Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 59


__ADS_3

Dua tahun yang lalu.


"Vane bertahanlah, kakak mohon!!!"ucap Satria dengan suara gemetaran penuh ketakutan.


Vane digotong masuk ke dalam ambulance, dan Satria yang menemani Vane di dalam ambulance itu. Dan tiga mobil ambulance langsung melaju secepat mungkin agar bisa menyelamatkan nyawa orang yang dibawa.


Seorang perawat langsung memberi tindakan pertama, dia memakaikan Vane alat bantu nafas, memasangkan infus, kemudian membalut luka tusuk di perut Vane. Satria sudah tidak bisa menahan tangisnya, dia terus mengelus kepala adiknya.


Dengan susah payah dan sisa tenaga dan kesadaran, Vane mencoba menggerakkan tangan kanannya untuk melepas alat bantu nafas yang menutupi hidung dan mulutnya.


"Van, jangan dilepas!"lirih Satria.


Dengan gerakan kecil, Vane melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Satria mendekat kepadanya. Tanpa pikir panjang Satria membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Vane. Dan Vane membisikkan sesuatu ke telinga Satria.


"Kak...ka..kalau..anak..Kak Bi...Bima lahir, ka..sih dia..nama Va...Vanessa...dan...ka..katakan...bahwa..aku..sa...sayang..ka...ka...lian...se..mua..."


"Dan to...to..tolong...berikan...ko..tak..yang...aku...si...si..simpan..di..le..mari..kepada...Re...Rey..."


Itulah yang Vane bisikkan kepada Satria dengan suara terbata-bata dan begitu lemah. Satria menggenggam kedua tangan Vane dan mencium punggungnya, tak lupa dia mengecup kening adiknya penuh kasih sayang.


BLAAGHH


Tangan Vane terlepas dari genggaman Satria, dan terjulur ke bawah. Satria menatap wajah Vane dengan mata terpejam. Kemudian dia menangis tanpa suara sambil memeluk tubuh Vane dengan erat.


*****


Kediaman keluarga Wibowo sudah ramai didatangi para pelayat yang ingin memberi penghormatan terakhir pada sang pejuang. Hingga tibalah mobil ambulance yang membawa peti jenazah dan meletakkannya di dalam rumah. Setelah peti itu dibuka semua anggota keluarga langsung berteriak histeris.


"VANESSAA!!!! JANGAN TINGGALIN MAMAH SAYANG!!!"


Indah berteriak sambil memeluk peti jenazah di dalamnya terbaring putri kesayangannya yang tidak bernyawa.


"Kamu minta mamah untuk buatin kamu puding coklat kan? Mamah udah buatin sayang, tapi tolong bangun, jangan tidur terus!"ucap Indah dengan cucuran air mata. Jatra langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Vane...kamu katanya ingin punya keponakan? Lihat Van, tinggal beberapa bulan lagi dia lahir, dan kamu bisa bermain dengan dia..." Ana sudah tidak sanggup menahan tangisnya dan Bima harus memeluk istrinya yang sedang hamil itu.


"Kamu jahat Van, bisa-bisanya kamu pergi seenak jidat kamu. Kamu pikir kamu manusia paling hebat dengan santainya melawan penjahat sendiri?"omel Amel sambil menangis menatap wajah Vane.


"Mel, udah ya...ikhlasin kepergian Vane"ucap Satria memeluk Amel.


"Nggak bisa Mas. Vane jahat, cuma dia satu-satunya sahabat yang aku punya"lirih Amel.


"Bima, Satria, sebaiknya kalian bawa istri dan mamah kalian ke kamar"ucap Jatra dingin.


Kedua laki-laki itu langsung membawa para wanita keluarga Wibowo menuju kamar. Jatra terus menatap wajah cantik putrinya yang mungkin tidak akan pernah bisa dia lihat lagi.


"Om Jatra..." Terdengar suara panggilan yang membuat Jatra menoleh dan dia melihat kedatangan Bobi dan Dika. Kedua sahabat Vane langsung memeluk Jatra bersamaan.

__ADS_1


"Yang sabar ya, Om"ucap Bobi.


"Vane udah tenang di sana, Om"sambung Dika.


"Terima kasih, selama ini kalian selalu ada di saat putri saya membutuhkan kalian. Dia pasti bangga mempunyai sahabat seperti kalian"balas Jatra menahan tangisnya.


Mereka bertiga melepas pelukannya. Dan tiba-tiba suasana hening saat rumah itu kedatangan seseorang yang tak lain adalah Rey. Dia berusaha berjalan cepat walapun tertatih tak mempedulikan kondisinya yang masih lemah. Hingga akhirnya Rey menjatuhkan dirimya di atas peti jenazah.


"Hey, babe. I'm here. Kita baru akan memulai semua dari awal lagi. Kenapa kamu pergi dan membiarkan aku sendiri? Lalu dengan siapa aku akan menjalani hidup nanti? Aku minta maaf, untuk semua kesalahanku. Aku tahu kamu marah kan sama aku karena aku diam-diam membantu Clara? Tapi aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap dia. Jangan lakukan ini kepadaku, sayang. Aku cinta kamu, tapi kenapa itu menjadi awal serta akhir dari segalanya."


Rey benar-benar menangis menggenggam tangan mendiang istrinya, membelai wajahnya begitu lembut, dan mencium wajahnya penuh cinta. Sarah melihat betapa besarnya cinta anaknya kepada Vane, dan itu membuatnya merasa sakit saat tahu kehidupan mereka akan berakhir seperti ini.


"Pak Jatra, saya...meminta maaf jika semua ini terjadi karena diawali oleh perbuatan suami saya..." Sarah benar-benar merasa bersalah dan merasa keluarganya adalah penyebab kematian menantunya sendiri.


"Sudahlah Bu, mungkin semua ini sudah takdir"potong Jatra yang sudah tidak mau lagi berbicara apapun karena dia tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.


Tibalah proses pemakaman jenazah Vane, dan dia dimakamkan secara terhormat dengan upacara militer sebagai tanda penghormatan atas semua pengabdian dia kepada negara. Di tengah rasa kesedihannya, Rey dibuat takjub melihat para pelayat yang datang ke pemakaman istrinya.


Di mana sebagian dari pelayat bukanlah orang Indonesia, dan itu cukup membuktikan bahwa mendiang istrinya adalah orang hebat yang dikenal oleh banyak orang. Setelah proses pemakaman selesai, satu persatu anggota keluarga menebarkan bunga di pusara Vane.


Satu persatu pelayat berpamitan kepada keluarga Wibowo dan mengucapkan bela sungkawa sekali lagi dan sebelum mereka pergi. Dan dengan segala bujuk rayu dari para laki-laki keluarga Wibowo akhirnya bisa membawa istri mereka untuk pulang ke rumah. Sementara Rey belum ingin beranjak meninggalkan pusara istrinya. Dia duduk sambil mengelus nisan pusara istrinya.


"Excuse me, are you Reyvano Millford?"sapa seorang pria bule bermata biru dengan rambut pirang.


"Yes, I'm. Who are you?"tanya Rey mendongakkan kepala kepada pria itu.


"I'm Mikhail Shoygu, putra dari menteri pertahanan Rusia Sergey Shoygu, sekaligus mantan pacar Vanessa"kata Mikha mengulurkan tangan.


Rey terkejut karena dia berhadapn dengan orang penting di Rusia ditambah agi pria itu adalah mantan pacar, mendiang istrinya. Rey kini sadar bahwa selama ini dia hidup bersama wanita yang begitu memiliki nama besar di dunia. Rey memberi tatapan penuh kebingungan terhadap Mikha. Lalu dia membalas uluran tangan Mikha dan menyalaminya.


"Apa kau tahu, Nessa adalah wanita yang kuat, pemberani, dan hebat. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi orang yang dia cintai dan negaranya. Dia adalah perempuan paling istimewa, dia memiliki pesonanya sendiri, dan itu yang membuatku merasa beruntung pernah mencintai dia."


Rey menatap Mikha dengan tatapan tidak suka karena pria Rusia itu berani membahas masa lalunya dengan Vane di hadapannya. Mikha hanya terkekeh melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Rey.


"Tapi lebih beruntung dirimu Rey. Kau bisa menikah dengannya, hidup bersamanya, dicintainya, dan bahkan cintamu sampai dibawa mati oleh, Nessa. Aku sangat iri denganmu. Terkadang sangat sulit untuk menerima kenyataan hidup ini, apalagi jika kita kehilangan orang yang kita cintai. Tapi lebih daripada itu, kau setidaknya harus tetap hidup untuk menghargai semua pengorbanannya. Aku harap kau bisa seperti itu. Nessa pasti sangat-sangat mencintaimu hingga dia rela mengorbankan nyawanya untukmu."


Mata Rey mulai berkaca-kaca dan tanpa Mikha duga, Rey justru memeluknya seperti mereka adalah sahabat lama. Dan Mikha tak keberatan untuk membalas pelukan Rey.


Sepulangnya dari makam, Rey kembali ke rumah Jatra terlebih dahulu untuk mengucapkan maaf dan berpamitan. Dia merasa bersalah karena dia yang membuat keluarga itu harus kehilangan putri kesayangan mereka. Tapi dengan besar hati keluarga Jatra sudah mengikhlaskan semuanya. Dan tak lupa Satria memberikan kotak yang diminta Vane agar dia memberikannya kepada Rey.


"Rey, ini amanat dari Vane yang harus aku sampaikan kepada kamu. Dan satu lagi, ini pemberian dariku. Itu adalah alat penyadap suara yang aku pasang di sepatu Vane saat akan menyelamatkanmu. Mungkin kamu ingin mengenang bagaimana Vane menyatakan cinta kepada kamu."


Setelah itu Rey kembali ke rumahnya. Dia memilih masuk ke dalam studio musiknya. Tempat di mana segalanya berawal, saat dia dengan rasa kesal mencium bibir Vane untuk pertama kalinya. Rey membuka kotak itu, dan dia melihat secarik kertas saat pertama kali membukanya.


Untuk yang tercinta, Reyvano.


Terima kasih pernah jadi tempatku menyadarkan kepala saat aku letih, pernah jadi tempat di mana aku bisa membagi duniaku, tawa dan sedihku. Di mana aku tidak perlu takut untuk kesepian dan merasa tidak ada yang peduli. 

__ADS_1


Dan dunia memang tak mungkin akan selamanya jadi milik kita.


Aku percaya dan tahu pasti, bahwa apa yang datang suatu hari akan pergi. Karena tidak ada yang abadi di bumi ini. Ketika kita memulai cerita kita, aku tahu suatu saat kita akan terpisah bagaimana pun caranya. Aku memang dulu berharap, kita punya cerita yang selamanya. Bisa melewatkan berbagai musim denganmu, melewati setiap pergantian tahun demi tahun tanpa harus merasa kesepian.


Tapi nyatanya, takdir punya kisah lain untuk kita jalani.


Aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintai kamu tanpa syarat dan berharap bisa merasakan ketulusan cinta dari kamu, sebuah kepercayaan yang kamu berikan kepadaku. Mungkin semua hanya angan-angan saja. Aku yakin, yang terbaik sudah diberikan Dia untuk kita.


Dari yang tercinta, Vanessa.


Rey meneteskan air mata saat membaca surat itu. Dia tidak tahu lagi bagaimana hancurnya hati Vane saat menulis surat itu, dan sekarang dia merasakan hal yang sama bahkan jutaan kali lipatnya.


Rey kembali memeriksa isi kotak itu dan terdapat flashdisk di dalamnya. Dengan segera Rey mengambil laptopnya untuk melihat apa isi di dalam flashdisk itu. File pertama Rey buka berisi rekaman suara percakapan Rius dan papahnya tentang masa lalu mereka yang menjadi awal kejahatan mereka.


"Papah, maafkan aku, karena aku sempat membencimu. Aku tidak tahu jika hidupmu dihadapkan pada pilihan yang sesulit ini"kata Rey dengan tangisannya.


Rey kemudian membuka file yang kedua, dan file itu memperlihatkan Vane yang memakai dress berwarna putih berjalan menuju piano lalu duduk di kursi. Perlahan-lahan dia menekan tuts piano dan mulai menyanyikan salah satu lagu milik Agnes Monica.


Dan Tak Mungkin


Wajahmu, Hatimu, dan tentang dirimu


Selalu kan berada di dalam hatiku


Sejak awal bertemu


Aku tahu rasa itu


Namun tak mungkin aku


Untuk memilihmu


Dan Tak mungkin untukku


Tuk menggapai cintamu


Walau rasa di hati


Ingin memilikimu


Cinta harus berkorban


Walau harus menunggu selamanya


Ku tahu


Kau bukan untukku

__ADS_1


Rey sudah menangis sejadi-jadinya, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hatinya sakit saat dia harus menerima kenyataan bahwa dia ditinggalkan oleh wanita yang dicintainya, pergi untuk selama-lamanya.


__ADS_2