
Dua minggu berlalu. Sudah empat kali pertemuan kursus memasak Rey. Dan sedikit demi sedikit Rey sudah bisa memasak dan mengerti segala pritilannya. Itu artinya tinggal dua minggu lagi kelas memasaknya berakhir. Rey sebenarnya tidak rela kelas memasaknya akan segera tamat. Tapi mau bagaimana lagi sudah seperti itu kontrak yang disetujui.
*****
Hari ini Vane tidak ada jadwal kursus memasak dengan Rey. Artinya, Vane sibuk di restoran seperti biasa.
"Chef ada yang perlu aku bantu?"tanya Arman sebagai asisten chef.
"Aku akan membuat Beef Burguignon, tolong kamu buat kaldu sopnya. Aku akan bumbui dagingnya"ucap Vane.
"Baik chef"jawab Arman.
Di restoran Vane juga memiliki asisten chef salah satunya Arman. Karena jika ada banyak pesanan maka Vane akan membagi tugas dengan para asistennya.
Setelah masakan yang dibuat matang, Vane memilih istirahat makan siang terlebih dahulu. Walaupun profesinya chef tidak menjamin seorang chef selalu makan makanan yang enak. Terkadang Vane membawa bekal dari rumah atau sekedar makan mie ayam yang ada di depan ruko dekat restoran. Dan hari ini Vane membakal bekal dari rumah masakan mamahnya.
Seusainya makan, ponsel Vane berdering dan ternyata Vane mendapat telfon dsri Pak Indro manager Rey.
"Halo Pak Indro"
"Halo Vane, apa kamu sibuk?"
"Aku sedang istirahat makan siang. Ada masalah?"
"Rey sedang shooting dan photoshoot dengan majalah Harper Bazaar. Dia ingin makan siang dari makanan di restoranmu. Bisakah kamu membuatkannya untuk Rey? Nanti aku suruh sopir mengambil makanannya"
"Dia memesan menu apa?"
"Rey meminta menu Coq au Vin"
"Baik akan aku siapkan dalam 20 menit"
Vane pun memutuskan telfonnya lalu kembali ke dapur untuk membuat Coq au Vin. Coq au Vin merupakan olahan paha ayam yang dimasak dengan anggur merah atau wine bersama beragam bumbu lainnya.
20 menit berlalu makanan Rey sudah matang dan sudah dibungkus dengan rapi dan aman. Kembali telfon Vane berdering.
"Ya Pak Indro. Makanan Rey sudah siap"
"Maaf Vane, sopir yang aku kirim dia tidak bisa ke restoranmu. Ban mobilnya bocor. Bisakah kamu antarkan kesini?"
What? Nganterin makanan? Dikira aku ojek online apa? Merepotkan, gerutu Vane.
"Tapi..."
"Nanti saya lebihkan uang untuk membayar makanan itu plus ongkos kamu kesini"
"Baiklah, kirimkan alamatnya"
Vane mematikan telfon dengan rasa kesal. Bisa-bisanya seorang chef disuruh mengantarkan makanan. Lelucon macam apa itu? Baiklah mungkin hari ini Tuhan memberikan ujian kesabaran untuk Vane. Setelah Vane mendapatkan share location dari Pak Indro, Vane meminta ijin kepada Chef Ronald untuk pergi.
"Nggak waras, nganterin makanan dari Jakarta Selatan ke Jakarta Timur. Nggak sekalian ke Kutub Utara"omel Vane yang sedang menyetir sembari melihat share location di HPnya
25 menit perjalanan akhirnya Vane sampai di lokasi tujuan. Sebuah gedung yang agak mirip stadion menyambut Vane yang baru keluar dari mobil.
"Millford Equestrian Park"ujar Vane membaca tulisan nama gedung itu.
Millford Equestrian Park adalah sebuah arena olahraga berkuda yang berlokasi di Jakarta Timur. Walaupun tempat ini milik keluarga Rey pribadi tapi tetap dibuka untuk umum. Dengan luas 30 hektar ditumbuhi dengan pepohonan rindang terbagi menjadi empat area. Tempat pacuan kuda, villa, taman yang mewah dan luas, serta istal dengan beberapa koleksi kuda pacu.
Vane pun masuk ke dalam gedung itu dan ditemani oleh salah satu karyawan. Karyawan itu mengantarkan Vane ke tempat dimana Rey melakukan shooting. Vane pun melihat banyaknya kru dari majalah Harper Bazaar.
"Pak Indro"panggil Vane menghampiri Indro yang berdiri di pinggir arena pacuan kuda.
"Maaf ngerepotin kamu. Soalnya Rey mintanya makanan dari restoranmu"ujar Indro menerima bungkus makanan dari Vane.
"Ya tidak masalah. Asal jangan terlalu sering"sindir Vane dengan senyum kecut.
Vane menatap Rey yang sedang melakukan shooting dengan menaiki kuda jantan berwarna putih dan memakai pakaian seperti seorang bangsawan.
Keren, batin Vane.
"Rey istirahat 10 menit sebelum masuk sesi foto selanjutnya"ujar fotografer Harper Bazaar yang bernama Wong Sim.
Lalu Rey menuruni kuda dibantu kru yang lain.
"Okey"jawab Rey lalu menghampiri Vane dan Pak Indro.
__ADS_1
"Bawa kuda satu lagi, kita akan masuk sesi foto couple"teriak Wong Sim.
"Hai Vane. Sudah lama tidak bertemu"sapa Rey tersenyum.
"Hahaha, baru dua hari yang lalu kita bertemu"balas Vane tertawa.
Dari arah istal seorang pawang kuda membawa keluar kuda betina menuju arah pacuan kuda. Namun terlihat kuda yang ditumpangi Rey langsung mendengking dan menghentakkan kaki ke depan. Jelas saja, semua kru berlari menjauhi kuda jantan itu. Kuda itu langsung mengamuk menghentakkan kakinya.
"Pak bawa kuda betinanya balik ke kandang"teriak Vane pada pawang kuda.
Tanpa pikir panjang Vane langsung berlari ke arah kuda jantan itu. Vane berdiri di depan kuda itu berusaha meraih tali kekang.
"Vane bahaya!"teriak Rey yang jelas tidak dipedulikan Vane.
Semua orang nampak panik, tapi tidak ada yang berani menjinakkan kuda jantan itu.
"Ayo boy, tenanglah masa cuma liat kuda cantik aja hormonmu langsung naik"ujar Vane pada kuda itu.
Tanpa banyak berpikir Vane langsung menarik tali kekang dengan cepat memijakkan kaki di sanggurdi atau pijakan kaki saat menunggangi kuda. Tapi saat Vane akan naik ke punggung, kuda malah mengangkat salah satu kakinya dan mulai menggoyangkan tubuh bagian belakang. Vane pun jatuh tersungkur ke tanah hingga ikat rambutnya terlepas.
"Shit!!!"umpat Vane penuh kekesalan.
Vane pun menatap tajam mata kuda seakan sedang memarahi kuda itu. Dengan gerakan cepat Vane menaiki kuda, dan langsung menarik paksa tali kekang hingga kuda mendengking dengan keras.
"I'm a Princess"gumam Vane seraya menaiki kuda itu.
Vane pun membawa kuda itu berpacu di arena berpacu layaknya seoramg atlit profesional. Semua mata menatap kagum melihat aksi Vane yang luar biasa. Terlebih lagi melihat penampilan Vane berkuda dengan rambut digerai membuat Vane seperti putri kerajaan. Ditambah terik matahari membuat rambut hitam panjang Vane berkilau.
Cantik, batin Rey kagum.
Setelah kuda jantan itu terkendali, Vane berhenti memutari area pacuan dan memberikan kuda itu pada pawang kuda tadi.
"Bapak harusnya tahu, kalau kuda jantan ini sedang dalam masa kawin. Jadi dia akan sensitif kalau lihat kuda betina"tegas Vane.
"Maafin Pak Mamat, soalnya tadi kuda ini baik-baik aja sebelumnya"ujar Pak Mamat tertunduk menyesal.
"Ya sudah. Tapi jangan keluarin lagi kuda betinanya kalau kalian nggak mau kuda jantan ini ngamuk"tegas Vane menatap fotografer Harper Bazaar.
Vane pun kembali ke tempat di mana Pak Indro dan Rey berdiri. Rey masih menatap Vane mengingat kejadian tadi.
"Hah? Oh kuda tadi..."kata Vane mengerti bahwa Lucas adalah nama kuda jantan tadi.
"Sepertinya kamu sangat berpengalaman dalam berkuda Vane"seru Indro.
"Tidak juga. Hanya senang bermain saja"jawab Vane.
Tentu saja Vane ahli dalam berkuda karena saat kuliah di Prancis Vane aktif mengikuti kegiatan ektrakulikuler berkuda hingga beberapa kali mengikuti perlombaan.
"Sepertinya aku harus kembali ke restoran"ujar Vane melirik jam tangannya.
"Oh ya ini uangnya"ujar Indro memberikan uang pada Vane.
"Sampai bertemu lusa untuk kelas memasak"kata Rey sambil tersenyum.
Vane pun meninggalkan Millford Equestrian Park.
Perempuan misterius, batin Rey.
"Om Indro, tolong cari informasi tentang Vane"pinta Rey.
"Kenapa Rey?"tanya Indro.
"Aku penasaran sama dia. Dia berbeda dengan wanita yang lain. Disaat wanita yang lain berteriak memujaku sebagai aktor dia justru terlihat cuek dan biasa saja"jawab Rey.
"Oke, itu masalah gampang"balas Indro.
*****
Sesampainya di restoran, Vane memilih ke kamar mandi untuk mengganti chef jacketnya yang kotor karena tanah akibat terjatuh tadi.
"Van, lo kenapa kok kotor gini?"tanya Amel.
"Habis main di comberan"jawab Vane seenaknya.
"Ditanya baik-baik malah jawabnya asal"timpal Amel.
__ADS_1
"Amelia Bramantyo anaknya Bapak Suseno Bramantyo, aku itu tadi nggak sengaja jatuh pas mau ngenterin makanan pesenannya artis favorit kamu"jelas Vane.
"Emang nganterin kemana Van?"tanya Amel kepo.
Vane menghela nafas kasar karena Amel banyak tanya. Vane tidak mungkin bercerita mengenai kejadian tadi. Bisa-bisa Amel curiga dengan identitas Vane yang sesungguhnya.
"Aku lupa namanya. Intinya dia lagi photoshoot di kebun gitu. Udah ya aku mau ganti baju, nanti diomelin Pak Aron"ujar Vane memilih pergi agar Amel tidak bertanya lagi.
*****
Jam menunjukkan pukul 12 malam. Vane baru sampai rumah. Hari ini dia pulang larut malam karena restoran sedang ramai-ramainya.
"Huh capek sekali diri ini"ujar Vane merebahkan tubuh di sofa ruang keluarga.
"Eh adik aku baru pulang. Kaya kuntilanak aja kamu pulang tengah malam. Habis dugem?"ledek Satria menghampiri Vane.
"Nggak dugem cuma habis ngepet tadi bentar di Bank BCA"jawab Vane asal.
"Udah sana mandi pakai air anget. Kakak udah siapin kok"kata Satria mengelus kepala Vane.
Mendengar perkataan Satria barusan, Vane langsung terduduk dan menatap Satria.
"Tumben baik kak, pasti ada maunya?"tanya Vane penuh selidik.
"Ya nggak lah. Emang aku Kak Bima"ujar Satria tertawa.
"Ya terserah deh. Makasih ya kak. Vane mandi dulu. Bye"ujar Vane mengecup pipi Satria
"Eh bentar"cegah Satria menahan tangan Vane lalu menariknya duduk di sofa kembali.
"Itu rahang kenapa Van?"tanya Satria menyentuh rahang Vane yang lecet.
Vane pun menyentuh rahangnya yang lecet. Vane paling tidak bisa berbohong terutama pada Satria. Akhirnya Vane pun menceritakan kejadian di Millford Equestrian Park.
"Ya ampun, Van. Kakak nggak bisa bayangin the real action from you. Kamu emang luar biasa"ucap Satria terkekeh seraya mengacungi dua jempol.
"Daripada Vane diem terus kuda itu ngamuk nendangin orang satu persatu. Mending Vane jinakin aja"jelas Vane.
"Pasti kuda itu terpesona sama kecantikan kamu"ledek Satria.
"Idih, lebay banget"kata Vane mencubit lengan Satria.
"Atau jangan-jangan justru Rey yang terpesona sama kamu"goda Satria menatap Vane sambil menaikkan alisnya.
Mendengar ucapan Satria, jantung Vane terasa tersentak.
"Astaga, Vane nggak kepikiran"ujar Vane menepuk dahinya cukup keras.
"Kenapa?"tanya Satria.
"Pasti Rey penasaran sama aku kak. Dia akan mencari tahu informasi tentang aku. Apalagi dia kan punya banyak anak buah"ujar Vane bingung.
"Ngapain kamu cemas? Kan ada kakak. Kakak udah tutup semua informasi tentang keluarga kita termasuk kamu. Jadi semua orang cuma tahu kita keluarga biasa"jelas Satria.
"Wah keren banget kakak aku satu ini"ujar Vane.
"Ya udah sana mandi"perintah Satria.
"Siap Komandan Satria Wibowo"ujar Vane sambil hormat lalu pergi menuju kamarnya.
Benar saja apa yang dikatakan Vane, saat ini Rey sedang menatap hanya selembar kertas pemberian Indro yang berisi informasi tentang Vane. Indro tidak bosa menemukan banyak informasi tentang Vane.
"Maaf Rey, om cuma bisa dapat itu"ujar Indro.
"Nggak papa om. Om itu adiknya mamah jadi sikap om jangan terlalu sungkan sama aku"kata Rey.
"Ya udah om pamit ya. Besok ada jadwal reading sama tim produksi film mendatang kamu"ujar Indro
"Oke om"sahut Rey lalu Indro meninggalkan kediaman Rey.
Rey merasa bingung karena hanya segelintir informasi yang didapat tentang Vane. Lulusan Le Cordon Bleu Prancis dengan gelar Bachelor of Business in Culinary Arts. Putri dari Jatra Wibowo dan Indah Wibowo. Pernah bekerja dibeberapa restoran di Prancis dan mahir berbahasa Inggris dan Prancis. Serta beberapa foto Vane dan rekan-rekannya sesama chef.
"Apa mungkin karena dia orang biasa jadi tidak terlalu banyak informasi tentang dia ya? Beda sama aku yang seorang artis"gumam Rey.
"Ya pasti gitu kan. Tapi tetap saja aku penasaran. Tapi ya sudahlah"kata Rey cuek.
__ADS_1