
Rey mengalihkan bibirnya dari bibir Vane ke lehernya agar mereka berdua bisa menarik oksigen ke dalam paru-paru. Tubuh Vane terasa hangat di dalam pelukannya dan Rey ingin menguburkan tubuhnya di dalam kehangatan yang mengundang itu. Vane beraroma vanila di mana-mana. Rey mengambil nafas dalam-dalam untuk menyimpan aroma itu di dalam pikirannya lalu menguncinya.
Sebuah alarm di kepala Rey, memperingatkan dia untuk menghentikan semua ini. Dia baru saja ingin menjauhkan tubuhnya dari Vane ketika merasakan jari-jari tangan Vane menyisiri rambutnya dan menarik kepalanya kembali kepada bibirnya.
Rey menahan diri agar tidak menggeram ketika bibir mereka bersentuhan untuk kesekian kalinya. Mencium Vane adalah kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan sepanjang hidupnya, tapi dia tidak bisa berhenti.
Tanpa Rey sadari, tangan kanannya sudah mengangkat kaus yang dikenakan Vane dan dia bisa menyentuh kulit perut Vane yang bahkan lebih lembut lagi daripada kulit wajahnya. Tangannya menarik pinggang Vane agar lebih dekat dengannya. Vane sama sekali tidak menolak permintaan ini. Rey masih memeluk tubuh Vane dengan tangan kanannya dan bibirnya masih menempel dengan bibir Vane yang "Oh! So kissable."
Seharusnya perempuan seperti Vane tidak seharusnya membuat dia hilang kontrol, bahkan sampai mencium dia balik dan mengeluarkan suara-suara provokatif ketika dia mengeksplorasinya. Dan dengan kesadaran ini Rey menarik tubuhnya menjauhi Vane. Dengan susah payah dia mengambil lima langkah mundur menjauhi Vane agar dia tidak tergoda untuk memulai lagi apa yang baru saja dia akhiri.
"Aku..." Rey memulai, tapi dia tidak bisa menyelesaikan kalimat itu karena dia sendiri tidak tahu apa yang ingin dia katakan. Vane menatapnya dengan penuh antisipasi.
"Aku mau..." Dan sekali lagi Rey tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Apa dia harus minta maaf atas perbuatannya? Tapi toh Vane membalas ciumannya, itu berarti bahwa dia menikmatinya juga kan? Damn it!
Vane mengejutkannya dengan berjalan ke arahnya dengan langkah pasti. Otomatis Rey mundur beberapa langkah. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, dia takut akan sentuhan seorang wanita. Dan sekarang Vane terlihat seperti ibu tiri yang siap memukul anak tirinya.
"Stop!"ucap Rey sambil mengangkat tangannya meminta Vane tidak mendekatinya lagi.
Tapi Vane tidak kelihatan tersinggung atau peduli dengan reaksi penolakan Rey. Vane berjalan mendekati Rey, dan berhasil membuat dia panik. Rey tersentak saat tangan Vane menyentuh wajahnya dan dia takut jika Vane menciumnya lagi dan dia tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu lebih dari sekedar ciuman.
Rey memejamkan mata karena Vane mendekati wajahnya dan detik kemudian Rey merasakan bibir Vane menyentuh wajahnya. Bukan di bibir melainkan di pipi kanannya.
"Good night"ucap Vane pelan dan ketika Rey membuka matanya, dia disambut oleh senyum di wajah Vane.
Sebelum Rey bisa memahami apa yang terjadi, Vane sudah meninggalkan studio.
"WHAT THE HELL! THIS SHOULDN'T TO HAPPENED!!!"
__ADS_1
Rey berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya bahkan dia sesekali memukul udara yang tidak bersalah sama sekali. STUPID MAN!
*****
Begitu Vane masuk ke dalam kamarnya, dia langsung mengunci sebelum jatuh terduduk di lantai tepat di balik pintu. Sambil menguburkan wajahnya pada kedua belah tangannya dia menggeram.
"Kenapa Rey harus menciumku? Itu akan membuat segalanya menjadi lebih ruwet"kata Vane.
"Oke, mungkin ini bukan sepenuhnya kesalahan dia. Tapi kenapa aku bodo dah harus membalas ciuman dia. Aakkhhhh"teriak Vane memukul lututnya.
Bukan hanya sekedar membalas tapi Vane nampak antusias kalau lebih spesifik lagi. Oh! Andaikan saja dia tidak melihat wajah merah merona dari Rey yang membuat dia menumpahkan seluruh hatinya pada ciuman itu.
"NOO!!! Apa yang harus aku lakukan besok kalau bertemu Rey lagi?"tanya Vane dengan kedua alisnya yang sudah bertautan.
"Tidak mungkin, aku harus berpura-pura bahwa ciuman itu tidak terjadi? Which stupid human will forget that!"runtuknya.
Vane menyentuh bibirnya dengan jari-jarinya dan memori tentang ciuman itu kembali menghantuinya. Dia bahkan masih bisa merasakan Rey pada lidahnya, dia bisa mabuk dengan rasa itu kalau dia tidak hati-hati. Apa yang dia akan lakukan selanjutnya? Dia kelihatan jelas-jelas sangat menyesal setelah memberikan ciuman paling dahsyat yang pernah Vane rasakan sepanjang hidupnya.
Vane memaksa dirinya untuk berdiri dan berjalan menuju meja rias. Dia mengoleskan skincare malamnya seperti biasa. Oh Tuhan kenapa Engkau memberikan Vane wajah yang nyaris sempurna. Dengan wajah putih mulus, bibir kecil dan mengerucut, hidung mancung, dan mata coklat yang tajam.
Vane membaringkan tubuhnya di kasur berusaha memejamkan mata. Tapi sulit untuknya, dan dia justru menatap langit-langit kamarnya seperti sedang menghitung domba agar dapat membantunya tidur. Diselimuti kegelapan, lirik lagu Rey terngiang kembali di telinganya. Dia tidak pernah melihat seseorang yang begitu berbakat, sekaligus begitu sengsara dengan kehidupannya.
Sarah salah karena menyangka Rey lebih menyayanginya dari pada papahnya, karena kalau berdasarkan emosi yang dia curahkan pada lagunya, Vane mendapat bahwa Rey menyayangi papahnya lebih dari apa pun dan karena itulah kekecewaannya terhadap papahnya terasa lebih dalam.
Dia betul-betul ingin membantu Rey mengatasi masalahnya. Vane mendesah ketika sadar bahwa beberapa bulan yang lalu dia mencoba membantu karir Rey dengan setuju untuk menikahinya. Dan sekarang Vane dihadapkan lagi dengan masalah hidup Rey yang lain. Oh masalah apa manusia apalagi yang ada di dalam hidup Rey? Memikirkan itu membuat Vane akhirnya tertidur begitu saja.
*****
__ADS_1
Dan sekarang kru band Rey sudah mulai memasuki studio. Mereka sudah mengambil posisi masing-masing untuk memainkan alat musik. Lalu pengarah vokal sudah duduk di depan meja control. Rey sudah berada di ruang live room untuk mulai tes suara. Saat dia memulai untuk bernyanyi dia salah mengambil nada, dan itu membuat dirinya harus mengulang dari awal lagi.
"Rey, kalau kamu belum bisa berkonsentrasi untuk latihan, lebih baik kamu istirahat sebentar baru kita lanjut lagi"kata pengarah vokal.
Rey mengangguk lalu keluar dari live room dan duduk di sofa di sebelah Reza yang saat ini juga berada di studionya. Reza juga ikut andil dalam penggarapan soundtrack lagu film ini, karena Reza piawai dalam bermain gitar. Maka tidak heran dia juga piawai merayu wanita.
"Lo kenapa sih? Kelihatannya nggak konsen gitu? Lo udah makan kan?"tanya Reza dengan santai.
Rey belum menjawab, dia masih teringat dengan kejadian 20 menit yang lalu di studio ini sebelum kru bandnya datang.
"Istri lo itu kan chef, pasti dia kasih makanan empat sehat lima sempurna dong?"tanya Reza lagi sambil cekikikan dan dia langsung mendapat tatapan aneh dari Rey.
"Oh kayaknya salah, bukan empat sehat lima sempurna. Tapi lima sehat enam penuh cinta eeaakkkk"kata Reza tertawa puas dengan menaik turunkan alis tebalnya.
Rey langsung memukul perut Reza hingga laki-laki itu menghentikan tawa hinaannya pada sahabatnya yang menjadi pengantin baru itu.
"Berisik lo, sumpah! Nyesel gue ngajak lo buat bikin lagu ini"ketus Rey.
"Nyesel? Tapi jasa gue masih aja lo pakai sampai sekarang"balas Reza penuh kemenangan.
Jika Reza bukan salah satu artis berbakat di perusahaan entertaimentnya, sudah sejak lama Rey memutuskan kontrak kerja sama dengan Reza. Tapi sayangnya bakat Reza tak pernah habis untuk di eksploitasi.
"By the way, gimana rasanya jadi pengantin baru? Hidup lo jadi aman, damai, dan sempurna kan? Apalagi punya istri cantiknya kayak bidadari dari langit ketujuh. Kalau kayak gitu gue juga mau, tapi sayangnya udah keduluan lo sih. Dan gue juga bukan tipe makhluk hidup yang suka merebut milik orang lain apalagi sahabat gue sendiri"ucap Reza penuh arti.
Kini Rey sudah memandang Reza dengan tatapan kagum. Sejak kapan buaya cap kapak itu jadi bijak? Apa dia salah makan? Atau salah mencium bibir wanita? Astaga kenapa Rey kembali memikirkan soal ciuman lagi?
"Rey, gue sebagai laki-laki normal jelas nggak bisa tahan lihat pesona istri lo yang ampun-ampunan cantik banget. Padahal gue nggak setiap hari pelototin dia. Apalagi lo yang bisa dibilang tiap hari ngelihat dia ada di rumah ini. So how you can handle yourself, when this women always in front of your eyes and she will enter in your heart"kata Reza sambil menunjuk dada Rey dengan telunjuknya.
__ADS_1
Rey memandangi wajah Reza yang dapat dia lihat dari tatapan mata sahabatnya itu ada suatu peringatan, jika suatu saat nanti dia akan jatuh cinta pada wanita itu. Dan dia tidak bisa mengantisipasi apa pun. Reza lalu mengedikkan bahunya dan bangkit dari sofa meraih kembali gitar dan memainkan sebuah lagu yang berhasil membuat jantung Rey berdesir.
Jika saat ini suasana hati Rey sedang tidak kacau, dia akan melempar Reza dengan stik drum agar dia berhenti bernyanyi sambil bermain gitar karena dia saat ini sedang memainkan lagu tentang seseorang yang jatuh cinta.