
Hari pernikahan yang paling ditunggu masyarakat Indonesia pun tiba, para wartawan sudah berada di posisi masing-masing seperti membuat barisan barikade mahasiswa yang berdemo di depan gedung DPR. Sementara para tamu undangan yang mendapat undangan khusus untuk hadir di acara akad nikah pun satu persatu sudah berdatangan. Tidak banyak tamu yang datang dari kalangan artis atau pebisnis, karena kebanyakan yang hadir hanya dari keluarga terdekat.
Tidak jauh berbeda dengan pernikahan Satria, di pernikahan Rey dan Vane pun, mereka mengangkat adat Jawa. Walaupun Rey sendiri blasteran, tapi sebagai penghormatan karena mamahnya adalah keturunan keluarga keraton Surakarta maka Rey menyetujui untuk menggunakan adat Jawa. Walaupun dia harus direpotkan dengan segala ritual menjelang pernikahan yang membuat dia ingin menggantung dirinya sendiri di pohon.
Sesuai permintaan Vane, bahwa Rey menyewa pihak keamanan untuk berjaga di depan rumahnya terutama di depan pintu gerbang agar tidak ada wartawan yang menerobos masuk ke dalam rumah, selain itu juga beberapa penjaga disebar di sekeliling rumah agar tidak ada wartawan yang nekat merekam acara pernikahan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Rey. Bahkan dia memberi peringatan kalau sampai ada media yang mempunyai rekaman acara pernikahannya maka media tersebut akan dituntut.
Halaman rumah Rey yang luas sudah di hias sedemikian rupa begitu indah dan elegan dengan nuansa putih dan hijau didominasi bunga lily dan aster, dua jenis bunga kesukaan Vane yang sangat cocok dengan tema garden party. Selain itu jalan setapak yang menuju tempat akad ditaburi oleh kelopak mawar merah hingga membuat warna rumput yang hijau tak nampak. Lalu ada rangkaian lampu lampion kecil yang menggantung ditambah dengan beberapa selendang yang menambah kesan elegan dan hangat pada dekorasi itu.
Semua tamu sudah duduk di kursi masing-masing, sedangkan keluarga Vane sedang berdiri di bagian ujung jalan kelopak mawar untuk menyambut kedatangan mempelai pria. Jatra nampak gugup, selain karena putrinya akan menikah ini adalah hari di mana dia akan bertatap muka dengan Adam Millford, orang yang paling dia cari selama ini. Dan hari ini dia dan Adam akan menjadi besan. Sungguh takdir yang tidak bisa dinalar. Jatra ingin menyumpah. Tapi apa daya, Tuhan sudah menggariskan takdir seperti ini.
"Papah yang tenang, apapun yang terjadi kamu nggak boleh gegabah"bisik Indah mengelus lengan suaminya, dan Jatra pun mengangguk menanggapi perkataan istrinya.
Tak berapa lama munculah Rey yang memakai baju beskap lengkap berwarna putih diapit oleh Sarah mamahnya, dan seorang pria bule paruh baya yang tersenyum penuh bahagia berjalan beriringan menuju tempat akad nikah.
Satria dan Bima langsung menegang, ini kali pertamanya mereka melihat sosok Adam Millford di usia 60 tahun, karena tidak pernah ada yang tahu seperti apa penampakan wajah Adam sekarang.
Rey dan kedua orang tuanya pun menghentikan langkahnya saat sudah berhadapan dengan kedua orang tua Vane. Indah mengalungkan roncean melati pada Rey sebagai tanda sambutan hangat pada calon menantunya.
"Pak Jatra dan Bu Indah, perkenalkan ini suami saya Adam Millford"kata Sarah menunjuk pria yang berada di sebelah kanan Rey.
Jatra hanya tersenyum kikuk, dia tidak tahu harus merespon bagaimana. Rasanya dia tidak bisa melakukan apapun. Di situasi ini, di pesta pernikahan putrinya dia bertemu dengan orang yang paling dia cari. Ingin rasanya dia langsung menangkapnya tapi percuma juga karena dia belum punya cukup bukti yang bisa menyeret pria bule itu ke penjara.
"Selamat Pagi Pak Jatra, saya papahnya Rey"kata Adam mengulurkan tangannya kepada Jatra.
Jatra pun membalas uluran tangan Adam dan berkata, "Senang bertemu dengan anda Pak Adam. Saya sudah menunggu kedatangan anda sejak lama"balas Jatra tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Adam merasa bahwa perkataan Jatra seperti sindiran karena dia tidak datang di acara lamaran putranya, "Maaf kalau saya belum sempat hadir saat acara lamaran, karena saya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan agar saya bisa datang ke acara pernikahan anak saya"jelas Adam dengan tenang.
"Tidak masalah Pak Adam, kami cukup mengerti dengan kesibukan anda sebagai seorang pebisnis yang sukses"timpal Indah begitu ramah.
"Oh ya perkenalkan ini Bima anak pertama saya, dan dia Satria anak kedua saya"kata Jatra menunjuk Bima dan Satria bergantian.
"Ternyata calon menantuku punya dua kakak laki-laki, sepertinya Rey pasti sempat mengalami kesulitan saat meminta restu pada kalian kan?"tanya Adam sedikit bercanda.
"Iya tentu saja, karena dia akan mengambil adik perempuan kesayangan kami"seru Bima mendelikkan mata kepada Rey.
Sikapnya masih saja galak, padahal aku akan menikah dengan adiknya, gerutu Rey.
Setelah Jatra memperkenal anggota keluarganya pada Adam, mereka pun mempersilahkan Rey untuk duduk dan menunggu kedatangan Vane. Beberapa menit kemudian Vane pun memasuki tempat pernikahan dengan di gandeng oleh Ana dan Amel. Refleks Rey yang tadinya duduk langsung berdiri memandangi calon istrinya yang begitu cantik seperti putri keraton.
Jantung Vane sampai berdetak lebih cepat setiap langkahnya. Antara gugup karena menikah atau karena akan bertemu papah mertuanya, tak bisa dibedakan rasanya oleh Vane. Intinya dia ingin hari ini cepat berakhir.
Astaga, papah mertua aku! Dia datang! OH GOD, THE WAR WILL BEGIN!!!
Acara akad nikah pun berlangsung dengan lancar dan khidmat. Selama akad nikah berlangsung Vane tidak berani menatap Rey. Dia takut kalau dia melakukannya maka semua orang akan bisa melihat kebohongan dari semua ini.
Kemudian Rey dan Vane di minta untuk melakukan sungkem kepada orang tua mereka. Di awali dengan kedua orang tua Vane. Ya Vane tidak sebenarnya menangis, karena di tahu pernikahan ini akan berakhir kurang dari setahun jadi untuk apa dia menangis seakan-akan kehidupan pernikahannya akan berlangsung dalam waktu yang lama.
Setelah itu kedua pengantin beranjak kepada kedua orang tua Rey. Jantung Vane tambah deg-degan, dia terus menggerutu di dalam hati bahwa saat ini dia sedang berlutut dan bersimpuh di depan sosok Adam Millford yang setengah jam lalu resmi jadi bapak mertuanya. Sepertinya kisah hidup Vane cocok untuk diangkat dalam sebuah film atau ftv. Sepertinya judul 'Menantuku Ternyata Adalah Musuhku' menjadi judul yang tepat untuk film atau ftv tersebut.
Vane membalas dengan senyum perkataan Adam saat sungkeman yang menurutnya seperti pesan keramat seorang ayah untuk menantunya. Akhirnya Vane dan Rey bertukar posisi dan sekarang Rey yang giliran sungkem kepada Adam. Setelah selesai sungkem, Adam hendak memeluk Rey tapi tanpa disangka Rey menepis tangan Adam dan dia langsung berdiri menjauhi papahnya. Vane yang melihat itu bahkan sampai melotot dan menganga begitu pun dengan mamah mertuanya.
__ADS_1
Sepertinya hubungan Rey dan papahnya tidak baik, kenapa? batin Vane.
Vane melihat dengan jelas sikap Rey kepada papahnya hanya sebatas sikap hormat kepada orang yang lebih tua. Tidak terlihat ada pancaran rasa sayang dan kebahagiaan dari mata Rey terhadap papahnya. Sikap dia dikatakan lebih mirip seperti sikap hormat kepada sesama rekan bisnis. Suatu hal yang janggal menurut Vane, karena selama mengenal Rey, dia sama sekali tidak pernah menyinggung soal papahnya. Karena biasanya seorang anak laki-laki akan dengan bangga mengenalkan super heronya kepada semua orang.
Rey pun menghampiri Vane dan membantu Vane untuk berdiri karena pasti Vane akan merasa kesulitan untuk berdiri karena mengenakan kain jarit. Dan mereka pun kembali untuk duduk di kursi pelaminan untuk melakukan beberapa sesi foto bersama.
"Rey pelan-pelan..."lirih Vane saat Rey menarik kedua tangannya untuk ditanting.
"Iya ini juga sudah pelan kok"balas Rey menahan nafas karena dia tidak mau lagi-lagi harus mencium aroma parfum vanila milik Vane.
Karena sejak acara akad nikah di mulai, dia harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak terlena dengan aroma vanila itu yang bisa membuatnya menarik Vane ke dalam pelukannya secara paksa.
*****
Setelah acara akad selesai, Vane memiliki waktu untuk beristirahat sebentar di kamar yang ada di rumah Rey, sekaligus menunggu waktu acara resepsi pernikahan yang akan diadakan pukul empat sore nanti.
Vane sengaja memilih kamar yang ada di lantai dua sebagai kamar ganti, di mana kamar yang biasa digunakan Reza jika dia sedang menginap di rumah Rey. Karena salah satu kamar yang ada di lantai empat sengaja di kosongkan karena akan digunakan untuk kamar pengantin sekaligus kamar Vane selama tinggal di sana. Karena dia dan Rey harus pisah kamar setelah menikah.
"Van kamu istirahat dulu, nanti ada tim MUA sama wadrobe bakal ke sini buat dandanin kamu lagi untuk acara resepsi"kata Amel mengantarkan Vane ke kamar.
"Oke, thanks Mel"balas Vane lalu menutup dan mengunci pintu kamar itu.
Vane menghela nafas cukup panjang. Kemudian dia melihat pantulan dirinya dari cermin meja rias. Menatap dirinya yang memakai kebaya pengantin berwarna putih. Kemudian dia melirik cincin emas polos yang melingkar di jari manisnya. Rasa berat di dalam hati kini dia rasakan. Setahun yang lalu Vane sudah merencanakan kehidupannya setelah kembali ke Indonesia, tapi setelah bertemu dengan Rey hidupnya serasa jungkir balik.
Kini Vane harus menjalankan kehidupan yang rumit. Menjadi istri seorang selebritis dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun, dengan tujuan untuk membantu membersihkan nama suaminya dari gosip yang menerpanya. Dan di balik itu semua dia pun punya tujuan sendiri, yaitu mengungkap kejahatan seseorang yang merupakan ayah dari suaminya sendiri.
__ADS_1
Vane benar-benar menyumpahi hidupnya sendiri. Kenapa dia harus mengalami kehidupan yang mengerikan seperti ini. Dia mencoba menguatkan dirinya, agar dia bisa fokus pada tujuannya sejak awal. Yang Vane takutkan adalah kalau tiba-tiba perasaan itu muncul di dalam pernikahan kontrak ini bagaimana? Oh No! Vane bisa gila, kalau itu terjadi. Semoga saja itu tidak terjadi.