Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 43


__ADS_3

Vane pun memulai memasak dan mengajari mamah mertuanya dengan begitu sabar dan telaten. Vane sempat heran bagaimana bisa wanita paruh baya ini belum bisa masak makanan western padahal suaminya orang luar negeri. Mungkin karena selera Jawanya yang terlalu kental.


"Sudah siap!"seru Sarah memberi daun seledri sebagai finishing untuk masakannya.


"Soupe a l’oignon ala Mamah Sarah!"sambung Vane bertepuk tangan ria.


Sarah mengelap peluh di keningnya, betapa sulit dan merepotkannya memasak makanan Prancis. Pantas saja harga makanan Prancis sangatlah mahal dan pasti hanya kalangan atas yang bisa menginjakkan kaki di restoran Eropa itu. Hingga Sarah berpikir berapa biaya Vane saat berkuliah di Le Cordon Bleu Prancis.


"Van, tolong panggilkan papah mertua kamu. Dia ada di perpustakaan"pinta Sarah.


Dengan anggukan dan rasa senang Vane berjalan meninggalkan dapur dan menaiki tangga untuk menuju ke perpustakaan. Mengetuk pintu sebelum masuk dan menunggu hingga papah mertuanya mengizinkannya masuk.


"Vane." Adam terkejut melihat kepala Vane yang melongok masuk ke dalam. Dia meletakkan buku yang sejak tadi dia pegang.


Vane berjalan perlahan masuk dan ekspresi kekaguman nampak terlihat jelas di wajahnya. Disuguhi oleh ruangan perpustakaan yang cukup luas dan besar dengan rak buku terbuat dari kayu jati menempel di seluruh dinding berisi berbagai macam buku yang tingkat ketebalannya sanggup meluluhkan otak manusia.


"Ini semua koleksi buku papah?"


"Iya." Adam tersenyum saat menjawab pertanyaan dari menantu cantiknya.


Vane berjalan menghampiri Adam yang duduk di side chair berwarna abu-abu dengan meja bundar di tengahnya. Vane duduk di hadapan Adam dengan sesekali masih memandangi rak-rak buku.


"Kamu hobi membaca?"tanya Adam ramah.


"Sangat." Vane menjawab begitu antusias dan ada rasa penasaran untuk menyentuh buku-buku itu bahkan membawanya pulang atau jika boleh buku itu menjadi miliknya.


Adam yang mengerti bahasa tubuh Vane yang ingin menyentuh buku-buku koleksinya.


"Kalau kamu mau lihat buku-buku itu papah izinin"kata Adam begitu lembut.


Vane tersentak dan wajahnya langsung girang. Dia pun berdiri dan menuju rak buku di sebelah kiri. Vane memilih buku yang ingin dia ambil. Saat sedang memilih buku, dia menoleh ke belakang memastikan jika Adam sudah tidak lagi mempehatikannyan. Saat Vane yakin kalau dirinya aman, dia mengeluarkan spy camera yang ukurannya hanya sebesar kuku dari kantong chef jacketnya.


Vane menempelkan spy camera itu pada pembatas tingkat rak. Walaupun ukurannya kecil tapi kualitas gambar yang disuguhkan berkualitas HD apalagi spt camera ini produksi Jerman. Setelah Vane mengambil dua buku, dia kembali duduk di hadapan Adam.


"Hanya dua buku?" Adam pikir Vane akan mengambil lima buku sekaligus, karena kalau dilihat Vane sepertinya wanita pintar.


"Dua aja, Pah"jawab Vane.


Vane kembali merogoh saku celananya mengambil alat penyadap suara dan menempelkan benda itu pada kolong sofa. Jika Vane menempelkannya pasa meja, dia takut benda itu akan diketahui keberadaannya saat pembantu membersihkan meja itu.


Oke Van, satu lagi tugas kamu, batin Vane.


Vane menatap tajam pulpen logam berwarna hitam dengan gagang berwarna emas yang tergeletak di meja dan dia menebak pasti itu pulpen dengan harga di atas lima juta. Vane meletakkan slaah satu bukunya di sebelah pulpen itu dan dengan sengaja dia menjatuhkan pulpen itu ke lantai.


"Aduh Pah, maafin Vane. Biar Vane yang ambil." Vane beranjak dari sofa saat Adam hendak berdiri mengambil pulpen miliknya yang menggelinding ke lantai agak jauh dari tempat dia duduk.

__ADS_1


Vane berjalan menuju pulpen itu dan berjongkok untuk meraih benda itu. Dengan gerakan kilat, Vane menukarkan pulpen milik Adam dengan pulpen milik Vane yang sudah dia keluarkan saat dia berjalan tadi.


Vane menyerahkan pulpen yang sudah dia tukar. Bukan pulpen sembarangan, pulpen itu memiliki kamera tersembunyi di badan pulpen dengan format AVI sehingga jika Adam menggunakan pulpen itu, Vane bisa melihat apa isi dokumen yang papah mertuanya miliki.


"Terima kasih. Bagaimana kabar kamu dan Rey?"ucap Adam sambil menerima pulpen itu.


"Kami berdua baik. Maaf Pah, jika kami berdua jarang menemui papah, karena Rey sedang sibuk mengurus pekerjaannya"ucap Vane sendu.


Adam tersenyum melihat betapa baik hati dan perhatiannya menantunya ini.


"Kalau pun dia tidak sibuk, kemungkinan dia tidak akan mau menemuiku"balas Adam dengan nada bicara dingin.


"Aku tahu, hubungan papah dengan Rey kurang baik. Mamah sudah menceritakan semuanya. Tapi papah harus yakin di balik sikap acuh Rey, dia itu sangat menyayangi papah"kata Vane.


"Semoga"tandas Adam.


"Astaga, Vane sampai lupa tujuan Vane ke sini." Vane menepuk keningnya dan memasang ekspresi bersalah.


"Ada apa?"


"Mamah meminta Vane untuk meminta papah ke ruang makan. Mamah sudah memasak makanan Prancis kesukaan papah. Tadi Vane yang mengajari"jelas Vane.


"Oh ya? Kalau begitu, ayo kita turun"ajak Adam begitu antusias.


Keduanya pun keluar dari perpustakaan, dan menuruni tangga menuju ruang makan. Vane tidak bisa bergabung untuk makan bersama mertuanya, karena pasti Rey sudah menunggunya untuk makan malam karena jam menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Dengan cepat Vane pergi meninggalkan rumah Adam setelah berhasil melaksanakan tugas pertamanya.


"Kamu habis dikejar setan?"tanya Rey saat melihat istrinya ngos-ngosan.


"Nggak kok. Aku habis ngusir maling tadi"jawab Vane asal.


Rey terkekeh mendengar jawaban asal dari Vane. Ternyata wanita sepintar Vane bisa juga melawak.


"Aku ke kamar dulu untuk mandi. See you in dinner time." Vane meninggalkan Rey tanpa mau melanjutkan perbincangan mereka.


Setelah 45 menit akhirnya Vane keluar dari kamar dan berjalan menuku ruang makan. Di sana Rey sudah duduk menunggunya dengan mood yang cukup baik. Vane segera duduk di tempat biasa. Dan menu hari ini sepertinya agak-agak spesial dengan menu ayam panggang beraroma madu, ada chikpea salad lemon, dan french toast.


Melihat ekspresi bingung dari Vane, Rey langsung berkata, "Aku sengaja memesan makanan itu karena aku sudah lama tidak makan makanan western dan sekaligus aku ingin merayakan untuk kelancaran meeting tadi."


Vane ber-oh ria tanpa suara tapi mulutnya membentuk bulat sempurna. Dan akhirnya mereka berdua makan dengan tenang tanpa argumentasi.


"Kamu dari mana?"tanya Rey seusai makan.


"Rumah mamah kamu."


Rey kaget dan langsung melotot, "Ngapain?"

__ADS_1


"Ngasih makan ikan...ya mengunjungi mertua dong. Mamah kamu minta aku buat ngajarin dia masak makanan Prancis"jelas Vane.


"Tapi kan mamah nggak suka makanan western"ucap Rey bingung.


"Makanan itu untuk papah kamu"tanda Vane menghela nafas kasar.


"Kamu ketemu papah?"tanya Rey.


Vane menghentikan pergerakan gelas miliknya yang sudah setengah jalan mendekati mulutnya. Oke kemarin malam Rey mengatakan bahwa topik pembicaraan tentang papahnya itu TERLARANG. Dan sekarang dia menanyakan tentang papahnya. Kalau Rey bisa melanggar kesepakatan maka Vane bisa melakukannya juga.


"Yaps. Dan dia tanya kabar kamu. Dia sepertinya merindukan kamu. Kenapa kamu tidak menemuinya saja"kata Vane lalu melanjutkan minumnya.


Rey terdiam mendengar perkataan Vane, ada rasa ingin bertemu dengan papahnya namun rasa kecewa dan egonya terlalu membumbung tinggi ke langit. Kalau dia sedang mengingat papahnya atau bahkan merindukannya entah kenapa bayangan peristiwa yang membua Rey kecewa selalu muncul tiba-tiba.


"Rey."


"Hhmm..."


"Bagaimana meeting kamu tadi?"


"Oh, aku dan timku sepakat bahwa trailer film akan rilis seminggu sebelum soundtrack filmnya launch. Dan filmnya akan rilis awal Maret"jelas Rey dengan ekspresi bahagia.


Vane merasa senang akhirnya da angin segar di mana karir Rey pelan-pelan kembali membaik setelah skandal yang hampir meluluh lantahkan karir Rey.


"Good luck." Vane hanya memberi kata itu sebelum dia membawa piring kotor ke dapur dan seperti biasa dia meminta Rey membersihkan meja jika tidak ingin mendengarkan omelannya.


Setelah makan malam, Vane langsung menutup akses menuju kamarnya karena malam ini dia akan memulai pekerjaannya. Dia membuka laptopnya dan memakai earpiece di telinganya. Vane pun membuka program komputer di mana dia bisa melihat apa yang terekam oleh spy camera dan alat penyadap suaranya.


Vidio dari kamera yang dia pasang pada rak buku hanya memperlihatkan Adam yang hanya duduk sambil membaca buku. Lalu vidio dari pen camera hanya memperlihatkan tulisan dari isi buku biografi John Kennedy.


"Apa dia belum memulai pekerjaannya?" Vane merasa bingung dengan penjahat satu ini karena dia terlihat begitu santai. Berbeda dengan penjahat yang dia kenal, di mana mereka akan selalu didatangi anak buahnya setiap saat setiap waktu.


"Masa bertindak kejahatan ada cutinya sih? Aneh deh. Orang gila mana yang ingin libur berbuat jahat? Kalau tobat baru ada." Vane kembali mengeluarkan kata-kata konyolnya saat mengomentari papah mertuanya itu.


*****


"Jadi dia itu kakak dari istrinya Rey?" Jade baru saja menceramahi anaknya untuk kesekian kalinyaa karena dia masih saja mengejar-ngejar mantan pacarnya.


"Iya. Dia yang nengatakan itu sendiri." Steven sedang merintih kesakitan saat ayahnya mengompres luka pukul di wajahnya.


Rius yang sejak tadi mendengarkan perbincangan ayah dan anak itu mulai penasaran, "Siapa nama laki-laki itu?"


"Satria"jawab Steven.


"Rius, kenapa kamu terlihat penasaran sekali dengan laki-laki itu semenjak kita bertemu dia di supermarket?"tanya Jade beralih menatap Rius.

__ADS_1


"Hanya ingin tahu saja"jawab Rius datar.


Feeling Rius tidak pernah salah selama hidupnya, dia merasa ada sesuatu yang aneh ketika suami mantan pacar Steven menatap dirinya dan Jade sebelum dia membawa pergi istrinya ketika di supermarket. Ada sesuatu yang mungkin dia ketahui tentang dirinya atau mungkin lebih.


__ADS_2