
Semenjak hari itu mereka tidak pernah lagi pisah tempat tidur. Atas persetujuan bersama, Rey membiarkan Vane mendekorasi ulang kamarnya sesuka hati Vane. Rey tidak memprotes ketika setengah dari kamarnya dipenuhi dengan barang-barang wanita, mulai dari perawatan wajah, buku-buku pribadi Vane, dan beberapa koleksi sepatu dan tasnya.
Kini Rey merasa bahwa dia sudah tidak hidup sendiri. Karena akan ada orang yang menelfonnya jika dia belum pulang ke rumah lewat jam sebelas malam. Dan setiap pagi dia akan merasakan bibir Vane mencium wajahnya untuk membangunkannya. Dan dia akan mendengar suara teriakan Vane ketika dia membuat lemari baju berantakan. Baiklah Rey harus ingat bahwa istrinya memiliki OCD, dia akan setres jika apa yang ada di depan matanya tidak rapih dan bersih.
Kini film Rey benar-benar mencapai box office, dan dengan bangganya dia mengatakan bahwa Vane yang membuat dia bisa berakting begitu sempurna sebagai chef di film itu. Dia tak henti-hentinya memuja istrinya karena dia sadar dia bukan hanya mencintai Vane tapi dia ingin hidup bersama Vane.
Dan sesuai kesepakatan Rey sudah membatalkan kontrak perjanjian pernikahannya dengan Vane. Dan saat ini Rey mencoba menelfon Pak Seto tapi dia merasa kesulitan. Dan akhirnya dia menelfon sekertarisnya yang bernama Yudi untuk menyampaikan bahwa dia membatalkan kontrak pernikahannya dengan Vane. Dan Rey merasa kelegaan yang belum pernah dia rasakan selama hidupnya.
*****
Bulan Juni telah tiba, Vane sudah mempersiapkan segala strategi penangkapan Adam dengan timnya. Tinggal menunggu hari-H saat senjata bodong itu sampai di Indonesia. Tidak ada yang tahu bahwa senjata yang dikirim ke Indonesia pada hari itu adalah rekayasa, dan senjata yang sebenarnya akan dikirim di bulan selanjutnya.
Sementara itu Indonesia kembali digegerkan dengan berita tentang Clara. Dia kembali ke Indonesia bersama bayinya yang berusia lima bulan. Dan anehnya semua wartawan tahu tentang kedatangan Clara dan mereka semua menyambutnya di bandara.
Dan sore hari ketika Vane kembali dari restoran padahal dia sebenarnya baru dari markas untuk bertemu dengan papahnya. Vane tidak mendapati Rey ada di rumah. Menurut informasi dari Mbok Nami Rey sudah pergi sejak siang hari dan tidak ada yang tahu ke mana perginya.
Walaupun Vane sudah cinta dengan Rey, dia tidak akan menjadi wanita bodo, yang akan merengek menelfon Sarah atau Pak Indro untuk bertanya keberadaan Rey. Dia mengambil HPnya untuk melacak keberadaan Rey saat ini.
Rumah Sakit Bunda.
Vane mengernyitkan keningnya saat mengetahui lokasi keberadaan Rey. Dan sekarang Vane penasaran untuk apa suaminya pergi ke rumah sakit itu. Dia membuka room chat milik Rey dan Vane melihat ada pesan dari Clara.
"SHIT!!" Vane mengumpat bahkan dia sampai mengepalkan tangannya, hingga tak sadar kuku-kukunya menancap pada telapak tangannya.
Vane berusaha untuk tenang. Tapi bagaimana dia bisa tenang ketika dia mendapati suaminya kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya. Okey. Mungkin ini salah Vane yang sudah dibodohi oleh bualan mulut Rey.
Vane mencoba tidak peduli dengan semuanya. Dia langsung pergi ke kamar untuk tidur. Hingga akhirnya pagi tiba, Vane melihat Rey sudah tidur di sebelahnya.
Dan terlihat dari raut wajahnya dengan kening berkerut seperti orang sedang banyak pikiran. Vane tersenyum miris, jika dia sedang tidak kesal dengan Rey maka dia akan mengelus keningnya hingga kerutannya hilang. Tapi sekarang dia merasa kesal maka keinginannya adalah melempar bantal ke wajah suaminya.
Dan Vane bukanlah, orang bloon yang akan bertengkar dengan manusia yang setengah sadar. Kini Vane bertekad untuk berangkat ke restoran dan menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian dia akan meminta penjelasan kepada Rey atas semua sikapnya akhir-akhir ini.
__ADS_1
*****
Ketika pekerjaannya sudah selesai, Vane mencoba menelfon Rey tapi dia tidak mengangkatnya sama sekali. Baiklah Vane mencoba mengabaikan semua itu. Biarkan laki-laki itu bertindak semaunya, Vane bisa melakukan lebih dari yang dia lakukan.
Sementara Rey tidak perlu melihat layar HPnya, dia sudah tahu jika Vane yang menelfonnya. Dia tahu sifat wanita pada umumnya adalah tidak akan membiarkan suami-suami mereka untuk menolong mantan pacar yang sudah merusak nama baik suami mere dengan tangan terbuka.
Lagi pula yang dia sedang lakukan untuk Clara sifatnya hanya sementara. Yang tahu semua ini hanya Om Indro, Reza, dan Rey yakin staf rumah sakit akan menjaga privasi ini dengan baik.
Sehari setelah Clara tiba di Indonesia, dia menelfon Rey untuk meminta bantuan. Clara adalah anak tunggal hasil dari broken home. Dan Clara tidak punya siapa-siapa untuk dimintai bantuan. Papahnya sudah menikah lagi, dan mamah tirinya menolak agar Clara bisa tinggal dengan mereka terlebih lagi kehadiran Clara akan mempengaruhi kehidupan adik tirinya yang masih butuh biaya.
Lalu hubungan dia dengan mamah kandungnya juga tidak baik. Apalagi saat Clara lebih memilih mempertahankan Daren daripada menggugurkannya. Itu sudah jelas bahwa dia merusak nama keluarga di hadapan seluruh Indonesia. Untuk teman, Clara tidak memiliki banyak teman, karena dia adalah tipe wanita yang sibuk sendiri, egois, dan tidak peka terhadap sekitarnya. Sehingga saat dia butuh bantuan tidak ada seorang pun yang dapat membantunya.
Clara meminta Rey untuk membantunya membiayai pengobatan Daren, karena bayi itu lahir dengan sistem imun di bawah rata-rata sehingga mudah sakit. Dan Rey yakin ini semua pengaruh dari narkoba dan miras yang dikonsumsi Dani setiap harinya. Pengobatan untuk Daren tidaklah murah, sehingga Clara tidak punya cukup uang dan energi untuk melakukannya sendiri. Hal itulah yang membuat Rey akhirnya mau membantu Clara dengan suka rela.
*****
Kini Rey sedang mencoba bicara baik-baik dengan Dani agar dia mau bertanggung jawab terhadap bayinya. Rey sudah bersiap menemui Dani di club biasa di mana Dani berkumpul dengan teman bandnya.
Dani betul-betul tidak mau tanggung jawab bahkan dia berkata bahwa bukan dia satu-satunya pria yang tidur dengan Clara selama wanita itu berpacaran dengan Rey. Atas perkataannya itu Dani harus menerima satu tonjokan di wajahnya dari Rey. Reza yang saat itu bersama Rey langsung menarik tangan Rey agar tidak melanjutkan tonjokan yang lainnya.
Setelah puas dengan pidatonya dan yakin bahwa Dani mendengarnya, Reza membawa Rey keluar dari club. Untung saja Dani berkumpul di ruang VIP jadi tidak ada setan yang melihat Rey menonjok Dani kecuali teman band Dani. Dan Reza harus menelfon Om Indro untuk membereskan masalah di club tadi.
"What the hell was that?"teriak Reza saat di pelataran club.
Rey tak mendengarkannya, dia langsung masuk ke mobil diikuti Reza.
"Rey, lo bilang cuma mau ngomong baik-baik sama curut itu, bukannya nonjok dia sampai bonyok. Lo nggak mikir gimana jadinya keamanan club lihat, lo malam ini bisa nangkring di penjara. Dan gue harus telfon Om Indro dan harus bangunin dia jam sebelas malam buat beresin masalah tadi"omel Reza.
"STUPID!"bentak Rey mencoba fokus menyetir.
"Lo yang stupid. Dasar otak udang. Apa sih yang ada pada diri Clara yang bikin lo ngelakuin hal kayak gini?"tanya Reza sinis.
__ADS_1
Melihat Rey masih diam, Reza menghembuskan nafas dan melanjutkan, "Sebaiknya lo berdoa, semoga Dani nggak menuntut lo. Lo harusnya bisa kontrol emosi. Perlu banget gue bawa lo ke psikiater hah?"
Yang dikatakan Reza benar, dia harusnya bisa mengontrol emosi. Tapi entah kenapa emosinya meluap-luap saat melihat wanita PSK mengelilingi Dani.
"Omong-omong, apa Vane ngga cemburu dengan segala perhatian yang lo berikan ke Clara?"tanya Reza.
Rey tetap tutup mulut, tapi melihat pergerakan pada rahang Rey, Reza langsung berteriak, "Oh shit!!! Jangan bilang ke gue kalau lo belum jelasin keadaan ini ke Vane?"
"Za, shut up okey?"
Reza terdiam sejenak sebelum berkata, "Rey, gue tahu kalau lo lebih tua daripada gue dan gue belum pernah menikah, jadi mungkin nasihat gue nggak ada artinya. Tapi gue cuma mau bilang, kalau niat lo cuma mau nolongin Clara kenapa harus merahasiakan dari istri lo? Vane berhak tahu, berengsek!"
Alih-alih menjawab, Rey langsung tancap gas, dan Reza tidak mengatakan apa-apa lagi sepanjang perjalanan.
Tentu saja Clara menangis tersedu-sedu saat mendengar semua cerita dari Rey tentang pertemuannya dengan Dani. Rey mengucapkan janji bahwa dia akan membantu Clara sebisa mungkin. Dia ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya, agar dia tidak perlu menghindari Vane lagi. Dan dia tidak tahu apa yang akan dilakukan istrinya jika tahu tentang hal ini.
*****
Selama dua hari Rey bermain kucing-kucingan dengan Vane. Dan membuat kemarahan Vane semakin menjadi. Vane masih mempertahankan diri untuk tidak mengadu kepada mamah mertuanya masalah ini. Terlebih lagi saat ini mamah mertuanya berada di Solo untuk menghadri pernikahan keponakannya. Vane mencoba fokus, mengingat nanti malam adalah waktu eksekusi untuk menangkap Adam sebelum esok hari dia akan menyusup untuk mencuri senjata dari Rusia itu di pangkalan senjata militer Indonesia.
Vane sudah tidak peduli, mau Adam papah mertunya, omnya, kakeknya, atau siapapun. Yang jelas Vane butuh pelampiasan untuk kemarahannya saat ini.
Vane berencana menuju kantor BIN pagi-pagi sekali. Dan di dalam perjalanan saat berhenti di lampu merah, dia tak sengaja melihat bocah kecil penjual koran. Vane bukan pembaca tabloid tapi entah kenapa hari ini dia ingin membacanya. Vane membeli satu tabloid dari anak itu.
REYVANO DAN CLARA KEMBALI BERSAMA.
Vane terdiam saat memaca headline tabloid itu. Dia melihat tiga foto di bawah headline tersebut. Foto pertama memperlihatkan Rey dan Clara keluar dari rumah sakit, foto kedua menunjukkan Rey membawa Clara menuju mobilnya, dan foto ketika memperlihatkan Rey menggendong bayi Clara.
Lamunan Vane buyar saat bunyi klakson kendaraan lain seperti menyadarkannya bahwa lampu sudah hijau. Dengan menggeram Vane melajukan mobilnya seenak jidatnya. Vane mendengar dering HPnya, dan terlihat di layar HP satu persatu anggota keluarganya menelfon dia. Vane yakin mereka sudah membaca berita tentang Rey dan Clara.
"Oh my God!!! Why???"teriak Vane sudah menangis. Dia memukul setir berkali-kali. Vane tidak peduli jika Satria atau Bima ingin menghajar Rey. Vane akan dengan senang hati mempersilahkan mereka.
__ADS_1
Vane sudah sampai di depan kantor BIN. Dia berjalan memasuki gedung dengan langkah mantap, tatapan tajam, dan wajah dingin. Tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan komandan, karena Vane tidak memiliki pangkat militer, walaupun tidak mempunyai pangkat militer tapi Vane menguasai semua ilmu kemiliteran sehingga semua orang tahu siapa Vane dan seperti apa dia?
Kini Vane sudah berdiri di depan ruang penyimpanan senjata. Dia memasukkan kode pada sistem alarm. Dan setelah pintu terbuka, mata Vane langsung tertuju pada pistol Smith & Wesson 500 Magnum yang berada pada etalase.