
Hari yang paling melelahkan sepanjang hidup, telah Vane lewati. Setelah dia mendapat serangan jantung karena sebuah lamaran paling gila yang pernah dia dengar. Saat hari menjelang malam, Vane memutuskan pergi dari rumah Rey untuk kembali pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, setelah Vane memarkirkan mobilnya di halaman rumah, ada perasaan dilema yang menyerang dirinya. Dia tidak mungkin menceritakan lamaran gila ini pada papahnya. Jatra tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga diri putri kesayangannya.
Vane menghela nafas panjang sambil memijat pelan pelipisnya. Setelah Vane turun dari mobil, dia melihat pemandangan pasangan bucin baru, tidak lain dan tidak bukan adalah Satria dan Amel. Pasangan itu sedang tertawa ria di gazebo yang berada di depan rumah.
Vane hanya memandang dengan tatapan tak peduli. Biasanya Vane akan berteriak dan mengomel jika mereka berdua sedang bermesraan. Vane bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menyadari tatapan dari Satria dan Amel.
Setelah Vane menghilang dan masuk ke dalam rumah Amel pun berkata, "Vane kenapa ya? Biasanya dia pasti bakal ngomel-ngomel dan gangguin kita kalau lagi berduaan?"
"Iyaa. Kamu ngeliat nggak sih, mukanya kaya lesu dan banyak pikiran gitu"balas Satria.
"Hhhmm..."hanya kata itu yang keluar dari mulut Amel.
Vane melangkahkan kaki secepat mungkin tanpa berlari menuju tangga. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Menjatuhkan tubuh ke kasur adalah hal yang bisa Vane lakukan sekarang.
Setelah beberapa menit Vane merebahkan tubuh di kasur, dia memutuskan untuk mandi dengan air hangat mungkin bisa membuat pikirannya menjadi tenang. Ternyata benar, setelah mandi pikiran Vane menjadi tenang. Rasa lelahnya langsung hilang saat merasakan air hangat membasahi tubuh.
Selepas Vane selesai memakai baju, dia segera keluar kamar untuk makan malam karena jam menunjukkan pukul 7 malam. Di meja makan, ternyata semua anggota keluarga sudah menunggunya.
"Van tumben kalem?"tanya Bima.
Vane yang sedang setengah jalan memasukkan sendok ke dalam mulutnya sejenak menghentikan aktivitasnya dan menatap kakaknya. Oh ya, Vane hampir lupa kalau Kak Bima adalah pengamat yang baik. Jadi, kalau ada hal yang tidak beres jiwa intelnya langsung meradang.
"Kalem dikit dikomen, petakilan dikomen"gerutu Vane dengan wajah beringsut.
Vane berusaha kembali dengan sifat ceria dan cerewetnya, agar keluarganya tidak curiga sedikitpun.
"Bima, biarkan adikmu menghabiskan makanannya. Kamu itu kebiasaan suka tanya-tanya kaya wartawan"ujar Indah.
Vane menghela nafas lega saat mamahnya berhasil menyelamatkannya dari pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Bima.
"Oh ya Satria, kamu nganterin Amel pulang kan? Katanya Om Suseno sama Tante Nadia udah pulang ke rumah"kata Jatra.
"Iya habis makan aku anterin Amel pulang kok"jawab Satria.
Seusai makan malam, Vane kembali ke kamarnya. Hal yang langsung Vane lakukan adalah membuka laptop dan tak lupa dia memakai earpiece untuk mendengarkan suara dari laptopnya.
Tak berapa lama setelah Vane menyalakan laptopnya muncul sebuah notifikasi dari HP Rey, ada panggilan masuk dari Adam millfor. Dengan cepat Vane menggerakan mouse dan menekan notifikasi itu.
"Halo pah..."
Rey menjawab panggilan dari papahnya, beberapa saat tak terdengar jawaban dari papahnya.
"Gimana kabar kamu Rey?"
Akhirnya terdengar suara berat dari Adam. Vane menganga saat pertama kalinya Vane bisa mendengar suara milik Adam.
"Kabar Rey baik. Papah tumben telfon masih inget kalau punya anak?"
Terdengar nada bicara Rey yang sangat ketus. Menandakan bahwa ada rasa tidak suka terhadap papahnya.
"Papah dengar dari mamah kamu kalau kamu ada masalah"
"Hhmm...tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah menemukan solusinya"
"Kamu bersungguh-sungguh kan? Jika masalah kamu belum terselesaikan, papah akan bantu kamu"
"Papah yakin bisa bantu aku?"
"Tentu saja, kamu itu putraku. Sudah seharusnya seorang ayah membantu anaknya disaat kesulitan"
__ADS_1
"Oh aku pikir papah sudah tidak menganggap aku sebagai anak lagi"
Jantung Vane serasa berhenti berdetak beberapa detik karena seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya, ada masalah keluarga apa antara Rey dan papahnya?
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Papah serius Rey"
"Ya baiklah, aku terima bantuan papah"
"Apa yang bisa papah bantu?"
"Datanglah ke pernikahanku"
Vane terkejut saat Rey mengatakan soal pernikahan. Ini membuat Vane kalang kabut.
"Kamu menikah? Dengan siapa? Gadis yang digosipkan hamil dengan kamu?"
"Bukan, lagi pula anak itu bukan anakku. Aku akan menikah dengan wanita yang tepat"
Seketika rasa nyeri di dada Vane langsung menghilang saat Rey mengatakan bahwa dia adalah wanita yang tepas. Seulas senyum terukir di bibir indah milik Vane.
"Siapapun wanita itu, jika dia memang baik, papah tidak akan menghalangi pernikahanmu"
"Tentu. Papah pasti akan senang jika bertemu dengannya. Dia berbeda dari semua wanita yang aku kenal"
"Hahaha ya aku akan lebih senang melihat berapa banyak wanita yang akan patah hati karena pernikahanmu"
Terdengar suara gelak tawa antara ayah dan anak itu. Vane merasakan bahwa ada kebahagiaan yang terselip dari suara mereka walaupun awalnya terjadi adu mulut.
"Aku akan kabari tanggal pernikahanku. Papah harus datang, aku tidak mau papah mengecewakan keluarga dia. Cukup aku dan mamah yang papah kecewakan"
"Papah pasti akan pulang. Jaga dirimu dan jaga mamahmu"
"Papah menyayangimu boy"
Panggilan telfon mereka pun berakhir. Mata Vane berkaca-kaca saat mendengar kalimat terakhir yang Adam ucapkan. Rasanya aneh seorang penjahat seperti Adam Millford bisa memiliki kasih sayang yang begitu dalam terhadap anaknya.
Vane berpikir cukup keras, bagaimana bisa dia melakukan kejahatan tanpa mengingat keluarga yang dia cintai. Ini aneh, seperti bukan dia yang punya niat melakukan kejahatan itu.
"Oh my God Vane, back to focus"kata Vane menepuk wajahnya untuk mengembalikan fokusnya.
Vane pun melacak keberadaan Adam saat menelfon Rey. Dan tak membutuhkan waktu lama Vane menemukan keberadaan Adam.
Tokyo, Jepang.
Vane menatap layar laptopnya hingga alisnya menyatu. Vane tidak menyangka Adam memilih Jepang sebagai tempat persembunyian. Cerdas sekali, pikir Vane. Karena keberadaan Adam di Jepang akan sulit diketahui mengingat kejahatan Adam belum meluas hingga negara itu.
"Jadi, kalau aku menikah dengan Rey, otomatis laki-laki ini akan kembali ke Indonesia dengan suka rela. Toh dia tidak tahu bahwa dia juga diincar oleh intel Indonesia. Yang artinya dia masih menganggap negara ini aman untuk dia datangi. Dan lebih hebatnya lagi aku akan leluasa mengawasinya dan dia tidak akan curiga sama sekali karena statusku sebagai menantunya"ucap Vane dengan penuh keyakinan.
Beberapa lama Vane diam, lalu dia berkata lagi, "Astaga Vane betapa cerdasnya dirimu. Tidak salah jika kamu menjadi agen rahasia"kata Vane sambil tertawa geli membanggakan dirinya.
Vane kembali mengotak-atik laptopnya, memantau aktivitas HP Rey. Dan tiba-tiba Vane diam dan merenungkan sesuatu.
"Kak Satria kan juga tahu kode rahasia menyadap HP Rey, aku harus menggantinya. Salah-salah dia bisa tahu rencana pernikahan kontrakku dengan Rey, dan itu akan membuat papah marah dan semua rencanaku hancur"lanjut Vane.
Vane kembali melakukan aksinya, mengganti kode rahasia menyadap HP milik Rey. Dan hanya Vane yang tahu kodenya, dan tentu saja Satria tidak akan bisa membuka kembali isi HP Rey. Sebenarnya Vane adalah sosok penyimpan rahasia yang sangat baik. Bahkan terhadap keluarganya sendiripun, dia banyak menyimpan rahasia. Seperti keahlian atau tindakan apa saja yang dia lakukan di belakang keluarganya.
Vane tidak pernah menunjukkan sejauh apa keahlian yang dia miliki, karena pasti hal itu akan mengundang pertanyaan dari papahnya dan kedua kakaknya. Contohnya, mereka tidak pernah tahu kalau kemampuan cyber Vane di atas Satria, dan mereka juga tidak mengetahui kalau Vane bisa menerbangkan pesawat jet tempur.
*****
"Jadi???"tanya Sarah menatap Rey penuh arti.
__ADS_1
Rey yang berdiri beberapa meter dari mamahnya menghampirinya yang sedang duduk di sofa di rumahnya.
Rey duduk lalu meletakkan kepala di bahu mamahnya.
"Vane sudah setuju untuk menikah dengan aku.."
"Hhmmm lalu?"
"Papah baru saja menelfon dan papah bilang kalau dia akan datang di hari pernikahanku"
"Kamu bahagia?"
"Hhmm, aku tidak mau banyak berharap. Karena papah sering ingkar janji. Dia sering bilang kalau dia akan pulang tapi nyatanya tidak"kata Rey yang tersirat rasa kekecewaan.
"Kamu nggak boleh begitu sama papah..."
"Tapi selama ini papah selalu mengabaikan kita, dia terlalu sibuk dengan bisnisnya. Menurutnya uang adalah hal terpenting dibanding keluarganya"potong Rey sedikit berteriak.
"Kamu nggak boleh benci sama papah. Bagaimanapun juga dia tetap papah kamu"kata Sarah memberi pengertian.
"Sekarang kamu boleh teriak sama mamah, tapi kalau sampai kamu teriak sama Vane, salah-salah dia bisa menampar kamu"ledek Sarah sambil terkekeh melanjutkan perkataannya.
Rey mengernyitkan dahinya mendengar ledekan dari mamahnya.
"Maksudnya?"tanya Rey bingung.
"Vane wanita yang sulit ditebak, jadi kamu harus bisa berhati-hati dalam bertindak sayang"ucap Sarah dengan lembut.
"Iya aku tahu. Oleh karena itu, dia meminta adanya perjanjian pranikah. Dan aku sudah menelfon Om Seto untuk menyiapkan semuanya"ujar Rey membicarakan Seto pengacara pribadinya.
"Terserah kamu saja, yang terpenting karir kamu terselamatkan"tegas Sarah.
"Mamah kenapa sih cinta banget sama Vane?"tanya Rey penasaran.
"Dia wanita yang baik, mandiri, dewasa, dan bertanggung jawab"jawab Sarah.
"Mamah tahu dari mana coba?"tanya Rey lagi.
"Feeling mamah nggak pernah salah Rey"tegas Sarah.
*****
Adam tersenyum bahagia dan merasa lega setelah mengetahui keadaan putranya baik-baik saja. Itu semua terlihat dari garis di wajahnya. Adam sangat merindukan putranya. Mungkin dia adapah ayah terjahat yang ada di dunia, sering mengabaikan keluarganya.
"Kau bahagia?"tanya Jade menepuk bahu Adam yang sedang duduk di kursi yang ada di balkon.
"Menurutmu?"tanya Adam balik.
"Terlihat jelas dari wajahmu"kata Jade tertawa ria.
"Aku sebenarnya ingin menyudahi semua ini Jade"lirik Adam dengan wajah sendu menatap langit kota Tokyo.
"Jika kita menyudahi ini, mungkin kau masih tetap memiliki banyak uang karena anakmu seorang selebritis, sementara aku...langsung luntang-lantung di jalanan"balas Jade dengan nada tinggi.
"Tenang, aku akan menampungmu nanti sebagai pelayan di rumahku"celetuk Adam terkikik geli.
"Cih dasar teman kurang ajar"kata Jade tertawa sembari menikmati angin.
Rius berdiri lima meter dari pintu balkon menatap dua pria itu dengan tatapan iblisnya dsri mata birunya. Tangannya sudah mengepal hingga bentuk urat tangannya terlihat.
"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi!!"ucap Rius dengan suara pelan.
__ADS_1