
Seminggu kemudian, Rey dan Vane menandatangani pren-nup atau perjanjian pranikah mereka. Salam pren-nup tersebut, mereka menyetujui beberapa hal, seperti :
1.Mereka harus menikah dalam waktu dua bulan dan harus tetap menikah hingga setahun dari tanggal perjanjian ditandatangani. Artinya pada bulan September tahun depan mereka sudah harus resmi bercerai.
2.Harus tinggal satu atap selama menikah.
3.Setuju pisah kamar tidur.
4.Tidak terlibat hubungan intim.
5.Rey tetap memperbolehkan Vane bekerja setelah menikah dengan catatan jam kerja hanya sampai jam empat sore.
6.Rey harus memenuhi permintaan finansial yang diajukan Vane tanpa bantahan darinya.
7.Mereka setuju tidak membeberkan rahasia ini kepada siapapun termasuk keluarga Vane, sampai perjanjian ini berakhir.
8.Vane setuju menjalankan tugasnya sebagai istri untuk mendampingi Rey pada acara publik yang harus dihadiri.
9.Menjalani kehidupan terpisah di luar perjanjian ini.
10.Sebagai kompromi, Rey membayar Vane 25 juta setiap bulan, dan Rey akan mentransfer 500 juta ke account bank Vane pada akhir perjanjian kalau Vane masih tetap berstatus sebagai istri Rey hingga saat itu.
Hanya ada segelintir orang yang tahu tentang penandatangan perjanjian ini, mereka adalah Rey dan Vane sendiri, Pak Indro, Ibu Sarah, Reza (sebagai saksi dari pihak Rey), Bobi (sebagai saksi dari pihak Vane), Pak Seto (sebagai pengacara dari pihak Rey), dan Dika (sebagai pengacara dari pihak Vane).
-----
Sebelum hari penandatangan pren-nup dilaksanakan, Vane pergi meminta bantuan kepada sahabat lamanya. Pertama kali Bobi dan Dika, teman baik Vane sejak SMP sampai SMA, mendapat telfon dari Vane untuk dimintai bantuan seminggu yang lalu.
Bobi adalah seorang trainer muay thai dan pemilik salah satu studio latihan muay thai di Jakarta. Sementara Dika adalah seorang pengacara yang sering bolak-balik Jakarata-Singapura untuk menangani kliennya.
Dulu Bobi adalah si cupu saat sekolah dan selalu jadi bahan bully karena fisik dan penampilannya yang mirip anak sekolah zaman penjajahan. Bahkan pernah sampai Bobi dikurung di kamar mandi oleh anak-anak nakal. Dan Vane yang menolong Bobi. Karena pada saat itu Vane terkenal dengan sifatnya yang galak, judes, keras, dan jago bela diri. Vane pun mengubah si cupu menjadi laki-laki yang pemberani.
Sementara Dika si pintar yang selalu rangking satu paralel. Dia tidak pernah pelit memberi contekan pada siapapun. Bahkan sampai teman-temannya dengan seenaknya menyuruh Dika untuk mengerjakan PR mereka. Hal itu membuat Vane tidak terima jika ada anak yang dieksploitasi oleh orang lain. Disitulah Vane melaporkan pada guru BK dan mempengaruhi Dika agar berani melawan teman-temannya hingga Dika tidak lagi jadi anak yang mudah dimanfaatkan.
Sejak saat itu mereka menjadi sahabat karib, trio kwek kwek yang selalu kemanapun bersama. Saling curhat satu sama lain dan saling mendukung. Hingga akhirnya Vane harus ke Prancis. Dan mereka adalah teman terbaik Vane dan tahu segalanya tentang Vane. Baik latar belakang keluarganya, dan seperti apa kehidupan Vane yang sering dirahasiakan dari keluarganya. Dan mereka berdua selalu merahasiakan itu dengan rapih. Itulah mengapa sampai hari ini Vane selalu mempercayai mereka.
Setelah Vane menelfon mereka berdua untuk meminta bertemu, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di studio latihan muay thai milik Bobi.
"Van, lo ada masalah apa?"tanya Bobi langsung menarik Vane untuk duduk di sofa.
"Apa lo sakit parah? Lo sakit kanker ya?"lanjut Bobi seraya meraba wajah Vane.
"Hei temen kurang ajar. Jaga itu mulut, enak aja gue sakit kanker. Otak lo itu yang sakit. Penghinaan banget"sarkas Vane menepis tangan Bobi.
Bobi dan Dika malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Vane yang sangat pedas. Mereka sudah terbiasa mendengar kata-kata pedas dari mulut Vane.
"By the way, apa kabar lo sama cowok Rusia itu?"tanya Dika.
Vane terkesiap mendengar pertanyaan Dika yang menyinggung mantan pacaranya yang sudah putus dari dia dua tahun yang lalu.
"Kan udah putus dua tahun lalu"jawab Vane singkat.
"Eh serius lo beneran putus sama siapa sih itu namanya cowok Rusia itu..."ujar Bobi mengetuk-ngetuk jarinya ke pelipisnya tanda berpikir.
"Mikhail Shoygu anaknya Sergey Shoygu menteri pertahanan Rusia"kata Dika melengkapi perkataan Bobi.
"Wagelaseh, kalau lo nikah sama si Mikhail auto lo tambah kaya raya mana bokapnya menteri lagi, orang Rusia kan sultan-sultan"timpal Bobi dengan suara tawanya.
"Kalian kayak baru kenal gue kemarin sore. Masa nggak tahu alasan gue putus, kan karena pada saat itu kepemimpinan Sergey Shoygu sebagai menteri pertahanan Rusia masih dalam perdebatan jadi memungkinkan munculnya pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaannya. Jadi papah nggak mau ambil resiko terhadap keselamatan gue"jelas Vane dengan wajah santai.
"Ya udah sama gue aja, dijamin aman, damai, sejahtera, sentosa, dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia"celetuk Dika.
Mendengar perkataan Dika, justru Bobi yang reflek memukul kepala Dika hingga dia meringis kesakitan. Vane hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat ulah kedua sahabatnya.
"Yee si Bambang, lo mau hafalan pancasila apa? Ngaca dulu kenapa, emang kelebihan apa yang lo miliki dibanding sama Vane? Jadi nggak usah songong lo"ketus Bobi.
"Becanda Zaenudin. Gue juga udah punya pacar kali, sorry aja ya"kata Dika.
"Nah terus lo minta ketemu sama kita dalam rangka apa?"tanya Bobi mulai serius.
"Gue mau minta tolong ke kalian, buat lo Bobi jadi saksi dan Dika jadi pengacara"ujar Vane menatap keduanya bergantian.
"Saksi?"
"Pengacara?"
Bobi dan Dika saling memandang dengan ekspresi bingung.
"Saksi apaan nih? Saksi kejahatan penyebaran virus bucin? Apa saksi pernikahan kucing yang ada di depan kompleks rumah lo?"ledek Bobi dengan gelak tawa.
"Lah gue kan juga udah jadi pengacara juga, Vanessa yang cantik jelita tiada tara"teriak Dika.
"Astaga bukan itu maksud gue Bambang"gerutu Vane dengan rasa jengkel.
"Terus apa dong?"tanya Dika dan Bobi bersamaan.
"Gue mau kalian bantuin gue buat penandatanganan pren-nup"tegas Vane.
__ADS_1
Bobi terdiam dan mencoba mencerna perkataan Vane. Sementara Dika ternganga mendengar perkataan Vane.
"Pren-nup? Maksud lo semacam pren-nuptial agreement?"tanya Dika
"Yaps"kata Vane singkat.
"Perjanjian? Apa mirip kaya Perjanjian Linggarjati atau Perjanjian Renville"timpal Bobi dengan polosnya.
Dika merasa geram langsung menoyor kepala Bobi seenaknya.
"Eh lo gaul dikit napa, ini perjanjian pranikah yang dibuat atas dasar kesepakatan pihak pria dan wanita sebelum menikah"jelas Dika.
"WHAAATTTT??? PERJANJIAN PRANIKAH? LO MAU NIKAH SAMA SIAPA VAN???"teriak Bobi sambil berdiri tegak dengan mata membulat seperti hendak keluar dari tempatnya.
Vane hanya ternganga melihat reaksi Bobi yang mirip tarzan hingga matanya tak berkedip.
"Santai sob, biar Vane memberikan penjelasan"ujar Dika menarik tangan Bobi agar dia duduk kembali.
Vane menghela nafas putus asa saat dicerca banyak pertanyaan dari kedua sahabatnya itu. Vane pun menceritakan soal lamaran Rey, masalah yang dihadapai Rey, dan alasan Rey memilih Vane untuk menikah dengannya.
"Reyvano Diharjo Millford?"
"Aktor sekaligus penyanyi itu kan? Dia yang katanya ngehamilin model itu?"
Bobi dan Dika bergantian bertanya untuk memastikan Rey yang mereka maksud adalah Reyvano si selebritis yang sedang banyak diperbincangkan.
Vane mengangguk dan kedua sahabatnya sampai melongo beberapa saat.
"Tujuan lo nerima lamarannya Rey...eh maksud gue nerima tawaran menikah sama dia itu apa?"tanya Dika penuh selidik.
"Ya hanya sebatas business partner yang akan saling menguntungkan"kata Vane singkat.
"Dibayar berapa lo?"tanya Bobi.
"Ya belum tahu Zaenudin, kan belum penandatanganan pren-nup. Jadi ya gue belum bisa minta berapa duitnya"kata Vane enteng.
Dika bukanlah anak kemarin sore yang langsung percaya dengan perkataan Vane. Dia merasa ada hal yang disembunyikan dari Vane.
"Lo lagi nggak bohong kan?"tanya Dika.
Vane menatap Dika dengan tatapan datar, mereka berdua adalah sahabat Vane yang sudah paham bahwa dia tidak akan melakukan suatu hal jika tidak ada tujuan di dalamnya.
"Enggak"kata Vane yakin.
"Jangan bilang lo udah suka sama si Rey?"tanya Bobi dengan tatapan penuh selidik.
"What??? Nggak mungkin. Emang muka gue kelihatan kaya perempuan yang lagi jatuh cinta?"tanya Vane dengan tatapan sangar.
"Jadi gini ya Bambang, Zaenudin, papah itu punya misi baru. Dan misi baru ini ada hubungannya sama Rey lebih tepatnya papahnya Rey"ucap Vane.
"Misi gimana?"tanya Dika.
"Papahnya Rey itu seorang mafia yang sudah sering menyelundupkan senjata-senjata ilegal, tapi yang buat susah menangkap dia adalah karena identitasnya itu susah diketahui. Bahkan intel Amerika sama Prancis aja selalu gagal nangkep dia. Sebelum dia tertangkap dia udah bisa kabur alias ngilang gitu aja. Dan anehnya walaupun anaknya itu seorang artis nggak ada foto wajahnya dan bahkan dia nggak pernah menampakkan wajahnya ke publik sama sekali, dan itu adalah salah satu hal yang membuat dia sulit ditangkap"kata Vane menjelaskan argumennya.
Bobi manggut-manggut mendengar penjelasan Vane yang memang jelas sesuai fakta. Sementara Dika masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Dika, Bobi, so please help me. This my first time ask for something to you both"lanjut Vane.
"Tapi Van, lo adalah spesifically wanita yang selalu berpikir secara logis bahkan semua hal yang lo lakuin itu harus bener-bener masuk akal"kata Dika.
Vane hanya bisa menghembuskan nafas putus asa, dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa agar bisa meyakinkan kedua sahabatnya itu untuk membantunya. Vane mengerti bahwa dia tidak pernah bercerita apapun tentang Rey pada mereka. Mungkin itu yang membuat keduanya jelas terkejut.
"So here we are?"tanya Vane
"Gimana Bob, Dik?"sambung Vane menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Ini ide tergila yang pernah gue denger seumur hidup gue, dan lo sebagai sahabat gue yang justru melakukan ide gila itu"seru Bobi.
"Dan apa harus lo yang mengorbankan diri buat misi kayak gini?"tanya Dika.
"Ya karena cuma ini cara yang paling tepat. Kalau Rey nikah otomatis papahnya bakal balik ke Indonesia. Dan di situlah gue bisa lihat itu mukanya Adam Millford dan gue bisa memata-matai dia"tegas Vane.
Vane semakin bingung, jika mereka berdua tidak mau membantunya, maka kepada siapa lagi Vane akan meminta bantuan. Karena untuk saksi perjanjian ini tidak boleh memiliki hubungan darah dan hubungan kekeluargaan lainnya. Dan Vane tidak mengenal banyak orang yang membuatnya nyaman.
"Kapan kita akan tanda tangan?"tanya Dika.
"Secepatnya.."jawab Vane pasti.
Bobi dan Dika masih keliatan ragu beberapa saat hingga mereka saling melempar pandangan dan memberi isyarat anggukan.
"Oke, kita bakal bantu lo. Sudah waktunya kita berguna buat hidup lo sebagai sahabat"ucap Bobi pasti.
Vane langsung loncat dari sofa memeluk kedua sahabatnya dan mengucapkan beribu terima kasih.
"Oke oke stop dulu Maemunah. Gue mau tanya sesuatu ke lo"kata Dika mencoba melepaskan diri dari bear hug yang diberikan Vane kepadanya.
Vane langsung melepaskannya dan duduk kembali ke sofa.
__ADS_1
"Apa lo yakin sama keputusan lo ini? Lo tahu kan reputasi Rey itu seperti apa?"tanya Dika dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukannya lo suka sama Rey?"tanya Vane balik dengan wajah polos.
Bobi yang mendengar pertanyaan polos dari seorang Vanessa Wibowo langsung tergelak di sofa dengan tawa yang sangat keras. Wait a second, Dika suka sama Rey? Oh my God pasti pemikiran Bobi adalah Dika seorang gay, SHITTT!!! Mulut Vane memang nggak ada filter.
"Hei tolong ya mulut lo, gue bukan gay"teriak Dika tak terima.
"Yang bilang lo gay siapa?"tanya Vane dengan tenang dan wajah tanpa dosa.
Bobi berusaha mengontrol tawanya lalu kembali memandangi wajah Dika yang merah karena kesal lalu dia tertawa lagi.
"Maksud gue itu lo kan suka Rey sebagai seorang musisi. Lo kan ngefans sama lagu-lagu dan filmnya yang katanya persis sama kehidupan percintaan lo"kata Vane mencoba menenangkan suasana.
"WHAAT THEE HEEELLL?? Tapi omongan lo barusan secara nggak langsung bikin Bobi mengartikan kalau gue itu gay"sarkas Dika.
"Oke oke udah ya, ini lucu banget sumpah. Gue nggak kuat buat ketawa lagi"kata Bobi kembali duduk.
"Ya Tuhan gini ya Van, Rey itu an overrated spoiled man-boy yang merasa bahwa dia punya hak untuk memperlakukan wanita like shit. You know what I mean!"jelas Dika.
Vane sudah siap untuk membela Rey, tapi kemudian setelah dipikir-pikir lagi kata-kata Dika itu mengena sekali. Akhirnya Vane hanya diam dan Dika melanjutkan perkataannya.
"Gue nggak mau lo sakit hati nanti gara-gara Rey hanya karena lo mau menjalankan misi rahasia ini"lanjut Dika.
"Gue nggak akan ngebiarin dia nyakitin gue. I'm promise"ucap Vane cepat.
"Are you serious about this?"tanya Bobi.
"Sure"jawab Vane cepat.
"So, gimana dengan sahabat cewek lo yang kerja satu restoran?"tanya Dika.
"Amel maksud lo? Dia mau jadi kakak ipar gue guys, terus mau ditaruh di mana muka gue kalau gue minta tolong ke dia. Amel itu cinta mati sama Kak Satria, dan gue nggak bisa jamin dia bisa jaga rahasia ini"jelas Vane yang kembali mengingat pertimbangan saat akan meminta bantuan pada Amel.
"Jadi nggak ada keluarga lo yang tahu soal pernikahan kontrak ini?"tanya Bobi.
"Ya nggak ada lah, kalau ada yang tahu, niat banget bikin papah gebukin Rey habis-habisan"tegas Vane.
"Oke.."ucap Dika dan Bobi bersamaan.
"Oke untuk?"tanya Vane ragu.
"Kita bantuin lo lah"jawab Bobi.
"Because this your first time, minta bantuan ke kita setelah bertahun-tahun lo terus bantuin kita berdua"sambung Dika dengan seulas senyum.
Vane pun bisa bernafas lega bahkan bisa tersenyum ketika kedua sahabatnya mau membantunya untuk masalah ini.
-----
Penandatangan perjanjian ini dilakukan di rumah Rey. Dan saat penandatanganan perjanjian, Rey pun membisikkan sesuatu pada Vane.
"Kenapa kamu memilih dua laki-laki sebagai saksi dan pengacara dari pihak kamu?"tanya Rey.
"Ya adanya"jawab Vane datar.
"Mereka mantan pacar kamu?"tanya Rey.
"Bukan"jawab Vane singkat.
"Apa kamu nggak punya teman perempuan?"tanya Rey lagi.
"Ada. Tapi dia akan jadi kakak ipar saya, yang jelas saya tidak akan menanggung resiko jika suatu hari nanti dia keceplosan membongkar rahasia perjanjian ini kepada keluarga saya, dan hal itu akan sangat membahayakan kita. Kamu mengerti? Kalau kamu banyak tanya saya akan membatalkan pernikahan ini!"tegas Vane menatap Rey dengan mata yang melotot sebagai ancaman agar Rey berhenti berbicara padanya.
Penandatanganan perjanjian pun akhirnya selesai.
"Thank you guys.."ucap Vane pada kedua sahabatnya.
"Hhmm...jangan lupa komisi"kata Bobi menaik turunkan alisnya.
"Fifty fifty-lah, kalau nggak ya sebuah apartemen atau mobil sport"celetuk Dika terkekeh.
"Cewek mau?"tawar Vane dengan tatapan menggoda.
"Wah itu sih gue gercepnya setengah mati"balas Bobi dengan tertawa.
"Ya udah, kita balik ya. Gue harus ke Singapura lagi, terus si Bambang ini katanya mau ngelatih atlit juga"kata Dika menunjuk lengan Bobi.
"Oke hati-hati di jalan"kata Vane.
Dika dan Bobi menatap sinis ke arah Rey yang berjalan di belakang Vane untuk menghampiri mereka. Rey sadar dengan tatapan sinis dari kedua pria itu, yang bahkan berhasil membuat Rey menghentikan langkahnya sejenak. Setelah mereka menghilang dari hadapan Vane, barulah Rey menghampiri Vane.
"Jadi apa kamu sudah memikirkan rencana untuk memperkenalkan aku kepada keluarga kamu?"tanya Rey.
"Minggu depan adalah hari ulang tahun papah. Keluargaku akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah"jawab Vane.
"Hadiah apa yang cocok untuk papahmu?"tanya Rey.
__ADS_1
"Papah ngefans banget sama Nelson Mandela"jelas Vane.
"Oh oke, aku tahu kado apa yang cocok untuk diberikan kepada papah kamu"ucap Rey tersenyum pada Vane.