Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 56


__ADS_3

Satu minggu kemudian semenjak kepindahan Vane dari rumahnya dan Rey berharap bahwa Vane tidak akan betul-betul menggugat cerainya, tapi kemudian dia menerima surat dari pengadilan agama yang mengonfirmasi gugatan tersebut, dan dia tidak pernah merasakan patah hati sedalam ketika dia membaca surat itu.


Vane tidak mau mengangkat telfon darinya dan semua komunikasi yang dilakukan oleh Vane kepadanya adalah melalui pengacaranya. Rey juga sempat menghubungi Dika untuk menanyakan keberadaan Vane, tapi Dika beralasan walaupun Vane adalah sahabatnya tapi sebagai pengacara dia harus mematuhi kode etik untuk menjunjung tinggi menjaga rahasia kliennya. Bahkan cek 500 juta yang dikeluarkannya masih belum dicairkan oleh Vane, seakan-akan dia mau menghapus semua koneksi yang pernah ada di antara dirinya dan Rey.


Setelah kepergian Vane dari rumahnya, setiap dia akan tidur, Rey selalu memeluk foto pernikahannya yang Vane tinggalkan di atas night stand di kamarnya ketika dia pindah. Dia tidak pernah menyadari betapa sakralnya upacara akad nikah. Itu bukan hanya sebuah upacara yang menyatakan bahwa mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang sah, tapi juga menyatakan bahwa mereka terikat dengan satu sama lain untuk selama-lamanya.


*****


Dua minggu sudah berlalu, kini Vane memulai hidupnya kembali. Menata rencana apa yang sempat tertunda karena pertemuannya dengan Rey yang mengharuskan dia bersandiwara untuk memudahkan misinya. Dan saat Vane pulang ke rumah, tentu saja kedatangannya mengejutkan seluruh anggota kelurganya.


Mereka tidak menyangka jika Vane benar-benar akan berpisah dengan Rey. Tentu saja akan berpisah, karena masa kontrak mereka sudah habis hari itu juga. Tapi Vane hanya menjawab bahwa mungkin dia dan Rey tidak berjodoh, maka biarkanlah dia berpisah dengan Rey. Vane tak lupa memberi ultimatum kepada papah dan kedua kakaknya untuk tidak melakukan tindakan yang menyakiti suaminya...koreksi calon mantan suaminya.


Vane ingin semua berjalan mengikuti alur, dia tidak ingin ada campur tangan tindakan siapa pun. Dia hanya ingin belajar menjadi manusia yang bisa menerima semua yang terjadi di dalam hidupnya. Vane tahu keputusan untuk berpisah dengan Rey sangat mempengaruhi mentalnya, keluarganya menyadari bahwa kini Vane lebih sering berdiam diri di dalam kamar, atau bahkan dengan sengaja mengambil banyak pekerjaan di restoran.


Saat ini Vane sedang berkutat di dapur restoran seperti sebelumnya, dia kembali harus dipusingkan dengan permintaan pelanggan yang selalu menginginkan menu yang dimasak olehnya. Bahkan dia sampai kewalahan untuk melayani permintaan pengunjung restoran.


Aktivitas Vane terhenti ketika Arman memanggilnya, "Chef Vane." Vane langsung menoleh pada sumber suara di mana Arman berdiri sejauh tiga meter darinya.


"Ya."


"Ada yang ingin bertemu dengan, Chef"jelas Arman.


"Siapa?"tanya Vane penasaran.


Arman hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepala perlahan-lahan dan dia langsung mendapat tatapan super dingin dari Vane. Setelah dia memberi instruksi kepada Amel dan asisten chef untuk meneruskan masakannya, dia keluar dari dapur dan menuju ruang VVIP yang ada di lantai empat. Vane membuka pintu ruangan itu dan langsung terkejut melihat orang yang kini sedang duduk menunggunya.


Sarah langsung menegakkan posisi duduknya saat melihat kedatangan Vane. Dia menatap lekat menantunya yang sudah lama tak bertemu setelah dia memutuskan pindah ke Solo setelah kasus suaminya. Vane memang tumbuh menjadi wanita Kutub, tapi dia masih diajarkan sopan santun oleh keluarganya, dan kini dia berjalan menghampiri Sarah dan mencium punggung tangan mamah mertuanya.


"Mamah apa kabar?"tanya Vane ramah.


"Mamah baik. Duduk sini." Sarah menepuk bagian kanan sofanya agar Vane duduk di sampingnya. Vane pun mengikuti permintaan Sarah.


"Kamu sehat? Mamah lihat kamu lebih kurus sekarang?"ucap Sarah sambil memandangi tubuh Vane.


"Aku sehat Mah. Cuma akhir-akhir ini aku sering lembur karena banyak sekali pekerjaan yang harus aku tangani"jawab Vane.


Vane sudah malas berbasa-basi hingga dia memberi tatapan agar Sarah langsung berbicara to the point. Dan hal itu membuat Sarah mendengus seakan-akan mengerti gelagat yang ditunjukkan Vane.


"Mamah, ke sini cuma mau berbicara tentang masalah kamu dengan Rey..."


"Mah, aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan menurut klausa kontrak perjanjian itu. Mamah tenang saja setelah kami resmi bercerai, aku akan pergi dari kehidupan Rey"potong Vane berusaha setenang mungkin, padahal dia harus bersusah payah menahan emosi.


"Vane, ada hal yang perlu kamu tahu bajwa Rey sudah membatalkan kontrak perjanjian itu pada bulan April, dan alasan kenapa kontrak itu bisa habis sampai tanggalnya, pada saat itu Seto berada di luar negeri sehingga Rey menghubungi Yudi asisten Seto, untuk mengonfirmasi pembatalan kontrak perjanjian kalian. Tapi sayangnya, Yudi adalah pegawai yang dipecat di hari yang sama dan dia sama sekali tidak mengatakan apapun kepada Seto tentang permintaan Rey."


Vane diam beberapa detik dan berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Melihat Vane tidak bereaksi apa-apa, Sarah semakin khawatir jika menantunya ini tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


Sarah menggenggam tangan Vane lalu berkata, "Vane, mamah tahu apa yang Rey lakukan terhadap kamu sangatlah keterlaluan, dan dia pantas untuk mendapat gugatan cerai dari kamu. Tapi mamah tidak pernah melihat dia sebegitu mencintai wanita lain selain mamahnya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, mamah melihat seberapa kacaunya hidup dia saat ditinggalkan oleh wanita. Mungkin kamu masih ragu dengan ketulusan cinta Rey karena dia belum bisa sepenuhnya memberikan kepercayaannya kepada kamu, tapi dia benar-benar mencintai kamu."


Vane menyipitkan matanya saat Sarah menjabarkan semua hal yang terjadi antara dia dengan Rey. Bahkan kedua alisnya sudah bertautan, ketika otaknya mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Sarah.


"I don't know how to believe that. Semua terasa sangat sulit untuk aku"balas Vane.


"Ya, semua memang terasa sulit"kata Sarah melepas tangan Vane dari genggamannya.


"Jika sudah tidak ada lagi yang mau mamah katakan, Vane pamit untuk kembali bekerja"ujar Vane sesopan mungkin sebelum meninggalkan Sarah.


Sarah hanya menatap kepergian menantunya, dia sangat menginginkan Vane untuk tetap bersama Rey dan terus menemani anaknya.


*****


Vane baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah setelah dia berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang ke rumah tepat jam tujuh malam. Dia berjalan menuju rumahnya dan langsung disambut pemandangan istimewa dari Bima dan Ana yang sedang berduaan di ruang keluarga.


"Kamu kok sendiri? Amel mana?"tanya Ana.


"Dijemput Kak Satria"jawab Vane datar.


"Sini deh, duduk sama kakak"pinta Bima melambaikan tangan kepada Vane, dan adiknya langsung mendekat.


Bima langsung memeluk erat Vane, saat adiknya sudah duduk tepat di sampingnya. Vane merasa pelukan Bima terasa berbeda, ada rasa tidak ingin dilepas.

__ADS_1


"Kamu adik kakak yang paling hebat dan kuat. Kakak sayang kamu"bisik Bima dengan suara serak.


"Hhmm...dan apa kakak nggak risih nyium bau asem badan aku? Aku seharian kerja dan belum mandi loh, Kak"kata Vane mencairkan suasana yang terasa agak tegang.


Bima pun melepas pelukannya dan beralih mengelus kepala Vane, "Kamu dari lahir udah ditakdirkan cantik. Mau udah mandi atau belum sama aja."


"Tumben memuji"kata Vane keheranan.


"Gini Van tadi kita baru check up ke dokter, kemungkinan jenis kelamin anak kita itu perempuan. Kemungkinan kakak kamu mendekati kamu supaya anaknya mirip kamu"kelakar Ana yang sudah terkekeh melihat tingkah manja Bima kepada Vane.


"Dih anak-anak kalian ya kali mirip aku. Ya udah suka-suka kakak, aku mau ke kamar dulu ya. Bye Kak"ujar Vane berdiri dari duduknya kemudian mencium pipi Bima terlebih dahulu baru kemudian mencium pipi Ana dan mengelus perutnya.


Tentu, sesampainya di kamar Vane langsung mandi dan membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya dan memungkinkan untuk mendinginkan kepalanya. Seelah selesai mandi, Vane langsung mengenakan pakaiannya. Selirik mata Vane menatap sebuah kotak berwarna gold methalic yang dia simpan di dalam lemari bajunya. Vane tersenyum melihat kotak itu, dia berniat memberikan kotak itu sebagai kenang-kenangan kepada Rey saat mereka resmi bercerai nanti.


Vane kembali menutup pintu lemari saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka, dan melihat Satria melongokkan kepalanya, "Van, ayo turun. Kita makan malam bersama. Tadi kakak beliin kamu batagor langganan kita loh."


Vane tersenyum lalu berkata, "Gandeng," dia mengulurkan tangan dan memasang ekspresi manja agar Satria mau menggandengnya. Satria hanya terkikik geli namun dengan senang hati dia menggandeng tangan adiknya seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih. Hingga akhirnya mereka berdua menjadi bahan ledekan di ruang makan.


"Mau ke mana, Pak?"tanya Bima dengan nada jahil.


"Ini saya mau nganterin adik saya"jawab Satria.


"Ke mana tuh?"sambung Ana.


"Ke hotel"balas Satria.


"Ngapain?"seru Amel sedikit berteriak.


"Mau saya tawarin ke pengusaha minyak Rusia siapa tahu dapat 10 milyar kan?"ucap Satria tertawa terbahak-bahak dan langsung diberi pukulan di lengan oleh Vane.


"Enak aja. Aku tahu kalau aku cantik, tapi nggak usah iri juga kalau uang aku lebih banyak dari kakak"geram Vane dengan mata melotot tapi alisnya naik turun, sehingga ekspresinya itu mengundang tawa semua orang.


Malam ini suasana rumah terasa begitu hangat dan menyenangkan. Semua anggota keluarga menghabiskan waktu bersama dengan mendengarkan Vane bermain piano sambil bernyanyi, setelah itu mereka akan saling berbicara satu sama lain. Sesuatu yang sangat Vane rindukan selama setahun ini. Tapi dia juga merindukan sekaligus mengkhawatirkan kondisi Rey. Pasti laki-laki itu merasa kesepian karena tidak ada teman bicara.


*****


Satu minggu kemudian, Rey mendapati dirinya berada di salah satu ruang pertemuan di pengadilan agama Jakarta Pusat, menunggu hingga Vane muncul. Inilah pertama kalinya dia akan bertemu lagi dengan Vane setelah perpisahan mereka dan dia merasa gugup.


Oh my God, how is this possible?


Rey kini percaya dengan kata pepatah 'Seorang wanita akan jauh lebih mempesona berkali-kali lipat ketika sudah menjadi mantan'. Now, dia melihat betapa mempesonanya calon mantan istrinya, ditambah tatapan Sugiono panitera muda yang menjadi mediator sesi konseling mereka hari ini. Rasanya Rey ingin memukul Sugiono karena berani secaa blak-blakan menatap Vane bulat-bulat.


"Selamat pagi, Ibu Vane"ucap Sugiono.


"Panggil saya Vane saja"jawab Vane sembari mengulurkan tangannya, menyalami Sugiono dan menganggukkan kepalanya kepada Rey sebelum dia duduk.


Rey mencengkeram lengan kursi saat Vane membiarkan laki-laki tidak dikenal memanggilnya hanya dengan namanya saja. Dan ketika Sugiono memberi senyum sumringah kepada Vane, ini merupakan suatu penyiksaan. Ini akan menjadi satu jam terpanjang dalam hidupnya.


Vane duduk dengan tenang mendengarkan penjelasan Sugiono. Sebisa mungkin dia tidak menatap Rey, terutama melihat cara Rey menatapnya beberapa menit lalu seperti seseorang yang siap membunuhnya hanya menggunakan kedua tangannya. Vane tidak mau jika Rey bisa membaca pikirannya yang betul-betul sedang merindukannya.


Minggu pertama setelah dia pindah dari rumah Rey, semua media masih fokus dengan kasus prostitusi online salah satu selebritis sehingga tidak ada yang tahu status pisah rumahnya dengan Rey. Minggu kedua ketika seorang wartawan tabloid mengikutinya pulang ke rumahnya bukan ke rumah Rey sehabis menemani Ana pergi ke mall untuk berbelanja perlengkapan bayinya. Setelah itu media mendapat kabar kalau dia sudah menggugat cerai Rey.


Sekarang dia tidak bisa ke mana-mana karena media selalu mengikutinya. Ingin sekali Vane berteriak bahwa pernikahan dia dengan Rey hanya sebatas kontrak agar para media puas dan bisa meninggalkannya sendiri. Tapi Vane sadar hal itu justru membuat media semakin panas dan gencar untuk mengikutinya.


"Apa ada hal-hal yang ingin Vane kemukakan kepada Pak Rey? Mungkin hal-hal yang mengganjal di dalam pernikahan yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya?"tanya Sugiono.


"Nama saya Rey, bukan Pak Rey. Bapak bisa memanggil istri saya dengan namanya saja, kenapa dengan saya tidak?"geram Rey sambil menatap Sugiono.


"Reyvano"ucap Vane dengan nada penuh peringatan.


"Oh, jadi sekarang kamu mau bicara sama aku? Setelah sebulan lebih dan selama dua puluh menit ini bahkan menolak menatap aku?" Rey menatap Vane tajam ketika mengatakannya.


"Mohon maaf, Pak Sugiono, saya perlu permisi ke kamar kecil. Letaknya di mana ya?"tanya Vane dan setelah mendapatkan instruksi yang jelas dari Sugiono, langsung berdiri dan menghiang dari pandangan secepat mungkin.


Kedua laki-laki yang ditinggalkan di dalam ruangan saling tatap. Rey kelihatan sudah siap membakar bangunan pengadilan agama, dan Sugiono kelihatan terhibur dengan permainan emosi Rey.


"Mba Vane masih cinta sama Mas Rey, in case you are wondering"ucap Sugiono tiba-tiba.


"Hah???"

__ADS_1


"Mba Vane...dia masih cinta sama Mas Rey."


"Oh ya? How do you know what? Are you psychic?"tanya Rey terdengar sedikit ngambek.


Sugiono hanya tersenyum simpul, "Saya sudah lama bekerja jadi mediator sesi konselin orang-orang yang akan bercerai, mungkin itu sebabnya saya bisa membaca gelagat mereka. Menurut pengalaman saya biasanya sesi konseling akan lebih efektif kalau kedua belah pihak bisa lebih tenang ketika berhadapan satu sama lain."


"Bagaimana saya bisa tenang? Satu-satunya perempuan yang pernah saya cintai mau menceraikan saya dan tidak ada satu hal pun yang bisa saya lakukan untuk mencegahnya."


"Ah...dugaan istri saya ternyata benar." Rey hanya menatap Sugiono.


"Waktu Mas Rey menikah dengan Mba Vane, istri saya yakin kalau kalian berdua menikah karena cinta, bukan karena untuk menutupi skandal Mas Rey dengan Mba Clara. Istri saya ngefans berat dengan Mas Rey dan dia kecewa waktu tahu bahwa Mas Rey dan Mba Vane akan bercerai"jelas Sugiono dengan tenang.


Rey hanya bisa nyureng menatap Sugiono. Melihat reaksi tidak percaya dari Rey, Sugiono menambahkan, "Kalau Mas Rey masih cinta sama Mba Vane, kenap bercerai?"


"Mungkin itu pertanyaan yang sepatutnya ditujukan kepada istri saya. Dia yang menggugat cerai saya"balas Rey ketus.


"Apa Mba Vane tahu kalau Mas Rey cinta sama dia?"


"Tentu saja dia tahu, tapi tetap saja dia mau menceraikan saya."


"Apa Mas Rey sudah bilang ke dia?"


"Hah?" Rey betul-betul tidak mengerti arah pembicaraan Sugiono.


"Apa Mas Rey pernah mengucapkan kata cinta kepada Mba Vane?"tanya Sugiono.


"Dia sudah menceraikan saya sebelum saya mengatakan cinta. Setelah itu, kata cinta sepertinya tidak penting lagi."


Tak disangka-sangka, Sugiono justru tertawa terbahak-bahak, dan Rey sangat tidak suka ditertawakan seperti itu.


"Maaf, kalau saya lancang. Saya tidak bermaksud menertawakan Mas Rey, tapi saya selalu berpikie bahwa dengan segala gosip menyangkut perempuan yang mengelilingi Mas Rey , maka Mas Rey akan lebih tahu tentang seluk-beluk hati wanita daripada saya. Wanita berbeda dengan kaum laki-laki, mereka akan mengambil keputusan menggunakan hati daripada akal sehat."


Kening Rey nampak berkerut ketika dia kembali teringat dengan status artis laki-laki paling populer dan paling playboy se-Indonesia sepuluh tingkat diatas Reza begitu melekat pada dirinya.


"Mungkin tidak ada salahnya Mas Rey mengungkapkan apa yang Mas Rey rasakan terhadap Mba Vane dengan kata-kata."


Rey menatap Sugiono tak percaya, mungkin laki-laki itu ada benarnya. Mungkin inilah yang dimaksud 'ketulusan' dan 'kepercayaan' dalam pernikahan.


"Maaf, agak lama, saya nyasar"ucap Vane yang muncul kembali setelah sekian lama meninggalkan ruangan itu. Rey langsung menatapnya seakan-akan menuduhnya sedang menghindarinya sekali lagi.


"Reyvano, Vanessa, untuk setengah jam ke depan saya akan membiarkan kalian berdua membicarakan tentang ketidakcocokan kalian. Anggap saja saya tidak ada di ruangan ini"kata Sugiono tersenyum penuh pengertian.


Manusia gila, aku nggak buta sampai harus pura-pura kalau dia tidak ada di ruangan ini, geram Vane.


Vane menatap Sugiono seolah-olah dia siap membunuhnya, lalu tatapannya beralih kepada Rey. Mereka saling tatap selama beberapa menit.


Vane baru saja akan membuka mulutnya untuk bicara ketika dia mendengar Rey mengatakan, "I love you."


Wajah Vane langsung blank, "What??"


Tanpa disangka-sangka Vane, Rey berdiri dari kursinya dan kemudian sudah duduk di kursi samping Vane.


"Kalau kamu ragu tentang perasaan aku terhadap kamu, aku akan mengucapkannya sekali lagi. I love you. Aku tidak mengatakan ini sebelumnya bukan karena aku nggak cinta sama kamu, tapi karena aku menunggu saat yang tepat"jelas Rey setulus mungkin.


"Aku nggak mau bercerai dengan kamu. Aku mau kamu tetap jadi istri aku, betul-betul jadi istri aku, tanpa kontrak. Aku mau kita sama-sama karena kita memang tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, bukan karena aku harus menyelamatkan karir aku ataupun kamu harus membuktikan sesuatu kepada keluarga kamu."


Rey tidak percaya bahwa dia menuruti saran dari Sugiono, "Kamu bilang ke aku bahwa aku nggak akan bisa tulus sama orang karena aku nggak tahu arti kata itu. Gimana kalau kamu ajari aku artinya? Tunjukin ke aku apa maksudnya? Aku mau belajar dari kamu."


Rey menunggu dengan penuh antisipasi balasan dari Vane, dan dia benar-benar tidak siap saat Vane memilih bangun dari kursinya dan tanpa permisi pergi meninggalkan ruangan itu.


*****


Vane menyetir mobil dengan perasaan tak karu-karuan. Dia tidak menyangka dengan semua kata-kata yang dikeluarkan oleh Rey sejam yang lalu. Dia sudah berusaha mati-matian membangun kembali benteng pertahanan diri, agar dia kuat jika memang dia harus benar-benar berpisah dengan Rey. Justru semua hal tadi kembali menghancurkan hatinya karena dia diberikan harapan lagi. Vane melihat ketulusan dari mata Rey, tapi dia tidak yakin dengan dirinya sendiri kalau dia bisa bersama-sama dengan Rey. Apakah Rey akan menerimanya jika tahu apa yang sudah dia lakukan terhadap papahnya.


Vane segera menepikan mobilnya saat mendengar dering dari HPnya. Setelah berhasil menepikan mobil, Vane langsung mengambil HP dari tas.


"Halo Pah."


"Van, ke kantor cepat. It is very urgent." Jatra berbicara dengan berteriak.

__ADS_1


"Oke, I will come."


Dengan kecepatan penuh Vane mengemudi mobilnya secepat mungkin untuk sampai kantor sesegera mungkin.


__ADS_2