
Rey meminta Pak Nata untuk ngedrop mereka di lobi hotel, bukannya di pintu belakang hotel, karena hari ini dia memerlukan sorotan media untuk menyukseskan acaranya. Dengan anggukan dari Vane, Rey membuka pintu mobil dan turun. Kerlipan blitz kamera dan teriakan wartawan yang menanyakan berbagai macam pertanyaan langsung menyerangnya, tapi Rey tidak menyadari ini semua karena ketika dia mengulurkan tangannya untuk membantu Vane turun dari mobil, dia tidak melihat si gunung es Kutub Utara dalam sosok Vane lagi.
Yang dia lihat adalah seorang wanita yang mengenakan gaun potongan free shoulder dress berwarna merah dengan bagian rok long dressnya memiliki potongan cukup tinggi di atas lutut terlihat mengkilap karena gaun itu terbuat dari sutera. Dia kini mengerti mengerti kenapa warna merah sering disebut Hot in Red, karena Vane terlihat sangat menggoda dan seksi, terlihat seperti seorang ratu, yang menjadikan Rey sebagai rajanya dan dia merasa bangga bisa memegang posisi itu.
Ketika Vane turun dari mobil, dia mengulurkan tangan kirinya dan secara otomatis memamerkan cincin berlian empat karat yang melingkari jari manisnya. Sesuatu yang Rey yakin dilakukan oleh Vane dengan sengaja agar orang bisa melihat betapa besarnya berlian itu. Dengan begitu perhatian wartawan terpaku sekejap kepada tangan Vane. Setelah wartawan puas memotret cincin itu, perhatian mereka beralih kepada Vane yang kini sudah berdiri tegak di samping Rey.
Tangan kanannya di dalam genggaman tangan Rey. Kalung emas putih yang panjangnya mencapai belahan dada mengundang perhatian orang kepada kulit bahu dan dada Vane yang putih, bersih, dan nampak mulus. Senyum yang terukir pada wajah Vane kelihatan ramah, tetapi tidak mengundang pikiran yang tidak-tidak. Senyuman seorang profesional. Dia bahkan kelihatan tidak terkejut dengan semua perhatian yang sekarang tertuju padanya, seakan-akan dia sudah sering menghadiri acara seperti ini.
Rey dan Vane saling menatap selama beberapa detik, kemudian Vane tersenyum dan Rey bisa mendengar apa yang ada di pikiran Vane, "Here we go". Rey membalas senyum itu dan mengangguk. Kemudian dengan sangat berat hati dia mengalihkan perhatian dari wajah Vane kepada wartawan yang sedang mencoba menarik perhatiannya.
"Apa kabar Mas Rey? Sudah lama nggak kelihatan"ucap salah satu wartawan tabloid membuka arus pertanyaan.
"Memang lagi lebih sering di studio untuk rekaman, dan lagi persiapan untuk perilisan film terbaru. Kalau nggak penting sekali saya nggak akan keluar"jawab Rey ramah.
"Tapi malam ini sempat keluar ya?"ledek wartawan lain.
"Iya dong, kan saya brand ambassador Samsung, kalau saya nggak datang nanti saya di pecat lagi"balas Rey serius, membuat wartawan yang tadi meledeknya kelihatan malu.
"Kita dikenalin dong sama temannya Mas Rey"sambung seorang wartawan perempuan yang Rey tahu bekerja pada sebuah acara gosip.
"Ini Vanessa"jawab Rey tenang.
"Wah cantik ya Mba Vanessa"kata wartawan itu.
Vane hanya tersenyum simpul saat wartawan itu memuji kecantikanya. Ya iyalah dia cantik, kalau nggak cantik nggak mungkin mantan pacarnya bule semua, Vane tertawa dalam hati mendengar perkataan basa-basi yang dilontarkan wartawan itu. Beberapa wartawan masih melemparkan beberapa pertanyaan lagi, yang dijawab oleh Rey dengan sabar dan penuh humor.
Vane mendapati semakin lama Rey berdiri dan menjawab pertanyaan mereka, semakin terkesima wajah para wartawan. Seperti kejadian ini adalah sesuatu yang langka bagi mereka. Terlebih lagi sosok Vane yang begitu mencuri perhatian. Bahkan mereka melihat Vane dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencoba menebak siapa sosok Vane yang sebenarnya. Kalau seorang model jelas tidak mungkin, apalagi hanya dengan tinggi 168 cm yang dimiliki dia. Atau seorang anak konglomerat jelas juga tidak, karena Vane tidak pernah terlihat sama sekali di majalah bisnis atau di acara TV bisnis manapun.
Mereka bahkan tidak menghiraukan tamu-tamu penting lainnya, seperti walikota DKI Jakarta, CEO Samsung, kedatangan artis lain yang juga menjadi brand ambassador Samsung, seorang jutawan yang baru saja meninggalkan istrinya dan menikahi seorang penyanyi, seorang bintang sinetron yang menjadi istri kedua seorang politikus dan kini sedang hamil, beberapa artis yang mengenali Rey karena Vane melihat mereka melambaikan tangan padanya dan menatap Vane dengan tatapan ingin tahu, dan banyak orang penting lainnya, yang datang setelah mereka.
Akhirnya para wartawan sudah bosan berbasa-basi dan mengajukan pertanyaan yang sudah ada di pikiran semua orang.
"Mas Rey, Mba Vanessa pacar barunya Mas Rey, ya?"
Tubuh Vane menegang, menunggu jawaban Rey. Dia harus siap dengan apa pun yang dilakukan atau dikatakan oleh wartawan setelah pengumuman ini.
"Bukan, Vanessa bukan pacar saya"jawab Rey.
Seperti paduan suara anak-anak TK, Vane mendengar kata, "Oohhh...." dan dia harus menahan diri agar tidak cekikikan. Rey memang suka ngisengin wartawan.
__ADS_1
"Vanessa adalah tunangan saya"sambung Rey dengan suara datar disambut dengan kesunyian dan tatapan tidak percaya dari wartawan.
Kemudian ketika semua orang menyadari apa yang baru dikatakan Rey, mereka melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Sudah berapa lama pacaran?"
"Kapan pertama kali ketemu?"
"Kenapa Vanessa nggak pernah kelihatan sebelumnya?"
"Kapan tunangannya?"
"Siapakah Vanessa?"
"Vanessa dari kalangan mana?"
"Ketemu di mana?"
"Apakah Vanessa wanita yang sering digosipkan sebagai 'pacar' Rey akhir-akhir ini?"
Setelah beberapa menit, Vane mulai merasa seperti sedang melalui sesi tanya jawab yang dia lalui sebulan yang lalu dengan papah dan kedua kakaknya. Dia sedang memerhatikan wajah para wartawan yang kini kelihatan dapat dipertukarkan satu sama lain, ketika dia mendengar seseorang bertanya, "Apa sudah ada rencana menikah?"
Begitu Vane menyelesaikan kalimatnya Rey langsung menggeretnya masuk ke dalam hotel, meninggalkan ledakan pertanyaan lain dari kumpulan wartawan. Banyak dari mereka yang tahu bahwa adalah percuma meneriaki pertanyaan mereka lagi, karena mereka langsung sibuk dengan HP, menelfon produser mereka atau mengirim SMS kepada editor mereka untuk memberitahu tentang berita terbaru dan terpanas di malam ini.
*****
Vane mendesah panjang ketika dia duduk di dalam mobil Rey empat jam kemudian. Setelah apa yang baru dia lalui, interior mobil yang terbuat dari kulit berwarna abu-abu itu memberikan ketenangan yang dia butuhkan. Dia selalu tahu bahwa Rey punya banyak fans, tapi dia tidak menyangka bahwa fans Rey termasuk istri walikota Jakarta, dan setengah dari tamu yang datang ke acara peluncuran produk ponsel terbaru dari Samsung. Entah bagaimana mereka bisa tahu bahwa dia adalah tunangan Rey secepat itu, karena mereka baru saja meninggalkan para wartawan dan memasuki ballroom hotel ketika orang mulai menyalami mereka dan mengatakan "Congratulations."
Mereka semua mau mengenal wanita yang berhasil menggeret Rey ke pelaminan. Vane sampai kewalahan mencoba menjawab pertanyaan mereka yang datang bertubi-tubi. Tapi bukan Vanessa Wibowo namanya kalau dia menjawab pertanyaan dengan begitu saja, tentu saja Vane hanya membalas dengan senyum penuh keramahan.
"You okay?" Vane mendengar suara Rey.
"Yeah, cuma sedikit capek"balas Vane sambil menolehkan kepalanya, menatap wajah Rey. Dia sudah melepaskan dasi kupu-kupunya.
"Kamu bagaimana bisa melakukan ini setiap hari sih?"tanya Vane.
Vane betul-betul tidak tahu bagaimana Rey bisa melakukannya. Semua kamera yang selalu tertuju padanya, memerhatikan semua gerak-geriknya, mengikuti setiap perjalanan hidupnya. Vane tidak akan pernah merasa nyaman dengan kehidupan seperti itu, salah-salah dia bisa paranoid untuk keluar rumah. Takut bahwa orang akan mengambil fotonya ketika dia sedang membuang sampah sembarangan, duduk di pinggir trotoar sambil makan sebungkus cilok kesukaannya, atau lebih parah lagi, mencium ketiaknya untuk memastikan bahwa deodorannya masih wangi.
"Well, aku nggak harus melakukan ini setiap hari untungnya"balas Rey sambil tersenyum.
__ADS_1
Melihat wajah Vane yang jelas-jelas tidak yakin omongannya, Rey menambahkan, "Aku sudah bekerja di dunia entertaiment selama lebih dari sepuluh tahun, jadi aku sudah terbiasa. Kamu nanti juga akan terbiasa."
Vane yakin bahwa dia tidak akan pernah terbiasa dengan perlakuan media terhadapnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa pada Rey. Dia kini betul-betul menghormati para artis yang selalu bisa kelihatan bersahabat dan penuh senyum kalau ditemui oleh media, karena pekerjaan itu tidak mudah. Wajahnya sekarang sudah kram karena harus memasang senyuman sangat tidak natural sepanjang malam. Vane tidak pernah memasang senyum dengan waktu selama itu, karena dia selalu memasang wajah datar dan dingin. Bukannya pelit memberi senyuman, tapi jika tidak ada hal yang penting untuk apa tersenyum. Hidupnya sudah di kelilingi oleh hal-hal serius yang berhubungan dengan negara sejak kecil, jadi senyum adalah sesuatu yang mahal untuknya.
"You were great tonight"puji Rey.
Vane melirik kepada Rey dan berkata ragu, "You think so?"
Rey mengangguk pasti, "Makasih ya sudah mau menemani aku malam ini."
"Oh, no problem. Sorry ya kalau aku ketakutan sebelumnya. Won't happen again, I promise."
Rey mengangguk, "What was that all about anyway?"tanyanya
"Awalnya cuma khawatir tentang acara ini, tapi kemudian aku mikirin hal-hal lain juga dan akhirnya jadi panik"jawab Vane.
"Hal-hal seperti apa yang bikin kamu panik?" Rey memundurkan letak kursinya dan menarik sebuah lever untuk menaikkam foot rest. Dia meletakkan kedus tangannya pada arm rest sebelum kemudian memutar bagian atas tubuhnya dan menatap Vane.
Vane terkejut dengan perubahan bentuk kursi berkata, "Woww," dengan kagum.
Rey menatap Vane dengan bingung, dan semakin bingung ketika dia melihat Vane sedang meraba-raba seluruh bagian kursi yang didudukinya.
"Kamu ngapain?"tanyanya.
"Aku mau buat kursi aku jadi kayak kamu. Gimana caranya?"
"Ada semacam lever di sebelah kanan kamu yang bisa kamu tarik. Ketemu?"
Rey melihat wajah Vane yang sedang berkonsentrasi mencari lever itu, "Ah ketemu."
Dan satu detik kemudian di depan matanya, Rey melihat Vane melakukan hal yang sama yang baru saja dia lakukan pada kursimya sambil memaparkan wajah penuh ketakjuban.
"This is like the most comfortable car seat I have ever sat on"ucap Vane setelah beberapa menit menaikkan dan menurunkan foot rest.
Mendengar komentar ini Rey tertawa, Vane kelihatan seperti anak kecil yang diberikan mainan baru. Wajahnya yang biasanya serius kini penuh senyum takjub, dan meskipun dia tidak melihatnya tapi Rey yakin kalau sekarang mata Vane sedang berbinar-binar. Kebanyakan wanita selalu mencoba agar kelihatan anggun sehingga mereka jarang mau menunjukkan kekaguman terhadap sesuatu, tapi Vane, dia tidak malu memperlihatkan ketidaktahuannya. Tidak ada kepura-puraan dalam proses membuat laki-laki seperti Rey kagum padanya.
"Siapa pun yang menciptakan mobil ini adalah seorang jenius"kata Vane sambil nyengir.
Andai Vane bisa merequest pada insinyur pesawat jet tempur, dia ingin kalau kursi di dalam pesawat jet tempur di buat senyaman mungkin mirip seperti kursi mobil ini. Maka dari itu, Vane cukup mengagumi kecanggihan mobil yang dimiliki oleh Rey.
__ADS_1
Rey mendengus ketika mendengar komentar ini, mencoba menahan tawa. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Vane. Merelakan Vane keluar dari mobilmya adalah hal tersulit yang pernah dilakukan Rey seumur hidupnya.