Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 58


__ADS_3

Vane terdiam beberapa saat, dia belum bisa melakukan apapun karena Rius berada di dekat Rey sambil menodongkan pisau. Vane belum siap melihat Rey harus meregang nyawa di depan matanya. Rey tahu bahwa istrinya saat ini harus dihadapkan pilihan yang sulit. Dia tidak masalah jika dia harus mati kalau Vane memilih tidak mengikuti perintah Rius. Yang terpenting dia ingin mendengar bahwa wanita yang dicintainya juga mencintai dirinya.


"Aku mencintaimu..." Lagi, Rey mengatakan cinta kepada Vane dan menatapnya dengan tatapan tulus. Dan perkataannya membuat Vane melongo.


"WHAATT!!??"


"Aku tahu banyak hal yang tidak aku ketahui tentang kamu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu tentang aku, bahwa aku sangat mencintaimu. Aku justru merasa bangga dan berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah membuat papah berhenti melakukan kejahatannya. Selain itu, akhirnya aku mengerti seperti apa rasanya mencintai seorang wanita yang betul-betul bisa mengerti aku. Setelah aku mengenal kamu akhirnya aku tahu apa arti sebuah kepercayaan dan ketulusan. Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tetapi karena siapa aku ketika aku bersamamu."


Tak terasa air mata Vane menetes membasahi pipinya. Ungkapan cinta Rey benar-benar menyentuh dasar hatinya yang terdalam. Dia benar-benar ingin hidup bersama Rey.


"Wow...sungguh romantis sekali? Baiklah Vanessa apa kau ingin mengatakan sesuatu sebelum aku menghabisi suamimu ini?"tanya Rius sinis sambil mendekatkan pisau ke leher Rey.


"Tolong...jangan sakiti Rey"pinta Vane berusaha menahan tangisnya.


Rey tersenyum melihat bagaimana Vane takut kehilangan dirinya. Kini Rey tak bisa menahan tangis harunya. Andai dia tidak dalam keadaan lemah, dia ingin bisa melindungi Vane, bukannya Vane yang melindungi dia.


"Rey, apa yang kamu katakan tadi pagi itu sungguh-sungguh?"ucap Vane dengan tatapan penuh harap.


"Aku betul-betul cinta sama kamu. Aku nggak tahu apa lagi yang harus aku katakan atau lakukan agar kamu percaya pada kata-kataku." Rey betul-betul tidak ingin mundur sekarang, setidaknya dia sudah mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Vane.


"Rey, aku memang tidak sepenuhnya memberi kepercayaanku kepada kamu jika itu menyangkut pekerjaanku. Aku ingin mengatakan padamu bahwa di manapun aku berada, apapun yang terjadi, aku akan selalu memikirkanmu, dan waktu yang telah kita habiskan bersama adalah waktu yang paling membahagiakan. I love you."


"AAAAA!!!" Tiba-tiba Rey berteriak ketika Rius dengan sengaja menusukkan ujung pisau pada dada kiri Rey.


"Jangan sakiti dia!!"teriak Vane dengan emosi, dia sudah tidak sanggup lagi melihat Rey disiksa seperti itu, yang membuat hatinya teriris.


"Van, let me to do something if it can help your task"kata Rey dengan suara lemah tak berdaya.


"No Rey, I can't to let you die"ujar Vane terisak.


Dada kiri Rey sudah mengeluarkan darah, wajahnya memucat, dan dia sudah lemas karena kehilangan darah. Sementara Vane harus cepat bertindak untuk menghentikan permainan psikopat tua bangka itu.


"Oke...aku akan melakukan apa yang kau perintahkan"ujar Vane dengan tegas dan berusaha menelan tangisnya.


"No no no, Van. What will you do? Yang kamu lakukan akan membahayakan dunia!"teriak Rey.


"I should to do that"ujar Vane.


"Bagus. Pilihan yang bagus wanita cantik. Aku akan membebaskan suamimu ini setelah kau melakukan semua yang aku perintahkan. Tenang saja, Reyvano akan aman bersamaku"sela Rius tersenyum penuh kemenangan.


"Apa jaminannya jika kau tidak akan menyakiti Rey?"tanya Vane dengan nada dingin dan tatapan curiga.


"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku sendiri"tantang Rius.


Vane tersenyum ketika melihat reaksi tak terima dari Rius, dia berhasil mempermainkan emosi iblis itu. Tak disangka-sangka Vane mengulurkan tangan seperti akan menyalami Rius.

__ADS_1


"Berjanjilah?"ujar Vane tersenyum penuh harap.


Rius menatap Vane dari ujung hidungnya dan Vane tidak pernah melihat Rius semenyeramkan itu. Tak berapa lama Rius melangkah mendekati Vane dan kini pria itu berdiri lima langkah darinya. Dan alangkah terkejutnya Vane saat Rius mengulurkan tangannya.


BUGGHH


Vane menendang tangan Rius dengan kuat hingga pisau yang dia pegang terpental jauh dan sekali lagi Vane menendang Rius hingga dia tersungkur ke tanah. Vane langsung berlari mendekati Rey dan secepat mungkin dia melepaskan ikatan pada Rey.


"Ayo Rey, kita pergi..."ujar Vane secepat mungkin mencoba melepas ikatan tali yang melilit tubuh Rey. Dan ketika keduanya akan beranjak tiba-tiba...


JLEEBBB


Rius menusukkan pisau lain yang dia simpan di balik bajunya dengan begitu cepat hingga tak bisa dihindari. Kemudian dia menarik pisau itu dan menusukkannya untuk kedua kalianya. Darah langsung mengalir dengan deras dari perut orang yang dia tusuk.


"VANEE!!!"


Rey berteriak saat tubuh Vane membeku di hadapannya, dan dengan sisa-sisa tenaga yang Rey miliki, dia menangkap tubuh Vane yang ambruk hingga keduanya terduduk di tanah.


DOORR


DORRR


Terdengar suara dua kali tembakan dan tembakan itu melesatkan peluru tepat di kepala Rius dan dia langsung ambruk ke tanah dengan keadaan kepala yang sudah berdarah.


"VANEE!!!"


Vane menggenggam tangan Rey lalu berkata, "Jika harus memilih, antara nafas dan cinta. Maka aku memilih nafas terakhir untuk mengatakan, "Aku cinta padamu."


"Van, jangan berkata seperti itu. Kamu pasti selamat"isak Rey menggelengkan kepala.


Tak berapa lama masuklah pasukan BIN yang menggotong mayat Rius, serta membawa Vane. Dan Rey sudah tidak sanggup lagi bertahan hingga dia pun pingsan akibat luka di tubuhnya.


Tim BIN sudah menyiapkan tiga mobil ambulance.


"Vane bertahanlah, kakak mohon!!!"ucap Satria dengan suara gemetaran penuh ketakutan.


Vane digotong masuk ke dalam ambulance, dan Satria yang menemani Vane di dalam ambulance itu. Dan tiga mobil ambulance langsung melaju secepat mungkin agar bisa menyelamatkan nyawa orang yang dibawa.


Seorang perawat langsung memberi tindakan pertama, dia memakaikan Vane alat bantu nafas, memasangkan infus, kemudian membalut luka tusuk di perut Vane. Satria sudah tidak bisa menahan tangisnya, dia terus mengelus kepala adiknya.


Dengan susah payah serta sisa tenaga dan kesadaran yang dia miliki, Vane mencoba menggerakkan tangan kanannya untuk melepas alat bantu nafas yang menutupi hidung dan mulutnya.


"Van, jangan dilepas!"lirih Satria.


Dengan gerakan kecil, Vane melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Satria mendekat kepadanya. Tanpa pikir panjang Satria membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Vane. Dan Vane membisikkan sesuatu ke telinga Satria.

__ADS_1


*****


Dua tahun kemudian.


Jakarta Convention Center (JCC) di Senayan, Jakarta Pusat, mulai dipadati banyak orang jelang konser musik yang paling ditunggu seluruh Indonesia. Konser yang bertajuk ‘Sebuah Rindu’ tersebut akan menjadi penawar rindu bagi para fans Reyvano Millford, yang telah lama menantikan konser tunggal dari artis laki-laki paling populer yang sudah hiatus selama dua tahun dari dunia hiburan tanah air.


Konser tersebut adalah konser tunggal yang diadakan dalam rangka 15 tahun Reyvano berkarir sebagai seorang artis. Dia akan menyanyikan lagu-lagu hitsnya baik dari album milik sendiri, maupun dari soundtrack film yang dia nyanyikan. Dari ruang Plenary Hall yang dapat menampung sekita 5.000 orang, banyak para fans yang mulai memadati ruangan itu untuk menyaksikan konser yang akan dimulai lima menit lagi.


Seorang kru laki-laki berlari menuju ruang ganti untuk memanggil sang guest star. Sesampainya di pintu yang tertempel nama Reyvano Millford, kru itu langsung membuka pintu.


"Mas Rey, konser akan dimulai lima menit lagi"kata kru itu.


Rey langsung menoleh ke belakang dan mengangguk. Kini dia bangkit dari kursi, merapihkan setelan jas berwarna biru dongkernya dan menatap betapa tampannya dirinya.


Rey pun keluar dari ruang ganti dikawal oleh beberapa kru dan timnya. Dan akhirnya dia sampai di green stage atau lounge di belakang panggung yang digunakan untuk menunggu giliran naik ke atas panggung.


"REYVANO READY ON STAGE IN THREE...TWO...ONE GO!!!"


Dan Rey pun naik ke atas panggung san langsung disambut teriakan penonton. Dia diiringi musik pembuka oleh tim orkestra yang kemudian dia menyanyikan dua lagu dari album pertamanya sepuluh tahun yang lalu. Gemerlap lighting dan grafik dari LED Screen panggung ditambah suara teriakan penonton membuat opening konser begitu menakjubkan. Dan akhirnya dua lagu pembuka selesai dia nyanyikan dengan sempurna. Semua fansnya bersorak penuh kekaguman pada sosok idola mereka.


Kini Rey berjalan perlahan menuju downstage atau area panggung yang paling dekat dengan penonton. Rey berdiri memberi senyum ramah kepada seluruh fansnya yang hadir.


Dan tak lupa Rey melambaikan tangan kepada keluarga Diharjo dan keluarga Wibowo yang duduk di kursi VVIP, mereka pun membalas dengan senyum penuh kebanggaan pada Rey. Ada seorang bocah perempuan kecil memakai gaun pink dan bando yang juga ikut melambaikan tangan pada Rey, dia adalah Vanessa kecil, putri dari Bima dan Ana.


"Selamat malam semuanya. Terima kasih karena kalian sudah berkenan hadir di konser tunggal saya yang pertama kali sepanjang 15 tahun karir saya di dunia entertaint Indonesia. Malam ini, saya akan mempersembahkan penampilan spesial untuk kalian semua."


Semua penonton bertepuk tangan menanggapi kata sambutan dari Rey.


"Seperti yang kalian ketahui konser yang bertajuk Sebuah Rindu adalah persembahan istimewa dari hati saya yang paling dalam untuk satu-satunya wanita yang pernah saya cintai seumur hidup saya...."


Tiba-tiba suasana menjadi hening, dan para penonton menatap Rey dengan tatapan sendu. Kini mata Rey mulai berkaca-kaca hingga akhirnya air matanya lolos begitu saja.


"She is a smart, brave, and amazing women in my life. Dia satu-satunya wanita yang benar-benar mengerti saya luar dan dalam setelah mamah saya. Dia mengajarkan saya arti ketulusan, kepercayaan, dan memaafkan. Dia yang membuat hidup saya jungkir balik di saat yang bersamaan. Saat saya tahu dia juga mencintai saya dan tidak ingin kembali hidup dengan saya, tapi..."


Rey menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba sekuat tenaga menahan tangisnya.


"Tapi, Tuhan tidak memberi kesempatan kepada saya untuk bersama dia dan berusaha membahagiakannya. Mungkin Tuhan marah kepada saya karena terlalu banyak kesalahan yang pernah saya lakukan terhadapnya hingga Tuhan tidak mengizinkan kami untuk bersatu. Saya hanya berpikir betapa beruntungnya saya pernah mengenal dirinya, mencintainya, dan memilikinya. Terima kasih untuk setiap detik waktumu yang selalu membuat aku bahagia, aku sangat beruntung memiliki seseorang sepertimu, Vanessa."


Kini semua lampu lighting dimatikan, dan hanya ada satu lampu sorot yang menyala dan mengarah pada LED Screen yang mulai menayangkan sebuah vidio yang merupakan rangkaiaan peristiwa dimulai dari saat munculnya Vane ke publik, pernikahan Vane dan Rey, ulang tahun Vane, dan penampilan Vane saat menyanyikan lagu klasik 'Time To Say Goodbye' yang berhasil membuat merinding seisi ruangan mendengar suara merdunya.


Dan setelah itu terdengarlah rekaman suara Vane.


"Rey, aku memang tidak sepenuhnya memberi kepercayaanku kepada kamu jika itu menyangkut pekerjaanku. Aku ingin mengatakan padamu bahwa di manapun aku berada, apapun yang terjadi, aku akan selalu memikirkanmu, dan waktu yang telah kita habiskan bersama adalah waktu yang paling membahagiakan. I love you."


"Jika harus memilih, antara nafas dan cinta. Maka aku memilih nafas terakhir untuk mengatakan, "Aku cinta padamu."

__ADS_1


__ADS_2