Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 49


__ADS_3

Mikhail Shoygu. Nama itulah yang terlintas di pikiran Vane. Mantan pacarnya dua tahun yang lalu. Seorang anggota militer Rusia, anak dari menteri pertahanan Rusia yang kedudukannya sangatlah berpengaruh di daratan Eropa. Mendengar semua yang dikatakan Rius membuat Vane melemas, dia tidak menyangka bahwa ayah mertuanya harus terjebak dalam dunia psikopat itu. Vane tidak mau jika Rey dan mamah mertuanya menjadi korban selanjutnya. Maka dari itu, dia harus memikirkan rencana matang-matang.


Vane memutuskan untuk menghubungi Mikhail. Dia mencoba menghubungi Mikhail melalui vidio call. Semoga saja Mikhail segera mengangkatnya.


"Halo Darling!"sapa Mikha dengan wajah berseri-seri saat tahu Vane menghubunginya.


"I'm not your darling again, Mikha"balas Vane.


"Oh my God, Nessa, you always to be my darling. I know...kamu sudah menikah. Tapi apa salahnya jika aku masih mencintaimu bahkan hingga hari ini. Jika saja saat itu kekuasaan ayahku tidak sedang dalam masalah mungkin sekarang aku yang menjadi suamimu."


Nessa adalah panggilan kesayangan Mikhail, untuk Vane. Walaupun Mikhail adalah mantan pacar Vane, tapi Vane bersumpah jika Mikhail ada di sampingnya, mungkin dia sudah melemparkan sepatu ke kepala laki-laki itu.


"Mikha, ini bukan saatnya untuk membahas masa lalu kita. Ada hal penting yang harus kamu ketahui"ucap Vane serius.


"Okey, tell me"ujar Mikhail mulai serius.


Vane menceritakan detail tentang rencana Rius kepada Mikha, dan pria bule Rusia itu memperhatikan dengan seksama. Dia sudah tahu jika pemerintah Indonesia sudah memesan senjata itu setahun yang lalu. Bahkan saat senjata itu masih dalam tahap percobaan, Vane sempat mencobanya ketika masih berada di Rusia.


"Bagaimana?"tandas Vane akhirnya.


"Jadi mereka, penjahat yang selama ini membuat Prancis dan Jerman bisa kehilangan jutaan dolar"geram Mikha.


"Dan mereka akan melakukan itu dan membuat Indonesia kehilangan jutaan dolar juga. Jadi aku minta kepada kamu untuk memainkan sedikit taktik"kata Vane sambil tersenyum.


"Taktik? Like what?"


"Biarkan para penjahat itu mengira bahwa senjata itu akan tiba di Indonesia tiga bulan lagi agar mereka keluar dari persembunyiannya. Dan katakan pada pemerintah Indonesia jika senjata yang sebenarnya akan dikirim empat bulan lagi"jelas Vane dengan tatapan licik.


"Aku mengerti maksudmu. Kita hanya memanipulasi informasi saja. Tentu itu hal yang mudah untukku. Apa kamu menginginkan sesuatu dariku?"


Mikhail tahu bahwa wanita yang ada di depan matanya bukanlah wanita biasa, dia selalu tahu apa yang dia mau.


"Berikan aku smart watch"kata Vane.


Smart watch adalah sebuah jam tangan. Tapi itu bukan jam tangan biasa. Karena benda itu didesign untuk menjadi benda pengintai dengan dilengkapi spy camera, penyadap suara, dan dibekali software layaknya komputer. Dan hanya para intel yang memiliki jam seperti itu.


"Oke. Aku akan berikan apapun yang kamu mau. Terima kasih atas informasinya"balas Mikha santai.


"Terima kasih kembali."


"I love you Nessa"ujar Mikha dengan tatapan layaknya seorang pria yang tak mau berpisah dengan kekasihnya.


"I'm not love you again, Mikha." Vane pun mengakhiri panggilan vidio itu. Dia menghela nafas panjang.


Perasaannya campur aduk. Ada rasa sedih, marah, bingung, dan khawatir. Bukannya dia belum bisa move on dari Mikhail, apalagi sudah ada sosok Rey di dalam hidupnya yang jelas menggantikan sosok Mikhail dari hatinya. Tapi yang membuat dia bingung adalah apa yang akan terjadi pada Rey jika dia mengetahui kebenaran soal papahnya.


Apalagi jika dia mengetahui bahwa Vane adalah orang yang mengincar papahnya selama ini. Mungkinkah Rey akan membencinya. Vane berusaha menjadi manusia tak berperasaan selama bertahun-tahun dengan menjalin hubungan hanya kepada mereka sesama intel bukan dengan target atau bagian dari keluarga target. Tapi kini dia terjebak dalam situasi ini.


*****


Sudah hampir dua minggu, Vane sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah Rey tanpa ada Rey di dalamnya. Setiap sudut rumah mengingatkan Vane akan Rey. Para pembantu bahkan mulai menyadari bahwa dia kini tidur di kamar Rey karena mereka menemukan seprai tempat tidur itu kusut setiap pagi dan tempat tidur Vane tetap rapih.


Dan akhirnya Vane memutuskan untuk menginap di rumah Sarah sementara waktu sampai Rey kembali dari tournya. Dan Vane memanfaatkan kesempatan itu untuk mengawasi pergerakan targetnya. Vane ingin menertawakan dirinya sendiri bagaimana dia bisa menjadi manusia tak berperasaan dan istri yang sedang menahan rindu kepada suaminya di waktu yang bersamaan.


Awalnya Sarah menolak kalau Vane tidur di rumahnya. Tapi Vane mengancam kalau dia akan tidur di apartemen Bobi. Tentu saja Sarah tidak mau jika media memberitakan bahwa menantunya tidur di apartemen laki-laki lain. Walaupun Sarah juga mengenal Bobi tapi media tidak akan peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Dan pagi ini, setelah dua hari menginap di rumah Sarah, Vane tengan duduk di ruang keluarga menatap laptopnya lengkap dengan earpiece di telinganya. Dan Vane melakukan itu saat Rius dan Jade datang berkunjung ke rumah Adam.


"Hai Vane." Jade menyapa Vane begitu ramah.


Vane langsung menutup laptopnya saat sadar suara siapa yang menyapanya. Jade masih tersenyum kepadanya tapi tidak dengan Rius. Dia memasang wajah dingin dengan tatapan tajam. Beberapa bulan setelah pesta pernikahan Rey akhirnya Rius bertemu dengan menantu Adam.


Dan yang membuat Rius tidak mengalihkan tatapannya dari Vane adalah karena Vane memakai earpiece merek Noise WF-1000XM3 produksi Jerman. Dan hanya seorang anggota militerlah yang mempunyai earpiece seperti itu. Menyadari tatapan aneh dari Rius, Vane langsung melepas earpiecenya.


"Oh kalian datang"kata Sarah muncul dari dalam rumah.


"Hai Nyonya Sarah. Apa suami anda ada?"tanya Jade.


"Seperti biasa, dia ada di perpustakaan"balas Sarah.

__ADS_1


Jade mengangguk lalu melangkah pergi diikuti oleh Rius. Astaga Vane semakin deg-degan dibuatnya. Menegangkan sekaligus menyenangkan. Vane memutuskan pergi ke kamarnya untuk memulai pemantauan.


Layar laptop Vane memperlihatkan rekaman vidio dari kamera yang ada di pulpen dan betapa terkejutnya Vane membaca isi dokumen itu yang menyatakan informasi detail tentang kapan pemerintah Rusia mengirim senjata itu ke Indonesia dan harga jual yang mereka tawarkan kepada orang-orang Israel membuat Vane harus menelan ludahnya susah payah.


"Gila! Pantas saja Papah Adam bisa membeli istana di Pondok Indah, melihat jumlah uang yang akan dia dapatkan dari menjual senjata itu secara ilegal"kata Vane.


Baru saja Vane mengirimkan informasi kepada Satria dan Mikhail terdengar suara ketukan pintu. Vane bangkit dari duduknya dan membuka pintu.


"Ada apa Mah?"tanya Vane saat melihat Sarah dengan wajah ketakutan.


Vane bingung karena dia melihat wajah Sarah yang biasanya terlihat kejam seperti ibu tiri padahal dia sangat baik berubah menjadi ekspresi takut.


"Sepertinya kamu harus menyiapkan alasan kamu karena Rey sedang dalam perjalanan ke sini?"ucapnya.


"Loh, kok dia ada di Jakarta? Seharusnya dia ada acara nonton bareng di Makasar besok. Apa ada masalah?"balas Vane yang sudah menunjukkan ekspresi tak percaya.


"Tentu saja ada masalah. Dia pulang ke rumahnya untuk ketemu dengan istrinya yang ternyata sudah minggat ke rumah mamahnya. Dia mungkin menyangka kamu sedang marah."


Oh my God, Rey akan datang.


Kini Sarah sudah meninggalkan kamar Vane, dan meninggalkan menantunya dengan perasaan kalang kabut. Vane tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu. Apalagi ini pertemuan pertamanya dengan Rey setelah sekian lama. Vane akhirnya memilih menyisir rambutnya agar rapih dan memperbaiki polesan make upnya.


Vane melongok melalui jendela kamar dan dia sudah mendapati Rey keluar turun dari Range Rovernya. Dari langkahnya Vane tahu bahwa moodnya tidak baik. Vane langsung ngacir ke pintu untuk menyambutnya. Vane berjalan menuju tangga. Baru saja dia akan menuruni tangga saat melihat Rey sudah berjalan menaiki tiga anak tangga sekaligus.


Ketika Rey menyadari bahwa Vane ada di hadapannya, langkahnya tersandung, tapi kemudian dia menghampiri Vane dengan cepat, dan Vane terpaku pada tempatnya, menunggu hingga Rey mencapainya.


"Hai, Rey"ucap Vane tersenyum ragu.


Semua berlangsung dengan cepat saat Rey langsung mendorongnya ke dinding tanpa menunggu reaksi dari Vane langsung menciumnya habis-habisan. Ciumannya terasa kasar dan menuntut sehingga membuat Vane kalang kabut mengikutinya.


Rey menarik tubuh Vane ke dalam pelukannya dengan kanannya seakan-akan Vane adalah bonekanya, sedangkan tangan kirinya memegang belakang kepala Vane membantalinya agar tidak membentur dinding sementara dia melakukan serangannya. Mereka sama-sama meluapkam kerinduan mereka akan satu sama lain.


Rey mengangkat bibirnya dari bibir Vane dan berkata, "I miss you," di antara nafasnya yang memburu.


Vane tidak bisa melihat wajah Rey yang kini sedang menciumi keningnya berkali-kali, "I miss you too,"balas Vane sambil tersenyum.


Mendengar Vane membalas perkataannya, Rey langsung mencium Vane lagi. Tapi kini ciumannya lebih lembut dan hal itu membuat Vane meleleh dibuatnya.


Sarah berteriak dari tangga menatap tajam ke arah anak dan menantunya. Rey harus rela melepas ciumannya dan menoleh ke sumber suara.


"Hai Mah"sapa Rey canggung.


Sarah hanya menggelengkan kepala lalu menuruni tangga dan meninggalkan mereka.


"Rey.."


"Kamu bisa jelaskan alasan keminggatan kamu setelah aku menanggalkan semua pakaian yang menempel pada tubuh kamu. Di mana kamar tidur kamu?"


Rey sudah menarik tangan Vane melangkah menuju salah satu kamar.


"Wait...Rey apa kamu sudah gila? Ini rumah mamah kamu?"cegah Vane.


"So?"


"Ini nggak sopan"tegas Vane.


"Jadi kamu nggak keberatan tidur dengan aku. Yang menjadi masalah hanya lokasinya?"


Vane melongo beberapa detik mencoba mencerna perkataan Rey. Tapi dia berhasil mengatasi kebingungannya dan mengangguk.


"Oke, aku akan membawa kamu pulang ke rumah kita. Tapi kamu harus janji bahwa kamu tidak akan berubah pikiran selama perjalanan"ujarnya.


"Janji"jawab Vane.


*****


Rey membawa mobil sudah seperti orang gila dan melanggar lampu lalu lintas. Dia bersyukur tidak ada polisi sama sekali. Dia mengetukkan jari-jarinya pada setir mobil menunggu pintu gerbang dibuka sebelum dia menancapkan gas. Setelah mobilnya berhasil masuk ke dalam garasi, Rey langsung menggeret Vane ke lantai atas dan tidak peduli dengan tatapan bingung Mbok Nami.


"Kamar kamu apa kamar aku?"tanya Rey.

__ADS_1


"Eerr.."ucap Vane ragu.


"Kamar aku. Ada alasannya kenapa aku membeli tempat tidur ukuran King"potong Rey.


"Rey..."


"Jangan khawatir, kamu adalah perempuan pertama yang tidur di atas tempat tidur itu. Aku tidak pernah membawa perempuan pulang ke rumah untuk bercinta."


Vane hanya bisa menganga mendengar pernyataan itu. Rey sudah menyeret Vane masuk ke kamarnya, lalu dia menutup dan mengunci pintu.


Rey mengambil dua langkah mendekati Vane.


"Rey tunggu sebentar..."


"Aku tidak peduli alasan keminggatan kamu dan aku sudah memaafkan itu." Rey tidak memperdulikan bahasa tubuh Vane yang menjauhinya.


Vane terduduk di tempat tidur sambil berteriak,"Wait..."


Rey yang sedang dalam proses menanggalkan sabuk setelah melempar kausnya ke lantai, berhenti dan menatapnya.


"Aku bersumpah jika kamu menolak aku saat ini, aku akan mencekik kamu Van"geram Rey.


Tak disangka-sangka Vane justru terkikik, "Dan aku tidak akan bisa menolak kamu jika aku sudah terpenjara seperti ini."


Rey menghebuskan nafas dan melanjutkan proses penanggalan pakaiannya. Dan kini Vane menatapnya dengan tatapan seperti anak kecil yang sedang menonton film horor.


"Kamu kenapa ngelihatin aku kayak gitu? Kayak kamu nggak pernah lihat laki-laki telanjang saja"komentar Rey sambil berjalan menuju tempat tidur.


"Kamu pertama buat aku"ucap Vane menarik tubuhnya ke tengah tempat tidur.


Kata-kata itu menghentikan langkah Rey yang sedang naik ke atas tempat tidur.


"Vane dalam situasi ini aku nggak yakin kalau aku bisa gentle dengan kamu. Aku bisa secara nggak sengaja menyakiti kamu"kata Rey terdengar putus asa.


Vane meletakkan kedua tangannya pada wajah Rey dan berkata, "I trust you," dengan penuh keyakinan.


Vane mencium sudut bibir Rey untuk meyakinkannya. Awalnya Rey masih merasa ragu, tapi Vane tahu dia sudah menang ketika Rey mulai menciumnya balik sementara kedua tangannya mulai menanggalkan pakaian yang dikenakan Vane. Dan selama tiga jam ke depan Vane dapat merasakan apa artinya dipuja seorang laki-laki.


*****


"Are you okay?"tanya Rey setelah dia puas mengeksplorasi tubuh Vane dan membuatnya berteriak berkali-kali.


"I'm okay." Suara Vane terdengar sedikit teredam karena kepalanya beristirahat pada dada Rey.


"Maaf"ucap Rey yang sudah membelai kepala Vane.


"For?"


"Aku takut sudah menyakiti kamu"jelas Rey.


Rey mendengar Vane terkikik mendengar perkataan Rey, di mana dia sudah menunjukkan sisi sensifitnya. Perempuan ini memang selalu tahu bagaimana menginjak-injak egonya.


"Ada yang lucu?"tanya Rey.


"Kamu"jawab Vane.


Rey mendengus kesal lalu dia hendak bergerak meninggalkan tempat tidur, tapi Vane menarik tangannya.


Vane tersenyum lalu berkata, "Terima kasih atas perhatiannya"ucap Vane dan mengecup kening Rey yang langsung salting.


Rey berbalik menatap Vane dan menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"I love you"ucap Rey mendeklarasikan cintanya.


"I love you too"balas Vane.


"Terima kasih"kata Rey.


"Untuk apa?"tanya Vane.

__ADS_1


"Sudah mau menjadi istri aku"balas Rey. Dia tidak pernah merasa seberuntung ini memiliki wanita yang benar-benar bisa memahami dirinya selain mamahnya.


Sekarang Rey sudah mencium bibir Vane lagi dan dia kembali melakukan aksinya lagi sampai dia tidak sadar bahwa hari sudah gelap dan dia semakin enggan untuk keluar dari kamar.


__ADS_2