
Sementara saat ini, pengantin baru yang baru sebulan menikah siapa lagi kalau bukan Satria dan Amel. Mereka berdua sedang berbelanja di salah satu supermarket yaitu Superindo. Mereka memang ditugaskan Indah untuk belanja bulanan. Karena saat ini Indah sedang menemani suaminya dalam acara keluarga.
"Mas, kamu mau ikan apa? Kakap merah atau bawal?"tanya Amel saat mereka berada di bagian seafood.
"Enaknya apa?"tanya Satria balik.
"Enaknya? Ya disayang kamu lah..."goda Amel cekikikan.
Satria tersenyum saat dia digoda istrinya, astaga menggemaskan sekali wanita satu ini. Satria sangat bersyukur bisa menikah dengan wanita yang periang walaupun sedikit bawel. Bisalah mengimbangi sikap cuek dan sifat dinginnya.
Belum juga Amel mendapat jawaban dari suaminya, dia malah merasakan bibir Satria menyentuh pipinya. Amel langsung melotot saat dia sadar, baru saja dia mendapat ciuman di pipi. Astaga, wajah Amel langsung memerah bahkan sekarang beberapa orang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Mas malu tahu, dilihatin orang"gerutu Amel mengusap-ngusap pipinya.
"Siapa suruh kamu menggoda aku?"serang Satria.
"Dih, aku kan menggoda suami sendiri. Masa aku menggoda suaminya ibu negara Indonesia"jawab Amel sambil tertawa.
"Loh bapak presiden dong?"ujar Satria dengan tawa.
Mereka berdua pun berbelanja sambil sesekali mengeluarkan candaan yang garing dan tidak berfaedah. Mungkin jika Vane melihat ini, maka wanita Kutub Utara itu sudah siap untuk melempar kepala pasangan ini dengan sepatunya.
"Aku beli ikan kakap merah cukup satu kilo ya"ujar Amel sambil meletakkan ikan kakap merah yang sudah dibungkus rpaih dengan plastik.
Mereka pun melanjutkan petualangan berbelanja mereka ke bagian lain dari supermarket itu.
"Sayang, tadi mamah pesen beli puding atau agar-agar ya?"tanya Satria yang melihat banyaknya brand puding dan agar-agar instan berbagai rasa.
"Beli dua-duanya aja"jawab Amel singkat.
"Boros lah, Yang"kata Satria.
"Suami aku kan sultan"timpal Amel tertawa lagi.
Satria hanya menggelengkan kepala lalu mengambil beberapa bungkus puding dan agar-agar dengan berbagai rasa. Mereka pun kembali berjalan mengelilingi supermarket untuk mencari barang yang lain.
"Dulu bahagia banget punya adik seorang chef, eh sekarang malah menikah dengan seorang chef. Bahagianya bisa makan makanan restoran bintang lima tiap hari"kelakar Satria.
"Lebay kamu, Mas"kata Amel memukul pelan lengan Satria.
"Ih serius. Apalagi punya istri yang perhatian walaupun cerewet.."
"Aawww..."pekik Satria saat perkataan sebelumnya dihadiahi cubitan di perutnya.
"Aku cerewet?"tandas Amel.
"Iya..tapi aku suka. Karena aku bosan hidup sama manusia Kutub Utara kayak Vane. Dia perhatian sih cuma buat bikin dia senyum bahkan ketawa, udah kayak mau ngajak orang buat perang"jelas Satria sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Bahkan sepanjang aku bersahabat dengan dia, melihat dia tertawa dengan tulus itu bisa dihitung dengan jari"balas Amel.
Mereka menghentikan troli di persimpangan antara bagian snack dan sabun.
"Mas kamu ambil sabun mandi sama shampo. Biar aku yang ambil oats dan beberapa cemilan"ujar Amel.
"Oke siap!"seru Satria lalu dia berjalan berbelok ke kanan menuju tempat yang di tuju, sementara Amel berjalan lurus.
Di sisi lain, ada Jade, Steven, dan Rius yang kebetulan juga ada di supermarket yang sama. Mereka pun sedang belanja kebutuhan mereka selama tinggal di Indonesia sampai waktu yang belum ditentukan. Mereka juga sudah hampir setenga jam mengelilingi supermarket ini hingga troli mereka hampir penuh dengan belanjaan.
"Ayah aku ambil oats dulu. Kalian berdua kan belum terbiasa memakan nasi. Jadi kalian makan oats saja daripada kalian makan rumput"ledek Steven.
"Dasar anak kurang ajar kamu"balas Jade menoyor kepala Steven namun dengan tertawa.
Steven pun meninggalkan kedua pria itu yang akan menunggunya sambil menjaga troli belanjaan mereka. Steven pun berjalan menuju rak yang menyimpan berbagai macam oats.
Ada dua tangan yang hendak mengambil sebungkis oats ukuran besar secara bersamaan. Dan kedua orang itu saling menoleh dan nampaknya ekspresi terkejutlah yang terlihat dari wajah keduanya.
Satu...Dua...Tiga
"Amel!"
"Steven!"
"What are you doing here?"tanya Amel takut-takut.
"Shopping"jawab Steven santai.
"Aku mau kamu kembali kepadaku"kata Steven.
Amel menoleh ke arah Steven dengan tatapan sinis.
"Are you sure? After all what did you do to me?"tanya Amel dengan nada sinis. Dia menarik tangannya dari cengkeraman Steven dengan kuat.
"I'm sorry. I know...kamu menikah hanya untuk pelampiasan saja kan?"ucap Steven dengan wajah tak tahu malu.
"What? Are you kidding me? Bahkan suamiku seribu kali lipat lebih baik dari kamu yang hanya bisa bermain-main dengan banyak wanita. Di mana letak sebuah pelampiasan yang kamu maksud itu?"kata Amel dengan tegas.
Ya Tuhan, tidak sia-sia aku bersahabat dengan Vane. Sekarang ilmu dia tertransfer sempurna kepada diriku.
"Please...hear me! I stiil love you.."ucap Steven memohon.
Sedangkan Satria sudah kembali ke tempat di mana trolimya berada tapi dia belum menemukan istrinya kembali. Lalu dia meletakkan sabun dan shampo ke dalam troli.
"Amel ke mana sih? Katanya cuma ambil oats. Memangnya ambil oats harus ijin negara dulu sampai dia pergi lama banget"kata Satria sambil melihat ke sekelilingnya tapi dia tidak kunjung menemukan istrinya.
"Coba deh, aku susul dia. Siapa tahu dia masih milih-milih cemilan makanya dia lama"ujar Satria lalu mendorong troli menuju tempat keberadaan Amel.
__ADS_1
Amel hendak melangkah pergi setelah dia berhasil menginjak-injak harga diri Steven dengan semua perkataannya yang jelas-jelas sudah meruntuhkan benteng pertahanan diri Steven. Saat Amel melangkah pergi, sekali lagi Steven menarik tangan Amel hingga wanita itu terkejut dan menjatuhkan sebungkus oats dari tangannya.
"Let me go!!!"teriak Amel.
BUGGH
Satu pukulan keras mendarat di pipi kanan Steven yang teramat mulus khas laki-laki keturunan Eropa. Pukulan itu berhasil membuat pandangan Steven terlempar ke samping.
"SHIT!!"desis Steven.
"Mas Satria"lirih Amel yang langsung menoleh dan dia tersadar akan keberadaan Satria.
"Hei kenapa kau memukul putraku"teriak Jade tak terima. Dia datang bersama Rius yang berjalan di belakangnya.
Kenapa harus ada mereka berdua, situasi pelik macam apa ini, batin Satria.
"Karena putra anda sudah mengganggu istri saya!"tegas Satria menunjuk wajah Steven.
"Stev, ayah sudah bilang lupakan wanita ini. Cari wanita yang lain"sela Jade.
"Lihatlah Stev, bahkan ayahmu sendiri saja tahu kebiasaanmu yang suka bermain dengan wanita"ejek Amel dengan tatapan sinis.
"Jika anda tidak mau wajah putra anda babak belur, katakan pada putra anda untuk menjauhi istri saya!"ancam Satria dengan tatapan tajam dan menakutkan.
Rius yang sejak tadi diam nampak memperhatikan dengan detail laki-laki yang baru saja memukul Steven dengan telak. Satria merangkul Amel dan membawanya pergi. Dan pada langkah kelima Satria menoleh ke belakang menatap ketiga pria bule itu yang sedang menatap kepergiannya. Rius tak henti-hentinya mereka setiap inci apa yang ada pada Satria.
"Ayo Stev kita pulang. Rius kau bawa troli itu ke kasir. Kau jelas punya uang kan?"tukas Jade menatap Rius.
Jade langsung membawa Steven ke mobil, sementara Rius harus membayar belanjaannya terlebih dahulu. Setelah kegiatan berbelanja mereka selesai, ketiganya memutuskan kembali ke apartemen. Saat ini Rius sedang membantu Jade mengobati luka di wajah anaknya itu.
Rius heran, Steve hanya diberi satu pukulan tapi bagaimana pukulan laki-laki itu bisa membuat wajah tampan Steve menjadi seperti tomat busuk. Sepertinya laki-laki tadi bukan orang sembarangan.
"Siapa laki-laki tadi?"tanya Rius datar.
"Sepertinya dia suami dari mantan pacar Stev"jawab Jade.
"Apa kau tahu tentang mereka berdua?"tanya Rius.
"Humph..." Jade terkejut saat asisten iblis itu menanyakan urusan pribadi anaknya. Ini bukanlah sifat Rius, bahkan pria itu tidak akan pernah peduli dengan manusia lain yang ada di bumi ini.
"Aku tidak tahu tentang pria itu. Aku hanya tahu bahwa gadis itu anak dari komisaris polisi di kota ini"balas Jade santai.
Rius mengernyitkan keningnya, dia memikirkan satu hal yang terlintas di otaknya. Sepertinya dia pernah melihat pria itu di suatu tempat dan akhirnya Rius ingat. Dia pernah melihat laki-laki itu di pesta pernikahannya Rey, dan pria itu bersama istrinya Rey.
"Sepertinya kau penasaran dengan pria tadi?"tandas Jade menoleh ke arah Rius.
"Tentu. Bagaimana bisa hanya dengan satu pukulan saja, dia hampir berhasil meremukkan wajah putramu"jelas Rius tak menatap Jade.
__ADS_1
"Menurutmu?"tanya Jade lagi.
Rius tak memberi jawaban, yang Jade dengar hanya helaan nafas dari asisten yang merangkap jadi iblis itu.