
Hari ini Vane sudah memulai bekerja kembali. Seperti tugas istri pada umumnya, dia dan Mbok Nami menyiapkan sarapan. Awalnya Mbok Nami melarang Vane memasak, tapi Vane tentu tidak terima karena memasak adalah separuh hidupnya.
"Hai Van!!" Terdengar suara sapaan dari seseorang yang memasuki dapur dan orang itu adalah Reza.
"Hai Za"balas Vane.
"Rey di mana?"tanya Reza clingukan mencari keberadaan makhluk satu itu.
"Masih di kamar kayaknya." Vane membawa piring berisi sayur dan lauk menuju meja makan.
"Waw, kayaknya enak nih." Reza langsung tergoda dengan makanan yang terhidang di meja. Dia ingin sekali mencicipi masakan dari Vane.
"Lo ngapain pagi-pagi di rumah gue?" Rey berteriak sambil menuruni tangga lalu berjalan menuju meja makan.
"Mau culik istri lo!"tukas Reza dengan wajah menantang.
Vane terperanjat saat mendengar perkataan Reza dan hal itu langsung dibalas tatapan tajam dari Rey. Suaminya kini menghampiri Reza dan langsung meninju lengannya.
"Sakit ****!"omel Reza mengelus lengannya.
"Nggak punya sopan santun lo. Selain suka masuk ke kamar gue seenaknya terus berantakin kasur, lo ternyata juga suka numpang makan di rumah orang"ujar Rey.
Lah anda juga suka masuk ke kamar orang tanpa izin. NGGAK NGACA!!!, gerutu Vane.
"Ya ampun Rey, lo tahu kan, gue itu jomblo jadi wajar dong gue numpang makan di rumah temen gue yang udah punya istri. Ya kan Van?" Reza melirik Vane dengan tatapan seakan meminta dukungan dengan menaikkan satu alisnya.
"Iya Rey, nggak papa kok. Lagi pula aku masak banyak hari ini. Selain itu, Reza juga belum pernah mencoba masakanku"kata Vane menahan tawa saat melihat ekspresi jengkel dari Rey.
Mereka bertiga pun akhirnya sarapan bersama. Reza begitu antusias sarapan bersama pengantin baru ini. Dia merasa bahagia akhirnya ada yang berhasil menjinakkan setan seperti Rey. Tapi yang membuat Reza miris adalah semua itu hanya akan berlangsung beberapa bulan ke depan sebelum kontrak perjanjiannya berakhir.
"Lo habis ini mau ke tempat Mba Upi buat cek music vidio yang bakal launch kan? Sekalian review trailer film"tanya Reza disela-sela makannya.
"Ya, gue harus pastiin kalau music vidionya sesuai dengan apa yang gue mau dan trailer filmnya juga udah oke"tandas Rey.
Vane hanya diam dan menyimak percakapan mereka berdua sambil memasukkan sendok ke mulutnya.
"Van, lain kali kalau kamu yang masak ajakin aku makan juga ya"kata Reza.
"Kenapa?"tanya Vane bingung.
"Ya kan sebagai ucapan terima kasih kalian ke aku sudah mau menjadi saksi dan menjaga rahasia pernikahan kalian ini"jawab Reza.
Rey menatap Reza dengan perasaan emosi. Tidak bisakah dia berhenti membahas pernikahan kontrak ini? Rey bahkan ingin menyumpal mulut Reza dengan lap meja sekarang juga.
"Kalian habiskan makanannya berdua aja, aku harus segera ke restoran. Bye Rey. Bye Za."
"Bye Vane cantik..."balas Reza dengan nada menggoda.
Mendengar Reza menggoda Vane, buru-buru Rey menginjak kaki Reza dengan keras.
"Stupid Man!!!"teriak Reza merintih kesakitan saat kakinya sudah nyut-nyutan karena diinjak oleh kaki raksasa milik Rey. Dan si pelaku malah tertawa puas.
"Puas lo? Ya udah yuk, berangkat ke tempat Mba Upi buat review music vidionya sekalian kita meeting buat perilisan film"lanjut Reza.
"Oke lo tunggu bentar. Gue harus ambil berkas review music vidionya di kamar." Rey segera meninggalkan Reza di ruang makan dan berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.
Rey membuka pintu kamar dan matanya langsung tertuju pada lemari drawer berlaci setinggi pinggang. Dia menarik pegangan laci ditingkat pertama mencari berkas yang dia butuhkan. Setelah beberapa menit melakukan pencarian akhirnya Rey menemukan berkas itu. Dia mengambil tumpukan kertas itu keluar dari laci dan tiba-tiba ada sesuatu yang turut terambil olehnya dan sesuatu itu jatuh ke lantai.
__ADS_1
Rey yang mendengar sesuatu sudah dia jatuhkan, dan membuatnya harus menunduk untuk memastikan apa yang dia lihat. Rey tersenyum saat melihat buku nikah yang sudah dia dapatkan dan Vane yang menyuruh dia untuk menyimpannya. Rey mengambil buku nikahnya, dan selirik dia melihat foto dia dan istrinya ada di halaman pertama dalam buku itu.
Dia menutup buku itu dan hendak menyimpan kembali ke dalam laci. Rey menghentikan pergerakan tangannya saat baru separuh jalan memasukkan ke dalam laci. Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang terlintas dipikirannya. Segera dia membuka kembali buku nikahnya untuk mamastikan bahwa minus matanya tidak bertambah saat melihat biodata milik Vane.
*****
Vane sudah memarkirkan mobilnya di depan restoran. Setelah mematikan mesin mobil, dia langsung turun dari mobil saat dia disuguhi pemandangan yang membuatnya jengkel di pagi hari. Bagaimana bisa dia melihat kemesraan Satria dan Amel yang membuatnya ingin melempari keduanya dengan bom molotof.
Vane berjalan pelan-pelan mendekati mereka sebelum akhirnya dia berteriak, "Satpol PP!!!"
Satria dan Amel langsung berteriak karena terkejut dengan suara Vane yang melengking tujuh oktaf. Sementara Vane sudah tertawa puas karena berhasil mengerjai pasangan yang sudah berani mengumbar kemesraan di hadapannya.
"Kamu apa-apaan sih? Ngapain teriak coba?"bentak Satria dengan cepat menjewer telinga Vane.
"Aaahhh...sakit Kak. Lepasin dong. Vane aduin ke Rey loh..."ujar Vane dan Satria langsung melepaskan jewerannya.
"Cie..udah main ngadu-ngadu nih....uwuwuwu"goda Amel dengan senyum tengil.
"Dia nggak bakal berani sama kakak. Memangnya dia pikir dia siapa"ketus Satria.
"Kok kamu sendiri? Rey mana?"tanya Amel mengalihkan pembicaraan.
"Oh dia ada kerjaan. Katanya, mau review music vidio yang mau launch bulan depan"jawab Vane.
"Mel, kamu masuk ke dalam restoran dulu. Aku mau ngomong sama adikku"kata Satria melirik Amel.
Amel tahu apa yang dimaksud suaminya hingga dia memilih untuk masuk ke dalam restoran terlebih dahulu.
Satria memegang kedua bahu Vane dan menatapnya sambil berkata, "Apa kamu bahagia menikah dengan Rey?"
"Aku bahagia Kak"jawab Vane akhirnya dengan senyum merekah.
"Van, kalau ada sesuatu hal yang terjadi sama kamu dan ingin kamu bagi, cerita sama kakak. Kakak akan siap mendengarkan semua ceramah kamu"kata Satria sambil terkikik.
"Dih dikira aku pemuka agama pakai ceramah segala"balas Vane tertawa.
"Ya udah, Vane mau masuk sebelum kena omel Chef Ronald. Bye Kak"lanjut Vane mencium pipi Satria lalu berlari masuk ke dalam restoran.
*****
Setelah menikah dengan Rey, dia tidak bisa lagi bekerja seharian di restoran, atau bahkan sampai pulang tengah malam karena banyaknya pelanggan yang datang. Vane baru saja keluar dari dapur dan hendak pulang. Di perjalanan keluar restoran beberapa pegawai menyapanya.
Vane berhenti di depan restoran saat melihat seseorang berdiri di depan bangunan restoran. Dia menghampiri orang itu dengan tatapan penasaran.
"Steven!" Vane memanggil orang itu yang ternyata Steven.
Tentu saja Steven terkejut saat melihat Vane ada di sini.
"What are you doing in here?" Vane bertanya saat melihat Steven terlihat gugup.
"I'm waiting someone. And you?" Steven berbalik tanya pada Vane dengan ekspresi yang sudah tenang.
"Aku bekerja di sini. Siapa yang kamu tunggu?" Vane merasa curiga jika yang Steven tunggu adalah Amel, dan kakak iparnya hari ini memiliki jam pulang yang sama dengan dia. Artinya Vane akan melihat perang dunia ketiga di depan matanya.
"Van kok lo belum ba...."
Kalimat Amel terhenti saat melihat Steven berada dua meter dari dirinya dan saat melihat Amel datang Steven langsung mendekat dan memegang tangan Amel.
__ADS_1
"Mel, please for give me and back to me"pinta Steven dengan tatapan mata memohon.
Vane tertawa dalam hati, rasanya dia ingin membenturkan kepala Steven pada tembok agar dia sadar bahwa dia sedang menaikkan bendera perang ke tiang bendera. Dia membiarkan saja drama India terpentaskan di depan matanya.
"Gila!!! Minggir!!!" Amel membentak Steven bahkan dia mendorong Steven sekuat tenaga tapi dengan gagahnya laki-laki bule itu bisa menahan tubuhnya.
"Sayang, ayo kita pul...."
Yaps! Let's begin the war, tawa Vane.
Satria tak bisa melanjutkan perkataannya saat dia melihat Steven mendekati istrinya lagi bahkan setelah dia mengancamnya tempo hari, laki-laki tak terlihat kapok. Dan tanpa ancang-ancang Satria langsung memukul Steven lagi.
"Kak Satria cukup! Udah Kak!!"teriak Vane menahan tangan Satria saat hendak memukul Steven keempat kalinya.
"Kakak?" Steven terkejut mendengar panggilan Vane kepada Satria.
"Yes, He's my brother. Dan kamu sudah mengganggu kakak iparku. Sebelum kamu mati konyol karena mengganggu istri orang lebih baik kamu pergi!"tegas Vane dengan tatapan tajam.
Steven kini mengerti keadaan yang terjadi dan dia belum ingin mati muda, sehingga dia memutuskan segera meninggalkan restoran. Amel terlihat ketakutan saat melihat seorang Satria sangat narah dan mungkin hanya Vane yang bisa menenangkannya.
"Amel, kamu tunggu aku di mobil"perintah Satria dan tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun Amel menuju mobil suaminya.
Setelah Vane memastikan Amel masuk ke dalam mobil, sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Kenapa kamu ketawa? Seharusnya kamu menghajar Steven saat dia mengganggu kakak ipar kamu"tanda Satria yang membuat Vane menahan tawanya.
"Aku? Menghajar Steven? Becanda kakak! Kalau dia ngadu ke papahnya sama temen papahnya gimana? Kakak mau besok pagi nggak bisa lihat muka aku yang cantik jelita ini"balas Vane setengah tertawa.
"Nyesel aku punya adik yang nyebelin kayak kamu. Untungnya kamu jenius, mungkin kalau kamu nggak jenius aku udah suruh mamah nitipin kamu di panti asuhan!"tegas Satria lalu pergi meninggalkan Vane yang memulai tawanya lagi.
Vane mendengar bunyi HP dari dalam tasnya dan segera dia mengambil HPnya.
"Halo Bu Sarah."
"Vane kamu di mana?"
"Vane baru saja selesai bekerja dan akan pulang ke rumah."
"Bisakah kamu membantu mamah untuk memasak makanan Prancis. Papahnya Rey sangat menyukai makanan Prancis."
Vane terdiam sejenak saat Sarah menyebut dirinya dengan sebutan 'mamah'. Vane bingung untuk memanggil Sarah dengan sebutan itu atau tidak di dalam pernikahan yang akan berakhir beberapa bulan lagi.
"Vane akan ke sana."
"Mamah kirim share loc ya."
Setelah panggilan telfonnya berakhir Vane bergegas menuju rumah sarah yang ada di Pondok Indah. Berbeda dengan rumah Rey hampir seluruhnya berdinding kaca, rumah Sarah memiliki pilar tinggi dengan gaya klasik Eropa.
Pintu gerbang sudah dibuka saat Vane menekan klakson dan menurunkan kaca mobil, sehingga dia bisa masuk ke area halaman rumah.
"Sore Mba Vane!"sapa Nata yang baru saja selesai mencuci mobil.
"Sore Pak Nata"balas Vane.
Dia lalu masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan ibu mertuanya, yang kata pembantu rumah itu, Sarah ada di dapur dan sudah menunggunya.
"Van, ayo sini ajarin mamah cara masak makanan Prancis"ajak Sarah melambaikan tangan agar Vane mendekat.
__ADS_1