Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 26


__ADS_3

Dan seminggu setelah lamaran, desas-desus tentang Rey dan "pacar" barunya mulai menyebar, tetapi tidak ada yang bisa mengindentifikasikan siapa wanita tersebut. Hal ini membuat Rey tersenyum. Dia tidak tahu dan tidak peduli siapa yang memulai menyebarkan desas-desus itu, yang dia mau hanyalah agar gosip itu tersebar dan tersebar begitu cepat.


Atas saran Pak Indro, Vane dan Rey mencoba mengenal satu sama lain lebih jauh. Dimulai dengan Rey yang meminta Vane untuk datang ke rumahnya untuk perundingan agar mereka sama-sama menuliskan nama orang-orang yang mereka akan undang pada pernikahan mereka. Rey tidak ingin melakukan perundingan ini di rumah Vane karena akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti pertengkaran mereka yang bisa saja mengatakan bahwa pernikahan ini hanya pura-pura.


Meskipun Vane datang dari keluarga besar, tapi daftar yang dibuatnya berhenti pada angka 200, sedangkan daftar yang dibuat oleh Rey sudah mencapai angka 600. Ketika Vane menanyakan siapa saja yang ingin dia undang ke pernikahan mereka, Rey dengan cueknya menjawab bahwa mayoritas dari undangan itu akan jatuh ke kalangan artis, kolega bisnis, dan media.


Ketika Vane mengemukakan pendapat bahwa Rey tidak perlu mengundang sebegitu banyak orang untuk sebuah pernikahan yang akan diakhiri dalam masa kurang dari setahun lagi, Rey langsung kelihatan sangat tersinggung sebelum kemudian menjawab bahwa pernikahan ini adalah atas biayanya dan dia bisa mengundang siapa saja yang dia mau. Vane yang merasa kesal akan komentar itu membalas dengan mengutarakan bahwa dia adalah laki-laki dengan pemikiran dangkal yang mengukur semuanya dengan uang.


Selama beberapa hari Rey tidak menghubungi Vane dan Vane yang merasa bahwa Rey perlu diberi pelajaran tentang kelakuannya yang mau menang sendiri, menolah menelfonnya terlebih dahulu. Akhirnya di hari kelima, Arman menghampiri Vane yang baru saja memberi instruksi kepada semua chef untuk memulai pekerjaan dengan senyum lebar. Dia membawa serangkaian bunga lily dengan kartu bertuliskan "I'm sorry" dan di bawah kata-kata itu ada inisial huruf "R".


"Chef Vane"panggil Arman.


"Ya ada apa?"tanya Vane sedikit terkejut lalu meninggalkan kerumunan para chef yang baru saja dia kumpulkan dan menghampiri Arman.


"Ada titipan untukmu"kata Arman menyodorkan buket bunga itu.


Vane menerima dengan senyum tipis lalu membaca isi kartu yang terselip di tangkai bunga. Pertama-tama Vane merasakan kemenangan karena Rey akhirnya menyadari kesalahannya, kemudian perlahan-lahan disusul dengan rasa berbunga-bunga.


Dia baru saja akan menelfon Rey untuk mengucapkan terima kasih atas bunganya ketika dia sadar akan satu hal, yaitu bahwa Rey sedang bertingkah laku sebagai laki-laki pengecut yang memilih jalan pintas untuk meminta maaf. Dengan menggunakan bunga dan kartu, Rey sudah meminta maaf tanpa kehilangan harga dirinya.


Dasar egois, geram Vane.


Vane kemudian meminta Arman untuk meletakkan bunga itu sejauh mungkin dari hadapannya, agar dia tidak bisa melihat lagi bunga-bunga itu.


Dua hari berlalu dan Vane masih kesal demgan perlakuan Rey ketika orang yang membuatnya kesal itu menelfonnya. Vane berdebat apaka dia mau mengangkatnya atau tidak, tapi keingintahuan akan apa yang akan dikatakan cowok itu padanya menang dan Vane menjawab panggilan itu.


"Vane?" Terdengar suara Rey di ujung saluran telefon.


"Ya, ada apa Rey?"jawab Vane dengan suara setenang mungkin.


"Kamu sudah terima bunga yang aku kirim?"


"Sudah."


"Kamu sudah baca pesan dari aku?"


"Sudah."


"Terus?"


"Ya nggak terus"tandas Vane.


Setelah mengucapkan tiga kata itu Vane berusaha sebisa mungkin menahan tawanya, dia berhasil melakukannya selama lima detik sebelum dia mulai tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Dia tidak tahu kenapa dia mulai tertawa dan tidak bisa berhenti. Mungkin karena mendengar suara Rey yang terdengar seperti layaknya laki-laki yang tahu bahwa mereka salah dan sedang mencoba meminta maaf, tetapi tidak tahu apakah permintaan maafnya akan diterima.


Rey yang kemudian sadar bahwa Vane sedang tertawa juga ikut tertawa. Alhasil, selama lima menit ke depan mereka tertawa bersama. Sangat romantis dan unik bukan?


"Aku minta maaf soal kejadian tempo hari"ucap Rey setelah tawa mereka reda.


"Boleh aku ke rumah kamu nanti malam? Kita perlu menyelesaikan daftar tamu supaya kita bisa mulai mikirin soal venue"lanjutnya penuh harap.


Bersama dengan tawa itu, entah bagaimana, kemarahan Vane pun surut, "Oke, asal kamu berhenti menyinggung-nyinggung soal uang kamu lagi"balas Vane.


Rey terdiam beberapa detik, seakan-akan dia mempertimbangkan apakah dia mau protes atas tuduhan ini, tapi akhirnya Vane mendengarnya berkata, "Iya, aku janji."


"Oke, aku tunggu kamu nanti malam"balas Vane.


*****


Malam itu mereka menyelesaikan daftar tamu dengan damai dan mulai membicarakan tentang gedung. Setelah diskusi panjang kali lebar kali tinggi, akhirnya diputuskan acara akan diadakan di rumah Rey dengan begitu, rema garden party pun tercipta.


"Apa lagi yang perlu kita bicarakan?"tanya Rey sambil menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa. Dia mendesah panjang sebelum kemudian melepaskan kacamatanya dan menutup matanya.


Percakapan tentang pernikahan mereka ini sudah melelahkan mereka berdua. Vane tahu bahwa Rey memintanya untuk memakai wedding organizer, tapi Vane adalah seseorang yang harus memiliki kontrol dalam situasi apapun. Terlebih lagi dia tidak bisa menyerahkan pernikahannya begitu saja pada wedding organizer yang itungannya masih orang asing baginya.


"Oh ya Rey, aku ingin untuk acara pernikahan dilaksanakan secara private mungkin. Aku tidak ingin kalau wajah keluargaku terekspos oleh media. Jika nanti para wartawan ingin melakukan wawancara, kita bisa melakukan itu sebelum acara resepsi dimulai. Intinya aku tidak mau kalau pernikahan kita di liput secara live. Ini acara pernikahan bukan konser musik"seru Vane.


"Aku tahu kalau aku akan menikah dengan seorang selebritis yang tidak bisa jauh dari incaran media tapi aku juga tidak ingin jika privasi keluargaku diganggung oleh mereka. Dan satu lagi jika kamu ingin membagikan foto pernikahan kita dengan publik, jangan kamu sebar foto keluarga cukup foto kita berdua saja"lanjutnya dengan tatapan tegas.


Rey menghela nafas panjang, dia semakin yakin bahwa Vane sebisa mungkin untuk menjaga privasi kehidupannya dari usikan para awak media. Rey juga berpikir hal yang sama, mengingat papahnya akan kembali ke Indonesia otomatis papahnya akan meminta jangan ada media yang meliput dirinya atau bahkan jangan sampai foto wajahnya tersebar luas di publik.


"Baiklah itu tidak masalah. Kita bisa melakukan konferensi pers saja sebelum waktu acara resepsi dimulai. Dan aku akan meminta Om Indro untuk menyiapkan tempat konferensi pers nantinya. Selain itu aku akan meminta penjagaan agar tidak ada media yang meliput pernikahan kita tanpa sepengetahuan kita"jawab Rey penuh keyakinan.


Vane melirik jam dinding dan berkata, "Kamu sebaiknya pulang, sekarang sudah jam sepuluh lewat. Kita bicarakan hal lainnya besok lagi saja."


Dia kemudian berdiri dan mengangkat cangkir kotor yang tadinya berisi kopi, ke dapur. Menyadari apa yang dilakukan Vane, Rey langsung berdiri dan mengjulurkan tangannya untuk mengambil cangkir itu dari tangan Vane, tetapi Vane menolak bantuannya.


Sambil berjalan ke dapur mendengar Rey membalas, "Aku biasa kok pulang malam. Nggak ada yang nyariin juga di rumah."


Vane menggeleng sambil tersenyum, rupanya Rey sudah salah paham dengan kata-katanya. Dia berjalan kembali ke ruang tamu dan sambil bertolak pinggang di depan Rey.


"Aku yakin kamu memang biasa pulang malam, tapi aku nggak biasa ada laki-laki yang bukan keluarga bertamu di rumah aku selepas jam sepuluh malam. Apalagi semua keluargaku sudah tidur" jelas Vane.


"Tapi aku ini tunangan kamu, I'm practically family"bantah Rey yang sudah kelihatan sangat tersinggung karena Vane pada dasarnya sudah mengusirnya.


Vane menghembuskan nafas putus asa. Masih ada banyak hal yang harus dipelajari Rey tentang dirinya, dan dia tentang Rey. Mereka harus lebih mengenal satu sama lain agar tidak ada lagi kesalahpahaman tentang hal remeh seperti ini.

__ADS_1


"Rey, ada satu hal pribadi yang aku mesti bicarakan sama kamu, dan aku minta kamu nggak merasa tersinggung setelah mendengar ini. Bisa?"tanya Vane dengan sedikit ragu.


"Oke"ucap Rey sedikit curiga.


"Aku ada masalah dengan uang kamu"kata Vane agak takut-takut.


"Uang aku?"


"Uang adalah isu yang sedikit sensitif untuk aku," Vane mencoba menjelaskan.


"Oke..."


"Aku adalah wanita mandiri yang mampu membiayai segala sesuatu sendiri. Oleh karena itu, aku merasa tersinggung setiap kali kamu menyebut-nyebut betapa banyaknya uang kamu. Aku mau kamu mengerti bahwa aku setuju dengan perjanjian kita, bukan karena uang kamu, tapi karena kita bisa membantu satu sama lain. So, kalau kamu mau pernikahan kita ini kelihatan tulus dan bisa dipercaya di mata masyarakat, kamu jangan bikin aku kesal dengan menyingung-nyinggung masalah uang kamu lagi. Setuju?".


Rey kelihatan mempertimbangkan dengan seksama sebelum mengangguk. Dia teringat betapa marahnya Vane setiap kali dia menyebut-nyebut tentang uangnya, kini dia mengerti alasannya.


"Setuju"ucap Rey.


Kemudian, "Boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?"


Vane menatapnya terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Rey juga ingin mengatakan sesuatu, tapi Vane mengangguk.


"Kalau kita benar-benar mau menolong satu sama lain dengan membuat huhungan kita ini kelihatan tulus dan bisa dipercaya di mata masyarakat....aku nggak mau dengar kamu nyebut-nyebut hubungan kita sebagai kawin kontrak. Mulai sekarang kita adalah Rey dan Vane, dua orang yang akan menikah bulan Desember. Setuju?"kata Rey agak berbisik.


Rey menatap Vane dengan tatapan jenaka saat Vane sendiri berusaha untuk menahan senyum. Vane berpikir sejenak sebelum kemudian menjulurkan tangan dan berkata, "Setuju."


Dan dengan jabat tangan itu, Rey merasa seperti ada kekuatan gaib yang membuat dia merasa ada getaran aneh yang dia rasakan di dalam tubuhnya. Tapi perkataan Vane selanjutnya menghapus rasa gaib itu seketika.


"Oke sekarang kamu keluar dari rumah aku"kata Vane menunjuk pintu rumah.


Rey berusaha tidak menggeram ketika bangun dari sofa dan melangkah keluar rumah diikuti Vane yang hendak menutup pintu rumah. Rey menghentikan langkahnya saat sudah berdiri di teras rumah kemudian dia berbalik badan menatap Vane yang sedang berdiri berkecak pinggang di depan pintu.


Rey berusaha menahan rasa jengkelnya saat melihat wajah sangar wanita di hadapannya yang secara terang-terangan sudah mengusirnya dari rumah ini. Perasaan jengkel seketika berubah menjadi perasaan ingin mencium wanita itu karena Rey merasa gemas melihat pipi Vane yang merona.


"Kenapa kamu ngelihatin aku kayak gitu?"tanya Vane sedikit curiga.


Rey tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya acuh, dan tiba-tiba dengan gerakan kilat Rey mendekati Vane dan langsung mencium pipi kanannya hingga membuat Vane terkejut hingga diam mematung.


Sebelum Vane sadar dari keterkejutannya dan akan mengamuk atau bahkan memukul Rey habis-habisan, dia langsung berlari secepat mungkin menuju mobilnya dan sebelum dia meninggalkan rumah tunangannya, Vane sudah berteriak menyebut namanya.


"REYVAAAANOOOO!!!!"teriak Vane dengan keras seperti orang kesurupan dan Rey tertawa terbahak-bahak di dalam mobil karena merasa puas ketika melihat Vane antara kesal atau malu.


Rey pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Vane. Sementara Vane masih berdiri mematung di depan pintu rumah sambil memegangi pipinya yang di cium oleh Rey secara tiba-tiba yang berhasil membuat serangan dadakan pada jantungnya. Vane tahu kalau wajahnya pasti sudah memerah bahkan bulir keringat membasahi wajahnya. Tapi yanpa dia sadari senyum kecil terukir di sudut bibir merahnya.

__ADS_1


__ADS_2