
Sejenak Vane mempertimbangkan jawaban Rey. Bahkan persekian detik Vane benar-benar ingin berteriak.
"Kalau kamu, aku bantu soal ini, apa untungnya buat aku?"
"Seperti yang sudah aku katakan, kamu akan dapat uang dari aku dan..."
"Kamu nggak bisa beli harga diri saya dengan uang kamu"potong Vane dengan kegarangannya yang mulai dikeluarkan.
Vane langsung menarik kasar tangannya dari genggaman Rey. Dan kembali ke posisi semula, melipat ke dua tangannya di depan dada.
Rey menghembuskan nafas putus asa, "Aku sebetulnya mau bilang sebelum kamu memotong perkataanku, bahwa you will have me as your husband."
Wait a minute, apa yang baru saja dia katakan? Sadarkah dia mengatakan itu? This arrogant son of a queen dan Vane menarik nafas panjang sebelum dia memulai omelannya.
"Saya ini chef dengan sertifikasi taraf internasional, lulusan Bachelor of Business in Culinary Arts dari Universitas Le Cordon Bleu Prancis salah satu sekolah chef tertua dan terkenal di dunia dengan predikat lulusan terbaik dan bekerja di salah satu restoran Prancis ternama di Jakarta, dan gaji saya mencapai delapan digit setiap bulannya. Walaupun saya bukan Miss World material, tapi saya cukup menarik untuk mendapatkan laki-laki mana saja untuk jadi suami saya, apa yang membuat kamu berpikir kalau saya mau kamu menjadi suami saya?"
Vane kembali berbicara dengan gaya formal untuk mengomeli Rey, dan saat Vane melihat Rey akan memotong perkataannya Vane langsung melanjutkan omelannya.
"Kamu memang artis yang cukup digemari kaum wanita apalagi mereka yang masih dibawah umur."
Vane sengaja menghina Rey dan melihatnya meringis ketika mendengar ini, tapi dia tidak peduli.
"Tapi saya, sebagai wanita dewasa nggak pernah tertarik dengan laki-laki yang saya yakini bahkan nggak bisa membedakan antara hukum pidana dan hukum perdata. Belum lagi dengan reputasi kelakuan kasar kamu terhadap wartawan, salah-salah kamu ternyata suka memukul wanita juga. Intinya, jadi laki-laki jangan kege-eran dan mikir kalau kamu adalah anugerah terindah yang pernah terlahir di bumi ini, dan bahwa semua wanita mau kamu. Karena saya nggak tertarik sama sekali dengan kamu."
Vane akhirnya kehabisan argumentasi dan dia berhenti menarik napas. Selama beberapa menit Rey hanya menatapnya dengan mulut ternganga, matanya yang coklat itu menyiratkan keterkejutan dan sesuatu terlihat seperti...rasa hormat! Nggak mungkin. Bagaimana laki-laki seperti Rey hormat kepadanya setelah dia pada dasarnya sudah menginjak-injak egonya.
Rey sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak karena Vane meragukan kemampuan otaknya. Dia memang kuliah jurusan bisnis manajemen dengan IPK 3,5 tapi dia juga mengambil jurusan musik dengan IPK 3,8 dari Columbia University. Satu hal yang tidak banyak orang ketahui bahwa sebelumnya Rey mengambil kuliah jurusan hukum hanya sampai dua semester. Tapi karena di tentang oleh papahnya Rey keluar dan pindah jurusan.
Bahkan dosennya sampai keheranan mahasiswa pindahan dari jurusan hukum pindah ke jurusan bisnis ditambah lagi dia mengambil jurusan musik. Dua hal yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Intinya, Rey tahu persis perbedaan antara hukum pidana dan hukum perdata. Dan segala hal yang berhubungan dengan hukum.
"Oke, saya terima argumentasi kamu, saya cuma mau membetulkan satu hal saja. Saya yakinkan ke kamu bahwa segala tindakan kasar saya hanya tertuju kepada orang yang kurang ajar terhadap saya dan orang-orang terdekat saya. Saya tidak akan pernah memukul wanita betapapun menyebalkannya mereka."
Vane tahu betul Rey mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak kelihatan seperti tipe laki-laki yang akan menyakiti seseorang yang jelas-jelas lebih lemah daripada dirinya.
"Apakah anak yang dikandung Clara itu anak kamu?"tanya Vane untuk memastikan apa yang dia dengar beberapa jam lalu.
Ada senyum simpul pada sudut bibir Rey sebelum dia berkata, "Bukan. Itu bukan anak saya. Itu anaknya Dani, vokalis band D'Dragon. Saya bukan tipe laki-laki yang menelantarkan anak sendiri. Kalau anak Clara adalah anak saya, saya pasti sudah menikahi Clara dari kemarin-kemarin. Sayangnya tidak semua laki-laki memiliki pendapat yang sama."
Sekali lagi Vane harus percaya dengan kata-kata Rey, karena dia tahu betul Rey kelihatan tulus saat mengatakannya.
"Boleh saya tanya satu hal ke kamu?"tanya Rey setelah beberapa lama.
Melihat Vane mengangguk, Rey melanjutkan, "Apa kamu berniat menikah?"
"Of course."
"Kapan terakhir kali kamu punya pacar?"
__ADS_1
"Apa hubungannya sejarah dating saya dengan ini semua?"
"Jawab saja pertanyaanku."
"Saya putus dengan pacar saya dua tahun yang lalu."
"Kenapa kamu putus dengan pacar kamu?"
"Karena...." Vane berhenti ketika menyadari bahwa dia hampir saja menceritakan sejarah hidupnya kepada orang asing.
"You know what, this is none of your business"ucap Vane dan berdiri.
Rey langsung menarik pergelangan tangan Vane agar dia duduk kembali.
"Tell me"ucap Rey pendek sambil melepaskan tangan Vane.
"Kamu lebih baik cek apa pesanan McD-nya sudah sampai"kata Vane mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Dia gay ya?"tekan Rey.
"Dia nggak gay"balas Vane mencoba membela mantan pacarnya.
"Pengangguran?"
"Nggaklah"
"Nggak! Oke! Dia seperti juga pacar-pacar saya sebelumnya, nggak guy, dia nggak pengangguran, dan dia sama sekali nggak jelek. Masalahnya adalah pada mamah saya. Menurut mamah, saya bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari mereka"teriak Vane akhirnya.
Dengan berteriak seperti ini Vane menyadari betapa frustasinya dia pada dirinya sendiri, terutama untuk urusan asmara. Sebenarnya keluarganya tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa Vane berpacaran, yang terpenting dia bisa menjamin keselamatan Vane. Karena kebanyakan mantan pacar Vane adalah anggota militer dari negara lain di mana dulu Vane menuntut ilmu di sana. Tapi, Vane juga tidak mungkin menceritakan riwayat asmaranya yang sebenarnya kepada Rey. Jadi perkataan yang Vane keluarkan dari mulutnya itu hanya sebuah alasan yang mengada-ada.
"This conversation is over"ucap Vane sebelum berdiri dengan cepat dan bergegas menuju pintu.
Rey mencoba meraih tangannya, tapi kali ini Vane lebih cepat. Sebelum Rey bereaksi Vane sudah mencapai pintu, ketika dia akan memutar kunci pintu Rey berkata, "Definisikan maksud dari laki-laki yang lebih baik." Kata-kata itu membuat Vane tertegun.
"It's a simple question, Van." Vane terpekik ketika mendengar kata-kata itu tepat di belakang telinganya.
Dia bisa merasakan suhu tubuh Rey yang kini berada sangat dekat dengan punggungnya. Oh! Bisa nggak sih laki-laki satu ini meninggalkannya sendiri? Vane kembali memutar kunci pintu, mencoba keluar, tapi Rey mendorong pintu itu hingga terbanting tertutup sebelum menyandarkan telapak tangannya di pintu tepat di sebelah wajah Vane.
Tingkah laku Rey yang sengaja mencoba mengintimidasinya dengan ukuran tubuhnya membuat Vane melangkah mundur dan punggungnya bertabrakan dengan dada Rey. Dalam proses memutar tubuhnya, keseimbangannya goyah. Rey mencoba menjaga keseimbangan Vane dengan memeluk pinggangnya dan menyandarkan punggung Vane lebih rapat pada dadanya, dan pikiran Vane langsung blank. Vane hanya bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang melonjak-lonjak tidak karuan.
"Apa kamu akan menjawab pertanyaanku?"bisikan Rey mengaktifkan otak Vane kembali. Rey sudah lelah beradu argumen dengan gaya formal. Dia sangat tidak menyukai ini.
Sepertinya Rey memang berniat memaksakannya untuk menyetujui rencananya, dan dia ingat akan rasa jengkelnya. Vane memutar tubuhnya menatap Rey. Entah apa yang Rey lihat pada tatapan mata warna hitam milik Vane, tetapi dia langsung melepaskan pinggang Vane.
"Yang kayak kamu. Aku nggak tahu kenapa, tapi mamah cinta mati sama kamu. Tidak hanya mamah, kakak ipar juga begitu. Bahkan saat reputasi kamu yang semakin menurun sekarang, mereka tetap ngebelain kamu"ucap Vane.
"Mereka bilang kamu punya potensi untuk jadi suami yang baik"tambahnya.
__ADS_1
Oke, ini semua tidak benar, dia bahkan tidak pernah membahas Rey dengan mamahnya atau Kak Ana, tapi toh Rey tidak akan tahu jika yang dia katakan adalah kebohongan. Tujuan Vane mengatakan itu hanya seolah-olah agar Rey bisa membatalkan lamaran gila ini. Vane menunggu beberapa detik di mana Rey akan berlari tunggang-langgang dengan jawaban asal dari Vane.
Tidak ada laki-laki yang takut setengah mati dengan komitmen, kalau dilihat dari jumlah wanita yang akan gigit jari karena gagal menjadi Mrs. Reyvano Diharjo Millford, mau menikahi perempuan dimana mamah yang mengharapkan hal yang paling ditakutinya.
Rey hanya bisa menatap Vane seperti dia alien, sebelum kemudian mengambil beberapa langkah mundur dengan sedikit sempoyongan.
Hah! Biar tahu rasa dia, ucap Vane dalam hati dengan penuh kemenangan.
Tapi rasa kemenangan itu langsung punah ketika Rey mulai mengatur ekspresinya dan sambil tersenyum simpul.
Dan berkata, "All the more reason bagi kamu untuk menikah dengan aku, mamah kamu jelas-jelas sudah setuju dengan aku."
WHAAAATTTT!!!???? Laki-laki gila.
"Tapi... tapi..." Vane mencoba mencari alasan untuk menolak Rey tapi tidak ada satu ide pun muncul. Vane sadar bahwa dia baru saja menggali lubang kuburnya sendiri. SHIITTT!
"Apa kamu mau mamah kamu terus mengatur hidup kamu?"
"Ya nggaklah, tapi...WHAT???" Vane berteriak lagi meruntuki kebodohan yang sudah menjerumuskan dirinya sendiri.
"Aku jadi curiga, jangan-jangan alasan kenapa kamu masih single sampai sekarang adalah karena ada yang salah dengan kamu."
Wait a second, apa laki-lai kurang waras ini sedang menghinanya? Vane tidak pernah membiarkan siapapun menghinanya dan jelas-jelas dia tidak akan seorang selebritis sepopuler dan searogan, dan bahkan tidak tahu sopan santun ini melakukannya.
Dan Vane seketika menyesal karena telah menggunakan nama mamahnya dan Kak Ana untuk mengelabui Rey yang jelas-jelas justru senang ketika mendengar alasan konyol yang telah dibuat oleh Vane.
Dan memang Rey menggambarkan segala sesuatu tentang laki-laki sempurna. Pekerjaan mapan, check; punya rumah sendiri, check; penampilan menarik, check; uang seabrek, triple check. Yang paling penting adalah Rey jelas-jelas memiliki cukup kepercayaan diri untuk tidak ngacir begitu menerima tatapan sangar dari keluarga Vane.
"Oke"ucap Vane akhirnya dengan penuh tantangan.
"Oke apa?"tanya Rey terdengar terkejut ketika menanyakan ini.
"Oke, aku akan menikahi kamu, tapi kamu harus janji bahwa keluarga aku tidak akan pernah tahu tentang ini. Setahu mereka kamu menikahi aku karena kamu memang sudah cinta mati sama aku. Selain itu, aku mau ada pren-nup. Itu syarat dari aku, kamu setuju?"
"Maksudmu perjanjian pranikah?"
"Yaps. Bagaimana setuju?"
"Setuju"balas Rey dengan pasti.
Setelah perundingan panas ini berakhir, Rey keluar dari meeting room menghampiri Sita untuk mengambil pesanan makanan yang sudah sampai. Rey membawanya kembali ke meeting room. Dia makan bersama Vane di sana.
Walaupun Vane sudah setuju untuk menikah dengan Rey, tetap saja sikap Vane masih dingin sedingin gunung es Kutub Utara. Karena saat ini Vane sedang memakan burger miliknya sambil menatap fokus ke laptopnya.
Rey tak habis pikir dengan wanita satu ini. Sulit sekali menebak apa yang dia pikirkan atau apa yang akan dia lakukan. Bahkan terlihat jelas Vane tidak menggubris tatapan penasaran yang Rey tujukan padanya.
Vane pikir keputusan dia menerima lamaran gila dari Rey sudah sangat tepat. Pasalnya, setelah dia membaca email dari Prancis yang mengatakan bahwa Adam Millford berhasil kabur bahkan meninggalkan Prancis membuat Vane merasa jengkel.
__ADS_1
Ditambah Vane tidak bisa melacak ke negara mana Adam kabur dan bersembunyi. Mengingat hal itu membuat Vane merasa dirinya juga terdesak untuk melaksanakan misinya ini. Sehingga, Vane merasa pernikahan ini akan menguntungkan juga baginya.