" Vane kembali mengulang kata-kata itu dengan wajah planga-plongonya.
"Kamu ini dari tadi hah hoh hah hoh terus. Rey kan pacar kamu, ajak sekalian dong"seru Ana.
"Kamu bisa Rey?"imbuh Bima yang sejak tadi hanya diam berdiri tegak seperti paspampres.
"Nanti saya akan tanya pada manajer saya untuk minggu depan apa ada jadwal kosong. Tapi saya belum bisa janji"jawab Rey pasti.
"Iya iya artis kan sibuk"seru Amel.
"Memang kapan rencana kalian akan menikah?"tanya Vane.
"Belum tahu. Sepertinya kamu dan Rey juga memiliki rencana menikah dalam waktu dekat. Kakak nggak mau sampai tanggal pernikahan kita berdekatan. Itu pasti akan sangat merepotkan keluarga kita"jawab Satria tenang.
"Saya akan tanyakan pada mamah saya, kapan waktu yang tepat untuk melamar Vane"jawab Rey pasti.
"Walaupun orang tua kami sudah setuju kamu menikahi Vane, tapi kamu belum bisa masuk dalam club keluarga Wibowo jika kamu belum mengalahkan aku sebagai kakak tertua di keluarga ini dalam permainan catur"tantang Bima dengan wajah sangar.
Vane menelan ludah saat melihat ekspresi Bima ketika memberi tantangan pada Rey. Wajah Vane menjadi pucat pasi, pasalnya Kak Bima adalah jagonya dalam bermain catur. Belum ada yang bisa mengalahkan permainannya mungkin tidak akan pernah ada. Dan sekarang Bima menantang Rey untuk bermain catur.
__ADS_1
Seketika Vane langsung berdoa kepada Tuhan agar Rey bisa terselamatkan oleh permainan kakak pertamanya itu. Bisa jadi Bima akan memonopoli Rey dalam permainan catur nanti. Bima pun mengajak Rey untuk ke halaman belakang diikuti oleh Satria.