
Rey tidak menyangka bahwa Vane akan muncul setelah argumentasi tadi, maka dari itu dia agak terkejut ketika melihat Vane turun ke ruang makan tepat waktu. Rey tahu bahwa sekarang Vane sedang marah, tapi dia bersyukur karena Vane tidak menyinggung isi klausa perjanjian yang jelas-jelas menyatakan bahwa dia tidak ada mengatur kehidupannya.
Tanpa mengatakan apa-apa Vane berjalan menuju meja makan dan mengambil posisi di tempat yang sama yang dia duduki kemarin malam. Mereka makan di dalam diam. Masing-masing memiliki banyak hal yang ingin mereka kemukakan, tapi tidak ada yang berani memulai.
"Aku minta maaf karena sudah...."ucap Rey, pada saat yang bersamaan Vane berkata, "Sorry, karena sudah marah marah..."
Mereka saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak.
"Kamu duluan"ucap Rey sambil tersenyum.
Vane mengangguk sambil membalas senyum itu. "Aku minta maaf karena sudah marah-marah soal makan malam dengan kamu."
"Kamu pantas marah-marah sama aku, sebab aku sudah masuk ke kamar tidur kamu tanpa izin. By the way, aku minta maaf soal itu"balas Rey.
Vane mengangguk, menerima bendera putih yang diajukan oleh Rey, "Gimana kamu bisa masuk ke kamar aku sih? Kan pintu aku kunci"lanjutnya.
"Aku punya kunci cadangan." Melihat mata Vane terbelalak, Rey buru-buru menambahkan, "Aku akan kasih kunci itu ke kamu kalau kamu takut aku akan mengganggu privasi kamu lagi."
Vane kelihatan berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Aku nggak keberatan kamu punya kunci cadangan asal kamu janji nggak masuk ke kamar aku lagi tanpa izin."
Rey mengangguk mengerti dengan perkataan Vane.
"Lagian juga, mungkin punya kunci cadangan adalah ide yang baik, kalau aku kehilangan kunci kamarku atau kalau ada emergency lainnya di mana kamu harus membuka pintu kamar aku. Buka pintu kamar pakai kunci tentunya lebih mudah daripada harus mendobrak pintu dari kayu jati."
Rey terkekeh menyadari betapa penuh logikanya pikiran Vane, sesuatu yang bisa diharapkan dari perempuan sepintar dia tentunya.
"Yang aku nggak ngerti kenapa kamu harus nunggu aku di dalam kamar dalam kegelapan. Kenapa nggak nyalain lampu atau bahkan lebih baik nunggu aku di ruang tamu mungkin"ucap Vane dengan sedikit bingung.
"Aku bosan dan perlu hiburan. Aku nggak tahu kalau kamu bakalan pergi sampai seharian. Aku nggak ada teman bicara"balas Rey cuek.
Sendok yang sudah setengah jalan menuju mulut Vane terhenti, kemudian dia meletakkan sendok itu di atas piring, "Oke, sekarang aku ada di sini, kamu mau membicarakan tentang apa?"
"Hah?"tanya Rey bingung.
"Apa kamu mau membicarakan kejadian tadi malam dengan aku?"
Rey terdiam. Apa tidak bisakah mereka melupakan saja ciuman itu dan berkelakuan seperti tidak terjadi sesuatu?
"Aku minta maaf karena sudah melakukan itu. Aku nggak sengaja"ucap Vane.
"Nggak sengaja?" Rey menatap Vane tidak percaya.
Orang mungkin akan tidak sengaja menyenggol gelas hingga seluruh isinya tumpah pada taplak meja, atau tidak sengaja menuangkan sabun pada sikat gigi bukannya odol. Bagaimana bisa seseorang memasukkan lidah mereka ke mulut orang lain dan membiarkan orang lain itu melakukan hal yang sama, karena dia tidak sengaja?
THIS IS BULLTHITT, omel Rey dalam hati.
"Iya, aku nggak tahu di mana pikiran aku waktu aku melakukan itu. Aku bahkan nggak tahu kenapa aku melakukan itu."
Rey merasa jengkel dan tidak suka dengan apa yang dikatakan Vane barusan. Perlahan-lahan dia meletakkan sendok dan garpu dari genggamannya, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memejamkan mata.
"Aku nggak bisa tidur semalam karena mikirin soal itu. Aku tahu kamu laki-laki dewasa yang tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu nggak perlu dibilangin sama orang lain. Terutama oleh aku"lanjut Vane.
Rey mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam dan dari memori dia Vane tidak mengatakan apa pun ketika dia menciumnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau sudah kelewatan." Vane menutup penjelasannya dengan nada penuh penyesalan.
Vane memang sudah kelewatan sampai-sampai membuat dia tidak berkonsentrasi saat latihan dengan kru bandnya. Dan yang ingin dia lakukan adalah menyuruh kru bandnya untuk cepat pulang lalu menggedor pintu kamar Vane untuk meminta wanita itu menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.
"Aku janji nggak akan melakukannya lagi"lanjut Vane dan melempar senyum kepada Rey.
Like hell she won't. She will do it again and soon, kecam Rey dalam hati.
*Persetan dia tidak akan melakukannya. Dia akan melakukannya lagi dan segera.
Vane adalah wanita pertama yang dia cium di bibir semenjak bulan Januari, di mana dia harus berpuasa untuk tidak menyentuh wanita karena dia tidak pernah berpuasa untuk tidak menyentuh wanita sebegini lamanya sejak umur 18 tahun dan ini betul-betul mengancam kesehatan fisik dan mentalnya.
"Kamu seharusnya memikirkan semua sebelum kamu menyerang aku seperti aku adalah sebuah brownies panas"ucap Rey sinis yang sudah tidak bisa mengontrol amarahnya.
"Hah??"ucap Vane, dan Rey semakin jengkel ketika melihat Vane kelihatan bingung dengan kata-katanya.
"Kamu ini ngomong apa sih?"tanya Vane.
"Tentang ciuman kita tadi malamlah"bentak Rey.
"Oooohhhhh...." Suatu pemahaman muncul pada wajah Vane.
"Apa lagi coba yang sedang kita bicarakan sekarang?"tanya Rey jengkel.
"Aku sebetulnya sedang membahas tentang komentar aku tentang papah kamu."
Rey langsung megap-megap mendengar balasan Vane. Dia seharusnya tahu bahwa Vane bukan tipe wanita yang akan membuang-buang waktunya hanya membahas soal ciuman. Rey tahu kalau dia adalah laki-laki dewasa, tapi kenapa setiap dia berada di dekat Vane, dia merasa seperti anak kecil bau kencur.
Suara Vane terdengar datar dan santai, terlihat ekspresi wajahnya biasa saja bahkan cenderung dingin. Dan perkataan Vane membuat Rey kembali jengkel. Bagus! Setidaknya dia tidak merasa bodoh karena sudah mengulang memori 24 jam yang lalu.
"Do you want to talk about it?"tanya Rey dengan nada tenang.
"No, not really. Tapi lebih baik kita bicarakan soal itu karena untuk mengantisipasi timbulnya masalah di kemudian hari." Vane kelihatan ragu sesaat tapi kemudian dia berkata, "Aku akan menghargai kalau ke depannya kamu nggak nyium aku lagi."
Rey merasa tersinggung dengan komentar ini dan langsung berkata, "Tapi kamu nyium aku balik. Kamu bahkan menarik kepala aku untuk nyium kamu lagi setelah aku berhenti."
Vane meringis sebelum berkata, "Iya, I know, dan aku minta maaf soal itu. Aku sedikit kurang waras tadi malam."
"Oh kayaknya aku perlu pembalut luka deh"kata Rey.
"Untuk apa?"tanya Vane.
"Untuk ego aku, Van."
"Oh my God. I'm sorry. Bu...bukan maksud aku menyinggung perasaan kamu. You're great kisser. A...awesome...even" Vane terbata-bata mencoba menyelamatkan keadaan.
"Vane relaks. Aku bukan laki-laki yang gampang tersinggung dengan segala hal remeh menyangkut perasaan."
Vane hanya menatap Rey tak berkedip saat laki-laki itu mengeluarkan komentarnya barusan.
"Aku cuma nggak mau kejadian itu membuat hubungan kita menjadi rumit bahkan melebihi sebuah perjanjian bisnis dan aku harus memastikan bahwa kita tetap profesional"lanjut Rey.
Oke, Vane tidak pernah menyinggung tentang perjanjian, tapi manusia satu ini justru menyinggungnya. Jika dia memang mau play dirty, maka Vane juga akan membalas dengan play dirty.
__ADS_1
"Oke kalau begitu kita lupakan saja kejadian itu dan kita harus menjaga hubungan ini agar tidak melewati batas"tandas Rey.
"Oke setuju"balas Vane.
Rey harus menahan diri agar tidak meminta Vane untuk menarik kembali persetujuannya.
"Rey, apa papah kamu pernah menonton film-film atau mendengarkan lagu-lagu kamu?"tanya Vane.
"Dia bukan fans karya-karyaku, dan mungkin dia tidak peduli dengan apa yang aku lakukan"jawab Rey.
"Apa kamu pernah membicarakan tentang perasaan kamu terhadapnya?"
"I don't know what are you're talking about"ucap Rey.
"Aku membicarakan hubungan kamu dengan papah kamu."
"Dari mana kamu tahu semua tentang itu?"tanya Rey curiga.
"Dari mamah kamu"jawab Vane santai tapi perkataannya berhasil membuat Rey terkejut.
Perlahan-lahan Vane bisa merasakan Rey ingin menjauhinya. Dan dia tidak bisa duduk diam saja saat melihat Rey kelihatan sakit hati atas perkataannya. Pada detik selanjutnya Vane berdiri di belakang kursi yang diduduki Rey dan kedua tangannya melingkari leher pria ini.
Sandaran kursi yang cukup rendah sehingga membuat Rey bisa mengistirahatkan kepalanya pada perut Vane. Terkejut! Rey merasakan perut Vane berotot atau nyaris sixpack.
Dan sekarang dia merasakan wanita itu sedang membelai rambutnya. Awalnya dia kaget namun lama-lama dia merasa relaks. Mungkin karena dia sudah lama tidak diperlakukan seperti itu mengingat umurnya sudah kepala tiga.
Vane tahu Rey membutuhkan sebuah perhatian, kemudian dengan sebuah keberanian dia mencium kepala Rey seperti seorang ibu yang mencium kepala anaknya sebelum tidur.
"Kamu pakai shampo apa?"tanya Vane.
"Salah satu produk yang dikirim dari Body Shop sebagai hadiah pernikahan kita. Kenapa?"
Vane ingin memarahi dirinya sendiri saat hatinya berbunga-bunga ketika Rey menyebut kata 'pernikahan kita'.
"Wangi"ucap Vane akhirnya.
Rey mendengus seperti ingin tertawa, "Glad, you like it,"ucapnya sambil memperbaiki posisi kepalanya pada perut Vane dan menggenggam tangannya yang masih melingkar di lehernya.
"Rey..."
"Hhmm..."
"Apa kamu sedang mempertimbangkan apa yang aku katakan tentang papah kamu?"
Awalnya Rey tak beraksi apa-apa, sampai dia melepaskan diri secara paksa dari pelukan Vane, dan berdiri memutar tubuhnya menghadap Vane lalu menggenggam kepala Vane dengan kedua tangannya hingga membuat Vane terpaksa mendongak hingga lehernya terasa sakit.
"Kalau kamu mau menjaga hubungan kita agar profesional, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku. Topik itu terlarang!"ucapnya pelan dengan memberi tatapan yang mampu menembus goa es di dalam diri Vane.
Dengan terpaksa Vane memberi anggukan agar Rey bisa melepaskannya, karena Vane tersiksa dengan selisih tinggi badan mereka.
Setelah Vane memberi anggukan, Rey kemudian mencium keningnya dan pergi meninggalkan ruang makan. Rey pun menghilang dari hadapan Vane dan saat ini dia sedang memegangi dahinya yang masih terasa basah karena bibir Rey.
I want to kill you now, Rey.
__ADS_1