
Setelah acara ulang tahun papahnya selesai, Vane meminta izin untuk pergi bersama Rey, mengambil mobil miliknya berada di rumah Rey, dengan alasan karena Rey tadi mengantar Vane untuk pergi ke salon sekaligus membeli kado ulang tahun untuk papah Vane.
Di perjalanan pulang, Vane merasa sangat bersyukur karena keluarganya sama sekali tidak ada yang menyebut bahkan membahas nama Clara di hadapan Rey. Meskipun Vane yakin bahwa banyak orang pasti bertanya-tanya tentang itu, mereka tidak berani menyuarakannya.
Yang lebih Vane syukuri lagi adalah keluarganya kompak melakukan drama seperti keluarga yang antusias anaknya akan menikah padahal mereka tahu tentang kasus Adam Millford papahnya Rey. Dan mereka bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.
Keluarganya sepertinya betul-betul melakukan drama dengan baik seolah-olah menerima Rey dengan tangan terbuka, mereka bahkan tidak kelihatan khawatir bahwa nama Rey masih belum bersih dari skandalnya dengan Clara dan bayinya.
Dia harus berterima kasih kepada Rey yang ternyata bakat aktingnya memang sangat luar biasa, dan tentu tidak salah kalau dia selalu memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik di berbagai ajang penghargaan film, sehingga bisa meyakinkan semua orang bahwa dia sudah cinta mati dengan Vane. Ya walaupun Vane sendiri belum yakin apakah keluarganya percaya atau tidak.
Selain itu, Vane juga berterima kasih ketika Khansa keponakan Vane menggeretnya untuk di pamerkan kepada sepupu-sepupunya. Rey bahkan menyempatkan mengobrol dengan keluarga Kak Ana dan keluarga Amel, terlebih lagi Rey cukup antusias dengan rencana lamaran Satria dan Amel.
Dia juga sempat berbincang dengan papah, dan mereka berdua membicarakan tentang kasus sengketa di Laut Natuna. Sebuah topik pembicaraan yang sangat tidak berhubungan dengan profesi Rey. Tapi alangkah terkejutnya Vane saat Rey bisa dengan lancarnya menanggapi argumen papahnya tentang topik itu. Rey nampak seperti sudah biasa melihat kasus politik, hukum, dan pertahanan.
Rey membatu mamah membagikan kue ulang tahun kepada para tamu. Rey bahkan mau dengan senang hati menerima tantangan Kak Bima untuk bermain catur dengannya hingga beberapa babak permainan. Dan untungnya Rey bisa memenangkan pertandingan itu. Sesuatu hal yang belum Vane ketahui jika Rey sangat jago dalam permainan catur.
Tapi semua hal manis yang terjadi di pesta seketika punah dari ingatan Vane ketika dia menerima tatapan interogasi dari papahnya dan kedua kakaknya ketika akan pergi dengan Rey. Jelas itu sebagai ultimatum bagi Vane untuk segera memberi penjelasan nanti ketika dia kembali ke rumah dan harus menemui ketiganya di ruang kerja papahnya.
"Kak Satria kayaknya dekat sekali sama kamu." Kata-kata Rey menembus ruang pemikirannya dan Ina agak terperanjat sebelum akhirnya mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, karena dulu waktu kami bertiga masih kecil cuma Kak Satria yang selalu menuruti keinginan aku dan mau menemani kemana pun aku pergi. Sementara Kak Bima sudah sibuk dengan club sepak bolanya"jelas Vane mengingat masa kecilnya dengan kedua kakaknya.
"Siapa nama kakak ipar kamu?"
"Kak Ana"
"Oh iya dia. Tadi dia sempat bilang sebelum aku bermain catur dengan Kak Bima. Katanya aku harus bisa mengalahkan kakak kamu jika ingin mendapat restu dari Kak Bima"ujar Rey.
"Oh ya? Lalu apa yang terjadi? Apa kamu berhasil?"
"Yaps, aku menang 3-2 dari Kak Bima. Terlihat sekali dari wajahnya kalau dia kesal dengan kemenangan aku"kata Rey terkekeh mengingat ekspresi kesal dari Bima.
"Ya akhirnya ada yang bisa mengalahkan dia. Rasanya aku sudah sangat bosan mendengar setiap hari Kak Satria mengeluh selalu kalah dari Kak Bima"sambung Vane.
"Jadi aku orang pertama yang mengalahkan Kak Bima?"tanya Rey.
"Ehem...awalnya aku takut kalau dia akan memonopoli kamu dalam permainan caturnya. Karena sifatnya tidak pernah mau kalah"lanjut Vane.
"Tidak, sama sekali tidak. Dia tidak memonopoli aku. Dia bermain dengan sangat sportif. Sepertinya papah kamu mendidik anak-anaknya untuk menjadi manusia yang sportif"seru Rey.
"Apa kamu hobi main catur?"tanya Vane.
"Aku suka main catur, dulu aku sempat seharian penuh mengajak Om Indro untuk tanding main catur sampai-sampai mamah memarahi aku dan membuang semua koleksi permainan caturku karena menurut mamah aku sudah menyusahkan Om Indro"kata Rey dengan suara pelan.
"I'm so sorry"ucap Vane agak sedih.
"It's okay. Sejak saat itu aku menemukan hobi lain yang membuat kesal mamah"balas Rey jenaka.
"Apa tuh?"tanya Vane curiga.
"Women. Lots and lots of them."
__ADS_1
Dan Vane tertawa terbahak-bahak bersama-sama Rey. Tidak heran karir Rey bisa sesukses sekarang karena dia ternyata cukup menyenangkan sebagai teman ngobrol.
"Sepertinya Kak Ana dan mamah kamu harus membuat club"ujar Rey.
"Club?"tanya Vane.
"Club ayo dukung Rey jadi suaminya Vane"
"Oh club itu"kata Vane tertawa terbahak-bahak.
Hahaha, kamu tidak tahu saja kalau mereka hanya berakting untuk menutupi kekagetan mereka, batin Vane.
"Tapi kamu lupa kalau Amel juga sama ngefansnya dengan kamu. Dulu saat kamu meminta aku untuk jadi guru memasakmu, dia adalah manusia paling heboh"sambung Vane.
"Really? That's good. Kayaknya aku harus bener-bener mengosongkan jadwal minggu depan agar bisa datang pada acara lamaran Kak Satria dan Amel"ujar Rey semangat.
"Ya jika kamu tidak keberatan"balas Vane.
"No, of course not. Aku justru senang dengan begitu keluargamu akan semakin yakin dengan hubungan kita"kata Rey melirik Vane sambil tersenyum.
"Sorry ya kalau kita jadi kelamaan di sana. Aku tahu kamu ada rekaman malam ini dan perlu istirahat"ucap Vane serius.
"Don't worry about it. I had fun. Lagi pula aku hanya perlu mengubah sedikit lagu untuk soundtrack filmku dan itu tidak terlalu sulit"jelas Rey.
Sejenak keheningan menyelimuti interior mobil, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Hanya ada musik jazz yang menemani mereka, tapi mereka berdua seperti menikmati kesunyian itu.
"Omong-omong, how did I do?"tanya Rey memecahkan keheningan.
"Apa aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku adalah tunangan kamu?"tanya Rey.
"Pastinya"kata Vane nyengir terpaksa.
Tidak Rey, kamu belum tahu saja setelah ini aku akan diinterogasi habis-habisan oleh papah dan kakak-kakakku, geram Vane.
"Tapi aku sempat bingung demgan sikap papah kamu. Awal kita datang dia nampak terkejut setengah mati, lalu tatapannya begitu sinis dan dingin seperti dia sedang melihat seorang musuh yang datang"ucap Rey kembali mengingat sikap Jatra padanya.
Vane membulatkan matanya mendengar pengakuan dari Rey. Tentu saja papahnya akan bersikap seperti itu jika yang datang memang anak dari musuhnya.
"Untungnya lambat laun sikapnya menjadi hangat dan sangat menyenangkan bisa mengobrol dengan papah kamu"lanjut Rey.
"Syukurlah. Papah memang agak protektif terhadapku apalagi jika menyangkut pria yang sedang dekat denganku. Pasti dia akan mencari tahu dengan sangat detail"jelas Vane sambil tersenyum.
"Aku akan meminta mamah supaya mengatur acara lamaran secepatnya. Gimana kalau setelah acara lamaran kakak kamu?"ucap Rey melirik Vane.
"Aku mesti mengecek jadwal aku dengan Chef Ronald, karena dua hari sebelum lamaran Kak Satria aku harus ke Surabaya untuk menjadi chef dalam acara pernikahan anak dari salah satu pengusaha di Surabaya. Nanti aku kabari kamu lagi"jawab Vane.
"Sekalian juga kamu pikirin tanggal pernikahan kita. Kemarin aku cek jadwal aku dan aku ada waktu kosong selama dua minggu di awal bulan November. Cukupkah itu buat kamu untuk merencakan pesta pernikahan kita?"
"What??? November??"teriak Vane terkejut. Lalu dia berkata lagi, "Kenapa? Itu terlalu cepat, aku nggak akan siap."
Rey yang menyangka bahwa Vane membicarakan tentang jadwalnya dan mengira dia tidak akan sempat merancang pernikahan ini sendiri.
__ADS_1
"Kamu minta saja bantuan sama wedding organizer yang bejibun jumlahnya di Jakarta. Aku yakin mereka semua nggak akan menolak kesempatan ini. Uang nggak akan jadi masalah."
"Rey, aku tahu kamu seorang selebritis, dan aku juga tahu kira-kira penghasilan kamu dalam setahun, jadi kamu nggak usah sombong dan mamerin kekayaan kamu sama aku"balas Vane ketus.
Rey hanya bisa ternganga. Apa ada yang salah dengan omongannya? Dia hanya bermaksud menolong, bukannya sombong apalagi pamer.
"Yang aku maksud adalah bahwa aku mungkin belum siap secara mental untuk menikah secepat itu. Lagian juga, apa kamu nggak takut orang pada ngegosipin kalau kita menikah terlalu cepat?"sambung Vane.
Rey mengangkat bahunya cuek, "Apa pun yang aku kerjakan, orang selalu ngegosipin aku. It doesn't matter to me."
"But it matter to me. Aku baru ngenalin kamu ke keluarga aku hari ini dan kalau kita menikah terlalu cepat orang akan mengira kalau aku sudah hamil"teriak Vane.
"Oh please, kamu cuma bisa hamil kalau kita ini berhubungan intim, which we are not karena aku nggak akan menyentuh kamu sama sekali."
Vane tersentak seakan-akan Rey baru saja menamparnya.
"I'm sorry. Maksud aku bukan begitu..."
Rey mencoba meminta maaf ketika melijat ekspresi pada wajah Vane, tetapi kata-katanya sudah dipotong oleh Vane.
"Jadi apa maksud kamu?"balas Vane dengan intonasi meninggi.
Rey mencoba mengeluarkan kata-kata, tetapi dia tidak mendapatkan kata-kata yang tepat. Akhirnya dia memilih diam. Dan untuk pertama kali semenjak mereka meninggalkan Bintaro, keheningan yang ada terasa tidak mengenakkan. Rey rasanya ingin menendang dirimya sendiri karena sudah menyinggung hati Vane.
"Desember?"ucap Vane tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Hah?"tanya Rey bingung.
"Aku akan nikah sama kamu bulan Desember. Kosongkan jadwal kamu pertengahan bulan. Dan karena kamu minta bantuan wedding organizer paling mahal di Jakarta untuk melakukan ini supaya aku tidak bikin malu kamu. Dan aku harap kamu bisa siapin buku cek kamu kalau aku minta."
Rey terlalu bahagia karena mendengar suara Vane sehingga dia merelakan ejekan Vane terlepas begitu saja.
"Karena sebelumnya aku sudah bertanya pada Om Suseno papahnya Amel, rencananya pernikahan Kak Satria dan Amel akan dilaksanakan bulan November, karena aku nggak mau mendahului pernikahan kakak dan sahabatku jadi aku memilih bulan Desember untuk melaksanakan pernikahan kita"sambung Vane.
Rey sebenarnya tidak tahu jadwalnya pada bulan Desember, tapi kalau tidak salah dia harus manggung di acara ulang tahun perusahaan belanja online yang diadakan di salah satu stasiun TV. Dia akan memastikan jadwalnya kosong di bulan itu.
"Oke"jawab Rey singkat.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah Rey. Vane pun turun dari mobil milik Rey dan langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya. Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk dari HP Vane. Vane pun membuka pesan itu yang adalah chat dari Satria.
Kak Satria
Kami menunggumu di ruang kerja papah.
Vane menelan ludah dengan susah payah hingga dia mendongakkan kepalanya menatap langit sore, badannya gemetar dan suhu tubuhnya meningkat.
God, help and save me, batin Vane.
"Are you okay?"tanya Rey memegang bahu Vane.
"Yes, I'm okay"jawa Vane tersenyum getir lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Rey.
__ADS_1