
Vane sudah ngacir menuju lapangan belakang tempat biasa para anggota berlatih menembak, memanah, dan berkuda. Vane sudah tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memberi tatapan terkejut melihat apa yang ada di tangan Vane. Karena setahu mereka hanya petinggi BIN yang bisa membuka ruangan penyimpanan senjata, dan ruangan itu khusus digunakan untuk menyimpan senjata dengan tingkat kecanggihan tinggi.
Vane berdiri dengan sigap menatap papan target sejauh tiga puluh meter. Dia tidak memakai pelindung telinga, mungkin lebih bagus jika gendang telinganya pecah saat itu juga. Agar dia tidak perlu mendengar ocehan-ocehan orang asing lagi. Vane sudah bersiap untuk menembak, dan dia pun menekan pelatuk pistol.
DOR
DOR
DOR
Suara tembakan menggema ke seluruh arah dan pasti membuat semu terkejut. Vane terus menembakkan peluru tanpa jeda sedikit pun. Ini terdengar bukan seperti latihan tapi terdengar seperti penyerangan.
DOR
DOR
DOR
Lagi dan lagi, Vane meluapkan emosinya kepada setiap peluru yang keluar dari pistol dan selalu tepat sasaran. Hingga akhirnya peluru pun habis. Saat Vane akan mengisi pistol dengan peluru, tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Vane pun menoleh dan melihat sosok papahnya yang sudah berdiri tegak di sampingnya.
"Letakkan pistolnya, atau kamu akan menghabisan ratusan juta jika kamu menghabiskan peluru itu"tegas Jatra dengan tatapan memerintah.
Vane melangkah meninggalkan lapangan untuk menyimpan kembali pistol itu pad tempatnya. Setelah itu Jatra mengajak putrinya menuju ruangannya. Di sana sudah ada Satria dan Bima. Vane mencoba terlihat setenang mungkin dan tidak memperlihatkan emosinya. Dia duduk di sofa dan diapit oleh kedua kakaknya.
"What the hell is this?"tanya Satria menyodorkan HP yang memperlihatkan berita tentang Rey dan Clara.
"I DONT CARE!!"teriak Vane memberi tatapan dingin.
"Aku hanya ingin fokus dengan misi kita nanti malam. Aku tidak peduli dengan berita itu atau dengan apa yang akan terjadi setelahnya"lanjut Vane.
"Are you okay, Van?"tanya Bima.
"Yes I'm." Vane menjawab begitu lantang, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak baik-baik saja.
"Kenapa Rey melakukan itu?"tanya Jatra.
"Kalau kalian mau menghajar dia karena berita ini, aku mempersilahkan kalian dengan senang hati"tukas Vane.
Bima dan Satria saling memandang dengan tatapan tidak percaya dengan perkataan Vane. Sepertinya setan telah menguasai diri Vane sehingga dia terlihat seperti wanita tidak berperikemanusiaan.
*****
Sekali lagi Rey mencoba menghubungi Vane setelah dia mendapat telfon dari Indro tentang foto di tabloid itu. Dia mencoba menelfon ke restoran Vane, mereka bilang kalau Vane hari ini libur. Sekarang sudah jam satu siang, berita di tabloid dengan fotonya dan Clara sudah menyebar di pasaran seperti kebakaran hutan. Shit, dari mana wartawan tabloid itu mendapatkan fotonya dengan Clara?
Rey tahu meskipun tatapan Reza menempel pada layar TV, tapi dia mendengar pembicaraannya di telfonnya. Dia harus menginap di apartemen Reza tadi malam, karena dia tidak berani pulang ke rumah, dan meskipun temannya itu mau memberikan tempat tinggal, tetapi semenjak kemarin sikapnya dingin kepadanya.
"Za, terserah apa yang sedang lo pikirkan tentang gue. Just spit it out."
"Lo nggak mau tahu apa yang sedang gue pikirkan?"balas Reza tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
"Gue tahu lo marah sama gue..."
"Shit, kata 'marah' bahkan nggak cukup untuk menggambarkan apa yang gue rasakan sekarang terhadap lo. Gue rasanya pengin ngemutilasi lo sekarang."
"Ya karena gue udah merahasiakan hubungan gue dengan Clara kan?"
"Karena lo bikin gue pura-pura nggak tahu tentang hubungan lo dengan Clara di depan istri lo yang by the way, dia adalah wanita paling baik yang pernah gue temui seumur hidup gue. Rey kalau gue disuruh memilih, gue bakal jadi bala-bala istri lo daripada harus ngedukung lo yang nggak berguna ini."
"I know that."
"Then why are you doing this to here, man?"
__ADS_1
Rey menyentuh pelipisnya dengan jari-jarinya, rasanya kepalanya mau pecah, "Karena gue berengsek," ucap Rey.
Untuk pertama kalinya, dia mengakui apa yang dia lakukan untuk Clara, meskipun niat yang baik, adalah suatu kesalahan karena dia merahasiakan itu dari Vane. Sebagai seorang istri Vane berhak tahu apa yang dia lakukan. Dan sekarang dia sadar semua alasan yag menjadi dasar atau tindakannya sekarang adalah, bullshit.
"Superberengsek. Tapi Vane cinta sama lo, dan lo juga sebaliknya. Berdoa aja semoga rasa cinta dia lebih besar dari rasa kesalnya terhadap lo"timpal Reza.
Rey menelfon Sita untuk menanyakan siapa yang membocorkan jadwal pertemuannya dengan dokternya Daren. Bahkan Sita berkata bahwa dia belum melihat Vane sejak kemarin sebelum berkata, "Lo emang berengsek banget, do you know that?"
Selanjutnya Rey menelfon mamahnya yang berada di Solo dan langsung kena semprot, "Kalau mamah tahu kamu akan jadi laki-laki seperti ini, mamah nggak perlu jauh-jauh kirim kamu ke Amerika..."
"Apa Vane bersama mamah?"tanya Rey.
"No. Dia tidak bersama mamah. Untuk apa? Ini acara keluarga mamah. Harusnya mamah yang tanya ke kamu, sekarang dia ada di mana?"balas Sarah.
Rey langsung mematikan sambungan telfon itu. Dia tidak ada waktu mendengarkan ceramah dari mamahnya. Dan dia harus memutar otak untuk berpikir ke mana Vane pergi. Rey berpikir apakah Vane pergi ke rumah orang tuanya, tempat di mana dia mendapat dukungan penuh. Tapi feelingnya mengatakan kalau Vane ada di sana mungkin dia tidak selamat hari ini karena kedua kakaknya pasti sudah menghajarnya habis-habisan.
"Gue malu punya temen kayak lo. Ganteng sih ganteng kaya lagi, tapi punya otak nggak berguna. Udah lelangin aja tuh otak"komentar Reza lagi memberi tatapan sinis.
*****
Hingga malam tiba, Vane dan timnya sudah bersiap. Mereka sudah memakai baju seragam lengkap dan tak lupa mereka memakai penutup wajah dan sarung tangan untuk menutupi identitas mereka. Vane tidak lagi terlihat sebagai sosok wanita cantik dan anggun, sekarang dia justru terlihat seperti malaikat pencabut nyawa. Memakai seragam berwarna hitam dengan masker ninja dan helm militer serta pistol Glok 20 yang dia pegang.
Vane menatap layar HP khusus yang dimiliki oleh intel, di mana dia sudah memprogram software HP tersebut agar di bisa memantau pergerakan target melalui vidio dari spy camera yang dia pasang beberapa bulan lalu.
Kini Adam, Jade, dan Rius benar-benar sedang berada di rumah Adam. Karena Sarah akan berada di Solo untuk beberapa hari maka mereka akan aman untuk melakukan misi mereka, karena esok hari setahu mereka senjata dari Rusia itu sampai di Indonesia.
Vane dan timnya sudah masuk ke dalam mobil menuju kediaman Adam. Sesampainya di sana, Satria langsung meretas CCTV yang ada di rumah itu agar Rius tidak mengetahui kehadiran mereka. Rumah itu nampak sepi karena Nata ikut bersama Sarah ke Solo, dan tentu semua pembantu sengaja Adam liburkan agar mereka tidak mengetahui aksinya bersama teman-temannya.
Mereka masuk ke dalam rumah dengan perlahan-lahan, dan mereka sudah mengepung rumah itu dengan anggota tim yang cukup banyak. Vane yang memimpin penangkapan ini sehingga dia yang berjalan di depan menuju perputakaan. Melalui earpiece yang terpasang di telinganya, Satria memberi aba-aba dari dalam mobil di mana dia fokus dengan laptopnya. Vane sudah tidak memiliki rasa takut dan belas kasih, karena dia marah besar dengan Rey ditambah lagi misi ini ingin segera dia selesaikan.
BUGH
Vane menendang pintu perpustakan dengan kuat, entah iblis mana yang merasuki tubuhnya hingga dia begitu kuat mendobrak pintu dari kayu jati.
Vane berteriak dengan sangat keras dan semua anggota timnya merasa bahwa rumah ini sampai bergetar karena teriakan lantang dari Vane. Semua anggota mengelilingi dan menodongkan senapan laras panjang mereka ke arah tiga pria bule yang kini sedang duduk dan terkejut dengan kehadiran mereka.
"DON'T MOVE OR I WILL SHOOT YOU!!!"
Vane berteriak lagi dan memberi tatapan tajam penuh amarah kepada ketiganya. Perlahan Adam dan Jade mengangkat kedua tangan mereka, tapi tidak dengan Rius, dia diam dengan tatapan dingin seperti tidak memiliki rasa takut.
Psikopat, batin Vane.
Dengan sengaja Rius menjatuhkan gelas yang ada di meja lalu mengambil pecahan belingnya.
JLEB
Dia menusukkan pecahan beling itu pada paha anggota BIN yang ada di sebelahnya. Anggota BIN itu berteriak dan merintih kesakitan.
"SHITT!!!"
DORR
Satu tembakan meluncur dari pistol yag dipegang Vane. Dia menembakkan peluru itu ke lengan kiri Rius dan darah langsung keluar dari lengannya. Hanya Vane yang mempunyai hak untuk melakukan tindakan penembakan di dalam penyerangan ini.
Rius belum menyerah dia mencoba bangkit dan mengambil vas nunga yang ada di meja, untuk dia lemparkan ke salah satu anggota BIN yang ada di belakang Adam.
BRRUUGGHH
KLETAKK
Vane menendang tangan Rius dengan tendangan Yoko Geri Kekome dalam karate dan berhasil mematah lengan kirinya. Rius langsung terduduk di lantai menahan rasa sakit akibat dari double kill serangan Vane yaitu berupa tembakan dan tendangan.
__ADS_1
"DON'T BE CRAZY OR I WILL KILL YOU NOW!!!"
Vane tak segan-segan memberi ancamannya, bahkan sekarang dia sudah mengarahkan pistolnya ke kepala Rius ketika dia mencoba melawan lagi. Anggota BIN yang terluka sudah dibawa untuk mendapat penanganan. Sementara Adam dan Jade sudah diborgol dan diseret keluar.
"LET SEE HOW YOU CAN GET AWAY FROM ME NOW!!!"
Vane bahkan sekarang sudah memegang jarum suntik dan dia langsung menyuntikkan obat bius kepada Rius. Dia mengantisipasi semua hal yang akan terjadi termasuk jika Rius bisa saja kabur saat dalam perjalanan menuju penjara nanti. Rius sudah pingsan di tempat, Vane sengaja memberi dosis obat bius cukup banyak, karena menurut feelingnya mungkin saja Rius adalah seorang pemakai narkoba jadi jika tidak memberikan obat bius dengan dosis tinggi dia akan lebih cepat sadar.
Anggota BIN yang masih tersisa sudah menyeret Rius keluar dari perpustakaan. Kini tinggal Vane dan Bima yang sudah melepas masker dan helm yang menutupi kepala mereka. Vane mengela nafas panjang dan dia menyimpan kembali pistol di sabuknya.
"Kamu gila!"komentar Bima.
"Memang"ketus Vane.
"Yang kamu lakukan itu..."
"Aku melakukan itu untuk mempermudah misi kita. Sekarang kakak kumpulkan bukti-bukti itu, dan serahkan pada interpol"jelas Vane.
Bima tak berkomentar lagi, dia sudah mengumpulkan dokumen dan membawa laptop milik Rius bersamanya dan akan dijadikan barang bukti untuk di pengadilan nanti. Bima akhirnya keluar dari perpustakaan dan meninggalkan Vane sendiri. Vane kembali mengambil spy camera yang dia sembunyikan dan alat penyadap suara itu.
"Maaf"lirih Vane meneteskan air matanya. Dengan cepat Vane keluar dari perpustakaan dan bergegas pergi dari rumah Adam.
Mereka langsung membawa Adam dan Jade ke penjara di Mako Brimob. Sementara Rius harus dibawa ke rumah sakit TNI AD untuk mendapat perawatan akibat luka tembakan yang ada di lengannya.
*****
Rey sudah tidak bisa berpikir lagi, dia harus menyelesaikan penyebab utama masalahnya sebelum berbicara dengan Vane. Dengan segera dia meraih kunci mobilnya dan meninggalkan apartemen Reza.
Dengan sesopan mungkin agar tidak membuat Clara histeris dan menangis seperti pertama kali datang menemuinya, Rey berkata, "Clara, aku sarankan kamu berbicara dengan Dani tentang keadaan Daren, supaya dia bisa bantu kamu. Dani itu bapaknya Daren, kalau dia tahu Daren sakit, dia pasti akan bantu. Aku nggak akan bisa selalu ada untuk kamu."
Clara berusaha menghindar ketika tahu alasan Rey mendatangi rumahnya, tetapi dia tidak berhasil, berkata dengan nada yang terdengar sedikit panik, "Hah? Kamu nih ngomong apa sih? Aku nggak ngerti. Kamu tahu kan kalau Daren memerlukan kamu, dan aku juga butuh kamu."
"Dokter Lily kan sudah bilang kalau Daren akan baik-baik saja, bahwa kamu cuma harus menjaga dia supaya dia tidak jatuh sakit."
"Tapi Rey..." Clara berusaha membantahnya.
"Clara aku sudah janji membantu kamu semampu aku, dan aku sudah mencapai tahap batas kemampuan. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk kamu"ucap Rey setenang mungkin.
"Kamu nggak bisa ninggalin aku begini, Rey"teriak Clara.
Dari tatapan matanya Rey tahu bahwa Cara akan mulai histeris lagi. Rey menggenggam bahu Clara dan mengguncangkan bahunya.
"Clar, tenang, Clar. Kamu nggak sendirian. Kamu ada mamah kamu dan Dani, yang juga bisa membantu kamu kalau saja kamu minta baik-baik dari mereka."
"Tapi aku perlu kamu, Rey. Please jangan tinggalin aku sendirian."
"Clara...kamu tahu kan kalau aku ini peduli sama kamu? Tapi aku sudah menikah, dan aku cinta istri aku."
Clara kelihatan sedikit terkejut ketika mendengar kata-kata Rey. Jangankan Clara, Rey sendiri juga terkejut ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tapi dia sudah tidak bisa membohongi dirinya lagi. Dia memang mencintai Vane. Entah kenapa dia baru menyadarinya sekarang, tapi dia tidak akan rela melepaskan kegilaan itu sekarang atau sampai kapan pun.
Melihat wajah Clara yang masih kelihatan tidak percaya, Rey menambahkan, "Hubungan aku dengan istriku jadi terganggu karena hubungan aku dengan kamu. Dan thanks karena foto sudah tersebar melalui tabloid, dia pasti menyangka bahwa aku sudah selingkuh dengan kamu. Dia mungkin berencana meninggalkan aku, as we speak. Aku tidak akan memaafkan diri sendiri kalau sampai hal itu terjadi."
"Gimana bisa kamu lebih memilih dia daripada aku? Dia nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan denganku"teriak Clara frustasi.
Di luar sangkaan Clara, Rey malah tertawa terbahak-bahak mendengar komentar ini. Rey tidak tahu kenapa dia justru tertawa mendengar Clara menghina satu-satunya wanita yang dicintainya, daripada memaki-makinya. Mungkin karena dia rindu dengan Vane, wajahnya, senyumnya, tawanya, leluconnya, bibirnya, tubuhnya, dan kehangatannya.
Dengan nada sepelean tetapi penuh ancaman Rey berkata, "Clara, kamu nggak akan mengerti kenapa aku mencintai Vane. Karena kamu nggak pernah mengerti aku, sementara Vane bisa mengerti aku. Seluruh Indonesia mungkin mencintai kamu, tapi aku yakin pendapat mereka akan berubah kalau mereka tahu betapa egoisnya kamu ini. Aku tidak akan menyuruh kamu meminta maaf kepadaku karena sudah berselingkuh dengan Dani saat kita berpacaran dulu. Tapi aku minta satu hal sama kamu, selesaikan masalah kamu dengan Dani dan aku beri waktu 48 jam untuk kamu membersihkan nama baikku. Kalau tidak maka aku yang akan menggelar konferensi pers dan mengatakan yang sebenarnya."
Mendengar kata-kata Rey, Clara langsung memucat. Rey menyangka bahwa Clara akan jatuh pingsan, tapi dia memucat karena marah sebelum dia mengucapkan kata makiannya dengan terbata-bata.
"Dasar laki-laki kurang ajar. Aku harusnya tidak kaget melihat perlakuan kamu terhadap aku. Karena selama kita berpacaran kamu pun tidak pernah menghargai aku. Semua orang mengingatkan aku terhadap kamu. Kamu memang pantas mendapat isu dengan para wanita, Rey. Istri kamu pasti wanita kurang waras yang mau menikahi laki-laki seperti kamu."
__ADS_1
Wajah Rey tidak memberi reaksi apa-apa terhadap makian Clara, "Sekali lagi aku mendengar kamu menghina istriku, aku akan tuntut kamu atas pencemaran nama baik. Ingat 48 jam tick...tock...tick..tock..."
Kemudian Rey keluar dari rumah Clara secepat mungkin sebelum wanita gila itu melemparnya dengan lampu meja ke arahnya.