Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 53


__ADS_3

Semalam, Vane tertidur dengan membelakangi Rey, sementara suaminya itu tidur hanya bisa menatap punggungnya saja. Vane benar-benar menjadi pendiam. Rey tidak suka itu. Dia lebih suka Vane yang mengomelinya jika membuat kamar berantakan, atau hanya sekedar tidak mau membantunya mengelap meja makan.


Pagi ini, Vane terbangun lebih siang dari perkiraannya. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Mungkin ini efek kelelahan karena pekerjaannya kemarin ditambah minum obat yang diberikan oleh Ana. Vane menoleh ke samping dan dia tidak mendapati Rey berada di sampingnya.


Vane turun dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi. Dia membutuhkan waktu hampir satu jam di dalam sana karena badannya terasa sangat lengket akibat aktivitasnya kemarin. Setelah ritual mandinya selesai Vane keluar dari kamar dan mendapati Mbok Nami sedang berada di dapur.


"Pagi Mbok"sapa Vane.


"Pagi Mba"balas Mbok Nami.


Vane melihat ke sekelilingnya, dan dia tidak mendapati Rey ada di mana-mana. Vane berpikir mungkin Rey ada di lantai satu, karena hari ini adalah hari kerja, bisa jadi dia bertemu dengan pegawai-pegawainya. Sesampainya di lantai satu, Vane merasa suasana tempat ini berbeda. Semua pegawai memberi tatapan aneh kepadanya.


"Sit." Vane berjalan menghampiri Sita dan menyapanya.


Sita menoleh kepada Vane yang memanggilnya. Lagi-lagi Vane mendapat tatapan aneh.


"Kamu kenapa ngelihatin aku kayak gitu?"tanya Vane curiga.


Sita tidak menjawab, dia meraih HPnya yang tergeletak di meja kerjanya kemudian menyalakannya dan memberikannya pada Vane. Vane menerima HP Sita dan melihat apa yang ingin Sita tunjukkan padanya. Sebuah berita headline hari ini berhasil membuat Vane meledak.


ADAM MILLFORD, AYAH DARI REYVANO SEORANG PENJAHAT YANG PALING DICARI DI DUNIA


"WHAAATT!!??"


Vane berteriak sangat keras hingga semua pegawai beralih menatap ke arahnya. Vane membaca berita itu dengan seksama, dan kini berita tentang tertangkapnya Adam dan teman-temannya menjadi headline tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia.


Vane berusaha mengontrol emosinya, setelah dia berhasil kemudian dia berkata, "Sekarang Rey di mana?", tanya Vane pada Sita.


"Dia udah pergi pagi tadi sama Tante Sarah. Katanya mereka pergi ke kantor interpol Indonesia"jawab Sita.


Vane memijat pelipisnya dengan jari-jarinya, berusaha berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Jika dia pergi ke kantor interpol maka identitasnya akan terungkap. Tapi jika tidak pergi ke sana, dia mengkhawatirkan keadaan Rey dan Sarah.


Tak berapa lama datanglah Reza yang berlari seperti orang mengejar maling. Nafasnya terengah-engah dan ekspresinya begitu bingung.


"Za..."


"Van, kamu ikut aku sekarang ke kantor interpol." Reza memotong perkataan Vane.


Dia berjalan ke arah Vane lalu meraih pergelangan tangannya kemudian berkata, "Sit, nitip kantor. Kalau ada wartawan datang ke sini, panggil aja pemadam kebakaran."


"Buat apaan, Za?"tanya Sita bingung.


"Buat nyiram para wartawan pakai air biar pikiran mereka adem, supaya bisa mikir pakai otak kalau saat ini Rey sedang dalam masa sulit, dan mereka jangan nambah ngompor-ngomporin!"bentak Reza dengan nada kesal.

__ADS_1


Setelah selesai berkomentar, Reza menggeret Vane keluar dari rumah, kemudian menyuruh Vane masuk ke dalam mobilnya. Reza langsung menancap gas meninggalkan rumah Rey dan menuju kantor interpol.


Di dalam perjalanan, Vane terus berdoa semoga keadaan Rey baik-baik saja, tapi Vane berharap bahwa mamah mertuanya tidak jatuh pingsan di kantor interpol. Reza sesekali melirik Vane yang terlihat sangat cemas. Dia belum pernah melihat wanita manapun selain Sarah, yang begitu mengkhawatirkan keadaan Rey. Reza semakin yakin bahwa cinta Vane kepada Rey sangatlah besar.


"Aku mau minta maaf"kata Reza yang membuat Vane menoleh dengan tatapan bingung.


"Untuk apa?"tanya Vane bingung.


"Karena aku harus pura-pura tidak tahu tentang hubungan Rey dan Clara. I'm so sorry, Van. Aku nggak ada maksud untuk membohongi kamu. But, it's all so complicated"jelas Reza dengan nada khawatir.


Reza takut jika Vane akan membencinya. Karena selama dia hidup, dia tidak pernah merasa takut jika ada seorang wanita membencinya. Vane adalah wanita baik menurutnya, dan dia merasa senang bisa mengenalnya.


"Selain kamu, apa ada yang tahu tentang hubungan Rey dan Clara?"tanya Vane lagi.


"Om Indro"jawab Reza ragu.


"Za, untuk saat ini aku tidak mungkin bukan saat yang tepat untuk membahas masalah pribadiku dengan Rey. Walaupun itu bukan masalah sepele tapi untuk sekarang yang terpenting adalah masalah yang dihadapi keluarga Rey. Aku yakin media akan menyerang Rey habis-habisan, dan menganggap keluarganya adalah penjahat"balas Vane dengan bijak.


Mendengar pernyataan ini dari Vane, Reza merasa sangat kagum. Bagaimana dia bisa berbesar hati membiarkan dirinya tersakiti dan lebih mementingkan orang lain.


Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kantor interpol. Dan parahnya lagi, wartawan sudah nangkring di depan kantor. Vane dan Reza saling memandang melihat begitu antusiasnya para wartawan mengetahui masalah ini. Vane sudah tidak peduli dengan keberadaan wartawan. Dia dan Reza menerobos masuk kerumunan wartawan dengan dibantu polisi yang berjaga agar mereka bisa masuk ke dalam kantor.


Keduanya langsung berlari ke ruangan di mana Rey berada. Dan langkah keduanya terhenti saat melihat Rey duduk dengan lemas di kursi tunggu di depan klinik kesehatan kantor interpol.


Vane berjalan perlahan mendekati Rey dan memanggilnya, "Rey..", panggil Vane dengan suara lembut.


Vane melihat kepala interpol Indonesia berjalan ke arahnya, tapi Vane memberi tatapan sebagai isyarat agar dia berhenti dan pergi dari hadapannya. Vane berusaha mengangkat tangannya yang gemetaran saat dia ingin memeluk Rey. Setelah mengumpulkan segala keyakinan akhirnya Vane bisa membalas pelukan Rey.


"Van, papah..."


"Ssstt...I'm here..."


Setelah sepuluh menit berpelukan dan Ry kembali tenang, Vane menuju ruang klinik kesehatan, karena Sarah benar-benar pingsan di temat sesuai dugaan Vane.


"Mamah..."


Vane berjalan menghampiri Sarah, lalu duduk di hadapannya menggenggam tangan mamah mertuanya.


Tak disangka Sarah langsung memeluk Vane dan menangis. Hati Vane berdesir, dia merasa bersalah telah membuat ibu dan anak ini harus menerima kenyataan pahit. Tapi, Vane juga tidak bisa melalaikan tugasnya, dia sangat mencintai negaranya. Dia juga merasa bahwa keluarga ini sudah mendapat masalah berkali-kali. Dari karir Rey yang hampir hancur, masalah hubungan Rey dan Clara yang baru kemarin terjadi, dan sekarang masalah papahnya Rey.


"Ketika cobaan dan masalah datang, memang sulit untuk tidak menimbulkan rasa kecewa tanpa adanya keikhlasan dan kesabaran yang mencegah orang merasakan sedih yang berlarut-larut. Ikhlas dan sabar memang sangat mudah untuk dikatakan, namun sangat sulit untuk dilakukan. Karena ini menyangkut tentang kenyataan hidup yang sebenarnya, kenyataan hidup yang mana membuat kita seringkali menyalahkan diri sendiri dan terpaku dengan rasa penyesalan. Walaupun demikian, sabar dan ikhlas justru membuat kita semakin kuat menerima sebuah takdir yang telah ditetapkan Tuhan."


Vane berbicara setenang mungkin, sambil mengelus punggung mamah mertuanya.

__ADS_1


"Mamah nggak nyangka, kalau selama ini keluarga mamah hidup dengan uang haram. Mamah nggak habis pikir kenapa papah bisa melakukan tindak kejahatan seperti ini"kata Sarah di tengah tangisnya.


"Mah, aku yakin ada alasan tertentu yang membuat papah harus melakukan ini"balas Vane melepas pelukan Sarah.


"Alasan macam apa? Apakah seorang penjahat pernah berpikir tentang kebaikan? Mamah merasa cinta mamah selama ini hanya sia-sia, ketika pria yang mamah percaya adalah pria baik ternyata dia seorang penjahat. Aku benci Mas Adam"tegas Sarah.


Vane bersumpah, dia ingin sekali mengatakan kebenarannya. Tapi lidahnya kelu, dia tidak mungkin mengatakan kebenarannya. Ini sama saja membuat dirinya semakin terjebak dalam situasi rumit ini.


Setelah keadaan Sarah membaik, Indro membawa kakaknya pulang ke rumahnya. Sementara Vane menemani Rey untuk membahas perihal nasib Adam selanjutnya. Saat ini mereka sedang berjalan menuju ruangan kepala interpol. Rey nampak gugup saat akan meraih handle pintu. Vane mengeratkan genggamannya pada tangan Rey agar dia yakin.


Akhirnya Rey membuka pintu, dan ternyata ada Steven di dalam sana. Rey nampak terkejut, sementara Vane tentu saja harus terkejut juga. Mereka bertiga duduk berdampingan menghadap ketua interpol yang bernama Pak Yoga.


"Saya harus membicarakan perihal nasib ayah kalian setelah ini. Untuk Jade Haydey, dia akan dipindahkan ke Prancis karena dia adalah warga negara Prancis dan hukumannyag akan dia terima diputuskan oleh pengadilan internasional Prancis. Sementara Rius Anderson, akan dibawa ke Amerika dan menunggu keputuan pengadilan Amerika. Untuk Adam Millford, dia akan tetap berada di Indonesia karena dia sudah menjadi WNI semenjak menikah dengan istrinya."


"Saya tahu kasus ini tentu mengejutkan kalian sebagai anak. Tapi ayah kalian sudah melakukan kejahatan ini lebih dari 20 tahun, dan sudah memberikan banyak kerugian kepada negara-negara yag menjadi korban menggelapan dan penyelundupan senjata ilegal. Dan mereka bertiga adalah penjahat yang paling dicari oleh intel Amerika dan Prancis. Mereka merahasiakan identitas diri mereka sehingga selalu berhasil dalam melakukan setiap tindak kejahatan. Saya tidak mau ada negosiasi terhadap hukuman mereka. Karena kejahatan mereka sudah sangat merugikan banyak negara. Saya harap kalian tidak perlu menjadi seorang jenius untuk bisa berpikir tentang permasalahan ini."


Setelah Pak Yoga selesai dengan pidatonya, ketiganya diantar untuk bertemu dengan Adam dan Jade. Steven yang biasanya menjadi laki-laki paling berengsek ternyata bisa menangis melihat ayahnya yang pastinya akan dihukum berat oleh pemerintah Prancis. Sementara Rey kini menatap Adam dengan tatapan nanar.


"Aku baru sembuh dari luka yang diberikan kepadaku atas rasa kecewaku terhadap papah selama ini. Tapi sekarang papah memberikan luka lagi. Bahkan luka itu jauh lebih dalam"kata Rey dengan tatapan kosong.


Adam menghela nafas panjang, di balik jeruji besi dia hanya bisa menatap putranya. Dia ingin sekali memeluk Rey dan Sarah untuk meminta maaf atas segala kesalahannya.


"Kamu boleh membenci papah, karena papah pantas dibenci. Tapi kamu harus tahu bahwa papah sangat mencintai kamu dan mamah kamu. Kalian adalah harta paling berharga di dalam hidup papah. Papah rela melakukan apapun asalkan kalian selamat"ucap Adam meneteskan air mata.


"Termasuk melakukan tindakan kejahatan seperti ini? Apa papah pernah berpikir bagaimana bangganya aku mempunyai seorang papah yang baik? Tapi ternyata dia tidak lebih dari seorang pecundang kelas dunia."


Rey berteriak dan membuat Adam tertunduk malu, Vane memegang bahu Rey agar dia bisa mengontrol emosinya. Berbicara kasar pada Adam hanya akan membuat semuanya semakin sulit. Rey tak mampu berkata-kata lagi, dia memilih pergi dari ruang tahanan. Vane yang ingin menyusul Rey harus mengurungkan niatnya saat Adam memanggil namanya.


"Vane, tolong jaga anak dan istri saya. Hanya kamu yang bisa saya percaya"ujar Adam dengan tatapan memohon.


Vane langsung memberi anggukan, lalu dia berlari mengejar Rey. Kini Rey sudah mengenggam tangan Vane dan membawanya ke dalam mobil dan mereka meninggalkan kantor interpol. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Vane melirik ke luar jendela mobil saat melihat ada penjual koran yang membawa koran dengan berita tentang Adam yang menjadi headline.


*****


Setelah berita tertangkapnya Adam kini semua media sedang gencar-gencarnya memberitakan latar belakang keluarga Rey. Semua orang ingin tahu siapa sosok Adam Millford yang selama ini menyembunyikan diri, dan kini publik sudah tahu alasan kenapa Adam menyembunyikan jati dirinya dari publik.


Vane berusaha menjadi manusia kembali dengan membantu Sarah untuk pulih dari keterpurukan. Sarah memilih menjual rumahnya yang ada di Pondok Indah dan pindah ke Solo untuk kembali bersama keluarga besarnya dan menjauh dari sorotan media. Sementara hubungan antara Rey dan Vane belum ada kemajuan apapun. Vane seperti membangun tembok Berlin di antara dia dengan Rey.


Bukannya Vane tega dengan keadaan Rey yang terpuruk saat ini, tapi dia juga belum bisa mempercayai niat baik Rey untuk kembali kepadanya. Karena dia merasa bahwa Rey tidak akan mungkin bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya kepadanya.


Tepat setelah 48 jam, berita tentang foto Rey dengan Clara, akhirnya wanita itu menggelar konferensi pers untuk membersihkan nama baik Rey. Satu masalah terselesaikan, yaitu nama baik Rey kembali. Setidaknya ada sedikit angin segar yang datang dalam hidup Rey. Bahkan Clara meminta kepada media untuk berhenti memojokkan keluarga Rey tentang kasus papahnya. Dia berkata bahwa seharusnya publik memberi dukungan moral kepada keluarga Rey yang sedang terpuruk.


Dan setelah itu pengunjung website Rey langsung membludak. Ada yang memberikan ucapan selamat karena Rey dinyatakan bukan sebagai laki-laki yang telah menghamili Clara, ada yang mengucapkan turut perihatin dengan kasus papahnya, dan ada banyak juga yang meminta maaf kepada Rey. Sehingga Rey tidak akan pernah lagi disangkut pautkan dengan Clara.

__ADS_1


Agar lebih meyakinkan masyarakat, dua hari setelah itu, Rey mengelar konferensi pers dan saat itu dia meminta Vane untuk ikut bersamanya. Rey tidak hanya membahas masalahnya dengan Clara, tapi dia juga membahas tentang masalah papahnya. Selama ini dia dan keluarganya tidak tahu menahu tindak kejahatan papahnya. Dan dia juga meminta agar media tidak memojokkan keluarganya. Karena itu mempengaruhi mental keluarganya.


Wawancara itu adalah hal tersulit yang pernah Vane lakukan sepanjang hidupnya. Ketika dia harus berpura-pura tertawa saat media berkata 'Vane adalah istri paling pengertian dan tidak cemburuan' dengan nada sinis. Selain itu, Vane harus pura-pura tidak tahu saat wartawan menanyakan soal kasus Adam. Vane hanya bisa memberi senyum tipis dan memasang wajah seakan-akan dia adalah menantu paling baik di dunia. Vane tidak pernah merasa begitu dipermalukan dan dibodohi diwaktu yang bersamaan.


__ADS_2