
Jatra yang awalnya terlihat menyeramkan langsung merubah aura menyeramkan itu menjadi aura seorang ayah yang sedang bertanya tentang kenakalan yang dilakukan anak-anaknya. Tapi itu tetap sama saja menyeramkannya.
"Apa maksud kamu mengenalkan Rey sebagai pacar kamu Vanessa?"tanya Jatra.
Vane menghela nafas lalu memasang ekspresi datar agar papahnya tidak bisa melihat ekspresi ketakutannya sekaligus berusaha meredam kegugupannya.
"Ya karena Rey pacar Vane"kata Vane santai.
"Kamu tahu kan siapa ayahnya Rey?"tanya Bima.
"Adam Millford"
"Kamu juga tahu kan kejahatan apa yang dilakukan Adam?"cecar Jatra.
"Penyelundupan senjata ilegal yang sudah berlangsung selama....eemm hampir 20 tahun. Dan dia adalah penjahat yang sulit ditangkap karena selalu berhasil menghilangkan jejak kejahatannya"jelas Vane berkata tanpa jeda.
"Tapi kenapa kamu justru menjalin hubungan dengan anaknya. Bahkan dia berniat menikahi kamu"sambung Satria.
"Aku kan menikah dengan anaknya bukan papahnya. Jadi apa masalahnya?"tanya Vane dengan mengangkat kedua bahunya.
Tiga pria di hadapannya hanya saling melempar pandangan karena mendengar jawaban super santai dari Vane. Wanita ini memang jagonya menyembunyikan rahasia apapun.
"Apa kamu lupa kalau kita sedang mengincar Adam?"ucap Bima.
"Aku nggak lupa. Bahkan aku sadar sesadar-sadarnya!"balas Vane dengan tajam.
"Vane, ini tidak benar sama sekali. Kenapa kamu harus punya hubungan dengan Rey?"tanya Satria.
"Lalu aku harus menjalin hubungan dengan siapa kakak?"tanya Vane balik.
"Ada banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik dari dia dan kenapa kamu harus memilih dia sebagai calon suami kamu sementara kita semua tahu kejahatan yang papahnya lakukan!"sergap Satria hingga nafasnya memburu.
"Yang jahat kan papahnya bukan Rey"belas Vane.
"Tapi bisa saja dia memiliki sifat yang sama dengan papahnya!"kata Satria.
Vane tersentak mendengar kata-kata kakaknya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Vane mendengar Satria berprasangka buruk dengan seseorang yang belum dia kenal sama sekali. Entah kenapa Vane merasa tidak terima saat Satria secara tidak langsung menyebut bahwa Rey itu jahat. Tidak! Rey tidak sama seperti papahnya bahkan mungkin dia memiliki cerita buruk di balik kemewahan dalam hidupnya.
"Memang kakak sudah mengenal Rey dengan baik?"tanya Vane dengan tatapan tajam.
Oh God! This is the real Vanessa Wibowo, batin Satria.
"Sekarang aku tanya sama kalian, apa yang membuat kalian ragu?"ucap Vane dengan nada meninggi.
"Tentu saja dengan kalian. Bagaimana bisa kalian berencana akan menikah sementara kalian baru dekat beberapa bulan ini"balas Satria.
"Ditambah lagi berita kehamilan Clara, apa kamu lupa dengan itu?"timpal Bima.
Sudah ku duga mereka pasti akan menyinggung soal kehamilan Clara, batin Vane.
"Oke, aku terima argumen kalian. Mungkin kalian berasumsi bahwa Rey sedang mempermainkan aku. Tapi apa kalian tidak bisa melihat ketulusan dari matanya?"kata Vane dengan mata berbinar-binar.
"Apa anak yang dikandung Clara adalah anaknya Rey? Papah nggak mau kamu menikah dengan laki-laki yang sudah menghamili seorang wanita"kata Jatra yang sejak tadi terdiam.
"Itu bukan anak Rey. Kalau itu anaknya Rey sudah sejak kemarin-kemarin dia menikahi Clara"balas Vane.
Mereka bertiga terdiam sejenak mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Vane.
"Apa ada rahasia yang kamu sembunyikan dari papah, Vane?"tanya Jatra dengan tatapan curiga.
Vane tahu papahnya mulai curiga, makanya dia memasang senyum yang paling manis mengalahkan gula tebu.
"Memangnya papah melihat ada kebohongan di mata Rey saat dia bilang kalau dia sudah jatuh cinta sama putri papah ini dan akan menikahi Vane?"tanya Vane dengan tersenyum.
Bagus Vane, sepertinya kamu punya bakat akting yang terpendam, batin Vane tertawa.
Jatra diam sejenak sembari menghela nafas. Dia mengingat bagaimana cara Rey memperlakukan Vane di depan keluarganya di acara tadi. Vane tahu arti diam papahnya adalah bahwa dia percaya kalau Rey sudah jatuh cinta padanya. Vane tertawa dalam hati bagaimana bisa seorang Jatra Wibowo bisa dikelabui oleh aktingnya Rey.
"Baik aku sudah tahu jawabannya. Kalian kan sudah lihat bagaimana cara Rey memperlakukan aku dan kemudian sikap baik dia kepada keluarga kita"kata Vane seakan tahu isi hati ketiga pria itu.
__ADS_1
Kalau kayak gini, aku harus akui Rey adalah aktor terbaik se-Indonesia Raya, batin Vane.
"Terus sekarang apa yang menjadi masalah?"tanya Vane.
"Yang jadi masalah adalah kenapa kamu nggak pernah cerita sama sekali tentang hubungan kamu dengan Rey sama keluarga kamu sendiri?"tegas Bima.
"Dan parahnya tiba-tiba kamu membawa dia dan memperkenalkan dia sebagai tunangan kamu, lalu dia meminta izin untuk menikahi kamu? Apa itu nggak gila namanya"sambung Satria.
"Memangnya kalau aku memberitahu kalian soal hubungan aku dengan Rey, apa kalian akan setuju? Tidak kan?"ucap Vane.
"Vane, papah tidak pernah melarang kamu untuk menjalin hubungan dengan siapapun asalkan kamu bahagia. Tapi ini kamu akan menikah dengan anak seorang penjahat. Papah nggak mau ambil resiko jika suatu saat nanti terjadi sesuatu dengan kamu"tegas Jatra.
Vane memicingkan matanya lalu berkata, "Kalian meragukan kemampuanku?"
"Maksudnya?"tanya ketiganya bersamaan.
"Aduh kalian ini percuma kalau jadi intel tapi nggak bisa berpikir jauh tentang ke depan"kata Vane mendengus kesal sambil menepuk jidatnya.
Ini antara Vane yang terlalu cerdas atau ketiga pria di depannya yang tidak secerdas dirinya.
"Jelaskan pada kami apa maksud kamu, Vane?"tanya Jatra.
"Aku jelaskan dulu. Intel Prancis mengirim email padaku. Mereka memberi tahu bahwa mereka gagal menangkap Adam karena dia sudah berhasil kabur tanpa meninggalkan jejak apapun bahkan bukti CCTV yang ada di lokasi sudah dihapus"ujar Vane.
Mereka bertiga nampak terkejut mendengar penjelasan dari Vane.
"Kabur ke mana dia?"tanya Bima.
"Eemm...nggak tahu"jawab Vane berbohong.
Dia tidak mungkin jujur kepada mereka dari mana Vane tahu keberadaan Adam. Itu sama saja Vane membuat mereka tahu rahasia pernikahan kontrak ini secara perlahan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"tanya Satria.
"Begini papah dan kakak-kakakku, Rey akan menikahi aku, otomatis Adam Millford akan kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan putranya"ucap Vane pasti.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"tanya Jatra.
"Adam itu belum mengetahui kalau sebenarnya dia juga diincar oleh intel Indonesia. Bukankah selama ini yang berusaha menangkap dia adalah intel Prancis dan Amerika? Belum ada sejarahnya intel Indonesia ingin menangkap dia. Dan baru-baru ini kita dimintai tolong oleh intel dari dua negara itu untuk mencari tahu keberadaan Adam melalui putranya yaitu Rey. Itu artinya negara ini masih aman untuk dia datangi bahkan dia tinggali karena Adam belum mengetahui kalau dia sudah menjadi incaran juga di negara ini"kata Vane memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya.
Mereka bertiga saling melempar pandangan mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Vane.
"Jadi apa rencana kamu Vane?"tanya Jatra.
"Jika aku menikah dengan Rey tidak mungkinkan seorang ayah akan melewatkan pernikahan anaknya. Pasti Adam akan memutuskan kembali ke Indonesia. Setelah aku menikah dengan Rey maka aku akan mencoba mencari informasi dan mendekati Adam sekaligus mematai-matai dia"jawab Vane.
Ketiga pria itu manggut-manggut mendengar rencana brilian hasil pemikiran seorang Vanessa. Harus mereka akui Vanessa memang terlahir menjadi wanita yang cerdas, kuat, dan mandiri.
"Kamu yakin dengan rencana kamu? Papah nggak mau sesuatu terjadi kepada kamu. Apalagi kamu akan tinggal berdekatan dengan Adam"ujar Jatra.
"Papah, Adam itu nggak tinggal satu rumah sama Rey. Kan aku pernah bilang kalau Rey dan kedua orang tuanya tidak tinggal bersama. Jadi aku akan aman bersama Rey"kata Vane meyakinkan.
"Sekarang papah tanya sama kamu, apa kamu mencintai Rey?"tanya Jatra menatap penuh arti.
DEG
Pertanyaan Jatra sepertu tamparan untuk dia dan berhasil membuat jantung mencolos dari tempatnya.
"Ya..."
"Maksud Vane nggak..." Vane langsung meralat kata-katanya sebelum menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.
Jatra hanya tersenyum tipis mendengar jawaban putrinya. Walaupun Vane dengan cepat meralat jawabannya tapi Jatra belum tuli, dia mendengar jawaban pertama yang dikatakan oleh Vane.
"Kamu tahu kan papah paling tidak suka kalau ada laki-laki yang menyakiti kamu?"sambung Jatra.
"Ya Vane tahu..."
"Dan kakak akan jadi orang pertama yang akan menghancurkannya kalau sampai dia menyakiti adik kakak"imbuh Bima.
__ADS_1
"Lalu kakak akan membuat dia menyesal seumur hidupnya karena telah menyakiti gadis kesayangan kami"kata Satria menambahi perkataan Bima.
Belum juga mereka tahu tentang pernikahan kontrak saja sudah memberi ancaman, apalagi kalau mereka sampai tahu, gerutu Vane.
"Iya aku tahu kalian semua sangat menyayangi aku dan memastikan bahwa aku hidup dengan aman, tentram, damai, sentosa, dan sejahtera"celetuk Vane dengan nada bercanda agar mencairkan suasana tegang dan panas ini yang sudah terjadi hampir setengah jam lamanya.
"Oke, papah terima rencana kamu untuk menikah dengan Rey supaya kamu bisa dengan leluasa memata-matai Adam"kata Jatra yang disambut senyuman oleh Vane.
"Tapi...."
Seketika senyum Vane lenyap mendengar kata-kata itu keluar dari mulut papahnya.
"Kamu harus selalu berhati-hati dalam bertindak. Jika kamu memilih menikah dengan Rey, itu artinya kamu harus siap jika kamu terekspos oleh media. Dan sebisa mungkin jangan sampai ada yang tahu jika kamu bagian dari BIN"jelas Jatra.
"Iya pah Vane mengerti, terima kasih karena kalian sudah mendukung rencanaku. Aku nggak akan mengecewakan kalian"balas Vane dengan senyum sumringah.
Jatra merentangkan tangannya menyambut untuk mendekat dan memeluknya. Vane pun mendekati papahnya lalu memeluknya disusul oleh kedua kakaknya.
"Jadilah wanita yang pemberani, kuat, dan pantang menyerah sayang"lirih Jatra.
Mendengar perkataan papahnya, dia mengangguk pelan dan mengeratkan pelukannya.
Thank you God, aku bisa melewati situasi ini, batin Vane.
*****
Setelah sidang paripurna selesai diadakan hampir satu jam lebih, Jatra kembali ke kamarnya. Dilihatnya sang istri sedangn duduk sembari membaca majalah kesukaannya.
"Gimana pah?"tanya Indah menutup majalahnya.
Jatra duduk di samping istrinya, dan dia menyandarkan kepala di bahu istrinya.
"Ya semua ini cuma bagian dari rencana Vane untuk menjalankan misi"jawab Jatra.
"Maksudnya gimana?"tanya Indah belum mengerti.
Jatra pun menceritakan semua yang dijelaskan Vane pada istrinya. Indah pun mengerti apa yang dimaksud oleh Vane.
"Mamah nggak mau ikut campur urusan pekerjaan kalian, tapi mamah cuma minta tolong pastikan keselamatan Vane. Dia adalah putri satu-satunya kita"jelas Indah dengan wajah sendu.
"Vane itu putri papah juga, maka dari itu papah pastikan dia akan baik-baik saja. Tapi, mamah kan waktu itu lagi di dapur dan nggak tahu kalau Rey dateng terus kenapa mamah keluar dari dapur bisa heboh banget kaya menyambut menantu idaman?"tanya Jatra.
"Jadi Ana itu ke dapur nyuruh pembantu buat bersihin pecahan gelas. Ya mamah tanya siapa yang mecahin katanya Bima. Mamah tanya kenapa Bima bisa mecahin gelas karena dia kan nggak pernah ceroboh. Terus Ana bilang kalau Vane dateng sama Rey dan memperkenalkan kalau Rey itu pacarnya Vane"jelas Indah.
"Terus gimana lagi?"lanjut Jatra.
"Ya mamah awalnya nggak percaya kalau Rey yang dimaksud itu Reyvano Millford, pas mamah keluar dari dapur bener dong kalau dia orangnya. Mamah langsung mikir ini harus gimana, kalau reaksi mamah kaget kaya ketemu penjahat nanti ketahuan dong identitas keluarga kita makanya mamah akting. Untung aja anak-anak kita langsung paham. Cerdas juga mereka"kata Indah cengar-cengir.
Jatra tersenyum mendengar cerita dari istrinya, memang benar kecerdasan anak 70% menurun dari ibunya. Jatra pun memeluk istrinya karena bangga.
"Mah..."
"Hhmm.."
"Kado ulang tahun papah mana?"
"Bukannya mamah udah kasih papah jam tangan, memang papah nggak suka sama kado pemberian mamah?"
"Papah mau hadiah yang spesial, mah"
"Apaan?"
"Papah maunya mamah"
"Hahaha, papah inget umur ya nggak usah genit deh"
"Ya ampun mah, umur boleh tua tapi jiwa harus tetap muda"
"Oke oke...ayo"
__ADS_1
"Boleh???"tanya Jatra melompat kegirangan yang disambut anggukan oleh Indah.