
Vane terbangun dengan jantung berdebar-debar dan dia membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyadari keberadaannya. Hari sudah sangat dingin, mungkin ini sudah larut malam karena Vane melihat jam sebelas malam dari jam bekernya. Vane melihat bahwa dia sudah tidak memakai pakaian seragamnya mungkin sudah ada yang menggantinya dengan pakaian santai.
Dia kembali mengingat saat dia baru saja masuk ke ruangan papahnya sekembalinya menangkap Adam, dia langsung jatuh pingsan. Dia mendengar samar-samar papah dan kedua kakaknya memanggil namanya dan membopong dia.
Perlahan-lahan Vane mendudukkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya pada sandaran ranjang. Sekarang Vane sudah sadar sepenuhnya, dia berada di kamarnya. Artinya dia berada di rumah orang tuanya.
REYVANO. Nama yang tadinya tidak berarti apa-apa, kemudian terlalu berarti baginya. Seharusnya dia mempercayai kata-kata Bobi dan Dika ketika mereka mengatakan bahwa Rey akan menyakitinya. Perlahan-lahan Vane menapakkan kakinya ke lantai menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air.
Vane baru saja keluar dari kamar mandi saat pintu kamarnya terbuka dan Ana masuk membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air putih.
"Kamu sudah sadar? Kakak pikir kamu bakal bangun besok pagi"kata Ana sambil terkekeh.
"Ya kalau aku mau tubuhku tambah kurus kering kerontang karena nggak makan seharian. Menjalankan misi membuat aku lelah"kata Vane yang sudah duduk di sofa yang diikuti Ana.
"Kamu makan dulu ya, baru minum obat. Kamu itu kelelahan. Sepertinya sebelum kamu menjalankan misi kamu lupa untuk makan terlebih dahulu"jelas Ana memberikan tatakan berisi beberapa butir obat.
"Aku tidak selera makan saat itu. Yang ada dipikiranku bagaimana cara aku menyelesaikan misi itu dalam waktu kurang dari tiga jam"balas Vane yang sudah menggenggam piring.
"Kamu terlalu memaksakan diri sehingga kamu tidak sadar bahwa semua hal itu membuat mental kamu tertekan. Apa ini ada hubungannya dengan berita tentang Rey dan Clara."
Vane langsung menoleh dan menatap sinis pada Ana. Vane sudah lelah mendengar tentang Rey, kini dia sadar bahwa dia sudah diperlakukan seperti orang idiot. Mungkin Rey tidak pernah benar-benar mencintainya. Vane pikir setelah misi ini selesai dia bisa benar-benar hidup dan menjadi istri Rey yang sebenarnya.
"Nggak usah ngelihatin kakak kayak gitu. Kakak udah kebal sama tatapan sinis kamu. Habiskan makanan kamu lalu minum obat. Nanti Amel ke sini bawain kamu susu, kakak mau tidur. Kasihan baby kakak. Selamat malam"ucap Ana dengan lembut lalu mencium kening Vane. Ana sebagai anak tunggal sangat mengharapkan memiliki saudara perempuan. Maka dari itu dia sangat menyayangi Vane.
Ana sudah menghilang dari hadapannya, kini Vane mencoba menghabiskan sepiring makan malam dan meminum obat dengan baik layaknya manusia.
*****
"Berengsek lo!"
BUGH
Bobi menonjok Rey dengan begitu mantap saat Rey beberapa jam lalu datang ke studio muay thainya untuk mencari Vane. Bobi tidak peduli reputasi Rey yang seorang selebritis, karena dia hanya peduli dengan kondisi sahabatnya. Sudah dua hari Vane tidak menghubunginya. Dan dia merasa sangat khawatir ketika mrlihat berita itu di tabloid.
"Lo memang nggak tahu diri. Harusnya dulu gue sama Dika nggak ngasih izin Vane buat nikahin lo. Dasar laki-laki nggah tahu diutung. Lo pikir Vane cewek apaan? Bisa lo pakai seenak udel lo habis itu lo buang seenaknya. Asal lo tahu, satu pukulan dari gue nggak ada artinya dibandingkan apa yang akan lo terima dari papah dan kakak-kakaknya."
Setelah Bobi melayangkan pidato kepresidenannya kepada Rey, dia mengusir Rey secara paksa, agar pria itu berusaha sendiri mencari tahu keberadaan Vane. Dan sekarang Rey sedang menyetir mobil dengan perasaan kalut. Dia harus bertanya kepada siapa, yang memang masih mau memberi tahu keberadaan istrinya sekarang. Dan terlintaslah nama Amel dipikiran Rey. Dia tahu semarah-marahnya Amel nanti, wanita itu akan tetap membiarkan dia bertemu dengan Vane.
Rey segera meraih HPnya dan menelfon Amel. Sementara Amel sedang mengaduk susu di dapur yang dia buat untuk Vane. Melihat kondisi Vane yang datang ke rumah dalam keadaan pingsan masih memakai seragam BIN lengkap membuat Amel akhirnya mengetahui bahwa Vane adalah bagian dari BIN. Dia tidak menyangka bahwa misi yang baru saja Vane lakukan itu membuat dia harus terjebak dalam pernikahan seperti ini.
Amel menghentikan proses mengaduk susu ketika mendengar dering HPnya. Dia segera meraih HPnya dan terkejut mrlihat nama Rey yang tertera pada layar HP.
"Halo, ini Rey." Terdengar suara Rey dari seberang.
Amel merasa sangat marah saat melihat berita Rey dengan Clara. Rasanya dia ingin membunuh pria itu sekarang juga.
"Ya."
"Apa Vane ada di sana?" Rey bertanya ragu-ragu.
"What will you do if she is here?"
"I want to talk with her."
Tak disangka-sangka Amel justru tertawa, tapi tawanya terdengar seperti suara tawa hantu yang akan mencekik manusia di dalam film horor.
__ADS_1
"Jika kamu punya nyali, datanglah ke sini"tutup Amel dengan nada menantang.
Amel tersenyum sinis, dia tahu Rey akan datang ke sini, dan pasti tiga laki-laki keluarga Wibowo akan memberi sambutan yang sangat istimewa. Setelah susu jadi, Amel membawanya ke kamar Vane.
"Hai Van." Amel membuka pintu kamar sambil tersenyum kepada sahabatnya.
Dia meletakkan segelas susu pada meja yang ada di samping kasur dan duduk di sebelah Vane.
"Sorry"ucap Amel yang mendapat tatapan bingung dari Vane.
"For what?"
"Gue nggak tahu kalau lo ternyata anggota BIN, dan gue merasa sakit ngelihat keadaan lo yang pingsan tak berdaya ditambah lagi kelakuan Rey yang, shit! Rasanya gue kepengin bunuh dia sekarang"cecar Amel penuh emosi.
Vane hanya terkekeh dengan nada miris seperti menertawakan dirinya sendiri.
"Gue harus pulang"kata Vane hendak bangkit.
"Pulang ke mana?"tanya Amel bingung.
"Rumah gue lah"balas Vane.
"Lah ini kan juga rumah lo. Maksud lo rumah Rey?"kata Amel meyakinkan.
"Do you think that's good idea?"lanjut Amel dengan mata tak berkedip.
"Gue perlu bicara sama dia dan menyelesaikan masalah ini yang mungkin cuma salah paham aja."
"Bagaimana mungkin seorang suami selingkuh karena salah paham?"ujar Amel terkekeh. Sekali lagi dia menertawakan kebodohan sahabatnya ini. Mungkin karena otaknya lelah setelah selesai bekerja menangkap penjahat.
"Van, mana ada laki-laki yang ngaku kalau mereka sedang selingkuh? Itu sebabnya kenapa jenis hubungan seperti itu disebut sebagai selingkuh, karena si istri nggak pernah tahu."
"Gue harus pulang."
"Van..."
"Mel, I need to do this"tegas Vane.
Vane tahu bahwa Amel tidak puas dengan keputusannya, "Tadi Rey telfon. I think he's on the way. He can take you home."
"Rey is coming?"tanya Vane terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Rey akan datang ke rumah orang tuanya, itu artinya dia harus siap melihat wajah Rey babak belur.
Tiba-tiba Amel berjalan menuju jendela kamar Vane yang mengarah langsung ke halaman depan. Kemudian berteriak, "Gila. He's really here."
Vane pun mengikuti Amel menuju jendela. Dia melihat Rey melompat turun dari Ranger Rovernya dan berjalan cepat menuju rumah. Tidak lama kemudian dia mendengar bel rumah berbunyi.
*****
Rey merasa super nervous dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, tapi itu tidak ada bandingannya dengan ketika dia membunyikan bel rumah itu dan dengan harap-harap cemas menunggu hingga pintu dibuka. Dan ketika dia akan memencet bel untuk kedua kalinya dia melihat mamah mertuanya membuka pintu.
Indah mempersilahkan Rey masuk tanpa berkata, dia hanya membuka pintu lebar-lebar lalu Rey mengambil lima langkah masuk ke dalam rumah melihat tiga orang pria sudah berdiri bersedekap menatapnya.
BUGH
BUGH
__ADS_1
BUGH
Rey mendapatkan dua pukulan di pipi kanan dan kiri dari Satria dan Bima, lalu satu pukulan di perut dari Jatra. Rey tidak pernah merasa terancam seperti ini. Harusnya dia memperhitungkan segalanya sebelum memulai sesuatu. Dia melupakan bahwa di keluarga Vane ada tiga laki-laki yang siap menghajarnya jika dia berani menyakiti putri kesayangan mereka.
"Sudah puas kalian memukul suamiku? Apakah tidak ada yang mau mematahkan tangan atau kakinya? Atau mungkin lehernya sekalian?" Vane mengatakan itu sambil berjalan dari tangga menuju ruang tamu. Nada bicaranya datar namun terdengar dingin dan menusuk.
Rey menatap istrinya, wajahnya pucat seperti orang yang sedang sakit, matanya merah seperti orang habis menangis, dan sekarang dia semakin merasa bersalah terhadap istrinya. Dia ingin menarik Vane ke dalam pelukannya mencium keningnya dan meminta maaf berkali-kali sampai Vane mau memaafkannya. Tapi dia harus mengubur keinginan itu jika dia tidak mau jika Vane yang mematahkan lehernya. Suatu hal yang sepatutnya dia terima atas senua kesalahan yang dia perbuat.
Otak Vane sudah kembali pada kondisi semula setelah dia menarik nafas dalam-dalam akhirnya kata yang keluar dari mulutnya adalah, "I want to go home", selesai mengatakan itu Vane berjalan melewati Rey keluar dari rumah dan menuju mobil.
Awalnya Rey hanya bisa menatap punggung Vane dengan bingung, tapi kemudian dia sadar dan segera mengikuti Vane. Sementara Amel memberi isyarat berupa gelengan kepala kepada laki-laki keluarga Wibowo untuk membiarkan pasangan itu pergi.
*****
Rey tahu bahwa Vane sedang jengkel padanya. Selama ini dia tidak pernah peduli kalau seorang wanita jengkel padanya. Tapi hari ini dia harus memikirkan cara untuk menangkan Vane.
"Bisa kita bicara?"tanya Rey memulai percakapan.
Vane hanya menoleh memberi tatapan dingin lalu kembali menghadap ke depan.
"Aku minta maaf karena kamu harus melihat foto aku dengan Clara. Aku menemani dia ke dokter anak hari itu. Daren anak Clara lahir dengan kondisi tidak sehat, dan Dani menolak bertanggung jawab. Clara nggak punya siapa-siapa yang bisa diminta tolong, jadi dia datang kepadaku dan aku nggak bisa nolak. Aku tahu bahwa aku seharusnya bilang ke kamu tentang semua ini sebelumnya, tapi aku pikir aku akan menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan kamu di dalamnya."
Vane hanya diam mendengarkan penjelasan Rey. Dia lebih suka jika Vane memaki-makinya daripada diam, dan itu membuatnya khawatir.
"Apa kamu masih punya rasa terhadap Clara? Aku pikir jika sebaiknya kita sudahi hubungan ini jika kamu masih memiliki rasa terhadap Clara. Aku tidak pernah mau bersaing dengan wanita lain hanya untuk memperebutkan seorang laki-laki. Kalau kamu mau aku nggak akan jadi penghalang antara kamu dengan Clara dan dalam waktu 24 jam, aku akan pergi dari hidup kamu."
Mendengar pernyataan Vane ini, Rey langsung panik, "No, no, no... Please don't do that. Aku nggak punya rasa apa-apa untuk Clara. Nggak ada sama sekali."
Melihat Vane masih kelihatan ragu, Rey mencoba mengontrol kepanikannya, "Nggak ada wanita lain yang pernah terlintas di dalam pikiran aku semenjak kita menikah. Soal Clara, aku hanya mencoba membantu seorang teman. Dan aku sudah meminta Clara untuk menyelesaikan masalahnya. Dan aku sudah memberi ultimatum bahwa dia harus membersihkan nama baik aku dalam waktu 48 jam, jika dia tidak melakukan itu, maka aku akan menggelar konferensi pers, tidak peduli jika itu menghancurkan nama Dani."
"Kalau kamu memang hanya mau membantu Clara, kenapa harus melakukan ini dengan sembunyi-sembunyi, nggak terus terang kepadaku?"tanya Vane dengan nada sinis.
"Karena aku mencintai kamu....setengah mati dan kalau kamu tahu apa yang sedang aku lakukan, kamu pasti akan mengamuk. Kamu akan minta aku untuk membantu Clara, dan aku akan membantah perintah kamu karena aku merasa bersalah karena tidak membantunya. Kamu akan merasa tersinggung karena aku lebih memilih mengutamakan mantan pacar daripada kamu, dan kamu kemungkinan akan meninggalkan aku. Dan aku nggak tahu apa yang akan aku lakukan kalau sampai itu terjadi."
Vane tidak memberi reaksi apa-apa. Bukannya dia tidak tahu apa yang terjadi antara Clara dan Rey, toh dia sudah melihat semua ini pesan di HP Rey. Tapi yang menjadi masalah kenapa Rey tidak jujur kepadanya.
"Can you say something?"tanya Rey yang masih terdengar khawatir.
"Apa anak Clara baik-baik saja?"balas Vane dengan nada dingin.
Rey mengangguk lalu Vane terdiam lagi.
"Vane, aku minta maaf untuk semuanya." Rey melihat Vane mengangguk dan mereka duduk dalam diam selama perjalanan.
Vane menoleh ke arah Rey dan melihat tangan kiri Rey terlihat merah. Walaupun keadaan mobil gelap namun cahaya dari lampu penerangan jalan dapat membantu Vane untuk melihat tangan Rey.
"Tangan kamu kenapa?"
"Hah?"tanya Rey balik.
Vane menunjuk kepada buku jari tangan kiri Rey. Rey tidak mungkin mengatakan kalau itu hasil dari adu jotos dengan Dani kemarin malam.
"Oh..nothing"balas Rey.
Sekarang bukanlah saatnya untuk terlihat menjadi pahlawan karena sudah berhasil memukul lawannya. Rey harus pikirkan bagaimana cara agar Vane bisa memaafkannya.
__ADS_1
Dan Vane juga memikirkan apa yang akan terjadi besok pagi setelah tertangkapnya Adam.