
Setelah acara resepsi yang selesai tepat jam sepuluh malam, Vane diantar oleh Sarah menuju kamarnya,yang berada di lantai empat. Sarah menunjukkan salah satu kamar tidur yang ada di lantai empat yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin. Kamar itu terletak di ujung koridor panjang, persis 180 derajat dari kamar tidur Rey. Ketika Sarah memperlihatkan kamar ini padanya, Vane langsung jatuh cinta pada suasananya. Susunan kamar itu sama persis dengan kamar Rey, tetapi kamar ini kelihatan lebih hangat dengan nuansa putih dan biru muda. Pada satu dinding Vane melihat sejejeran foto hitam-putih di dalam bingkai warna hitam yang tertata dengan rapi. Vane baru menyadari beberapa menit kemudian bahwa anak laki-laki yang ada di setiap foto adalah Rey.
"Ini kamar main Rey waktu dia masih kecil. Dia bisa main di sini selama berjam-jam. Entah dengan mobil-mobilan, robot-robotan, masak-masakan..." Sarah tidak melanjutkan kalimatnya, hilang dalam memorinya sendiri.
"Rey suka main masak-masakan?"yanya Vane mencoba tidak tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya. Dia minta papahnya ngebeliin dia Easy Bake Oven waktu dia umur delapan tahun dan selama sebulan dia nggak berhenti bikin chocolate chip cookies sampai akhirnya semua orang di rumah ini nggak pernah mau lihat kue itu lagi" Sarah tertawa terkekeh-kekeh ketika menceritakan keunikan anaknya, tapi kemudian wajahnya menjadi sendu ketika melanjutkan kisahnya.
"Rey itu anaknya pendiam dan suka menyendiri. Dia nggak punya banyak teman karena saya cukup membatasi dia soal pergaulan. Apalagi waktu papahnya sibuk dengan bisnisnya di luar negri, dia merasa kehilangan kasih sayang dari papahnya. Saya tahu anak yang tidak mendapat kasih sayang yang cukup akan merasa bahwa dia tidak di harapkan di dunia ini. Rey selalu melakukan segala hal untuk menarik perhatian papahnya. Berbagai lomba dia ikut untuk menarik perhatian papahnya. Karena papahnya sering tidak bisa datang untuk menemaninya berlomba, Rey merasa bahwa apapun yang dia lakukan papahnya akan tetap mengacuhkannya."
Mendengar cerita Sarah yang membuat Vane sadar bahwa ada deretan figura lain yang di dalamnya ada beberapa piagam penghargaan berbagai lomba. Dan semua itu atas nama Rey. Vane tidak menyangka bahwa suaminya itu memang benar-benar cerdas. Tapi kecerdasannya tertutupi oleh kelakuan dia yang sering memacari model-model terkenal.
Kini Sarah berdiri membelakangi Vane kemudian dia berkata, "Bahkan Rey pernah menyuruh saya untuk menceraikan papahnya, karena dia tidak mau melihat saya menderita karena bertahan dengan suami saya. Tapi saya sudah cinta mati dengan suami saya, dan saya juga tidak ingin Rey kehilangan sosok ayah."
"Hubungan mereka sempat membaik saat Rey berulang tahun ke 17 tahun, papahnya membelikan mobil yang diinginkan Rey sejak lama. Tapi kemudian saat Rey akan wisuda kelulusan SMA, papahnya yang sudah berjanji akan datang nyatanya dia tidak bisa datang karena masih berada di luar negeri. Ditambah lagi saat dia akan kuliah Rey mengambil jurusan hukum papahnya menolak dengan keras. Tapi saya berhasil membujuk Rey agar mau pindah jurusan. Sejak saat itu Rey begitu membenci papahnya, dia tidak benar-benar menyayangi papahnya, seperti dia menyayangi saya. Saya berharap Rey bisa memaafkan papahnya, karena yang suami saya lakukan adalah untuk kebaikan dia."
Sarah memutar tubuhnya dan perlahan-lahan berjalan ke arah Vane. Beliau berhenti di hadapan Vane dan berkata, "Saya percaya sama kamu, kalau kamu bisa menjaga Rey dengan baik. Hanya kamu yang bisa menjaga separuh hati milik dia dengan ketulusan kamu." Belum sempat Vane berkata, ibu mertuanya sudah lebih dahulu menghilang dari kamar itu.
Vane menghembuskan nafas kasar ketika dirinya kembali mendengar cerita prahara hidup keluarga mertuanya. Sulit di mengerti apa yang membuat Adam mengacuhkan Rey, karena yang Vane lihat dari tatapan mata bapak mertuanya itu, dia sangat menyayangi Rey. Setelah percakapan dengan ibu mertuanya selesai, kini Vane melihat Rey dari sudut pandang lain. Dan apa yang dia lihat membuatnya ingin menjadi temannya, memberi dukungan kepadanya, bahkan memeluknya jika dia merasa sedih.
Vane merenungi semua itu ketika dia mendengar ketukan halus pada pintu kamar.
"Masuk"teriak Vane.
Pintu terbuka dan Rey melongokkan kepalaya, "Hei, aku cuma mau cek bahwa kamu baik-baik saja"ucapnya.
Vane memutar tubuhnya menghadap pintu sambil tersenyum ketika menyadari apa yang sedang dilakukan Rey, dia mencoba memastikan bahwa Vane tidak kabur setelah resepsi, "I'm fine"balas Vane.
Kemudian di luar sangkaan Vane, Rey melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakangnya. Hal ini membuat Vane terkejut karena selama berminggu-minggu Rey sepertinya mencoba menghindarinya seperti dia adalah penderita rabies. Rey sudah melepas jas dan dasi yang dia kenakan beberapa jam lalu saat resepsi, kini dia hanya mengenakan celana hitam dan kemeja putih yang tiga kancing paling atas sudah ditanggalkan dan lengan kemeja yang dilipat hingga ke siku.
"Kamar ini kelihatan lain"ucap Rey sambil memerhatikan sekelilingnya.
"Mamah kamu yang mendokarasinya, dengan sedikit input dari aku"jawab Vane sambil ikut menatap sekeliling kamarnya.
"Apa input dari kamu?"
"Aku minta supaya foto-foto kamu nggak diturunkan." Vane menunjuk dinding tempat foto-foto itu berada.
Rey berjalan menuju dinding itu dan selama beberapa menit dia terdiam, memerhatikan foto-foto itu satu per satu. Perlahan-lahan Vane berjalan mendekati Rey.
"Ini foto kamu umur berapa sih?"tanya Vane sambil menunjuk kepada sebuah foto yang memperlihatkan Rey sedang duduk di atas sepeda roda empat. Vane melihat reaksi tubuh Rey yang sedikit kaku ketika mendengar suaranya. Khawatir bahwa dia sudah berdiri terlalu dekat, Vane mengambil dua langkah menjauhinya.
__ADS_1
"Hhmm...itu waktu aku umur lima tahun. Papah baru beliin aku sepeda pertama buat aku. Selama berbulan-bulan aku nggak mau lepas dari sepeda itu."
Vane mengangguk. "Kalau yang ini?" Vane menunjuk kepada satu foto lagi di mana Rey sedang nyengir sambil menunjukkan gigi ompongnya.
"Hehehe... itu waktu aku baru kehilangan gigi aku karena jatuh dari sepeda itu. Bukannya nangis, aku malah bangga dengan keompongan gigi itu." Rey tertawa terbahak-bahak dan suara tawanya menjangkiti Vane.
"Shit, aku ternyata gendut banget ya waktu kecil"ucap Rey.
Vane tertawa terbahak-bahak mendengar komentar itu. "Tapi kamu jadi malah lucu kalau gendut"balas Vane mendapat tatapan aneh dari Rey.
"Aku serius. Menurut aku anak kecil itu biasanya memang lebih lucu kalau gendut. Soalnya kita bisa nyubit pipinya dan ngelitikin perutnya yang buncit"sambung Vane.
"Apa kamu dulu gendut waktu kecil?"tanya Rey.
"Actually no. Aku yang paling kurus di antara kakak-kakakku."
"Bahkan kamu masih kurus sampai sekarang"balas Rey sambil memalingkan wajahnya dan membuat Vane melotot atas jawabannya.
"Ini waktu kamu wisuda kelulusan kuliah kamu?"tanya Vane sambil menunjuk kepada sebuah foto Rey yang sudah lebih besar memakai baju toga dan diapit oleh papah dan mamahnya.
Kini Vane merasa bahwa Rey adalah jiplakan dari papahnya saat Adam masih muda. Dilihat dari wajah Adam dulu disandingkan dengan Rey sekarang sangatlah mirip.
"Itu kali pertama dan terakhir papah datang di acara yang aku ikuti, papah bisa datang ke acara wisuda kuliahku itu juga karena papah sedang berada di Amerika. Mungkin kalau papah lagi nggak di Amerika dia akan memecahkan rekor seorang ayah yang tidak pernah menghadiri acara apapun yang melibatkan anaknya"sambung Rey dengan suara sendu.
Vane hanya diam mematung mendengar jawaban dari Rey. Suaranya terdengar menyedihkan tapi perkataan yang dikeluarkan dia mengisyaratkan bahwa laki-laki ini memendam rasa kecewa yang begitu dalam.
Kali ini Vane tidak bisa menahan diri lagi dan dia langsung memeluk Rey, tidak peduli bahwa pria itu tidak memeluknya balik. Rey adalah suaminya dan kesedihan yang Rey rasakan, juga dapat dia rasakan. Setelah beberapa menit Vane melepaskan pelukannya dan menatap Rey.
"Why did you do that?"tanya Rey.
Mendengar nadanya, Vane menyangka bahwa dia sudah marah, tapi ketika Vane menatap matanya, dia melihat bahwa Rey hanya terkejut.
"I don't know. Aku hanya merasa kamu butuh sebuah pelukan"balas Vane kemudian menunggu ketika Rey akan meledak dan mengatakan bahwa dia bukanlah seorang laki-laki cengeng, tapi ledakan itu tidak akan pernah datang.
Rey menatap Vane, wanita yang hari ini resmi jadi istrinya dengan sedikit terkesima. Bagaimana Vane selalu melakukan hal yang mengejutkan, tapi setiap kali dia dekat dengannya, dia bisa membuatnya menurunkan perisainya dan sebelum dia sadar apa yang terjadi, dia sudah membeberkan sesuatu yang tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain.
Rey sadar bahwa dia sudah melakukan kesalahan dengan masuk ke kamar Vane apalagi dia tidak tahu kalau Vane sendirian di kamar itu, dan membuatnya tidak bisa melarikan diri. Ingin dia kembali merasakan pelukan hangat dari Vane. Namun sebelum semua itu terjadi, di detik selanjutnya, pintu kamar terbuka dan Kak Bima melongokkan kepalanya. Dia kelihatan terkejut melihat Rey berada di dalam kamar itu bersama adiknya.
"Eh, kakak nggak tahu kalau kamu ada di sini"ucapnya pada Rey, kemudian, "tapi baguslah kakak perlu bicara dengan kalian berdua. Ini penting"sambung Bima dan memasuki kamar tanpa permisi lagi.
Rey dan Vane langsung menatap satu sama lain dengan sedikit bingung dan curiga, tapi kemudian Rey mengirimkan telepati melalui tatapannya yang mengatakan, "Apa kira-kira yang kakak kamu mau omongin?"
__ADS_1
Vane membalas dengan telepati yang mengatakan, "Aku juga nggak tahu."
Bima memerhatikan interaksi pengantin baru yang ada di hadapannya ini dan dia tahu bahwa mereka sedang berkomunikasi satu sama lain tanpa mengeluarkan suara, sesuatu yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang sudah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu dia cukup terkejut ketika melihat ink pada Rey dan Vane. Sepertinya dia sudah salah perhitungan tentang dalamnya kemistri yang mereka berdua miliki.
Akhirnya bukannya langsung mengemukakan apa yang dia ingin katakan, Bima malah mondar-mandir beberapa kali di depan Vane dan Rey yang kini duduk di sofa di kaki tempat tidur, tanpa mengeluarkan suara. Ketika lima menit kemudian kakaknya masih belum juga menyatakan tujuannya.
Karena, Bima masih belum mengeluarkan suara, dan kelakuannya semakin membuat Vane sebal seperti polisi yang sedang patroli menangkap begal. Vane pun akhirnya menegur kakaknya.
"Kak, tadi kakak bilang ada yang penting yang perlu dibicarakan?"
Bima berhenti mondar-mandir dan menatap Vane dengan ragu sebelum akhirnya berkata, "Kamu tahu, aku sayang sama kamu kan?"
"Aku tahu"jawab Vane sedikit bingung.
"Dan kamu tahu kan kalau kamu selalu bisa datang ke kakak kapan saja kalau kamu ada masalah?"
"Iyaa..."balas Vane yang kini mulau curiga dengan tujuan kedatangan kakaknya.
"Karena apa pun juga yang kamu kerjakan, bahkan kalau itu melanggar hukum. Kakak akan tetap mendukung kamu."
"Okay, thanks..."
"So, apa ada sesuatu yang kamu mau share sama kakak?" Ketika mengatakan ini Bima menatap Rey yang mendelik ketika sadar bahwa kakak iparnya sedang menatapnya penuh curiga.
"Sesuatu seperti apa?"tanya Vane mencoba menyelamatkan Rey dengan memasang wajah tidak bersalah, padahal dalam hati dia sudah mulai waswas bahwa Kak Bima tahu sesuatu tentang status pernikahannya dengan Rey.
Bima menatap adiknya tidak percaya karena untuk pertama kalinya dia mendapatinya sedang berbohong dan Vane tidak pernah berbohong, "Gimana kalau kita mulai dengan kamu baru ketemu Rey pertama kali bulan April, mulai pacaran bulan Agustus, tahu-tahu bulan September kamu ngenalin dia ke keluarga kamu sebagai tunangan kamu, laki-laki yang selama ini disebut sebagai laki-laki yang takut untuk berkomitmen karena tidak pernah menunjukkan keinginannya untuk menikah, yang lima bulan sebelumnya masih pacaran sama perempuan lain, dan yang setelahnya terkena gosip yang nyaris menghancurkan karirnya." Bima menunjuk Rey ketika mengatakan ini.
Kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada Vane dan berkata, "Dan kamu bukan tipe orang yang bersedia menikah dan hidup selama-lamanya dengan laki-laki yang kamu pacari selama sebulan."
Bima berhenti sejenak untuk membaca ekspresi Vane dan Rey, dia melihat keduanya masih menunjukkan wajah tidak bersalah, dia menambahkan, "Apa kalian akan membiarkan kakak menyebutkan satu per satu hal yang membuat pernikahan ini aneh?"
Bima tidak lupa bahwa tujuan Vane mau menikah dengan Rey adalah untuk menjalankan misi. Tapi Bima juga tidak bisa menampik bahwa dia menaruh rasa curiga terhadap kedua orang yang ada di hadapannya. Sesuatu yang mungkin sengaja Vane sembunyikan dari dia dan keluarganya. Karena Vane tidak pernah mengorbankan diri dan kehidupannya hanya untuk sebuah pernikahan yang digunakan untuk melancarkan misinya.
"Fine, sepertinya kakak hanya buang-buang waktu berbicara dengan kalian berdua" ucap Bima kesal dan berjalan menuju pintu.
Tapi ketika tinggal satu langkah lagi, dia memutar tubuhnya dan berkata, "Rey, aku nggak tahu apa yang kamu sudah katakan sehingga Vane melakukan apa yang dia lakukan sekarang, tapi aku cuma mau kamu tahu bahwa Vane datang dari keluarga besar yang mencintainya, dan kami tidak akan segan-segan membuat kamu sengsara kalau kamu menyakiti Vane. Mengerti?"
Vane sudah siap protes ketika dia mendengar Rey berkata, "Paham, Kak. Saya sudah janji untuk menjaga Vane, dan saya akan menempati janji saya."
Bima menatap Rey dari ujung hidungnya dan Vane tidak pernah melihat Bima sesangar itu, tapi kemudian dia mengangguk tanda bahwa dia menerima janji Rey sebelum dia keluar kamar.
__ADS_1