Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 22


__ADS_3

Setelah kepergian Vane dari rumahnya, bukannya masuk ke dalam rumah dan pergi ke studio musik miliknya, Rey justru kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumahnya. Dia lebih memilih pergi ke kediaman mamahnya yang ada di Pondok Indah. Setelah alamat rumah di Menteng dijadikan kantor Mill Film dan Mill Music, mamahnya lebih memilih tinggal di rumah yang dibelikan oleh papahnya 10 tahun lalu.


Rey tahu betul jadwal mamahnya sehingga tidak perlu menelfon untuk memberitahu kedatangannya. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan Vane. Satu detik mereka having a good time ngobrolin tentang keluarga dan hobi dan detik selanjutnya dia salah ngomong dan langsung mendapat sikap dingin dari Vane.


Seperti yang dia duga, mamahnya sedang minum teh di teras belakang rumah ketika Rey sampai. Beliau bahkan tidak kelihatan terkejut ketika melihat anaknya.


"Gimana acara ulang tahun papahnya Vane? Apa kalian sudah mengumumkan pertunangan kalian pada mereka?"tanya Sarah sambil meletakkan cangkir tehnya.


Rey mencium pipi mamahnya sebelum duduk di kursi rotan yang tersedia.


"Acara ulang tahunnya lancar. Aku sudah mengumumkan kepada keluarganya kalau aku akan menikahi Vane, sekarang tinggal mamah telfon orang tua Vane untuk ngomongin masalah lamaran. Vane bilang dua minggu lagi dia free sehingga acara lamarannya bisa dilaksanakan setelah acara lamaran kakaknya dan dia mau pernikahannya pertengan bulan Desember setelah pernikahan kakaknya juga"jawab Rey.


Sarah memerhatikan anaknya dengan lebih seksama. Dia tahu betul kepribadian Rey yang sangat tertutup dan pendiam sehingga terkesan moody kepada kebanyakan orang, tapi beliau sudah belajar untuk membedakan antara moody karena dia sedang kesal atau karena dia sedang banyak pikiran.


Namun wajah Rey hari ini tidak kelihatan kesal ataupun pusing, melainkan bingung. Rey tidak pernah bingung, dia adalah jenis orang yang selalu tahu apa yang harus dia lakukan dalam situasi apa pun. Sarah bertanya-tanya apakah atau lebih tepatnya siapakah yang membuat anaknya seperti ini?


"Kalau misal semuanya lancar, kenapa kamu kelihatan marah begini?"tanya Sarah.


"Aku nggak marah"balas Rey terlalu cepat dan terlalu tajam membuat Sarah tersenyum. Rey mendengus sebelum berkata, "Mamah apa menurut mamah aku ini orangnya sombong dan suka pamer?"


"Humph..." Sarah sedikit terkejut mendengar pertanyaan ini sehingga dia harus berpikir sejenak.


"Mungkin nggak sombong atau pamer specifically, tapi kamu tipe orang yang karena sudah terbiasa hidup dengan segala sesuatu nomor satu, kamu jadi kelihatan kurang memghargai benda-benda yang orang pikir sebagai barang mewah karena itu sudah jadi bagian dari kehidupan harian kamu. Tapi nggak ada yang salah dengan itu."


Rey terdiam. Perlahan-lahan mencoba mencerna kata-kata mamahnya. Sebagai anak tunggal seorang pengusaha sukses dia memang sudah dibesarkan dengan segala kemewahan, sehingga sebagai manusia dewasa, segala kemewahan yang dia miliki dianggapnya sebagai suatu hak daripada suatu keistimewaan.


Wow, Vane benar, dia memang sombong. Kenapa tidak pernah ada orang yang mengatakan hal ini kepadanya sebelumnya? Semenjak papahnya menjadi pengusaha sukses dengan bisnisnya yang ada di luar negeri, dia selalu berusaha sebisa mungkin membebaskan diri dari cetakan anak-anak dengan latar belakangnya, yaitu anak-anak orang kaya yang sombong dan berpikiran dangkal.

__ADS_1


Dia lebih memilih sekolah negeri daripada swasta, bergaya punk rock daripada bergaya rapih, dan berkarir di dunia musik sebelum akhirnya merambah ke dunia akting, memisahkan diri dari dunia bisnis kedua orang tuanya.


Apalagi setelah Rey dimarahi habis-habisan oleh papahnya ketika mengambil jurusan hukum. Rasanya Rey seperti baru melakukan sebuah dosa besar dan tak termaafkan. Papahnya bilang untuk apa kuliah jurusan hukum, dunia hukum hanya membuat kamu tidak bisa melakukan apapun dengan bebas. Alasan yang sangat tidak masuk akal bagi Rey saat itu.


Dan akhirnya Rey mengambil jurusan manajemen tapi anehnya papahnya tidak pernah memperbolehkan dia ikut bergabung dalam bisnisnya. Padalah setahu Rey biasanya seorang ayah akan meminta kepada anaknya untuk meneruskan bisnis yang dimilikinya. Tapi tidak dengan papahnya, dia bahkan menolak keras saat Rey menawarkan diri untuk ikut dalam bisnis papahnya. Bahkan Rey tidak pernah tahu apa alasan papahnya melarang Rey ikut dalam bisnisnya.


Tidak hanya larangan mengambil kuliah hukum dan ikut dalam bisnis papahnya, Rey juga menyimpan rasa kecewa yang teramat dalam karena papahnya selalu saja sibuk di luar negeri mengurus bisnisnya. Entah apa yang dia kerjakan di negara lain. Yang jelas kesibukannya membuat dia dan mamahnya terabaikan. Terutama Rey sebagai seorang anak yang bisa dibilang kekurangan kasih sayang papahnya.


Sejak Rey SD papahnya acuh dengan dirinya dengan memilih tinggal lama di luar negeri dan hanya kembali ke Indonesia jika ada hal mendesak. Bahkan Rey masih ingat saat dirinya akan mengikuti pertandingan sepak bola antar sekolah dan meminta papahnya untuk menonton. Tapi dengan kejam papahnya menolak mentah-mentah permintaan Rey. Hal itu membuat Rey kalah dalam pertandingannya.


Dan masih banyak lagi hal yang membuat Rey membenci laki-laki yang menjadi papahnya itu. Secara teori psikologis anak yang kurang kasih sayang di masa kanak-kanaknya akan kesulitan dalam mengidentifikasikan perasaan, tentu saja ini membuat Rey menjadi pribadi yang pendiam, tertutup, kurang bersimpati, dan tidak mudah percaya dengan orang lain.


Mamah adalah seorang wanita yang lembut, baik hati, dan penyayang. Dia selalu bisa menjadi sosok istri dan ibu yang baik di mata Rey. Walaupun dulu, Rey tahu keluarga mamahnya tidak menyukai papahnya karena papahnya dianggap tidak cukup kaya untuk menghidupi mamahnya yang merupakan anggota keluarga keraton Surakarta. Tapi dengan segala cara mamah membantu papah untuk memulai bisnis dan hingga bisa sukses.


Rey bahkan sampai heran, setelah semua yang dilakukan papah, mamahnya tetap saja masih mau bertahan hingga hari ini. Tetap mencintai dan menunggunya, tetap memberi pengertian kepada Rey bahwa papahnya adalah pria yang baik dan menyayanginya. THAT'S BUULLSSHIIITTT!!!


"Hhmm...saat aku menawarkan Vane untuk memakai jasa wedding organizer agar bisa membantunya merencanakan pernikahan dia bilang kalau dia tahu berapa penghasilan aku sebagai artis dan aku tidak perlu menyombongkan dan memamerkan uang aku"kata Rey dengan wajah polos.


Ekspresi Rey berhasil membuat Sarah terkikik geli bahkan tertawa.


"Kenapa mamah ketawa? Apa yang lucu?"tanya Rey kesal.


"Mamah kan udah pernah bilang sama kamu Rey, kalau Vane itu berbeda dengan wanita lain. Di saat kebanyakan wanita akan sangat bersemangat memakai jasa wedding organizer sementara Vane justru mengatai calon suaminya itu sombong dan pamer"ucap Sarah memberi pengertian.


"Mulai sekarang kamu harus memahami sifat dari calon istrimu, dia itu tipe wanita mandiri yang bisa membiayai dirinya sendiri, jadi dia akan tersinggung jika kamu selalu menyinggung tentang uang kamu"lanjutnya sambil mengelus wajah Rey.


"Ya mamah benar. Aku juga melihat saat di pesta ulang tahun papah Vane, dia bukan wanita yang berusaha bersikap anggun tapi dia tipe orang yang akan mengeluarkan komentar pedas jika ada hal yang menurutnya patut dikomentari"balas Rey seraya melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Itu alasannya kenapa menurut mamah dia pantas untuk kamu nikahi demi menyelamatkan karir kamu. Dia tidak segan-segan akan menegur kamu jika kamu melakukan kesalahan yang akan membahayakan karir kamu"seru Sarah.


Rey memandangi langit yang sudah berubah warna dari orange menjadi abu-abu sebelum dia berdiri dan berkata, "Aku pulang dulu, Mah." Setelah mencium mamahnya, dia langsung menghilang.


*****


Vane masih berdiri di depan rumahnya, menatap rumahnya yang nampaknya sudah rapi seperti sedia kala layaknya rumah yang tidak baru mengadakan pesta dengan kedatangan tamu seorang selebritis. Vane menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan-lahan mengumpulkan keberanian. Bahkan hingga hari sudah petang pun Vane belum berani masuk ke dalam rumah.


Vane melangkahkan kaki memasuki rumahnya dengan gontai. Rumahnya nampak sepi sunyi senyap. Pasti semua orang sudah berada di kamar masing-masing. Vane pun melangkah dan menaiki tangga menuju ruang kerja papahnya.


Di depan pintu ruang kerja papahnya, Vane berdiri mematung. Lututnya rasanya melemas dan tubuhnya ingin ambruk. Vane tiba-tiba merindukan kasurnya.


"Oke Vane, sebagai seorang wanita pemberani kamu harus siap menghadapi semua kemungkinan yang terjadi"lirih Vane berkata pada dirinya sendiri.


Vane menyentuh kenok pintu lalu menekannya dan perlahan mendorong pintu hingga pintu itu terbuka. Saat Vane masuk terlihat tiga sosok pria sudah duduk berjejer di sofa menghadap satu kursi kosong yang jelas itu diperuntukan untuk Vane.


Dia tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan Vane berusaha agar suara nafasnya tidak terdengar sama sekali.


Vane menutup pintu dan menguncinya. Lalu berjalan menuju kursi kosong itu, mendudukkan diri secara perlahan. Dia duduk berhadapan dengan tiga pria yang sudah memasang wajah sangar dengan tatapan tajam.


Dear God, I want die now.


*Ya Tuhan, aku mau mati sekarang.


Vane berusaha duduk dengan sikap tegak seperti apa yang diajarkan oleh papahnya, apalagi ini saat penentuan hidup dan matinya Vane. Dia meyakinkan dirinya sendiri apapun yang terjadi, dia tidak boleh terlihat ketakutan atau semua kebohongan tentang pernikahan dia dan Rey akan terbongkar dalam hitungan detik.


Jatra menatap putrinya dengan tatapan tajam. Mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran anaknya melalui pancaran mata putrinya. Sementara kedua kakak Vane memberi isyarat dari mata mereka untuk menyuruh Vane memulai bicara. Vane tahu, dia sedang diajak berkomunikasi lewat batin, tapi dia memilih cuek dan menunggu papahnya yang menyuruhnya bicara.

__ADS_1


__ADS_2