
Hujan sudah reda sejam yang lalu, dan kini Rey baru saja memarkikan mobilnya di depan rumah orang tua Vane. Sebenarnya dia sengaja menyuruh keluarga Vane untuk tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya karena dia sudah menyiapkan kejutan di rumah mertuanya.
Vane terheran-heran, biasanya di hari Minggu kedua orang tuanya pasti sedang duduk di beranda teras. Tapi kenapa hari ini rumahnya sepi, padahal hujan sudah reda dan matahari mulai memperlihatkan sinarnya. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju rumah.
Tok..Tok..Tok
Tidak ada jawaban saat Vane mengetuk pintunya, dan Rey hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu. Vane memutuskan membuka pintu dan mendorongnya perlahan.
DOORR SURPRIZE!!!
Terdengar suara teriakan bersamaan dengan ledakan party pooper menyambut kedatangan Vane dan Rey. Anggota keluarganya langsung bernyanyi lagu selamat ulang tahun, dan mamahnya membawa kue dengan lilin berbentuk angka dua puluh delapan tahun. Vane melakukan make a wish dan meniup lilinnya. Satu per satu anggota keluarga memeluk, mencium, dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Dan tak disangka-sangka ternyata Rey juga sudah menyewa seorang fotografer untuk mengabadikan moment ini.
"Ini rencana kalian semua?"tanya Vane dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Bukan. Ini semua rencana suami kamu. Dia yang meminta agar kami semua tidak mengucapkan ulang tahun ke kamu dan menyiapkan semua kejutan ini"jawab Jatra.
Vane langsung melirik Rey yang dibalas senyuman hangat dari suaminya.
"Tapi maaf ya Van, kita nggak bisa kasih kamu kado yang berguna dan bermanfaat karena sepertinya suami kamu sudah bisa dan mampu memenuhi kebutuhan kamu"kata Bima yang sudah tak sedingin dulu.
"Mendapat kejutan seperti ini saja sudah lebih dari cukup untuk aku"balas Vane merendah.
"Tapi kakak punya hadiah yang mungkin belum bisa Rey kasih ke kamu"kata Ana dengan tatapan misterius.
Vane memandang kakakniparnya dengan tatapan bingung dan sesekali dia melirik ke arah Rey meminta jawaban tapi Rey justru mengedikkan bahu tanda tak tahu.
Ana menyodorkan sebuah kotak berwarna coklat sepanjang telapak tangan kepada Vane. Awalnya Vane memandangi kotak itu lalu membukanya setelah mendapat persetujuan dari Ana. Perlahan-lahan Vane membuka kotak itu dan langsung memperlihatkan ekspresi bingung.
"Ini apaan Kak?"tanya Vane mengangkat sebuah testpack.
Satria menepuk keningnya saat melihat ekspresi polos adiknya yang membuat dia ingin mencekik adiknya sendiri.
"Vanessa, itu namanya testpack"ucap Ana dengan tenang.
"Terus?"
"Kamu lihat ada berapa garis?"
"Dua"jawab Vane enteng.
"Artinya, kakak hamil keponakan kamu"lanjut Ana dengan nada bahagia.
"Oohh...WHAT???"teriak Vane akhirnya saat otaknya berhasil mencerna perkataan Ana. Vane langsung memeluk Ana begitu bahagia karena akan memiliki keponakan.
"Selamat Kak. Aku senang banget"kata Vane memeluk Ana dengan erat.
"Selamat Kak." Rey menyalami Bima dan kakak iparnya itu membalas dengan memberi senyuman.
"Oh ya Rey, selamat ya soundtrack dan trailer film kamu sudah launch. Lagunya bagus banget dan trailer filmnya bikin penasaran"ujar Amel.
"Iyaa..mamah sampai kepengin nonton film kamu bulan depan. Kita nonton yuk Pah. Hitung-hitung pacaran lagi"sambung Indah meraih lengan suaminya.
"Iyaa Mah"sahut Jatra.
"Apalagi suara kamu pas nyanyi lagu itu di acara kemarin malam, ya ampun bikin baper serius. Kayaknya kalau kamu duet sama Vane bakal keren"kata Ana.
Rey terkejut dan langsung melotot memandangi Vane. Dia tidak tahu jika istrinya bisa bernyanyi. Vane yang mendapat tatapan itu hanya bisa mendengus kesal saat kakak iparnya membuka kartu kehidupannya.
"Kamu nggak usah kelihatan bingung kayak gitu. Kamu pikir piano yang ada di rumah ini cuma dijadikan pajangan? Tentu saja Vane akan menyanyi lagu klasik setiap dia ada libur"sambung Indah melirik sebuah piano yang tergeletak di ruang keluarga.
"Lagu klasik?" Rey semakin heran karena fakta selanjutnya Vane bukan hanya bisa bernyanyi lagu pop biasa tapi justru lagu klasik.
"Ayo lah Van, kamu nyanyi dong. Kakak udah lama banget nggak dengar kamu nyanyi. Keponakan kamu ini juga minta loh"dalih Ana mengelus perutnya.
Vane diam mematung dan memberi tatapan sadis. Dia selalu saja menyembunyikan setiap bakatnya padahal jika dia mau untuk show up, pasti dia akan menjadi artis seprti suaminya. Tapi Vane lebih semamg jika cukup dia dan keluarganya yang menikmati setiap bakatnya.
"Kamu nggak mau menunjukkan bakat bernyanyi kamu kepada suami kamu ini"tanya Rey dengan tatapan penasaran.
"Oh oke. Sepertinya kalau mau kabur pun aku tidak akan bisa. Hanya satu lagu, tidak boleh ada yang menawar ataupun menyawer"kata Vane akhirnya pasrah.
"Memang siapa yang mau nyawer kamu? Suami kamu kan kaya"balas Satria.
Vane mendengus kesal mendengar ledekan kakaknya. Dia pun berjalan menuju piano dan duduk di kursi kecil itu. Rey memandangi Vane yang terlihat begitu anggun memakai maxi dress berwarna salem dan duduk di depan piano. Hatinya bergetar saat melihat sosok bidadari yang akan bernyanyi setelah ini. Vane menekan tuts piano sebagai pembuka sebelum akhirnya dia bernyanyi.
__ADS_1
Time To Say Goodbye
Quando sono sala
Sogno all'orrizonte
E mancan le parole
Si lo sa che nono ce luce
In una stanza quando manca il sole
Si non ci sei tu con me, con me
Su le finestre
Monstra a tutti il mio cuore
Che hai accesso
Chiundi dentro me
La luce che hai incontrato per strada
Time to say goodbye,
Paesi che no ho mai
Veduto e visssuto con te
Adesso si li vivro con te partiro
Su navi per mari
Che io lo so
No no non essitono piu,
Rey tak henti-hentinya menganga dan terpesona saat mendengar betapa merdunya suara Vane saat menyanyi lagu klasik berbahasa Itali dengan sangat baik. Mungkin suara Vane bisa disamakan dengan Isyana Sarasvati.
"Hebat kan adikku?"tanya Satria menepuk bahu Rey dan menyadarkan dia dari lamunan kekagumannya.
"Mungkin aku perlu mengorbitkannya sebagai penyanyi"kata Rey sambil terkekeh-kekeh.
"Lakukan saja jika kamu berani. Aku yakin dia akan menolak"jawab Satria tertawa.
"Sudah selesai kan pertunjukkannya, sekarang kita makan dulu ya"ajak Indah.
Mereka semua pun beralih menuju ruang makan untuk makan siang bersama penuh rasa kekeluargaan dan kehangatan. Rey sudah lama tidak merasakan makan bersama lengkap dengan seluruh anggota keluarga seperti ini. Setelah selesai makan bersama, Rey diajak Bima dan Jatra bermain catur di teras samping rumah.
Sementara Vane mencuri kesempatan dengan Satria untuk memulai semua hal yang mereka rencanakan. Mereka berdua masuk ke ruang kerja dan mengunci pintu dengan rapat.
"Aku bertemu dengan Rius di supermarket waktu itu. Dari tatapannya sepertinya dia menaruh rasa curiga terhadap kakak"kata Satria memulai pembicaraan.
"Lalu?"
"Dan aku menemukan bahwa ada seseorang yang mencari informasi tentang kamu dan keluarga kita. Jika kakak melihat dari lokasi keberadaannya dia ada di apartemen yang sama dengan Steven. Dan setahu kakak Rius juga tinggal di apartemen yang sama"sambung Satria.
"Sekarang kakak harus berhati-hati, mungkin untuk saat ini kakak jangan ke kantor dulu, aku takut jika hari sial datang di mana ternyata Rius mengikuti kakak dan melihat kakak masuk ke kantor BIN maka semuanya akan sia-sia"ucap Vane.
"Terus bagaimana dengan rencana kamu?"tanya Satria.
"Aku sudah memasang alat penyadap di ruang perpustakaan Adam. Tapi anehnya aku sama sekali tidak melihat dia memiliki dokumen atau hal-hal lain tentang rencana kejahatannya"tandas Vane.
Satria terdiam sejenak dan sibuk dengan pemikirannya sendiri. Vane sudah menyandarkan punggungnya di sofa dan mencoba berpikir sesuatu yang sudah dia curigai sebelumnya.
"Kamu memikirkan apa yang kakak pikirkan?"tanya Satria melirik Vane.
Vane mengernyitkan keningnya lalu melempar pulpen ke arah kening Satria.
"Sakit Van!"teriak Satria mengelus keningnya.
"Berisik, aku lagi mikir. Ada keanehan di dalam misi ini, Adam begitu santai, tenang, dan bahagia begitu juga dengan Jade. Tapi Rius menjadi sosok...eemm...psikopat"kata Vane ragu-ragu.
__ADS_1
"I think so. Dari cara dia melihat orang lain, dia seperti iblis pencabut nyawa. Tapi cukup beresiko jika kita mendekati dia"tandas Satria.
"Aku juga nggak bilang harus mendekati Rius. Aku yakin setelah ini dia akan menemui Adam dan memulai merencanakan sesuatu"jelas Vane dengan penuh keyakinan.
Hari menjelang sore, Rey dan Vane berpamitan karena Sarah menelfon Rey untuk ke rumahnya bersama Vane dan mengajak mereka makan malam bersama. Rey sudah sampai di depan rumah mamahnya, dia menggandeng tangan Vane memasuki rumah. Dan mereka langsung disambut oleh pelukan hangat dari Sarah.
"Vane kamu bisa kan bantuin mamah menyiapkan makan malam?"tanya Sarah.
"Bisa Mah"jawab Vane senang hati.
"Dan kamu Rey, tolong antarkan teh ini kepada papah kamu. Dia ada di perpustakaan"perintah Sarah.
"Kan ada pembantu Mah..."
"Dosa kamu melawan perintah orang tua. Nggak mau masuk surga kamu?"cecar Sarah dengan tatapan maut.
Rey mendengus lalu dengan terpaksa dia mengambil cangkir teh itu dan membawanya untuk diberikan kepada papahnya. Sudah lama dia tidak melihat papahnya. Mungkin yang dikatakan Vane benar, dia harus memulai berbicara dengan papahnya.
Tok...Tok..Tok
Rey membuka pintu dan masuk ke dalam perpustakaan. Adam langsung terkejut saat Rey yang masuk membawa cangkir teh.
"Rey kamu di sini?"
"Iya. Mamah menyuruhku datang ke sini untuk mengajak makan malam karena kemarin Vane berulang tahun"kata Rey yang sudah duduk di depan papahnya.
"Benarkah? Wah, papah harus bertemu dengan menantu papah dan mengucapkan selamat untuknya"ucap Adam antusias.
"Pah, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan." Adam sudah mempersiapkan diri jika Rey akan menanyakan semua hal yang dia pendam selama ini.
"Apa keluarga sangat penting bagi papah?"
"Lebih dari hidup papah sendiri."
"Tapi kenapa papah menyibukkan diri dengan urusan papah hingga melupakan keluarga papah?"
Adam menghela nafas panjang lalu mengistirahatkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Apa kamu tahu, dulu saat papah pertama kali datang ke Indonesia, papah hanya seorang turis yang berani jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan. Papah tidak dianggap cukup kaya untuk menghidupi mamah kamu dan keluarga mamah kamu menentang hubungan kami. Tapi karena kami saling mencintai akhirnya kami kawin lari. Dan disitulah papah memutuskan untuk memulai berbisnis tapi selama tiga tahun berbagai bisnis yang papah kembangkan tidak ada yang bisa bertahan. Saat itu kamu baru berusia dua tahun dan tentu saja papah harus memikirkan nasib kamu di masa depan."
"Lalu?"
"Papah memutuskan kembali ke Amerika untuk meminta bantuan kepada keluarga papah. Dan akhirnya...."
Adam menghentikan perkataannya saat mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya harus mengikuti semua keinginan Rius untuk menyelamatkan nyawa anak dan istrinya.
"Papah ikut berbisnis dengan Rius dan Jade. Setelah papah sukses akhirnya keluarga mamah kamu mau mengakui papah sebagai menantu mereka. Maka dari itu papah berusaha agar kamu dan mamah kamu itu berkecukupan. Tapi tenang papah sedang masa cuti, jadi papah bisa menghabiskan banyak waktu denganmu"kata Adam akhirnya.
"Tapi kenapa Rey nggak pernah bertemu dengan keluarga papah?"
"Saat papah kembali ke sana orang tua papah meninggal beberapa hari setelah papah sampai di Amerika. Tapi mereka sangat bahagia memiliki cucu seperti kamu."
Rey hanya terdiam mendengarkan cerita dari Adam.
"Rey, papah tahu kesalahan papah selama ini sangatlah besar, dan mungkin kamu tidak akan pernah memaafkan. Tapi perlu kamu tahu, papah sangat menyayangi kamu lebih dari hidup papah sendiri. Papah terlalu egois mementingkan diri papah sendiri hingga melupakan kamu dan mamah kamu. Papah minta maaf Rey."
Kini Adam sudah tak bisa menahan air matanya yang lolos membasahi pipinya. Dia tidak sanggu berkata sejujurnya tentang kejadian kelam itu. Mungkin hanya kematian yang bisa membuat Adam berhenti melakukan ini. Rey bangkit dari kursi dan berlutut di depan papahnya.
"Pah, sebenarnya aku memang kecewa sama papah karena papah terlalu sibuk dengan bisnis papah. Tapi setelah aku tahu alasan kenapa papah gila kerja adalah untuk menjaga reputasi papah di depan keluarga mamah, aku memaklumi itu. Dan sekarang aku mengerti kenapa keluarga mamah menuntut aku untuk menjadi seseorang yang memiliki reputasi. Mungkin jika aku menjadi papah, aku akan lakukan hal yang sama"ucap Rey.
Rey akhirnya tahu apa yang dialami papahnya selama ini. Dan sekarang dia merasa semua terasa masuk akal. Kenapa sejak kecil dia tidak dekat dengan keluarga mamahnya, dan hanya Om Indro yang peduli dengan dia. Dan Rey sekarang merasa ada banyak beban berat yang ditanggung papahnya. Dia merasakan semua itu saat kini dia sudah memeluk erat papahnya.
*****
Sarah dan Vane saling menatap penuh bahagia saat melihat Rey merangkul Adam ketika berjalan menuju ruang makan. Bahkan saat makan sesekali mereka melakukan candaan mereka. Sarah merasa lega akhirnya Rey bisa memaafkan papahnya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Rey berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pulang. Rey berjalan beriringan dengan Adam mengantarkan Rey ke depan rumah.
"Vane, saya tidak pernah melihat Rey sebahagia ini. Dan dia bisa bahagia seperti itu berkat kamu. Saya harap hubungan kamu dengan Rey bisa permanen. Karena saya tahu kamu bisa menjaga hati Rey."
Itulah kata yang Sarah ucapkan sebelum Vane benar-benar memaksa diri untuk berlari masuk ke mobil saat Rey mengajaknya pulang. Vane tidak habis pikir kenapa semua ini berjalan sampai sejauh ini dan membuatnya kelabagan.
__ADS_1