Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 38


__ADS_3

Ketika Vane membuka matanya, dia tahu bahwa dia sudah tidur lebih lama daripada yang dia rencanakan. Matahari sudah cukup tinggi dan sinarnya masuk melalui jendela. Dia melirik jam beker yang ada di samping tempat tidurnya dan langsung loncat dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Setengah jam kemudian Vane sudah keluar dari kamar dan merasa lebih segar. Dia sedang berjalan secepat mungkin menuju tangga, ketika melihat Rey baru saja keluar dari kamarnya yang kelihatan baru selesai mandi karena rambutnya masih terlihat basah.


Rey yang sadar bahwa Vane sedang berjalan ke arahnya terlihat terkejut dan kemudian wajahnya memerah dan dia kelihatan siap untuk ngacir saat itu juga dari hadapan Vane. Tapi sepertinya dia tidak akan melakukan itu jika dia tidak mau terlihat supertolol, akhirnya dia memilih diam.


Mungkin jika melihat wajah jutek Rey, Vane akan mengomentarinya tapi tidak dengan hari ini, "Hello Rey. Bye Rey,"ucap Vane dengan cepat dan tanpa menunggu balasan dari Rey.


Dia langsung bergegas menuju tangga dan berpapasan dengan Mbok Nami yang sedang dalam perjalanan menuju lantai atas lalu berkata, "Pagi, Mbok."


Vane bahkan tidak menunggu hingga mesin mobilnya panas dan sekarang dia langsung ngegas keluar dari garasi menuju pintu gerbang. Dia perlu berbicara dengan seseorang tentang kejadian semalam, dan satu-satunya orang yang bisa diajak bicara adalah Bobi.


*****


"So...Rey gimana?"tanya Bobi sambil meletakkan minuman soda kalengan di atas meja.


Sekarang Vane berada di studio muay thai milik Bobi, dan mereka berbicara di dalam kantor Bobi.


"Bob, lo tahu kan, gue nggak bisa minum minuman bersoda"tegur Vane.


"Astaga gue lupa. Sorry sorry"balas Bobi menepuk jidatnya lalu mengganti minuman soda kaleng itu dengan jus jeruk dingin dalam kemasan botol.


"Lo aneh ya, hidup berabad-abad di luar negeri, tapi jangankan minum vodka atau wine, minum minuman bersoda aja lo nggak bisa"ucap Bobi sambil menengguk minuman miliknya.


"Gue kan cewek polos tanpa dosa"tukas Vane dengan bangga.


Bobi langsung tersedak mendengar jawaban Vane yang membuat dia terbatuk-batuk hingga kandungan soda dalam minuman itu rasanya sudah menusuk rongga hidung dan tenggorokannya.


"Shit!! Berengsek lo, Van!!"sarkas Bobi sambil mengusap-usap hidungnya.


Vane hanya tertawa geli melihat musibah yang menimpa sahabatnya satu itu.


"Karma instan"kata Vane tertawa terbahak-bahak.


"Udah ketawanya? Sekarang tujuan lo ke sini mau ngapain? Latihan muay thai nggak mungkin. Lo saking jagonya berantem bisa matahin kaki temen-temen gue yang badannya bahkan 10 kali lipat dari lo"balas Bobi.


"Gue bingung mau cerita dari mana"ucap Vane mengedikkan bahunya.


Perkataan Vane membuat Bobi heran, karena manusia seperti Vane adalah jenis manusia yang tidak akan pernah bingung saat berbicara, karena Vane ahli dalam mengsinkronkan otak dengan mulut. Sebelum dia mulai berbicara, di dalam otaknya sudah tersusun rangkaian kata-kata yang akan diluncurkan melalui mulutnya.


"Oke gini..." Bobi mencoba mencairkan suasana dengan memberikan Vane sebungkus cemilan kacang telor yang sedang hits saat ini.


"Gimana dengan hari-hari lo setelah menjadi istri Reyvano Millford?"tanya Bobi.

__ADS_1


"Eemm...ya gitu deh. Hampir seminggu ini gue ketemu sama pegawai dan artis-artisnya. Terus sikap dia juga baik ke gue. Everything is normal"jawab Vane.


Tapi hati dan pikiran gue udah nggak normal, Bob.


"Normal??? What do you mean by normal word?"tanya Bobi dengan tatapan curiga.


Vane menghela nafas kasar, dia terus saja memakan setiap butir kacang telur yang dia genggam di telapak tangannya.


"Rey nyium gue semalem dan gue balas nyium dia"kata Vane sambil memasukkan langsung kacang telor satu genggam seperti dia ingin membungkam mulutnya sendiri.


Lain dari perkiraan Vane, Bobi bertanya dengan tenang, "Oke, ciumnya di mana nih? Di pipi?"


Vane menggeleng, dia menelan terlebih dahulu kacang yang sudah dia kunyah, "Di bibir dengan jenis ciuman yang bikin gue nggak bisa berdiri lagi setelah semenit. Gue nggak pernah dicium kayak gitu sama...well...siapa pun kalau dipikir-pikir."


Kata-kata Vane membuat Bobi terdiam bahkan dia yang mau menengguk minumannya pun harus menghentikan itu.


"WHAATT??? Nggak pernah dicium siapa pun? Maksud lo, selama lo pacaran sama mantan-mantan lo yang bule dengan kadar kegantengnya yang nggak ketulungan itu, lo sama sekali belum pernah dicium sama mereka di bibir, Van?"tanya Bobi dengan mata melotot tak percaya bahwa Vane masih suci, bersih, dan tak bernoda.


Vane akhirnya mengangguk dan mau tidak mau harus mengakuinya, "Entah, antara gue yang sok jual mahal atau mereka yang takut sama gue kalau-kalau habis mereka cium gue langsung gue tonjok muka mereka."


Bobi tertawa terbahak-bahak, entah tawa yang dia keluarkan itu tertawa karena lucu atau tertawa jenis hinaan atas pengakuan Vane yang amat sangat jujur.


"And then...sekarang lo udah nggak suci lagi karena lo udah dicium sama suami lo. Gimana enak nggak rasa bibirnya Rey?"ledek Bobi yang tak habis-habisnya meledek sahabat singanya ini.


"SHIT!!! Sakit gila"sarkas Bobi mengelus keningnya.


"Stop ngehina gue"tegas Vane dengan tatapan tajam.


"Oke, please explain it. Gimana hal itu bisa terjadi?"ujar Bobi dengan tenang.


Vane pun menceritakan segalanya dengan detail pada Bobi dan tidak meninggalkan satu fakta apapun. Bobi hanya menanggapi perkataan Vane dengan kening mengkerut.


"I know...I know..." Vane memulai pembelaannya setelah dia selesai bercerita sebelum Bobi bisa mengomentari.


"Bukannya di dalam kontrak ada klausa yang mengatakan bahwa kalian berdua nggak boleh bersentuhan kulit?"potong Bobi.


"I think kata-kata yang lebih tepat adalah 'Tidak terlibat hubungan intim dengan satu sama lain atau orang lain."


"Jadi ciuman nggak terhitung?"tanya Bobi ragu.


"Secara teknis sih...memang nggak terhitung."


"Dan gue juga nggak perlu kan telfon Dika yang lagi di Singapura buat tanya 'Bro, ciuman di bibir termasuk bagian dari hubungan intim nggak?"kata Bobi sambil meletakkan tangannya membentuk telfon ke telinganya.

__ADS_1


Bobi lalu tersenyum miris bahkan sampai menggelengkan kepala mendengar jawaban super santai dari Vane. Astaga wanita Kutub Utara satu ini sepertinya tidak tahu bahwa ciuman adalah awal dari segalanya. Bahkan jika sesuatu itu tidak berlanjut maka hal itu akan menyiksa laki-laki manapun di dunia ini. Dan sekarang Bobi sedang membayangkan bagaimana Rey bisa menahan hasratnya terhadap wanita cantik bahkan nyaris sempurna yang sekarang berada di hadapannya.


"Oke...kalau gitu lo nggak usah kelihatan khawatir begini dong. Lo nggak melanggar klausa dalam perjanjian itu"tanda Bobi yang mulai memakan keripik singkong dari sebuah brand yang mengeluarkan varian rasa barunya.


Vane mencoba membuat Bobi mengerti, "Tapi gue ngerasa bersalah, Bob."


Bobi sekali lagi memajukan wajahnya dan menatap Vane seperti sedang melakukan pengamatan pada sebuah bakteri dengan mikroskop.


"Van, gue tahu lo wanita dewasa. Bahkan kemampuan lo melebihi gue sebagai laki-laki, tapi otak lo...ehh salah...maksud gue, hati lo itu ke mana?"tukas Bobi.


"Hati gue? Maksudnya apaan sih?"kata Vane bingung.


"Susah emang ngomong sama perawan"geram Bobi.


"Apa urusannya perawan sama masalah ini"balas Vane tak kalah sengit.


"Astaga Vanessa Wibowo, lo mau gue kirim ke Prancis apa Rusia? Atau mau gue lempar lo ke Israel? Otak lo lemot banget sih kalau buat mikir urusan hati"gerutu Bobi yang sudah tidak tahan dengan kepolosan terlaknat dari diri Vane.


"Please, jelasin ke gue, Bob"pinta Vane.


"Vane, lo emang wanita dewasa tapi apa lo nggak bisa mikir gimana kerasnya usaha Rey buat nahan diri biar nggak menyentuh lo lebih dari sekedar ciuman"jelas Bobi dengan penuh penekanan di segala aspek perkataannya.


Vane yang awalnya memasang ekspresi datar langsung terkejut dengan pikiran kalang kabut. Sepertinya Vane sudah membuat Rey tersiksa, padahal malam itu Rey akan latihan vokal dengan kru bandnya.


"Lo tahu kan gue sayang sama lo?"sambung Bobi.


"Why is everyone keep saying that..."potong Vane kesal.


Bobi menghiraukan komentar Vane, jelas-jelas Bobi menyayangi Vane seperti pada adiknya apalagi untuk urusan asmara Vane adalah manusia paling awam yang pernah Bobi temui sepanjang hidupnya.


"Sebagai sahabat, gua tanya ke lo, apa lo ada perasaan lebih terhadap Rey daripada hanya sebagai business partner?"


"Yes"desah Vane dan ketika melihat ekspresi Bobi dia buru-buru berkata, "I mean no..."


Tentunya Bobi tidak percaya akan perkataan itu dan Vane tidak menyalahkannya. "Sejujurnya gue nggak tau, Bob."


Bobi menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa, "Well it's not fair. Bagaimana Bu Sarah bisa nyuruh lo buat menjaga hatinya Rey setelah apa yang sudah suaminya lakuin ke Rey. Kenapa dia malah menggunakan lo sebagai tameng"omel Bobi.


Kata-kata Bobi membuat Vane sadar akan apa yang harus dia lakukan. Dia harus membuat Rey dan papanya bicara terang-terangan tentang apa yang mereka rasakan satu sama laim. Mungkin dengan begitu mereka akhirnya bisa akan mengusir apa pun itu yang membuat hubungan ayah dan anak tidak janggal lagi. Dan satu lagi, Vane bisa dengan perlahan-lahan mendekati papah mertuanya itu.


Sebelum Bobi bisa mengatakan apa-apa lagi, buru-buru Vane berdiri dan berpamitan untuk pulang dan meninggalkan Bobi sendiri di dalam kantornya.


"Van, gue bersumpah demi langit dan bumi kalau lo bakal give your heart ke manusia yang bernama Reyvano Millford itu"teriak Bobi ketika Vane baru saja menghilang dari ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2