Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 9


__ADS_3

Pagi ini menjadi hari terakhir kelas memasak Rey. Kali ini, Vane tidak akan membantu Rey sama sekali. Karena hari ini aksi memasak Rey akan ditonton oleh Pak Indro selaku manager, Upi Novianto selaku sutradara, dan Pak Roni selaku pimpinan produksi dari Mill Films.


Hari ini Rey akan memasak salah satu dessert dari Prancis yaitu Creme Caramel. Sebelum memulai memasak, Vane sudah lebih dulu memberi arahan pada Rey tips dan trik untuk membuat dessert itu. Vane juga memberi motivasi agar Rey fokus. Karena hari ini adalah penentu bagi Rey dan juga Vane sebagai guru memasak.


Setelah dua jam Rey memasak akhirnya dia menghidangkan makanannya di meja makan untuk dicicipi. Rasa gugup mendera Rey. Rasanya seperti ikut kompetisi MasteChef.


"Bagaimana?"tanya Rey.


"Chef Vane duluan"pinta Upi Novianto.


"Untuk proses memasaknya sudah lumayan luwes. Cuma masih keliatan gugup sedikit. Rasa makanannya ya lumayanlah"ujar Vane datar.


"Sepertinya Rey lebih suka memasak daripada akting. Apalagi kalau chefnya cantik"ledek Roni terkekeh menatap Rey.


Vane yang merasa disindir hanya menatap dingin Pak Roni yang sedang menikmati dessert buatan Rey.


"Menurutku untuk rasa bukan point utama. Yang terpenting saat adegan memasak aktingmu bisa meyakinkan"jelas Upi Novianto.


"Terima kasih Vane sudah sabar mengajari Rey"ucap Indro.


"Setelah ini kamu akan dapat fee yang aku janjikan"kata Rey.


"Oh sepertinya aku menangguhkan bayaranku"ucap Vane yang disambut tatapan bingung empat pria dihadapannya.


"Maksudku, aku akan menerima bayaranku jika akting Rey saat memasak bisa memuaskan Mba Upi sebagai sutradara"jelas Vane.


Empat orang itu menatap Vane dengan penuh kekaguman. Baru pertama kali mereka melihat seorang wanita yang begitu sederhana, cantik, dan mandiri. Terlebih lagi, dia tidak heboh saat melihat Rey. Karena hampir 90% wanita Indonesia akan berteriak histeris jika bertemu dengan Rey.


"Kalau begitu Chef Vane akan mendapatkan undangan khusus untuk gala premier film Rey mendatang"seru Upi Novianto.


"Kapan rencananya film itu akan dirilis?"tanya Vane.


"Kemungkinan bulan Oktober"jawab Upi Novianto.


"Saya akan merasa sangat terhormat bisa datang ke acara gala premier film besutan sutradara terbaik seperti Mba Upi"tutur Vane.


Setelah acara makan selesai, Vane pun berpamitan dengan keempat orang itu. Vane menyalami mereka satu persatu. Dan saat menyalami Rey ada rasa tidak rela berpisah dengan Rey. Begitu juga yang Rey rasakan. Rey menatap nanar mata Vane. Vane berusaha bersikap biasa saja karena tidak mau larut dalam emosi.


"Maaf, saya harus kembali ke restoran"ujar Vane melepas jabatan tangan Rey.


"Hati-hati"seru mereka berempat.


*****


Saat di restoran, entah mengapa perasaan Vane menjadi sedih. Seperti ada rasa kehilangan. Entah mengapa Vane jadi memikirkan Rey. Mana mungkin Vane akan merindukannya karena kelas memasaknya berakhir. Inikan hanya urusan bisnis tidak lebih dari itu. Vane berkali-kali menepis perasaan aneh yang dirasakannya. Hal ini membuat dia tidak fokus memasak.


"Vane..."panggil Amel.


"Kenapa?"tanya Vane dengan suara lirih.


Amel mengernyitkan dahi, tidak biasanya Vane menjawab panggilannya dengan suara lirih. Apalagi Vane sedang memasak. Karena Vane akan berteriak jika ada yang memanggilnya saat memasak. Dia paling tidak suka jika ada yang mengganggunya saat memasak.


"Lo sakit Van? Kenapa keliatan lesu gitu?"tanya Amel.


"Nggak papa kok. Cuma capek aja kok"jawab Vane dengan senyum terpaksa.


"Kalau lo capek, biar gue gantiin lo masak. Gue nggak suka liat lo diem kaya orang ilang"ucap Amel.


"Santai aja Mel. Gue baik-baik aja kok. Mumpung hari ini gue pulang sore bisa santai-santai di rumah"jelas Vane.


Amel pun hanya mengangguk mendengar penjelasan Vane. Kebetulan hari ini Amel dan Vane mendapat jadwal kerja shift pagi jadi mereka berdua bisa pulang sore hari. Dan saat jam pulang kerja tiba, mereka keluar dari restoran bersama.


"Mel lo pulang sama siapa?"tanya Vane.


"Tadi gue dianter mamah. Cuma katanya dia ada acara ibu-ibu bhayangkari. Jadi nggak tahu deh dijemput sama siapa"kata Amel dengan wajah sendu.


Tak berapa lama ada sebuah mobil parkir di depan restoran. Vane mengenal mobil itu karena tak lain Satria yang datang. Satria pun keluar dari mobil dan menghampiri Vane.


"Pulang sekarang?"tanya Satria.


"Amel boleh bareng nggak? Kasian mamahnya lagi ada acara ibu-ibu bhayangkari nggak ada yang jemput"kata Vane melirik Amel.


"Nah kebetulan kakak mau nepatin janji buat traktir kamu mie ayam di depan kantor"ujar Satria tersenyum lebar.


"Wih serius? Oh my God, enak nih sore-sore makan mie ayam pedes. Yuk Mel ikut sekalian"ajak Vane semangat 45.


"Wah asik makan gratis"ujar Amel girang.


"Haduh anak komisaris sukanya yang gratis-gratis"ledek Vane.


"Ya biarin"balas Amel menjulurkan lidahnya.


Satria hanya tersenyum tipis melihat perdebatan dua gadis di depannya.


"Hitung-hitung gue deket sama kakak lo"bisik Amel yang berhasil membuat Vane menyunggingkan bibirnya.


Akhirnya mereka bertiga pun pergi meninggalkan restoran. Sesampainya di kantor BIN, Vane langsung mengajak Amel menuju warung mie ayam yang ada diseberang kantor. Sementara Satria mau memanggil Bima untuk bergabung.


"Pak pesen mie ayam empat ya. Dua nggak pakai acar. Yang satu sawinya yang banyak pake banget"ujar Vane.


"Siap Neng"sahut si penjual mie.


Amel dan Vane pun memilih tempat duduk. Lalu pelayan warung menanyakan pesenan minum. Vane memesan es teh dua dan es jeruk dua. Tak berapa lama minum yang dipesan pun datang.


"Jadi itu kantor BIN, Van?"tanya Amel melirik markas besar BIN.


"Iyaa"jawab Vane singkat.


"Lo pernah masuk kesana?"tanya Amel.


Vane pun tersedak oleh es teh yang dia minum karena mendengar pertanyaan Amel. Tentu saja, Vane pernah bahkan sering masuk ke sana. Karena Vane bagian dari BIN. Tapi Vane menyembunyikan itu dari Amel.

__ADS_1


"Pernah dulu waktu kecil, diajak papah. Habis itu nggak pernah. Itu kantor rahasia banget. Apalagi seleksi masuk BIN gue aja nggak tahu seleksinya gimana. Beda banget sama sekolah kedinasan yang lain contohnya kaya STAN"jelas Vane yang membuat Amel mengangguk mengerti.


Amel sebagai anak komisari polisi pun sedikit mengetahui kehidupan seorang intel sangatlah rahasia. Bahkan papah Amel sendiri pun jika mengungkap kasus kejahatan dan meminta bantuan intel, tidak pernah melihat wajah anggota intel itu. Setelah obrolan mereka usai, Satria dan Bima pun ikut bergabung dan waktu yang pas karena mie ayam pesanan mereka juga datang.


"Kak nambah ya"ucap Vane.


"Lah semangkok kurang Van? Astaga adik aku, itu lambung apa gentong air"celetuk Bima.


"Kakak udah janji traktir mie ayam loh"ujar Vane menatap tajam Bima.


Akhirnya Bima pun mengalah pada adik bungsunya itu. Setelah selesai makan mie ayam, Bima pun membayar pesanannya. Amel melirik sekilas isi dompet Bima yang terdapat Kartu The Black Card dari American Express. Amel membelalakkan matanya melihat ada kartu kredit tanpa limit di dompet Bima.


"Van, kok Kak Bima bisa punya black card sih? Diem-diem kakak lo sultan ya?"bisik Amel.


Mendengar pertanyaan Amel, Vane langsung melirik dompet Bima. Lalu Vane melihat tatapan curiga dari mata Amel.


"Van, kamu ikut kakak ya. Biar Satria yang nganter Amel"ucap Bima yang membuat Vane bernafas lega karena tidak perlu menjawab pertanyaan Amel.


"Oke kak. Kak Satria anterin Amel dengan selamat, sehat, sentosa, dan sejahtera. Jangan sampai lecet"kata Vane dengan tatapan seperti ibu tiri.


"Iya tau. Yuk Mel"tukas Satria yang langsung menggandeng tangan Amel dan langsung membuat Amel deg-degan.


Ya ampun, Kak Satria jangan bikin baper dong, batin Amel.


Satria pun membawa Amel ke mobilnya lalu melajukan mobil meninggalkan parkiran kantor.


"Kak Bima ngapain nyuruh Kak Satria nganter Amel?"tanya Vane.


"Biar mereka ada waktu berdua"jawab Bima.


"Berdua?"tanya Vane yang belum paham.


"Dari tadi Satria itu ngeliatin Amel terus pas makan. Kakak rasa dia suka sama Amel"jawab Bima.


"Kayaknya, Komandan Satria jatuh cinta nih. Uh gosip terhangat. Siap-siap aja patah hati berjamaah"ujar Vane tertawa.


Satria merupakan sosok pria yang tampan, mapan, dan fisik mumpuni. Banyak wanita yang ingin dekat dengannya. Tapi sangat sulit mendekati Satria. Karena sifatnya yang sangat tertutup. Tapi saat mengenal Amel, Satria memperlakukan Amel sama seperti dia memperlakukan Vane. Itu artinya Amel sosok istimewa.


Di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi antara Amel dan Satria. Usia Amel 26 tahun selisih dua tahun dengan Vane. Sifat Amel yang ceria, cerewet, dan ceplas-ceplos selalu membuat dia terlihat menarik.


"Mel..."


"Iya kak"


"Kamu sering ditinggal orang tua kamu tugas?"


"Bukan sering lagi kak, tapi selalu. Apalagi semenjak papah jadi komisaris mamah juga ikut-ikutan sibuk menghadiri acara ibu-ibu bhayangkari"


"Terus kakak kamu?"


"Oh kalau Kak Adrian udah nikah dan punya anak terus dia punya bisnis sendiri. Dan dia sekarang memilih tinggal di Singapura"


"Jadi kamu anak tunggal di rumah dong?"


"Kamu udah punya pacar?"


Amel mengernyitkan dahinya mendengarkan pertanyaan Satria.


"Kan aku baru putus sebulan yang lalu. Ya kali aku langsung punya pacar. Emang aku cewek apaan"


Amel pun tertawa menjawab pertanyaan dari Satria.


"Oh oke aman"gumam Satria.


"Kakak ngomong apa?"tanya Amel.


"Oh nggak kok"elak Satria.


Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya Satria sampai di salah satu kawasan perumahan di Kebayoran Baru. Kawasan yang cukup elite untuk hunian keluarga seorang komisaris polisi.


Sebuah rumah berlantai dua berwarna abu-abu dan putih dengan halaman cukup luas. Satria mengantar Amel sampai depan teras rumahnya.


"Kakak mau mampir nggak?"tanya Amel.


"Aku langsung balik aja. Mau ke kantor lagi soalnya"jawab Satria.


"Makasih ya kak. Hati-hati di jalan"ucap Amel tersenyum sembari melambaikan tangan.


Satria pun membalas lambaian tangan Amel. Saat Satria baru membalikkan badannya, tanpa sadar Satria melihat sekelebat bayangan orang menghilang dari balik tembok pagar depan rumah. Satria memicingkan mata dan merasa aneh dengan situasi ini. Seperti ada yang mengawasi dia. Mungkin lebih tepatnya mengawasi keluarga Amel.


"Mel.."panggil Satria berbalik menghadap Amel lagi.


"Iya kak. Kenapa?"tanya Amel.


"Kamu nggak sendirian di rumah kan?"tanya Satria.


"Nggak kok. Ada pembantu, satpam, sama tukang kebun. Tapi kayaknya Pak Satpam lagi ke belakang deh"ucap Amel.


"Oke deh. Kamu masuk rumah, terus kunci pintu rumah. Kalau ada apa-apa langsung telfon aku. Udah kamu save nomerku kan?"kata Satria memastikan.


"Udah kok kak"jawab Amel yakin.


"Oke aku pamit ya"ucap Satria lalu pergi.


Amel menatap punggung Satria sampai menghilang masuk ke mobil. Ada rasa tak rela saat Satria pergi dari rumahnya.


"Kak Satria kenapa yang kok keliatan khawatir gitu?"ujar Amel bingung.


Amel pun segera masuk ke dalam rumah.


*****

__ADS_1


Malam pun tiba.


Vane berada di balkon rumah sembari mengerjakan beberapa tugas yang diberikan papahnya. Tugas rahasia tentunya apalagi kalau bukan tentang keberadaan Adam Millford di Prancis. Karena Vane tinggal lama di Prancis maka Vane yang harus turun tangan menghubungi lagi pihak intel Prancis. Karena hanya Vane yang fasih berbahasa Prancis.


"Vane udah selesai?"tanya Bima datang menghampiri Vane.


"Belum. Kakak sih kenapa nggak bisa bahasa Prancis, kan Vane yang susah. Harusnya sekarang Vane lagi santai baca novel tahu"gerutu Vane menekan keyboard laptopnya agak keras.


"Selama ada kamu kenapa harus kakak yang ngerjain. Kamu itu punya banyak kelebihan diantara aku sama Satria jadi kamu harus dimanfaatkan dengan baik"kata Bima tertawa jahat.


"Kalian mengeksploitasi aku"ucap Vane pura-pura sedih.


"Salah sendiri kamu suka banget pindah-pindah negara"kata Bima.


"Aku kan menuntut ilmu kak. Kalau aku nggak keliling dunia mana bisa aku sejenius ini"ujar Vane agak sombong.


Sejak umur 16 tahun, Vane sudah pergi ke Prancis untuk sekolah chef selama dua tahun. Lalu satu tahun setelahnya dia belajar tentang cyber dan teknolgi komunikasi dengan intel Prancis. Dan sampai usia 26 tahun Vane sudah mengunjungi Spanyol, Rusia, China, dan Amerika untuk mempelajari semua tentang dunia agen rahasia. Hingga Vane menguasai beberapa bahasa asing.


"Aku udah bilang ke mereka kemungkinan lokasi keberadaan Adam Millford dan Jade Haydey"jelas Vane.


"Jade Haydey?"


"Mafia Prancis. Dia papah mantan pacarnya Amel"jelas Vane.


"Amel Bramantyo?"


"Iya, emang Amel mana lagi yang kita kenal. Intinya Om Suseno nggak tahu tentang latar belakang keluarga mantan pacarnya Amel. Dan jangan sampai Amel tahu"tegas Vane.


"Oke oke. Makasih ya adik kecilku. Kapan-kapan kakak traktir mie ayam lagi"ujar Bima terkekeh.


"Mie ayam mulu. Sekali-kali Sushi Tei kenapa?"kata Vane merenggut.


"Lah dikira kakak banyak duit apa?"seru Bima.


"Hei kakak, Amel aja tadi lihat ada black card di dompet kakak. Untung dia nggak curiga"ucap Vane menatap Bima dengan tatapan interogasi.


"Iya iya deh, besok aku traktir Sushi Tei. Nggak usah bahas black card. Itu aset kakak ya"ujar Bima.


"Iya tahu. Emangnya kakak doang yang punya"balas Vane tak kalah sengit.


"Vane, Mas Bima, aku bawain teh hijau nih buat kalian"ujar Ana datang membawa tiga gelas teh hijau.


"Makasih kakak ipar"ujar Vane menutup sedikit layar laptopnya agar tidak terlihat oleh Ana.


Ana pun ikut bergabung dengan suami dan adik iparnya.


"Kayaknya kalian lagi serius banget? Sibuk banget ya?"tanya Ana.


"Aku nggak sibuk kak. Cuma tugas Kak Bima dilimpahin ke aku"ketus Vane.


"Huh tukang ngadu"timpal Bima.


"Udah kebiasaan kalian, sukanya ribut deh"ujar Ana terkekeh.


"Kak Ana kapan kasih aku ponakan. Aku udah siap gendong ponakan tahu"jelas Vane.


"Kenapa nggak kamu nikah terus punya anak sendiri?"sanggah Bima.


"Idih maksa. Vane belum mau nikah kak"jawab Vane.


"Vanessa Wibowo, itu ya di kantor banyak anggota BIN naksir kamu loh. Masa satu pun nggak ada yang nyantol"ucap Bima.


"Mereka bukan tipeku"timpal Vane.


"Emang tipemu kayak apa? Kayak Reyvano?"sindir Ana yang membuat wajah Vane memerah.


Untung saja ini malam, dan lampu balkon tidak begitu terang. Sehingga wajah memerah Vane tidak begitu terlihat.


"Mana ada. Ngaco kakak"elak Vane.


Mereka bertiga pun menghabiskan waktu dengan obrolan dan candaan yang begitu hangat.


Sementara Satria sedang bersantai di sofa dalam kamarnya. Dia sedang chating dengan Amel. Hal itu membuat Satria senyum-senyum sendiri. Tanpa Satria sadari Indah mamahnya, memperhatikan Satria dari balik pintu kamarnya yang agak terbuka. Indah pun ikut tersenyum.


Diantara kedua putranya, Satrialah yang paling sulit didekati perempuan, kecuali Vane adiknya. Indah pun kembali menutup pintu kamar Satria dengan pelan. Mendengar suara tawa dari balkon, Indah pun berjalan menuju balkon.


"Mamah tumben ke balkon? Nggak nemenin papah?"tanya Vane.


Indah ikut duduk di bangku. Dia menatap ketiga anaknya bergantian.


"Mamah kenapa sih? Kaya mau rapat paripurna aja"ujar Bima heran.


"Ada apa sih mah?"tanya Ana.


"Itu loh Satria, tadi mamah ke kamarnya. Mamah lihat dia lagi senyum-senyum sambil ngelihatin HP"jelas Indah.


"Kak Satria mulai nggak waras kali"celetuk Vane santai yang kembali sibuk dengan laptopnya.


"Heh ngaco kamu"tegur Ana.


"Lagi jatuh cinta kali"jawab Bima santai seraya menyeruput teh hijaunya.


"Sama siapa?"tanya Indah penasaran.


Vane dan Bima saling memandang dan berusaha menahan tawa mereka. Untung saja keduanya ahli membuat ekspresi wajah sedatar mungkin.


"Nggak tahu"jawab Vane dan Bima bersamaan sambil mengangkat kedua bahu.


"Kalian ini kan saudaranya, masa nggak tahu!"gerutu Indah.


"Mah, kalau emang Satria lagi jatuh cinta, nanti juga dia bakal kenalin ke kita. Sabar aja mungkin dia lagi berjuang untuk PDKT"jelas Ana.

__ADS_1


"Nah bener tuh mah. Mamah mending berdoa semoga Kak Satria bisa bawain mamah calon menantu. Kan lumayan ada yang bisa bantuin Vane nyiramin bunga"kekeh Vane dengan tatapan genit.


"Lah itu sih mau kamu"ujar Bima mencubit pipi Vane.


__ADS_2