
Vane mengambil cuti seminggu setelah resepsi untuk memindahkan barang-barang yang dianggap penting dari rumahnya ke rumah Rey. Vane dan Rey menyembunyikan status pisah ranjang mereka dari para pegawai, juga dari artis-artis yang diwakili oleh Mill Films maupun Mill Music kecuali Reza, Pak Indro, Pak Seto.
Rey tidak memperbolehkan orang asing menjejakkan kaki mereka di lantai tiga maupun empat rumahnya. Tapi mereka tidak bisa menyembunyikan ini dari asisten rumah tangga Rey yang ditugaskan membersihkan segala sudut rumah itu. Meski begitu, Rey percaya bahwa mereka tidak akan membeberkan situasi ini kepada media, karena seperti Mbok Nami, para pembantu yang lain sudah ikut dengan Rey semenjak dia kecil dam loyalitas mereka betul-betul bisa diandalkan.
Pernikahannya dengan Rey sudah membuat dia pusing tuju keliling. Jika Vane boleh memilih, dia lebih memilih untuk menjalani tes fisik dan logika daripada harus menghadapi jutaan pertanyaan yang diberikan oleh wartawan saat pernikahannya.
Seakan itu semua belum cukup membuatnya pusing, dia harus menandatangani kartu tanda terima kasih kepada semua orang yang sudah memberikan kado. Ada yang memberi satu set peralatan makan untuk 12 orang, satu set produk mandi, hingga produk biskuit.
Tapi malam ini rutinitas pengantin baru agak berbeda, karena keduanya tidak berencana untuk pergi keluar. Vane baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya. Ketika mendengar suara ketukan pintu, Vane baru saja selesai mengancingkan piyamanya.
Vane membuka pintu dan mendapati Mbok Nami di depan kamarnya.
"Mba Vane ditunggu Mas Rey di bawah"ucapnya.
"Ya tunggu"jawab Vane singkat, padat, dan jelas.
Mbok Nami mengangguk dengan antusias, senang karena keberadaan Vane yang membuatnya berbunga-bunga melihat sosok Vane yang cantik. Vane berpikir apa yang diinginkan Rey dengannya malam-malam begini? Vane tadi sempat melirik ke jam dinding yang ada di kamarnua yang menunjukkan jam delapan malam.
*****
Rey sedang berkonsentrasi penuh untuk mengantar semua perahu yang ada di hadapannya ke tujuan masing-masing dengan selamat agar tidak ada yang bertabrakan. Dia menerima iPad senagai hadiah pernikahan dari Reza dan semenjak itu, dia betul-betul ketagihan bermain game Harbor 3D yang ada di iPad ini.
"Awww shit, shit, shit, SHIT. Stupid Boats!"teriaknya dengan cukup keras sambil menghentakkan kedua kakinya yang menjulur di atas sofa.
Dalam keadaan berkelakuan seperti anak kecil yang ngambek saat tidak diberi lollipop inilah Vane melihat sosok Rey. Vane tertawa dalam hati saat melihat suaminya yang biasanya tampil cool dan menawan, kini sedang kesal karena dia kalah dalam permainan itu.
Rey sadar bahwa kini ada Vane dan Mbok Nami dan dia langsung menghentikan aktivitas konyolnya. Rey melarikan matanya melihat penampilan Vane yang menggunakan piayama panjang berwarna merah dan menggunakan sandal bergambar doraemon.
Kini Rey mendapati bahwa seorang wanita yang elegan dan seksi saat memakai gaun malam berwarna merah beberapa bulan lalu bisa berpenampilan secute itu.
"Makan malam sudah siap. Mudah-mudahan kamu suka bebek panggang"ucap Rey dan menggiring Vane menuju meja makan.
Rey mempersilahkan Vane duduk terlebih dahulu pada salah satu kursi sebelum mengambil posisi 90 derajat dari Vane. Vane memperhatikan makanan di atas meja, ada satu piring penuh potongan bebek panggang, semangkok sop, dan dua mangkok kecil berisi lalapan dan sambal terasi.
"Ada yang salah dengan makanannya?"tanya Rey khawatir karena saat ini Vane terlihat seperti seorang juri Masterchef yang sedang menilai masakan peserta.
"Oh...nggak ada kok"jawab Vane sambil mengambil sepotong bebek dan memindahkannya ke atas piringnya.
__ADS_1
Makan malam di meja adalah sesuatu yang langka bagi Vane, biasanya jam segini dia sedang berkutat di dapur memasak hidangan untuk para klien. Saking sibuknya Vane sering melewatkan makan malamnya. Kemunculan Mbok Nami yang menuangkan nasi ke atas piringnya menyadarkan lamunannya.
"Apa ada sesuatu yang kamu mau bicarakan dengan aku?"tanya Vane.
"Hah?" Rey kelihatan bingung.
"Kamu memanggil aku turun, tentunya ada hal penting yang mau dibicarakan dengan aku kan?"lanjut Vane.
Kemudian pengertian muncul di wajah Rey, "Oh, no...nggak ada. Aku manggil kamu cuma untuk makan malam. Itu saja."
"Oh." Penjelasan sederhana Rey membuat Vane kebingungan mencari balasan. Alhasil ruang makan menjadi hening selama beberapa menit.
"Aku biasanya menyempatkan diri makan malam sebelum kerja. Supaya bisa lebih berkonsentrasi." Rey membuka pembicaraan lagi setelah keheningan.
"Apa kamu biasa makan malam jam segini kalau di rumah?"tanya Vane berusaha mengetahui kebiasaan Rey.
"Biasanya memang begitu. Kalau kamu?"
Vane menjelaskan kebiasaan makannya yang tidak teratur karena sibuk bekerja, tapi bukan berarti Vane akan melupakan kebiasaan berolahraganya.
"Nggak heran kamu kurus begini. Mulai sekarang kamu harus makan lebih banyak dan lebih teratur, aku nggak mau keluarga kamu nyangka aku suami yang nggak bertanggung jawab yang nggak pernah ngasih makan istrinya."
"Percaya sama aku, nggak peduli seberapa banyak makanan yang aku makan, berat badan aku tetap di bawah 50 kg."
"Tapi kenapa kedua kakak kamu bisa memiliki badan yang subur?"
"Ya karena mereka laki-laki, berbeda dengan aku yang perempuan."
"Aku nggak peduli, pokoknya mulai sekarang aku akan minta Mbok Nami nyiapin sarapan dan ngebungkusin makan siang untuk kamu. Untuk makan malam, apa kamu oke dengan jadwal jam delapan?"
"Rey, aku bukan anak kecil. Aku bisa mengurus makananku sendiri."
"Sure you can"ucap Rey sinis.
Vane meletakkan sendok dan garpu ke piring agar dia tidak melemparkannya ke wajah Rey sebelum berkata, "Rey, aku bukan pegawai kamu, atau artis-artis kamu yang hidupnya bisa diatur seenak jidat kamu."
Rey bisa melihat kalau kata-katanya sudah menyakiti hati Vane, "You're right. I'm sorry. Aku cuma khawatir saja dengan kesehatan kamu."
__ADS_1
"You know what, I'm sorry. Dan aku terima tawaran sarapan, makan siang, dan jadwal makan malam kamu. Thank you"ucap Vane secepat mungkin.
Meskipun Rey sedikit kecewa dengan reaksi sarkas dari Vane tapi dia mengangguk dan memberi Vane sedikit keberanian untuk mengganti topik pembicaraan.
"Aku nggak sengaja mendengar pembicaraan kamu sama Pak Indro kemarin siang, kalau jadwal launching lagu untuk soundtrack film kamu sudah back on schedule untuk bulan depan?"
Rey tersenyum sendiri ketika mamanya benar. Menikahi Vane adalah pilihan yang tepat, karena semenjak mereka mengumumkan pertunangan mereka, media hampir tidak pernah mengasosiasikan dirinya dengan Clara. Tentu saja dia harus berterima kasih dengan Vane karena sudah menyelamatkan karirnya.
Apalagi Vane selalu mendukung semua yang dia lakukan, ditambah dia yang tidak memiliki sifat posesif sama sekali. Tapi terkadang Vane terlihat cuek dan tidak pernah memperhatikan Rey sama sekali. Sampai Rey berpikir apa Vane sama sekali tidak tertarik dengannya, mengingat dirinya adalah pria paling seksi se-Indonesia.
"Iya, tapi kayaknya, aku mau undur ke Februari saja, supaya aku bisa sekalian launch dengan music vidionya. Dengan begitu orang-orang akan lebih familiar nanti dengan film yang akan aku rilis"jelasnya.
"Tapi bukannya soundtrack film kamu sudah siap launch?"
"Memang sudah, tapi waktu tanggal launchnya diundur, aku memutuskan untuk membuat beberapa perubahan di dalam lagu."
Vane mengangguk mengerti, "Biasanya berapa lagu sih yang harus ada di dalam sebuah film?"tanyanya.
"Tergantung pihak produksi film. Biasanya satu lagu utama saja sudah cukup. Tapi ada beberapa film yang memiliki soundtrack tambahan untuk menyesuaikan dengan moment yang ada di film itu."
"Apa kamu nggak yakin dengan film yang akan kamu rilis?"
"Semenjak mulai karir film dan musik, aku selalu mencoba bermain dengan berbagai genre dan karakter peran yang berbeda. Dan aku selalu mencoba pengisi soundtracknya agar lebih menjiwai. Dan kadang aku belum yakin kalau masyarakat akan bisa menerima itu."
"Rey, kamu sudah punya dua album lagu yang sukses, serta puluhan judul film yang laris di pasaran. Aku yakin bahwa yang kamu hasilkan pasti akan disukai oleh masyarakat."
Rey tidak menyangka bahwa Vane sebegitu percayanya dengan bakat akting dan musiknya dan itu membuatnya ingin menunjukkan hasil kerjanya pada Vane.
"Kamu mau dengar lagu soundtrack film baru aku?"tanya Rey sedikit berhati-hati.
"Memang boleh? Bukannya itu rahasia?" Jelas-jelas Vane terkejut dengan tawaran ini, tetapi Rey senang ketika melihat bahwa Vane terdengar tertarik.
"Asal kamu janji nggak bilang ke siapa-siapa tentang lagu-lagu aku sebelum di launch bulan depan."
"Aku janji"jawab Vane senang karena Rey mau membagi sesuatu yang jelas-jelas sangat pribadi baginya kepadanya.
"Habiskan dulu makanan kamu"perintah Rey.
__ADS_1
Dan Vane melahap habis bebek yang ada di piringnya yang diselingi timun dengan sambal terasi, sebelum kemudian menghabiskan sopnya. Rey tidak menyangka bahwa badan sekecil Vane bisa menampung makanan sebanyak itu. Apalagi wanita itu adalah seorang chef yang pasti sangat paham tentang table manner. Tapi sekarang yang Rey lihat adalah seorang wanita yang tidak malu untuk menikmati makanannya hingga habis. Dan Rey sangat menyukai itu.
Setelah Vane membawa semua piring kotor ke tempat cuci piring daripada menunggu Mbok Nami melakukannya dan memaksa Rey untuk mengelap meja makan hingga bersih, bersama-sama mereka pergi menuju studio.