
Setelah pertengkaran mereka, Rey tidak bertemu muka lagi dengan Vane selama satu minggu karena Vane bilang dia sibuk dengan pekerjaannya, di mana lusa dia ada pekerjaan untuk menjadi chef di acara pernikahan anak dari salah satu pengusaha di Surabaya.
Tapi Rey tahu bahwa Vane mencoba menghindarinya. Meskipun Vane menyempatkan diri untuk mengkonfirmasi tanggal dan waktu lamaran Satria dengan Amel. Selain itu Vane juga sudah mengkonfirmasikan tangal lamaran dengannya seperti yang dijanjikan setelah lamaran Satria dengan Amel.
Walaupun begitu, Rey tetap khawatir bahwa Vane akan mundur dari janjinya. Tapi ternyata ketakutannya tidak memiliki dasar karena meskipun Vane jarang berbicara dengannya, rupanya dia sering berhubungan dengan Ibu Sarah untuk membicarakan tentang acara lamaran. Dan itu betul-betul membuatnya jengkel setengah mati.
Rey mencoba menghabiskan waktunya di dalam studio musik dan menulis lagu atau melihat hasil editing film terbarunya dengan tim editor untuk mengusir kejengkelannya. Suatu kegiatan yang biasanya bisa memberikan ketenangan. Tapi setelah tiga hari dia bahkan tidak bisa menyelesaikan satu bait lagu yang ditulisnya dan kejengkelannya berubah menjadi kedongkolan.
Dengan keadaan penuh kedongkolan yang sudah dipendam selama satu minggu inilah Rey pergi ke rumah Vane untuk ikut serta dalam rombongan keluarga Vane untuk acara lamaran Satria yang diadakan Sabtu sore. Rey diberitahu oleh Vane bahwa seragam yang dipakai adalah kemeja batik lengan panjang. Bukan hal yang sulit bagi Rey memakai kemeja batik, walaupun tampang bule tapi darah Jawa mengalir di tubuhnya dari sang mamah yang selalu mengajarkan budaya Jawa, sehingga bisa dibilang Rey memiliki banyak koleksi kemeja batik.
Rey mengemudikan mobil Range Rover Sport miliknya menuju kediaman Vane. Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya Rey sampai di rumah Vane. Nampak beberapa mobil terparkir di depan rumah Vane sama persis saat pesta ulang tahun papahnya Vane tapi tidak sebanyak minggu lalu. Rey pun merapikan kemeja batiknya kemudian turun dari mobil, menyeberangi jalan untuk masuk ke area rumah Vane.
Terdengar suara riuh orang-orang dari dalam rumah yang sepertinya sudah sangat riweh mengatur persiapan lamaran. Karena beberapa kali Rey mendengar mereka meributkan apakah hantaran yang akan dibawa sudah lengkap atau belum. Rey pun melangkahkan kaki memasuki rumah Vane dan berniat menyapa semua orang yang ada di dalam sana.
"Selamat sore semua, apa saya terlambat?"sapa Rey menyapa semua anggota keluarga yang sedang berkumpul di dalam ruang tamu.
Seketika suara riuh perbincangan semua orang sirna dalam sedetik ketika mendengar suara Rey. Semua pandangan orang teralihkan pada sosok laki-laki bertampang bule berdiri tegak dengan gagah di depan pintu rumah Vane yang memakai kemeja batik berwarna nuansa coklat dengan motif batik keraton yang seperti sedang memberitahu bahwa laki-laki ini memiliki darah bangsawan Jawa.
"Eh ada Rey. Tante pikir kamu nggak bakal datang. Sini masuk, kamu belum telat kok"sahut Indah begitu ramah.
Mendengar ajakan mamahnya Vane membuat Rey masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan semua orang. Vane menatap Rey yang sekarang berada di tengah ruang tamu dengan tatapan penuh kekaguman. Astaga, Vane harus akui laki-laki ini sangatlah tampan bahkan terlalu tampan, dan pantas saja dia mendapat julukan The Most Handsome Actor in Indonesia.
"Vane, tolong ambilkan hantaran yang mamah taruh di meja ruang keluarga"perintah Indah.
"Oh oke Mah"jawab Vane yang berjalan menuju ruang keluarga. Tanpa disadari Vane, Rey mengikuti langkahnya menuju ruang keluarga.
"Kamu kenapa menghindari aku?"
Vane yang tidak mendengar suara langkah Rey sedikit tersentak saat dia mengeluarkan suara tepat di belakangnya. Vane yang hendak berbalik badan membawa kotak hantara pun hampir menjatuhkannya karena kaget. Untung saja Rey bereaksi cepat untuk mengambil alih membawa kotak hantaran itu ke tangannya.
Vane menghela nafasnya karena terkejut dan merasa agak sesak dengan model kebaya brokat berwarna biru cerah yang begitu membentuk tubuhnya yang cukup atletis karena sering berolahraga. Rey menelan ludahnya karena sekarang dia bisa menatap Vane begitu dekat dengan penampilannya yang begitu anggun.
"Thanks"ucap Vane hendak melangkah meninggalkan ruang keluarga tapi dengan cepat Rey menahan tangan Vane untuk tidak beranjak kemanapun.
"Answer my question! Kenapa kamu menghindar dariku?"tanya Rey lagi.
"Menghindari kamu bagaimana?"
__ADS_1
"Aku mengerti kalau kamu masih marah sama aku karena komentar aku seminggu yang lalu tentang wedding organizer, tapi kan aku sudah meminta maaf sama kamu. Di telfon kamu memang bilang kalau kamu sudah maafin aku, tapi setelah itu kalau aku telfon kamu nggak pernah angkat, dan kalaupun kamu angkat, kamu selalu terkesan buru-buru. Beberapa kali aku meminta bertemu, kamu selalu menolak dan bilang kalau kamu sibuk. Aku tahu kalau tunangan ini cuma pura-pura saja, tapi kita masing-masing ada tugas yang harus dipenuhi, aku harap kamu belum lupa tugas kamu."
Awalnya Vane menatapnya penuh kebingungan, tetapi ketika dia mendengar separo akhir dari omelannya, wakahnya berubah menjadi serius sebelum berkata dengan tenang, jelas, dan dingin tentunya.
"Aku memang sudah memaafkan kamu, Rey. Dan alasan aku kenapa selalu terdengar terburu-buru kalau kamu telfon dan nggak bisa ketemu adalah karena aku memang lagi sibuk sekali di restoran. Bukannya aku sudah bilang ke kamu kalau aku ada kerjaan di Surabaya, lalu selain sibuk di restoran karena aku harus membantu persiapan acara lamaran Kak Satria."
"Oh," adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulut Rey. Dia terlalu terkejut mendengar penjelasan Vane sehingga tak bisa berkata-kata. Semua kejengkelannya telah luntur dari tubuhnya, meninggalkan rasa bersalah yang mendalam.
"Tapi kamu benar, aku sudah lalai dalam menjalankan tugasku. Aku akan minta Chef Ronald untuk melonggarkan jadwalku supaya aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan kamu. Kapan kamu akan memperkenalkan aku kepada publik?"
Rey mencoba memulihkan diri dari kekagetannya dan berkata, "Aku harus menghadiri acara peluncuran salah satu produk ponsel terbaru dari brand Samsung karena aku adalah brand ambassador Samsung. Acara itu akan dilaksanakan hari Sabtu tanggal dua bulan Oktober. Aku berencana memperkenalkan kamu pada saat itu."
"Oke, aku akan kosongkan jadwalku untuk ikut bersama kamu menghadiri acara tersebut"ucap Vane tegas.
"Oke"balas Rey mengangguk.
Tak berapa lama setelah percakapan selesai, mereka pun kembali ke ruang tamu untuk bersiap berangkat ke rumah Amel. Rombongan keluarga Satria terdiri dari, papah dan mamahnya, Kak Bima dan Kak Ana, Vane dan Rey, lalu ada pakde dan bude dari pihak papahnya, om dan tante dari pihak mamahnya.
Mereka semua meninggalkan kediaman Jatra, memasukkan hantaran ke masing-masing mobil yang mereka bawa. Lalu semua mobil pun meluncur bersama menuju rumah Amel.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit mereka sampai di rumah Amel. Segera mereka turun dari mobil membawa hantaran di tangan mereka. Sambutan yang hangat diberikan oleh sang tuan rumah yaitu Suseno dan Nadia. Mereka berdua menyambut keluarga Satria begitu ramah dan penuh kebahagiaan.
Acara lamaran berlangsung dengan khidmat dan lancar, hingga akhirnya kedua keluarga sepakat bahwa pernikahan Satria dan Amel akan dilaksanakan awal bulan November, sengaja dipercepat karena sebelumnya mamahnya Rey sudah menghubungi Jatra bahwa dia ingin pernikahan Vane dan Rey dimajukan jadi awal bulan Desember.
Setelah acara lamaran usai, kedua keluarga menghabiskan waktu dengan mengobrol sembari menikmati hidangan yang sudah disediakan. Vane mendekati Amel yang sedang berdiri di dekat tangga sambil menyuruh pembantunya membawa masuk hantaran ke kamarnya.
"Amel.."panggil Vane.
"Iyaa kenapa calon adik ipar"goda Amel mencolek dagu Vane yang lumayan lancip.
Vane menepis tangan Amel dengan wajah jengkel karena keusilan calon kakak iparnya satu ini.
"Lo belum kasih tahu orang-orang restoran tentang hubungan gue sama Rey kan?"tanya Vane.
"Emang setelah lo bikin kehebohan di acara ulang tahun Om Jatra karena lo ngumumin tentang hubungan lo sama Rey, harus juga gue yang koar-koar di restoran?"
"Ya nggak sih. Lo kan mulutnya kadang ember"sarkas Vane hendak meremas mulut Amel.
__ADS_1
"Idih sejak kapan mulut gue ember. Kalau mulut gue ember, pasti gue udah aksih tau Rey kalau keluarga lo itu anggota BIN"
"Ssstt jangan keras-keras dong...gue nggak mau dia tahu identitas keluarga gue"ujar Vane meletakkan jari telunjuknya ke bibir Amel.
"Nah makanya itu, sebagai sahabat sekaligus calon kakak ipar lo, gue dengan senang hati merahasiakan identitas keluarga calon suami gue"jelas Amel menurunkan tangan Vane.
"Thanks Mel, lo udah mau jaga rahasia"ucap Vane penuh pengertian.
"Sama-sama. Gue cukup ngerti kok hidup keluarga kita memang banyak yang harus dirahasiakan. Selama lo belum resmi diperkenalkan ke publik sama Rey, selama itu juga gue nggak kasih tahu apa-apa ke orang-orang restoran. Dan orang-orang restoran juga nggak ada yang tahu kan kalau kita mau jadi ipar"ucap Amel mencoba menenangkan Vane.
Vane menghela nafas lega, dia merasa lega karena hubungannya dengan Rey belum tercium publik. Tapi sebentar lagi semua akan berubah. Ketika Rey memperkenalkan dia ke hadapan publik disitulah gravitasi kehidupannya akan berubah.
"Gue selalu dukung apapun keputusan lo Van, asalkan lo bahagia. Kalau sampai Rey nyakitin lo, gue orang pertama yang bakal nampar muka mulusnya itu"lanjut Amel dengan tampang garang.
Mendengar ancaman Amel, Vane malah tertawa terbahak-bahak namun demgan cepat dia menurunkan volume suara tawanya.
"Iya iya calon kakal ipar aku"jawab Vane dengan gaya bicara manja.
"By the way, emang lo siap kalau kehidupan lo jadi konsumsi publik? Secara pacar lo artis terkenal dan terganteng se-Indonesia Raya sementara lo sendiri paling nggak suka kalau ada yang mengusik kehidupan pribadi lo dan lo paling anti sama yang namanya keramaian?"tanya Amel dengan wajah serius.
"Mau nggak mau gue harus siap Mel. Gue bakal minta ke Rey, biar cukup gue dan dia yang jadi konsumsi publik jangan sampai keluarga gue juga. Nanti bisa gawat"jelas Vane.
"Nah gitu, lo harus tegas. Apalagi gosip tentang Clara masih mentereng di media"lanjut Amel.
"Hhmm.." hanya kata itu yang keluar dari mulut Vane saat Amel menyinggung nama Clara. Entah kenapa rasanya Vane sangat tidak menyukai supermodel paling labil yang pernah Vane kenal karena sifat kekanak-kanakannya ditambah lagi saat dia membuat konferensi pers yang jelas tidak memberi keterangan apapun.
Acara lamaran pun usai, keluarga Satria berpamitan untuk pulang. Di dalam perjalanan Rey sesekali melirik Vane yang sedang antara serius atau melamun menatap ke luar jendela mobil. Walaupun keadaan mobil cukup gelap dan hanya terbantu oleh pancaran lampu-lampu jalan, namun Rey bisa melihat jelas kecantikan Vane.
Tidak! Rey harusnya menarik kata-katanya beberapa minggu lalu yang mengatakan bahwa Vane itu plain. Dia memang tertarik dengan Vane tapi kenapa dia mengatakan kalau Vane plain, apa supaya Vane mau setuju dengan lamaran gilanya dan ditambah lagi agar Vane yakin bahwa dia bukanlah wanita tipenya Rey. Astaga Rey, you're so stupid! Vane sama sekali tidak plain! Dia bahkan terlihat sangat cantik bahkan kecantikannya tidak membosankan. Berbeda dengan selebritis wanita yang sering dibilang kalau mereka cantik. Bahkan kalau Vane mau, dia bisa menjadi seorang selebritis yang terkenal.
"Kamu menginginkan sesuatu yang lain untuk hantaran lamaran?"tanya Rey di tengah keheningan. Vane sedikit terkejut saat lamunannya pecah akibat suara yang dikeluarkan Rey.
"Eemm..aku rasa tidak ada. Semua yang aku minta sudah sesuai dengan apa yang umum diminta oleh pihak wanita ketika dilamar"jawab Vane menoleh kepada Rey.
"Tapi jika kamu ingin meminta lebih, aku akan membelikannya. Biasanya seorang wanita jika dilamar akan meminta barang-barang seabrek. Dan aku sudah pernah bilang bahwa apa yang kamu minta, katakan saja dan itu akan jadi milikmu"ucap Rey kembali mengingatkan perkataannya saat meminta Vane untuk menikah dengannya.
"Rey, aku tahu kamu sanggup membeli apapun dengan uang kamu, tapi aku itu seorang wanita dewasa yang bisa membeli apa yang aku mau. Jadi aku bukanlah tipe wanita yang menyuruh laki-lakinya untuk menuruti semua permintaannya"balas Vane dengan tegas.
__ADS_1
Rey tersenyum di balik suasana gelap di dalam mobilnya. Ada perasaan kagum ketika mendengar perkataan Vane yang menurutnya sangat luar biasa, bahkan lebih luar biasa dibandingkan pidato presiden saat dilantik. Rey melihat keluarga Vane adalah keluarga yang berada tapi Rey yakin walaupun mereka mampu dalam hal ekonomi, tapi mereka mengajarkan anak-anak mereka untuk menghargai uang.
Itulah pelajaran hidup yang tidak Rey dapatkan, sehingga membuat dia merasa bahwa kemewahan adalah hak bukannya keistimewaan. Dan itu yang membuat Vane bilang bahwa dia itu sombong dan pamer. Wow Rey, kenapa kamu baru sadar bahwa kamu itu pria sombong dan suka pamer setelah diolok-olok wanita Kutub Utara ini?