Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 13


__ADS_3

Rey melangkahkan kakinya secepat mungkin menuju lantai atas tanpa berlari. Dia harus minta maaf kepada mamahnya karena sudah membuatnya malu di depan orang lain, sesuatu yang bisa beliau dikategorikan sebagai tujuh dosa besar.


Rey bukanlah tipe laki-laki anak mamah yang takut dengan ibunya, tetapi dia sudah dibesarkan untuk menghormati orang tua. Dan kecuali ketika dia minta maaf, di mata mamahnya dia tidak akan berbeda dengan si Malin Kundang. Walaupun cerita kuno, Rey tetap saja takut jika terkena kutukan.


Dia menemukan mamahnya sedang mengelilingi kolam renang. Hal ini selalu dilakukan mamahnya jika sedang berpikir.


"Mah"panggil Rey lembut.


Sarah menoleh mendengar suara anaknya, tetapi beliau tidak beranjak dan mendekat, lebih memilih menunggu hingga Rey berjalan ke arahnya.


"Aku mau minta maaf karena sudah berdebat dengan mamah di bawah tadi"kata Rey memulai.


Sarah mengangkat tangannya menepuk-nepuk pipi anaknya.


"Bukan salah kamu"ujar Sarah lembut.


Kerutan di kening Sarah membuat Rey khawatir.


"Gula darah mamah nggak lagi turun kan?"tanya Rey.


"Mamah lagi mikirin solusi masalah kamu dengan Clara"jawab Sarah menggelengkan kepala.


"Mamah, you know I love you, tapi aku nggak akan menggelar konferensi pers. TITIK"tegas Rey melepaskan diri dari belaian mamahnya.


"Oke, mamah hormati keputusan kamu, maka dari itu mamah coba pikirkan jalan keluar yang lain"kata Sarah.


"Jalan keluar seperti apa?"tanya Rey curiga.


"Kamu mesti menikah secepatnya"


Rey mengedipkan matanya beberapa kali ketika mendengar kata-kata itu sebelum kemudian mulai tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kamu ketawa? Mamah serius, Rey" Sarah terdengar jengkel dengan respon Rey.


Rey mencoba mengontrol tawanya dan menatap wajah serius mamahnya dan meledakkan tawa lagi.


"Mamah sadar kan sekarang aku lagi nggak punya pacar?"


"Kamu nggak perlu punya pacar untuk cari istri. Banyak orang yang nikah tanpa pacaran bahkan tanpa ketemu calon pendampingnya terlebih dahulu"jelas Sarah.


"Ya, kalau zaman Siti Nurbaya mungkin"bantah Rey.


"Ini abad ke-21 Mah, bahkan udah ada teknologi robot yang bersikap seperti manusia"sambung Rey.


"Sama saja"tukas Sarah.


Hanya untuk menghibur mamahnya, Rey mencoba mendengarkan sarannya.


"Okey fine. Kalau memang mamah mau aku nikah secepatnya, itu berarti aku harus cari perempuan yang mau nikah sama aku secepatnya. Di mana kira-kira mamah pikir aku bisa cari perempuan itu?"tanya Rey.


"Ada satu perempuan di bawah yang umurnya nggak jauh beda sama kamu dan mamah rasa dia cocok untuk kamu"balas Sarah serius.


Rey mengerutkan dahinya dan berkata, "Wait a minute. Mamah lupa, Sita udah nikah dan punya satu anak."


"Mamah bukan ngomongin Sita. Mamah ngomongin Vane."


"HAH?!"teriak Rey dengan suara beratnya.


"Dia masih single, pintar, mandiri, dan bisa dipercaya"seru Sarah.


"Mah, dia guru kelas masak aku. We're just a bussines partner."


"Even better. Orang nggak akan ada yang curiga kalau kamu tiba-tiba nikah sama dia karena kalian memang sudah kenal satu sama lain."


Melihat keraguan pada mata anaknya, Sarah menambahkan, "Kalau kamu mau, soundtrack film kamu launching, film kamu dirilis, meet and greet dan tour 18 kota kamu dilaksanakan setidaknya akhir tahun ini, mamah rasa inilah satu-satunya solusi supaya kamu nggak kehilangan fans kamu."


"Apa mamah sudah mempertimbangkan bahwa aku akan sama-sama kehilangan fans baik kalau aku tetap diam mengenai kehamilan Clara atau kalau aku menikah?"tanya Rey.


"Percaya sama mamah, kamu akan lebih bisa mempertahankan fans kamu kalau kamu menikah."

__ADS_1


"Vane nggak akan mau menikahi aku"ucap Rey tegas.


"Rey, mamah nggak buta. Mamah tahu reputasi kamu dengan para wanita. Kalau kamu menggunakan keahlian kamu ini, mamah yakin Vane nggak akan menolak."


Meskipun itu fakta, tapi asumsi mamahnya ini membuatnya sedikit tersinggung. Dengan kata lain Rey ahli dalam hal merayu para wanita.


"Om Indro nggak akan pernah setuju dengan rencana ini."


Rey mencoba mengganti taktik mamahnya.


"Coba kamu panggil Om Indro ke sini supaya kita bisa bicarakan hal ini sama-sama. Setelah dia dengar penjelasannya, mamah yakin dia juga akan setuju seratus persen."


Rey diam sejenak mencermati kata-kata mamahnya. Rupanya mamah benar-benar serius. Dia tahu bahwa mamah adalah seorang business woman yang cermat, yang bisa melihat pro dan kontra dari satu penyelesaian dengan se-objektif mungkin. Semua itu bisa dibuktikan dari berapa suksesnya bisnis yang dimiliki keluarganya bersama.


Tetapi menikah? Dengan Vane? Itu ide ter-edan yang pernah diutarakan oleh mamahnya. Or is it? Meskipun beberapa menit yang lalu Rey mencoba meyakinkan mamah bahwa karirnya akan baik-baik saja dengan gosip mengenai Clara, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu itu tidak benar. Mungkin inilah solusi yang paling baik bagi dirinya.


"Aku akan cari Om Indro"kata Rey.


*****


Hingga jam 12 siang, sejak empat jam lalu Vane duduk anteng di meeting room, Rey belum juga menemuinya. Alangkah betahnya Vane menikmati fasilitas Wifi yang tersedia.


Vane merasa bahwa dia perlu ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Vane pun keluar dari meeting room dan pergi ke kamar mandi yang ada di lantai satu letaknya di ujung koridor.


Di perjalanan, dia bertemu Pak Indro yang tersenyum ke arahnya.


"Loh Vane kamu masih di sini?"tanya Indro.


Vane terdiam sejenak beberapa detik saat berpapasan dengan Indro.


"Iya nih. Masih nunggu Rey buat kasih fee yang dijanjiin"jawab Vane.


"Oh ya tadi waktu masuk ke rumah ini, kamu diteriaki sama wartawan nggak?"


"Nggak juga sih soalnya aku buka kaca mobil. Jadi mereka kira mungkin aku tamu atau apa gitu"jelas Vane mengangkat ke dua bahunya.


"Sampai sekarang belum kapok, mungkin nanti"canda Vane membuat Indro tertawa terkekeh-kekeh.


"Saya sudah dengar tentang launching soundtrack film Rey yang ditunda dan perilisan film juga ditunda. Apa semuanya baik-baik saja?"lanjut Vane.


"Nggak sebaik yang saya mau"jawab Indro datar.


"Ada yang bisa saya bantu?"tanya Vane tanpa sadar dengan pertanyaannya.


Logikanya, bantuan apa yang bisa seorang chef lakukan dalam drama kehidupan Rey? Entahlah, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Vane.


Indro terkekeh lagi mendengar pertanyaan ini sebelum menjawab pertanyaan itu. Vane mengerutkan keningnya.


Apa ada yang lucu dengan pertanyaanku? batin Vane.


"Kamu akan sangat membantu Rey, Vanessa Wibowo"balas Indro.


Vane semakin dibuat bingung bahkan rasanya kepalanya sudah berputar-putar mendengar perkataan Indro. Anehnya lagi, ini pertama kali Indro menyebut nama Vane secara lengkap, jelas, padat, dan singkat. Sebuah keanehan bukan?


Setelah perbincangan mereka berakhir, Vane pun ke kamar mandi. Setelah selesai dia kembali ke meeting room.


"Ada pesan dari intel Prancis"gumam Vane saat melihat notifikasi email.


Vane pun membuka email yang dikirim intel Prancis.


"Chef Vane mau makan siang apa?"tanya Sita tiba-tiba yang membuat Vane terkejut dan langsung menutup laptopnya dengan hitungan dua detik.


Vane mengelus dadanya seraya mengatur nafasnya.


"Nggak usah repot-repot"jawab Vane.


Sita kelihatan ragu sesaat, tapi kemudian Vane memutar kursi menghadap Sita. Sita pun mengerti tatapan Vane dan mengangguk lalu pergi. Vane pun membuka laptopnya, dan kembali melihat isi email dari intel Prancis yang berhasil membuatnya ingin memukul meja kaca yang menjadi tumpuan tangannya.


"Aku mau pesan Big Mac dan Coca-cola McFloat, kamu lebih suka Big Mac, Triple Burger with cheese, atau Beef Burger?"

__ADS_1


Suara itu mengejutkan Vane setengah mati. Dia langsung berdiri dari kursinya dan melihat sumber suara itu.


Rey sudah menukar kemeja biru dan celana jeansnya dengan kaos dan celana kargo selutut warna abu-abu. Melihat penampilannya yang fresh membuat Vane melihat penampilannya yang sudah cuek karena melepas high heelsnya agar lebih leluasa bergerak. Entah apa yang dipikirkan Rey melihatnya seperti ini.


Karena Vane ingat belum menutup laptopnya, Vane pun kembali menoleh ke belakang dan menutup laptopnya terlebih dahulu.


"Kamu suka cheese burger atau beef burger atau yang mana?"tanya Rey lagi karena belum mendapat jawaban.


Seperti sebelumnya dengan Sita, Vane menolak tawaran makan siang dari Rey. Tapi Rey tetap bersikeras.


"Toh juga kamu belum makan siang, kenapa nggak makan siang di sini saja?"


Vane sebenarnya masih ingin menolak, walaupun dia chef dia tidak terbiasa makan junk food atau fast food dan lebih memilih untuk makan makanan yang dimasaknya sendiri. Tapi melihat jam hampir lewat waktu makan siang, Vane pun berubah pikiran.


"McChicken dan Iced Coffee Jelly Float"jawab Vane datar seperti biasa.


Rey mengangguk dan meminta Sita memesankan tersebut sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Seharian Sita nggak manggil aku, semua baik-baik aja?"tanya Rey.


"Yes, everything is fine. Aku nunggu kamu turun dengan sendirinya. Karena aku nggak mau ganggu waktu kamu"jelas Vane dengan tegas dan belum merubah ekspresi datarnya.


Rey manggut-manggut mendengar penjelasan Vane yang terdengar agak sarkas. Lalu Rey pun duduk di samping Vane.


"Ini cek untuk kamu sebagai bayaran selama mengajari aku kelas memasak"ujar Rey menyodorkan selembar cek.


Vane meraih dan menatap cek itu. Vane langsung membulatkan matanya dimana nilai uangnya naik seratus persen dari kesepakatan awal. Di mana Vane hanya meminta 25 juta tapi sekarang menjadi 50 juta.


"Kurang?"tanya Rey singkat.


"Ini terlalu banyak dari kesepakatan awal"jawab Vane.


Rey tersenyum tipis mendapat jawaban dari Vane. Mungkin ini yang dimaksud mamahnya dapat dipercaya. Vane mengernyitkan dahinya mendapat senyuman dari Rey.


"Itu bonus untuk kamu, karena Mba Upi puas dengan aktingku saat memasak"kata Rey.


"Oohh... Once again, thank you for this"seru Vane mengangkat cek itu lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Vane, bisakah kita bicara berdua?"tanya Rey.


Lah menurut anda, di ruangan ini ada berapa orang Bambang, gerutu Vane dalam hati.


Vane yang awalnya datar-datar saja nampak bingung menanggapi perkataan Rey bahkan Vane menatap Rey dengan tatapan ibu tiri yang jahat.


"Sure"jawab Vane agak ragu.


Rey pun menutup pintu ruangan lalu menguncinya. Vane agak was-was saat melihat Rey mengunci pintu. Dan Rey kembali ke posisi duduk kembali. Rey menatap Vane seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.


Vane hanya menatapnya dengan kebingungan yang tidak bisa disembunyikan. Selama beberapa menit mereka hanya saling menatap satu sama lain tanpa mengatakan apa-apa. Sejujurnya, Rey kelihatan agak nerveous yang membuat Vane curiga akan apa yang ingin dia katakan selama dia diam.


"Waktu kamu jatuh di dapur, apa kamu sudah memeriksakan kepalamu ke dokter?"tanya Rey.


Vane terdiam ketika mendengar pertanyaan ini, dia tidak tahu apa yang dia harapkan keluar dari mulut Rey, tapi yang jelas bukan kalimat ini.


"Sudah"jawab Vane singkat.


Ya memang sudah, toh Kak Ana juga dokter. Dan sudah tiga bulan lebih sejak kejadian jatuhnya Vane di dapur milik Rey. Ini adalah pertanyaan yang paling tidak masuk akal untuk ditanyakan mengingat kejadian itu sudah berlalu sangat lama.


Rey menganggukkan kepala berkali-kali seperti boneka yang kepalanya terbuat dari per.


Kemudian, "I really don't know how to say this, but I'm just gonna say it"ucap Rey.


Vane hanya mengangguk, menunggu dengan kecurigaan yang semakin menjadi.


"Saya mau kamu menikah dengan saya"ucap Rey dengan cepat sehingga kata-katanya sulit ditangkap.


Perlu beberapa detik bagi Vane untuk memahami kalimat itu. Kalimat itu lebih sulit dipahami dibandingkan dengan instruksi untuk menerbangkan pesawat jet tempur yang pernah Vane lakukan dulu saat masih berkelana di negeri orang.


Dan ketika sadar akan apa yang baru saja dikatakan Rey padanya, mulutnya perlahan-lahan mulai menganga sebelum berteriak, "WHAATTTTTTT????!!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2