Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 57


__ADS_3

Vane berjalan cepat bahkan setengah berlari memasuki kantor BIN. Semua mata tertuju kepadanya melihat penampilannya yang superseksi dengan pakaian yang dia kenakan. Vane sadar itu salahnya karena datang ke kantor militer dengan mengenakan blouse off shoulder dan rok skirt yang membuat dia menjadi pusat perhatian. Tapi bukan Vane namanya kalau dia peduli dengan orang-orang.


Vane langsung membuka pintu ruangan papahnya tanpa permisi. Dan di dalam ruangan itu sudah ada papah, kedua kakaknya, ditambah seorang anggota BIN. Mereka semua menatap kehadiran Vane dengan tatapan kagum.


"Berhenti menatapku atau aku akan membolongi kepala kalian dengan peluru"tegas Vane dengan tampang dingin dan tatapan tajam.


Ancaman Vane berhasil membuat empat orang laki-laki itu mengalihkan pandangan dan berusaha mengontrol diri. Vane memang setan berwujud manusia, dia selalu saja bisa membuat orang terbuai dengan pesonanya.


"Dasar adik gila"desis Satria menggelengkan kepala.


"Hal urgent apa yang membuat aku harus datang ke sini?"tanya Vane yang tidak mempedulikan ejekan Satria.


Anggota BIN itu diam dan menatapnya beberapa detik sebelum mulai berbicara.


"Kami menemukan Steven Haydey tewas gantung diri di dalam apartemennya."


"Apartemen? Dia tidak kembali ke Prancis? Padahal ayahnya sudah dipindahkan ke Prancis"jawab Vane keheranan.


"Dia nggak pulang ke Prancis, dia lebih memilih untuk tetap menetap di Jakarta"sambung Bima.


"Oohh..." Vane mencoba menjawab dengan santai, karena yang ada dipikirannya Steven bunuh diri karena depresi atas kasus yang menimpa papahnya.


"Dan...kami juga mendapat kabar dari intel Amerika kalau Rius Anderson berhasil melarikan diri dari Amerika."


"WHAAAATTTT!!!???" Para laki-laki bersumpah bahwa teriakan Vane mampu menggetarkan kantor BIN yang merupakan gedung dengan lima lantai.


"BERENGSEK!!! Bagaimana bisa intel Amerika kecolongan seperti itu? Kurang canggih apa sistem keamanan penjara mereka hah???"


Kini Vane benar-benar terlihat sangat marah, dia seperti sudah siap ingin meluncurkan bom nuklir langsung ke Amerika agar negara itu hancur lebur karena membuat kerja kerasanya sia-sia atas berita kaburnya Rius.


"Perlihatkan aku foto kematian Steven di TKP!!"perintah Vane yang sudah terlihat tidak seperti manusia.


Satria memutar laptopnya agar menghadap kepada Vane, dan Vane langsung melihat dengan sangat teliti setiap detail foto yang terpampang di layar laptop.


"Kematian macam apa ini?"geram Vane melongo tak percaya.


"Kenapa? Apa Steven harus mati dalam keadaan sedang tertawa sambil minum vodka begitu?"balas Bima.


"Ini bukan bunuh diri..."lanjut Vane.


Vane menatap anggota BIN itu dengan tatapan penuh perintah.


"Cari informasi keberadaan Ibu Sarah Diharjo dan Reyvano, lalu kirimkan tim untuk mengawasi dan menjaga mereka. Cepat!!!"perintah Vane dengan tegas.


Anggota BIN itu langsung menunduk patuh kemudian dia keluar dari ruangan Jatra dan tidak lupa menutup pintu kembali.


"Papah nggak mengerti, dengan maksud kematian Steven bukan bunuh diri"ujar Jatra.

__ADS_1


"Okey, I will explain it. Apa kalian tidak merasa ada yang janggal, Rius berhasil melarikan diri bukan hanya dari penjara tapi dari Amerika, setelah itu ditambah dengan berita tewasnya Steven?"tandas Vane.


Kemudian dia mengambil HPnya dan memutarkan rekaman suara perbincangan antara Rius dan Adam beberapa bulan lalu tentang masa lalu mereka. Dan betapa terkejutnya tiga laki-laki itu saat mendengar semuanya dengan jelas.


"Kalian bisa lihat di leher Steven, ada bekas lilitan benda yang ukurannya lebih besar dari tali yang dia gunakan untuk bunuh diri. Apa itu bukan pembunuhan namanya? Aku yakin, Rius pasti meminta sesuatu kepada Steven, tapi dia menolaknya. Sehingga Steven harus mati di tangan Rius"lanjut Vane.


Anggota BIN tadi kembali ke ruangan Jatra dengan nafas tersengal-sengal, setelah dia berhasil mengontrol nafasnya, dia berkata "Ibu Sarah sedang bersama keluarganya di Solo dan saya sudah memerintahkan tim untuk mengawasi beliau. Tapi Reyvano belum kembali ke rumah setelah pergi dari pengadilan agama."


"WHAATT!!??? Kak Bima perintahkan tim untuk bersiap sekarang! Cepat dan tidak ada bantahan!"teriak Vane yang sudah seperti orang kesetanan.


Bima dan anggota BIN itu langsung keluar dari ruangan Jatra untuk menginstruksikan tim mereka agar bersiap, entah bersiap untuk apa yang jelas saat ini Vane terlihat sedang tidak main-main.


"Kak Satria, periksa semua CCTV di sepanjang jalan dari pengadilan agama dan temukan mobil Rey"ucap Vane.


Satria mengangguk mengerti kemudian beralih mengoperasikan laptopnya. Vane pun ikut mengamati pekerjaan Satria.


"Itu mobil Rey..." Vane menunjuka ke mobil Ranger Rover yang berhenti di pinggir jalan, dan video CCTV tiba-tiba mati dan kembali menyala tapi dimenit selanjutnya. Itu artinya di menit sebelumnya CCTV itu sengaja dimatikan agar tidak dapat merekam sesuatu yang terjadi saat itu.


"Periksa CCTV apartemen Steven"kata Vane dengan nada bicara tegang.


Dan sialnya, CCTV apartemen Steven juga mengalami hal yang sama dengan CCTV di jalan tadi. Vane semakin yakin bahwa ini adalah perbuatan Rius. Dia tidak menyangka jika psikopat itu berhasil membuat rencana begitu rapih hingga tidak bisa diketahui siapapun.


"Apa rencana kamu, Van?"tanya Jatra.


"Aku akan menghadapi psikopat itu sendiri"kata Vane penuh keyakinan.


*****


"Kak, nggak ada waktu buat ganti baju. Lagian kalau aku pakai seragam BIN sama aja aku membuka lebar-lebar identitas aku. Aku juga ingin tahu apakah benar Rius sudah menaruh rasa curiga terhadap aku sebelumnya"jelas Vane yang membuat Satria harus mendengus kesal.


Vane keluar dari mobil yang membawa dia, Satria, dan juga Bima. Dan ada dua mobil lagi yang diisi oleh tim dari BIN. Kini mereka berada di sebuah pabrik tekstil tua di daerah pinggiran Jakarta. Vane bisa mengetahui lokasi pabrik ini setelah dia melacak HP milik Rey yang menuntunnya untuk datang ke pabrik tua ini.


"Kamu yakin, kita nggak perlu ikut kamu masuk?"tanya Bima.


"Yang kita hadapi bukan pencuri yang akan mati setelah ditembak, yang kita hadapi itu psikopat yang akan hidup lebih kuat setelahnya"tutur Vane.


"Kalau ada apa-apa kamu langsung teriak, kakak bisa dengar suara kamu di dalam karena kakak sudah memasang alat penyadap suara di sepatu kamu"jelas Satria.


"Oke. I should go. Wish me luck"ucap Vane lalu memeluk kedua kakaknya terlebih dahulu, dan pelukan ketiganya begitu erat. Dan kedua kakak laki-laki itu harus rela melepas adiknya untuk menghadapi musuh yang berbahaya.


Vane melangkahkan kaki masuk ke dalam pabrik tua dengan penuh keyakinan. Dia tidak boleh terlihat takut. Karena hal pertama yang harus diketahui 'Seorang psikopat akan terlihat senang jika melihat orang lain ketakutan'.


Vane membuka pintu baja pabrik itu dengan perlahan lalu masuk ke dalamnya dan ternyata pintu baja itu bergerak hingga pintu setengah menutup, mungkin karena faktor usia baja yang sudah tua. Dia berjalan lagi mencari keberadaan Rey, dan akhirnya langkahnya langsung terhenti. Saat melihat seorang pria yang bertemu dengannya tiga jam yang lalu duduk tak berdaya di kursi dalam kondisi terikat dan parahnya lagi bagian tubuhnya terdapat banyak luka goresan pisau yang sudah mengalir banyak darah.


Vane menebak jika Rius menggunakan pisau buah untuk melukai Rey, walaupun pisau buah lebih tumpul dari pisau dapur. Karena sifat psikopat selanjutnya adalah 'Dia lebih senang menyiksa korbannya lebih dahulu, dan menikmati setiap detik penderitaan korbannya sebelum korbannya itu tewas secara mengenaskan'.


"Rey..." Vane memanggil nama Rey dan Rey mendongakkan kepalanya, menatap Vane dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan, Vane mengernyitkan keningnya karena dia merasa seperti mendengar suara tepuk tangan di dalam pertandingan bola.


"Akhirnya kau datang juga. Ternyata umpanku berhasil..."


Vane langsung melihat sosok tua bangka Rius terlihat menyeramkan memegang sebilah pisau buah yang sudah berlumuran darah. Vane heran, walaupun dia sudah mematahkan salah satu tangan Rius, tapi dia masih terlihat baik-baik saja.


Vane bersyukur bahwa sifat dingin dan tidak berperasaannya sekarang sangat berguna, terlebih lagi saat menghadapi seorang psikopat yang berbahaya seperti Rius. Sebisa mungkin dia harus terlihat tenang.


"Lihatlah Rey, wanita ini adalah orang yang membuat ayahmu berada di dalam penjara. Dia memanfaatkanmu untuk melancarkan misinya. Kasian sekali kau"kata Rius dengan nada menghasut.


Tak disangka-sangka Vane justru tertawa terbahak-bahak seakan-akan perkataan Rius adalah sebuah lelucon. Rius tertegun bagaimana dia bisa bertemu dengan orang yang bisa bersikap setenang itu.


"Apa kau tidak tahu bahwa pernikahanku dengan Rey itu hanya sebuah pernikahan kontrak yang digunakan untuk menyelamatkan karir Rey pada saat dia terkena skandal dengan mantan pacarnya? Itu artinya dia sendiri yang menyerahkan ayahnya kepadaku. Aku hanya tinggal mengeksekusi saja"balas Vane dengan nada santai bahkan terdengar sangat terhibur.


"Tapi apa kau rela jika pria yang kau cintai terluka di hadapanmu? Atau mungkin kau ingin tahu bagaimana caraku membunuh orang tua Adam, Ibu Steven, dan juga Steven"ancam Rius yang mulai menggoreskan pisau lagi di atas luka yang sebelumnya, sehingga Rey meringis kesakitan menahan siksaan ini.


Vane mengepalkan tangannya saat melihat Rey disiksa, sementara Rius tersenyum puas melihat reaksi dari Vane.


"Jadi kau sudah mengakui semua perbuatanmu kepada Rey?"tanya Vane ragu-ragu.


"Tentu saja. Dia sendiri yang bertanya kepadaku, maka aku memberitahu dia segalanya. Bahkan aku juga memberi tahu dia semuanya, istrinya adalah seorang intel handal Indonesia. Bahkan kau bisa memiliki earpiece buatan militer Jerman, itu artinya kau memiliki koneksi dengan intel negara besar"tandas Rius.


Baik, Vane sekarang tahu bahwa Rius sudah mengetahui segalanya dan dia pasti menginginkan sesuatu darinya dan dia juga tidak mau Rey mati konyol di depan matanya.


"Apa yang kau mau dariku?"tanya Vane to the point.


"Wanita pintar..."


"Ya aku memang pintar..."potong Vane begitu percaya diri.


"Aku ingin kau menyuruh pemerintah Rusia memberikan rudal terbaru yang mereka buat kepadaku secara cuma-cuma, dan minta kepada interpol seluruh dunia untuk menghapus namaku dari daftar kriminal internasional"jelas Rius.


Vane terkejut mendengar permintan Rius dan ditambah dia harus melihat Rey yang sedang disiksa. Keadaan ini membuatnya bingung, rasanya ingin sekali Vane langsung membunuh Rius.


"Van, jangan lakukan itu. Jika kamu melakukan itu maka akan ada lebih banyak lagi orang yang tewas karena senjata berbahaya itu. Aku ti...tidak mau jika hal itu terjadi karena kamu menyelamatkanku." Rey berkata sedikit terbata-bata karena rasa sakit di tubuhnya.


"Wah, kau sangat mirip dengan ayahmu, Rey. Ayahmu itu orang yang sangat baik. Dia akan melakukan apapun untuk melindungimu dan juga ibumu"sela Rius.


Vane dan Rey bertatapan selama beberapa detik. Vane ingin sekali menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Rey dan mencium bibir laki-laki itu dan mengatakan bahwa dia juga mencintainya dan ingin hidup bersamanya.


"Sepertinya aku sedang melihat drama Romeo dan Juliet"sindir Rius menatap sinis Vane dan Rey.


"Bilang saja kau iri denganku"balas Vane ketus.


"Kau berani kepadaku?"teriak Rius penuh amarah, dia tidak pernah merasa dipermainkan oleh orang lain sebelumnya terutama wanita.


Tak segan-segan Rius kembali melukai Rey dan bahkan Rey menjerit histeris karena Rius sangat bersemangat untuk menyiksanya.

__ADS_1


"STOP!!!"teriak Vane mengangkat tangannya agar Rius berhenti.


"Bagaimana, apa kau akan menuruti perintahku?"tanya Rius dengan senyum licik.


__ADS_2