Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 6


__ADS_3

Pertemuan kedua di minggu pertama kelas memasak Rey. Sebelumnya, di pertemuan pertama kursus dilakukan hari Selasa, lali Vane meminta kursus kedua dilakukan hari Jumat sore.


Sore ini, Rey sedang mengecek dapur. Memastikan bahan makanan lengkap untuk nanti memasak. Rey dibantu Mbok Nami asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan Sarah sejak Rey SD.


"Mas Rey, ini semua masih kurang nggak?"tanya Mbok Nami.


"Kayaknya udah cukup deh. Nanti kan masaknya tergantung bahan yang ada"jawab Rey.


"Kalau tergantung mati dong mas"canda Mbok Nami.


"Mbok bisa aja kalau ngelawak. Mau saya kontrak jadi artis Mill Films?"goda Rey.


"Ndak mau mas, mbok udah tua. Nggak menarik lagi di TV"ujar Mbok Nami.


Rey pun tertawa mendengar jawaban polos dari Mbok Nami. Setelah itu Mbok Nami pergi meninggalkan dapur.


"Udah jam 3 sore, Vane kok belum datang juga ya?"ujar Rey melirik jam tangannya.


Tak berapa lama terdengar langkah kaki dari tangga lalu munculah Vane yang hari ini nampak cantik memakai chef jacket berwarna pink.


How she is so beautiful, batin Rey.


Rey tak mengedipkan mata saat memandangi Vane penuh kekaguman. Vane berjalan menghampiri Rey yang sedang berdiri di dekat kabinet dapur.


"Reyvano"panggil Vane mengibaskan tangan di depan wajah Rey.


"Reyvano!"teriak Vane memukul bahu Rey yang membuat Rey tersentak.


"Astaga Tuhan, aku kaget"ujar Rey mengelus dada.


"Makanya kalau ngelamun sambil nyalain lilin biar nggak kesambet"ledek Vane sambil menggoyangkan kepala.


"Nggak lucu"seru Rey.


"Siapa juga yang ngelucu"timpal Vane lalu beralih ke table counter.


"Hari ini kita masak sushi. Kamu suka?"kata Vane.


"Tapi aku tidak punya alat untuk menggulung sushi"balas Rey.


"Aku punya dan sudah membawa"ujar Vane menunjukkan makishu alat untuk menggulung sushi.


"Cuma sushi aja?"tanya Rey.


"Not only sushi but also dorayaki"jelas Vane.


Mendengar kata dorayaki wajah Rey langsung berubah senang seperti anak kecil yang akan dibuatkan cemilan oleh ibunya. Vane menginstruksikan Rey untuk menyiapkan alat dan bahan agar Rey mengenal hal-hal itu.


Vane mengajari Rey cara mencuci beras dengan benar.


"Apa bedanya beras biasa sama beras ketan"tanya Rey.


"Beda tulisannya"jawab Vane datar tak menoleh ke arah Rey.


Rey menatap Vane dengan tatapan kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang semestinya. Merasa Rey sedang menatapnya dengan kesal Vane pun menjelaskan secara rinci bedanya beras biasa dan beras ketan serta mengapa harus pakai kedua jenis beras itu untuk membuat sushi.


"Menanak nasi gampang ya"ujar Rey senang saat baru tahu cara menanak nasi.


"Gampang banget sampai bisa ditinggal tidur"sarkas Vane.


Vane menjelaskan tentang bahan yang akan dijadikan isi sushi. Vane tidak menggunakan daging ikan mentah karena untuk pemula seperti Rey akan sulit mengajari cara memotong daging ikan untuk sushi.


"Rey kupas timun dan wortel. Lalu potong memanjang"perintah Vane.


"Siap chef"sahut Rey semangat.


Rey mengupas dua sayur itu. Sambil Rey mendengarkan instruksi Vane cara memotong kedua sayur itu.


"Seperti ini?"tanya Rey memperlihatkan hasil kerjanya.


Vane meneliti hasil kerja Rey dengan seksama. Potongan sayurnya memang tidak rapi tapi lumayanlah yang terpenting ukurannya tidak besar seperti masakan tempo hari.


"Boleh ditambah sosis nggak?"tanya Rey.

__ADS_1


"Kalau kamu suka tambahin aja"jawab Vane.


Setelah Rey selesai memotong sosis, Vane menyuruh Rey membuat telor dadar. Seusai matang, telor dadar juga dipotong memanjang.


"Oke, nasi sudah matang, isian sushi juga sudah siap. Mari kita bermain"ujar Vane.


Rey dan Vane memakai sarung tangan plastik dan membentangkan makishu. Nori diletakkan diatas makishu, kemudian meratakan nasi di atas nori. Lalu, susun telor, sosis, wortel dan timun di atas nasi. Tambahkan sedikit mayones lalu gulung sushi dengan rapi.


"Buruk sekali"ejek Vane saat melihat hasil gulungan sushi milik Rey bentuknya seperti karpet yang digulung asal panjang sebelah.


"Jangan mengejekku. Ini sangat sulit"ujar Rey yang sudah berkeringat.


Vane pun mengajari Rey secara perlahan hingga akhirnya Rey lumayan bisa menggulung sushi. Setelah siap mereka menghidangkan sushi dengan cantik di piring. Selanjutnya mereka akan membuat dorayaki.


"Baiklah ini pertama kali kita membuat kue. Jadi tolong Tuan Reyvano amati dengan baik"titah Vane.


Vane memberitahu bahan-bahannya. Rey begitu antusias memperhatikan Vane.


"Oke sekarang kocok telor dan gula dengan mixer"perintah Vane.


Rey memasukkan kedus bahan tadi ke stand mixer lalu menyalakan mixer.


"Aku pikir kamu bakal nyuruh aku pakai mixer yang harus dipegang terus diputer-puter"ujar Rey.


"Emangnya kuat? Jangan banyak gaya"sarkas Vane.


"Oke oke. Terus masukin susu cair kan?"tanya Rey yang dijawab anggukan oleh Vane.


"Kalau udah tercampur rata kamu tambahin tepung terigu sama baking powder. Masukinnya pelan-pelan aja jangan langsung dituangin semua"ujar Vane menyodorkan wadah berisi tepung dan baking powder.


"Aku mau ke toilet dulu"ujar Vane lalu meninggalkan Rey.


Rey mengambil baking powder tapi tak sengaja tangan Rey menyikut wadah tepung hingga wadah itu jatuh ke lantai di sebelah kiri table counter dan tepung itu berceceran di lantai.


"Yah kotor deh"ujar Rey memandangi lantai.


Rey tidak langsung membersihkan lantai, tapi Rey mengambil tepung lagi untuk dimixer. Tak berapa lama Vane pun kembali dari toilet dan menghampiri Rey. Sialnya, Vane melewati bagian dapur dimana ada tepung yang berceceran. Tiba- tiba sol sepatu Vane menginjak ceceran tepung dan membuatnya jatuh.


Mendengar teriakan Vane, Rey bergegas hendak menangkap pinggang Vane namun Rey ikut terpeleset karena lantai yang licin. Alhasil mereka berdua jatuh bersama.


Rey pun jatuh menimpa Vane dan ditambah bibir mereka bersentuhan per sekian detik hingga membuat keduanya memejamkan mata.


"Oh shit, are you okay?"tanya Rey dengan nada khawatir dan mencoba menahan tawa karena insiden itu.


Rey sedikit mengangkat tubuhnya yang menimpa Vane. Hanya saja wajah mereka tetap dekat hanya berjarak sejengkal saja.


Rey jelas-jelas dapat memandangi wajah Vane yang sudah pucat pasi ditambah nafas Vane yang tak beraturan. Otak Rey memperintahkannya untuk berdiri, tapi tubuhnya menolak. Ditambah lagi aroma vanila parfum Vane membuat Rey enggan bangkit.


"REYVANO DIHARJO MILLFORD KAMU LAGI NGAPAIN???"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menggema dapur membuat Rey tersadar dan menoleh ke sumber suara. Vane segera mendorong tubuh Rey agar Vane bisa berdiri walaupun agak sempoyongan karena kepalanya mulai pusing dan mata berkunang-kunang. Rey langsung meraih pinggang Vane dan membantunya berdiri.


"Easy"ucap Rey perlahan membantu Vane berdiri.


Keduanya langsung berdiri menghadap sosok wanita paruh baya yang sudah berdiri melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap keduanya dengan tatapan tajam dan seakan meminta penjelasan akan insiden tadi. Ya, orang itu adalah Nyonya Sarah. Vane mulai takut karena terakhir kali bertemu dengan Nyonya Sarah sikapnya begitu ramah berbeda dengan sekarang yang jauh lebih menyeramkan. Sepertinya Nyonya Sarah akan membenci Vane karena insiden tadi.


Tapi tak disangka ada tambahan sosok tak asing yang berdiri disebelahnya yaitu Clara Lim. Vane tahu soal berita putusnya Rey dan Clara beberapa bulan yang lalu. Vane rasanya ingin berlari karena kepalanya rasanya akan pecah. Vane hanya bisa memegangi kepala yang sudah muncul benjolan.


"Mamah"kata Rey dengan tatapan penuh tanya melihat Clara bersama mamahnya.


"Maaf, tadi saya kepeleset. Dan Rey mencoba membantu saya tapi dia ikut terpeleset juga"ujar Vane mencoba menjelaskan.


Tetap saja wajah Nyonya Sarah tetap seperti awal. Vane melirik Rey untuk meminta dukungan atas penjelasannya kepada mamahnya.


"Kamu nggak papa?"tanya Rey tanpa menghiraukan mamahnya.


"Saya nggak papa"jawab Vane dengan gaya bicara formal terlebih lagi ada Nyonya Sarah.


"Coba saya liat"ujar Rey mulai menyentuh kepala Vane yang sudah bengkak karena benjolan.


Rey juga ikut-ikutan berbicara formal. Mungkin karena pengaruh aura horor mamahnya.


"Mbok Nami!"panggil Rey dan langsung Mbok Nami datang.

__ADS_1


"Mbok ambilin ice pack di kulkas sama handuk ya. Terus tolong bersihin lantainya juga"perintah Rey.


"Siap mas"sahut Mbok Nami.


Rey membawa Vane ke kursi di meja makan. Melihat perlakuan Rey terhadap Vane, Nyonya Sarah tertegun. Dia tidak pernah melihat Rey sedetail itu memberikan perhatian terlebih lagi kepada orang baru. Melihat apa yang disaksikan, Clara menatap tidak suka dan kecewa karena usahanya untuk meminta kembali pada Rey gagal. Karena Rey sama sekali tidak menyadari kedatangannya. Clara pun memutuskan pergi tanpa pamit. Dan Nyonya Sarah hanya menyunggingkan senyum.


Mbok Nami pun datang membawa wadah berisi ice pack dan handuk. Rey segera membungkus ice pack dengan handuk. Dan mengompres kepala Vane.


"Oke jangan kaget ya, ini agak dingin"ucap Rey sebelum menyentuh kening Vane lalu menempelkan ice pack ke kepala Vane.


Rey berusaha mengontrol jari-jarinya untuk tidak mengusap kening Vane. Kulitnya lembut sekali itu yang dirasakan Rey saat menyentuh kening Vane. Sesekali Vane mendesis saat dinginnya ice menyentuh kulit kepalanya yang berdenyut.


"Sorry, saya lalai karena tidak membersihkan tepung di lantai dan membuatmu jatuh"kata Rey


Vane hanya diam dan menunduk saat Rey mengobatinya. Tak sulit bagi Rey mengompres kepala Vane karena Vane mencepol rambut panjangnya.


"Terima kasih"ujar Vane saat Rey sudah selesai mengompres kepalanya.


Nyonya Sarah pun mendekati Vane dan duduk di hadapannya.


"Jadi kamu chef yang mengajari Rey memasak?"tanya Sarah


"Iya bu"jawab Vane yang tidak lagi menyebut kata Nyonya karena menurutnya ini di luar jam kerja restoran.


"Kamu chef yang ada di restoran Aron kan?"tanya Sarah lagi.


"Iya bu. Maaf jika insiden tadi kurang mengenakan"ujar Vane berusaha melunakkan hati ibu sosialita itu.


"Kamu harus ke dokter"seru Rey.


"Saya akan ke dokter, setelah pulang dari rumah kamu. Sekarang kita harus menyelesaikan masakanmu"ujar Vane.


"Tidak. Aku khawatir dengan keadaanmu"balas Rey yang sudah kembali dengan gaya aku-kamu.


Mendengar perkataan Rey, Nyonya Sarah mengernyitkan dahi dan menatap Rey dan Vane bergantian.


"Ini hanya benjolan kecil, setelah selesai memasak aku akan ke dokter. Kamu harus selesaikan masakanmu dan kasih tahu mamahmu hasil masakanmu"jelas Vane dengan tatapan datar dan dingin.


Ada seberkas kekecewaan di wajah Rey saat mendapat perlakuan dingin dari Vane.


Bertanggung jawab sekali, batin Sarah.


Rey akhirnya setuju melanjutkan memasak. Dengan syarat Vane cukup duduk dan memberi instruksi. Dalam waktu 30 menit Rey sudah selesai membuat dorayaki. Semua makanan Rey hidangkan di meja makan. Mempersilahkan mamahnya untuk mencoba.


"Tidak buruk"ucap Sarah saat mencoba sushi.


"Manisnya pas. Tapi agak overcook"sambung Sarah saat mencoba dorayaki.


Vane setidaknya bisa bernafas lega saat Rey bisa memasak dengan baik dan membuat mamahnya bisa sedikit tersenyum.


Setelah kursusnya selesai, Vane meninggalkan rumah Rey. Vane memutuskan menelfon Kak Ana untuk bertanya obat yang bisa menghilangkan benjolan di kepala akibat terbentur lantai. Bukannya memberi tahu obatnya, Kak ana justru mengomel dan menyuruh Vane menunggunya setelah pulang dari rumah sakit agar Kak Ana bisa memeriksa Vane.


Karena Vane merasa kepalanya semakin sakit Vane meminta ijin pada Aron untuk tidak kembali ke restoran. Vane kemudian mengarahkan mobilnya ke rumah. Sesampainya di rumah, Vane langsung berendam dengan air hangat. Setelah ritual mandinya selesai, Vane langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan tertidur dengan cepat.


"Vane..."panggil Ana membuka pintu kamar Vane.


Ana melihat Vane tengah tertidur pulas. Padahal jam menunjukkan pukul 7 malam dan Vane tidak turun untuk makan malam. Ana merasa Vane dalam fase kepusingan yang teramat hingga membuat dia enggan turun dari tempat tidur.


Ana pun membawa tas dokter dan duduk di pinggir ranjang. Sesekali Ana mengelus kepala Vane. Sebagai anak tunggal, Ana sangat bahagia saat mendapatkan dua adik yaitu Satria si pendiam dan Vane si periang.


"Vane bangun, kakak mau periksa kamu dulu"bisik Ana lembut.


Vane pun mengerang dan membuka mata perlahan. Dia melihat sosok Ana di sampingnya. Ana pun segera memeriksa Vane, memberinya salep untuk mengurangi memar di kepala.


"Kamu harus makan dulu sebelum minum obatnya"ujar Ana.


"Ya udah aku turun bareng kakak"ujar Vane lemah.


Vane masih berjalan agak sempoyongan dan Ana pun menuntun Vane menuruni tangga hingga sampai ke ruang makan. Di mana semua anggota keluarga sudah menunggu.


"Vane sakit?"tanya Indah.


"Vane nggak papa mah. Cuma tadi jatuh kepala kebentur lantai. Tapi udah diobatin Kak Ana kok"jawab Vane.

__ADS_1


"Ya udah makan yang banyak habis itu minum obat terus istirahat"ujar Jatra.


Vane mencoba makan walaupun tidak berselera. Setelah selesai makan Vane kembali ke kamar untuk beristirahat.


__ADS_2