Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 40


__ADS_3

Rey duduk di dalam kegelapan. Menunggu hingga istrinya yang tadi malam sudah menciumnya sampai dia sudah mau gila sebelum kemudian meninggalkannya sendiri di dalam studionya. Tiba-tiba terbesit rasa keingintahuan bercampur keisengan dan sedikit rasa jengkel, Rey menuju kamar Vane dan ternyata pintunya dikunci.


Buru-buru dia mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu kamar itu dan akhirnya dia bisa masuk ke dalam kamar istrinya. Rey langsung menutup pintu itu dan menguncinya kembali tak lupa dia menyimpan kunci itu di saku celananya.


Dia melarikan matanya ke sekeliling kamar itu, yang cukup rapi dan teratur. Dia mengambil nafas dan aroma vanila menyerang indera penciumannya.


"God, that damn smell is everywhere"geram Rey.


Rey mulai mengelilingi kamar itu, dan perhentian pertama tertuju pada meja rias yang terdapat berbagai macam produk wanita, mulai dari skincare, make up, dan parfume.


Lain dari kamar tidurnya, kamar Vane tidak memiliki TV. Dinding tempat dulu Rey meletakkan TV kini telah berganti menjadi sebuah rak buku setinggi tiga tingkat, di mana banyak berbagai macam buku tersusun rapih berdasarkan ukuran.


"Great. Aku ternyata sudah menikahi seorang wanita neat freak atau mungkin obsessive-compulsive disorder"kata Rey.


(Obsessive-compulsive disorder atau kelainan pada diri seseorang yang membuatnya terobsesi pada hal-hal tertentu termasuk kebersihan dan kerapihan)


Rey melihat berbagai buku dengan berbagai macam genre dari romance, action, dan nonfiksi. Dia juga melihat ada beberapa buku yang keseluruhannya menggunakan bahasa Inggris dan Prancis. Tak heran, karena Vane memang lama tinggal di Prancis.


Perhatian Rey kini teralih pada sebuah buku yang menurut pengamatannya buku berbahasa asing selain kedua bahasa yang dia ketahui. Dia menarik buku itu dari tempatnya dan mencoba mengamati berbahasa apakah buku itu.


"Rusia?"desis Rey saat tahu buku ini seluruh isinya menggunakan bahasa Rusia.


Saat ini Rey sedang memegang buku berjudul Hari Oprichnik oleh Vladimir Sorokin berkisah penasihat Tsar dalam futuristik, tetapi brutal dan, dalam banyak hal, pengadilan primitif masa depan.


Rey merasa heran bagaimana Vane bisa membaca buku dengan bahasa Rusia. Salah satu bahasa paling sulit dipelajari di dunia ini. Dia sekarang yakin bahwa istrinya bukanlah wanita biasa. Mungkin Vane adalah wanita yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Rey pun mengembalikan buku itu ke tempat semula.


Setelah puas dengan perpustakaan pribadi Vane, kini Rey beralih pada lemari setinggi pinggang di mana di atasnya terdapat banyak bingkai foto yang berjejer. Foto itu terdiri dari foto pernikahan Bima, pernikahan Satria, foto dengan para pegawai restoran tempat Vane bekerja, dan ada foto wisuda kelulusan Vane saat kuliah.


"Cantik"lirih Rey saat melihat Vane memakai kebaya dengan kepala berbalut topi toga. Disaat teman-teman kuliahnya memakai gaun dia lebih memilih memakai kebaya.


Foto selanjutnya yang membuat matanya terbelalak, dia mengangkat foto itu agar meyakinkan bahwa matanya tidak picek. Matanya memang tidak salah, ini foto saat akad nikah dilihat dari pakaiannya. Rey sedang mencium kening Vane setelah mereka resmi disahkan sebagai pasangan suami istri.


"Dari mana dia mendapatkan foto ini?"tanyanya.

__ADS_1


Karena setahu Rey, fotografer yang dia sewa tidak mencetak foto tersebut dalam ukuran itu. Dan pertanyaan selanjutnya, kenapa Vane menyimpan foto ini?


Dia akan menanyakan hal itu pada Vane. Pada saat itulah ide untuk menunggu muncul di kepalanya. Rey mempertimbangkan untuk duduk di atas kasur, tapi kasur adalah benda pertama yang dilihat saat memasuki kamar. Sangat tidak cocok jika dia ingin melihat reaksi kaget dai Vane. Akhirnya dia memilih untuk duduk di sofa dan Rey sedang membayangkan reaksi Vane saat melihatnya.


Kini Rey mendengar suara langkah kaki yang menggema lalu terdengar suara bunyi kunci diputar dan pintu kamar dibuka. Dan Rey melihat bayangan Vane memasuki kamar dan dia tidak menyalakan lampu melainkan menanggalkan pakaiannya satu persatu sambil berjalan menuju kamar mandi.


"SHIT!!" Vane mengeluarkan sumpah serapah saat kakinya menabrak kaki tempat tidur. Rey menggigit bibir bawahnya, menahan tawa.


Lampu kamar mandi menyala dan Rey mendengar shower dinyalakan. Dia melihat Vane lagi, yang kini hanya mengenakan celana dalam dan bra berwarna merah renda-renda. Shit! Dia merasa seperti sednag berada di sebuah strip club di Las Vegas dengan penuh antisipasi menunggu dancer seksi itu menaggalkan bra mereka saat menari.


Remember, ladies, laki-laki senang digoda. Jangan pernah berikan mereka segalanya saat pertama kali mereka melihat kita, karena mereka akan meminta lebih dari itu.


Rey hampir saja terkekeh dengan imajinasinya sendiri. Sekarang dia harus puas dengan stripper semiprofesional dengan badan kurus, tidak terlalu tinggi, dan berdada rata dalam wujud istrinya.


Rey memakukan tatapannya pada pakian dalam Vane ketika tiba-tiba lampi terang menyerang matanya sebelum dia mendengar suara seseorang berteriak sekencang-kencangnya.


"KAMU NGAPAIN ADA DI DALAM KAMAR AKU???"


Rey kelihatan terhibur melihat usahanya sia-sia daripada menjawab pertanyaannya. Menyadari Rey tidak akan mengasihaninya, Vane kemudian berjalan secepat mungkin sambil membungkuk menuju tempat tidur dan menarik bedcover untuk menutupi tubuhnya.


"Kamu ke mana saja seharian?"tanya Rey.


Vane terdiam sejenak, apakah dia akan menjawab pertanyaannya karena jelas-jelas Rey sedang menghindar dari pertanyaannya tadi.


"Studio muay thai Bobi"ucap Vane akhirnya.


Bukannya pergi, justru Rey mengatur posisi tubuhnya agar lebih nyaman duduk di sofa, "Bagaimana kabar dia, dan siapa nama temannya satu lagi?"


"Dika..." Tangan Vane sudah merasa pegal karena menahan bedcover yang rasanya sudah ingin melorot dari tubuhnya.


"Apa mereka berdua masih nggak suka sama aku?"tanya Rey.


Pertanyaan Rey ini mendapat tatapan bingung dari Vane, dan dia menambahkan "Kamu nggak usah kelihatan bingung, orang buta saja bisa lihat kalau mereka berdua nggak suka sama aku dilihat dari cara mereka menatap aku" sebelum akhirnya dia terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Mereka adalah teman baik aku..."


Rey menarik tubuhnya dari sofa untuk berdiri, "Well, tidak ada istilah sahabat antara perempuan dan laki-laki, dan apalagi kamu menemui laki-laki lain padahal kamu sudah bersuami."


Vane mengernyitkan keningnya saat setelah Rey selesai mengucapkan kalimat itu.


"Aku nggak menyalahkan rasa tidak suka mereka terhadapku. Orang gila mana yang mau teman baiknya menikahi laki-laki seperti aku? Sudah kerjaannya tidak teratur dan sering digosipin yang tidak-tidak oleh media"ucap Rey sambil mengambil beberapa langkah mendekati Vane


"Sekarang mereka bisa menambahkan bahwa kamu suka masuk ke kamar orang tanpa diundang"tanda Vane.


"Kamu juga pernah masuk ke kamar aku tanpa diundang"lanjut Rey santai.


"Oke kalau kamu ke sini hanya untuk balas dendam kepadaku. Sekarang kita impas!"tegas Vane.


Sekarang Vane sadar kalau Rey sudah berdiri satu meter dari dia, kemudian dengan sengaja Rey menatap tubuhnya dengan rinci sebelum akhirnya kembali menatap wajahnya daa berkata, "Sekarang kita impas."


Vane langsung memberikan tatapan dingin Si Kutub Utara yang berhasil membuat kepala Rey mundur.


"Aku tunggu kamu jam delapan lewat dua puluh lima menit di ruang makan. Kalau kamu nggak turun juga, aku bakal naik ke sini dan menyeret kamu untuk turun, nggak peduli kamu sudah pakai baju atau masih telanjang"tegas Rey.


"Kamu nggak ada hak untuk ngatur-ngatur hidup aku. NGERTI!!" Vane bahkan menggunakan jari telunjuknya untuk menekan dada Rey mengisyaratkan bahwa dia tidak main-main.


"Sebelum kamu marah-marah lagi, sebaiknya kamu mandi dulu dengan air hangat agar pikiran kamu jadi tenang. Kalau kamu masih marah sama aku, kamu bisa datang menemui aku di bawa, dan aku siap menerima semua omelan kamu"balas Rey sebelum kemudian dia keluar dari kamar Vane dan menutup pintunya.


Vane segera berlari dan mengunci pintu kamarnya.


"OH SHIT!!! Aku akan membunuh laki-laki satu ini suatu hari nanti"teriak Vane sambil mencengkeram bedcover.


Sementara kini Rey sedang berjalan terburu-buru bahkan hampir berlari menuju kamarnya, dan dia langsung masuk menutup pintu dengan keras.


"DAMN IT!!! PEREMPUAN GILA!!! WHY I SHOULD SEEN THAT!!"


Rey mengusak-ngusak rambutnya frustasi karena bagaimana pun juga, dia laki-laki normal yang punya daya imajinasi tinggi ketika disuguhi pemandangan seindah itu. Reza benar, Vane dalam wujud istrinya adalah bidadari terindah jika kita mau memperhatikannya dengan seksama. Dan sekarang Rey tidak tahu lagi bagaimana dia bisa menahan hasrat ini ketika dia tahu kalau dia sudah menikah dengan wanita sempurna, ya walaupun berdada rata.

__ADS_1


__ADS_2