
Sarah tahu bahwa menantunya sedang menghindarinya, tapi dia harus mendapatkan informasi darinya bahwa dia tidak akan menggugat cerai Rey. Dia menerima telfon dari Seto beberapa jam yang lalu, yang mengatakan bahwa kontrak yang ditanda tangani oleh Rey dan Vane setahun yang lalu masih kukuh, yang berarti bahwa pernikahan mereka akan berakhir dalam 48 jam. Dia tahu bahwa Rey sudah menyakiti hati Vane oleh sebab itu dia memang pantas digugat cerai. Tapi sebagai ibu, dia juga tahu bahwa keberadaan Vane sudah memberi pengaruh pada kehidupan anaknya, bahkan setelah banyak masalah yang menimpa keluarganya.
Setelah telfonnya dibiarkan tidak terangkat oleh menantunya, Sarah terdiam, memikirkan langkah apa yang bisa dia ambil untuk menyelamatkan pernikahan anaknya. Saat ini dia hanya tidak ingin Rey kembali terjatuh setelah apa yang menimpa keluarganya. Tanpa mempedulikan jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Sarah menelfon Rey yang berada di Singapura.
Begitu telfon Sarah diangkat, Rey mengatakan, "Halo", tanpa peduli nada mengantuk anaknya, Sarah langsung menyemprot, "Kamu harus segera kembali ke Jakarta besok pagi. Kamu harus pulang secepatnya."
"Who's this?"
"Pakai nanya lagi. Ini mamah kamu Rey, what are you, deaf now, sampai-sampai tidak mengenali suara mamah kamu sendiri. Kamu mau mamah kutuk jadi batu?"teriak Sarah.
"Nggak Mah. Aku cuma ngantuk"balas Rey sambil meraba-raba, mencari tombol lampu. Setelah lampu night stand menyala, dia meraih kacamatanya dan memaksa memposisikan tubuh untuk duduk.
"Ada apa telfon aku malam-malam begini, Mah?"
"Om Seto sudah berusaha menelfon kamu berkali-kali sampai dia tambah ubanan tapi kamu nggak pernah angkat dan nggak pernah telfon balik dia, makanya Om Seto telfon mamah."
Rey ingat bahwa dia melihat nomor HP Seto berkali-kali selama 24 jam belakangan ini, dia tidak menghirakaunnya. Dia perlu berkonsentrasi pada pekerjaannya, "Memangnya ada apa sih yang urgent sampai nggak bisa menunggu aku pulang ke Jakarta." Sekarang Rey mulai mengerutu.
"Kontrak kamu dengan Vane akan berakhir lusa, dan Vane berniat menuruti klausa pada kontrak itu. Do you get where I'm getting at, Reyvano? Dia akan menceraikan kami."
"WHATTT??? NOOO. Aku sudah memberitahu kantor Om Seto untuk membatalkan kontrak itu bulan April lalu."
Kini giliran Sarah yang berteriak, "WHAT???"
"Aku nggak berniat menceraikan dia, Mah. Aku betul-betul serius dengan dia. Aku cinta dia, Mah."
Sarah terdiam beberapa detik ketika mendengar Rey mengatakan bahwa dia mencintai Vane. Selama ini dia selalu berpikir bahwa anaknya sudah kehilangan kemampuannya untuk mencintai seseorang selain dirinya, tapi ternyata dia masih mampu mencintai seorang wanita, dan itu membuatnya terharu. Ternyata setelah apa yang dilakukan suaminya tidak merusak yang ada pada diri Rey, karena Rey jelas-jelas masih memiliki hatinya.
"Kamu sebaiknya pulang untuk meluruskan ini semua karena jelas-jelas Om Seto tidak tahu-menahu tentang pembatalan kontrak ini"ucap Sarah lembut.
"Aku akan terbang ke Jakarta besok pagi. Aku akan hubungi Om Danu untuk menyiapkan pesawat jet"ucap Rey tegas.
*****
Rey sampai di Jakarta jam satu siang dan langsung menuju Menteng. Kepalanya terasa berat dan matanya pedih karena kurang tidur. Semalaman dia melakukan beberapa hal pada saat yang bersamaan. Dia membangunkan Seto dari tidurnya dan memintanya mengecek dengan orang-orang kantornya tentang permintaan pembatalan kontrak yang dilakukan Rey beberapa bulan lalu. Waktu itu Seto sedang ada urusan luar negeri sehingga Rey harus puas berbicaa dengan seorang asisten bernama Yudi. Ternyata Yudi dipecat setelah itu dan tidak mengatakan apapun kepada Seto tentang permintaan Rey membatalkan kontrak pernikahannya.
Kemudian dia menghubungi Danu seorang kepercayaan keluarganya untuk mengurus semua aset pribadi keluarganya. Dia menyuruh Danu untuk terbang ke Singapura menjemputnya dengan pesawat jet pribadi. Tapi sayangnya pagi itu pesawat jet baru tiba di Indonesia dari Prancis karena di sewa oleh salah satu artis wanita untuk berlibur. Maka dari itu Danu baru bisa terbang ke Singapura pada siang harinya.
Rey menemukan Vane yang tengah duduk di salah satu kursi malas di tepi kolam renang. Wajahnya setengah tersembunyi di balik sebuah buku yang tebal. Keningnya sedikit berkerut, menandakan dia sedang berkonsentasi penuh, dan ini adalah pemandangan paling indah yang pernah Rey lihat sepanjang hidupnya. Segala omelan yang dia terima tadi malam dari mamahnya terasa worth it, karena sekarang dia bisa memandangi wanita yang paling dia cintai. Terkejut menyadari betapa dalamnya perasaan cintanya kepada Vane, hingga Rey tersandung dengan langkahnya sendiri.
Vane tidak mendengar langkah kaki Rey, tapi dia mendengar saat Rey menyumpah. Dia langsung mengangkat buku yang menutupi wajahnya, menutup buku itu, dan berdiri, tetapi dia tidak bergerak mendekati Rey. Dia tidak kelihatan terkejut sama sekali ketika melihat Rey, yang berarti bahwa dia sudah menunggu kedatangannya. Rey tidak tahu apakah itu sesuatu yang patut disyukuri atau tidak.
Rey berhenti tepat di hadapannya dan dia tidak tahu apakah Vane akan menamparnya atau menciumnya balik kalau misalnya dia menciumnya, seperti dia rencanakan sebelumnya. Dua bulan yang lalu, dia yakin bahwa Vane akan langsung loncat ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya dengan mesra kalau meihatnya, tapi sekarang, Rey bahkan tidak yakin bahwa Vane mau berada di dalam ruangan yang sama dengannya.
Dia memandangi wajah wanita yang berhasil membuatnya bertekuk lutut dan pada detik selanjutnya dia melihat bahwa wajah itu menggambarkan sebuah kegalauan. Hatinya terasa terlindas sesuatu karena menyadari kesalahannya yang sudah membuat Vane harus pura-pura kuat padahal saat ini dia sangat rapuh. Dia berjanji untuk tidak akan pernah membuat Vane seperti ini lagi.
"Hey, honey. I'm home"ucapnya. Dia harus mengencangkan otot kedua tangannya agar tidak menarik Vane ke dalam pelukannya.
Vane hanya mengangguk kaku, dan sebelum dia kehilangan keberaniannya, Rey berkata, "Aku tahu bahwa hubungan kita sedang tidak baik sekarang gara-gara Clara, dan kamu pasti bertanya-tanya kenapa kontrak kita..."
__ADS_1
Vane mengangkat tangannya, menghentikan Rey, lalu berkata, "Kamu tidak perlu menjelaskan. Aku sudah tahu semuanya dan it's okay. Aku mengerti dan aku minta maaf karena aku membutuhkan waktu sebegini lama untuk memahami semuanya."
Rey tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Vane, dia belum sempat menanyakan hal ini ketika Vane melangkah mendekatinya, menarik kepalanya dan mencium bibirnya. Rey yang masih terkejut selama beberapa detik hanya bisa terdiam dan menerima ciuman itu. Kemudian Vane berjinjit dan melingkarkan tangannya pada leher Rey dan tubuh Rey langsung bereaksi.
Dengan serta merta dia langsung mengangkat tubuh Vane sehingga Vane harus melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Rey dan membalas ciuman itu dengan antusias. Rey langsung membawa Vane menuju ke kamar, membaringkan istrinya secara perlahan ke atas tempat tidur. Memberi sentuhan lembut di setiap inci tubuh istrinya dan hingga keduanya menikmati dunia mereka penuh dengan hasrat dan gairah.
*****
Rey terbangun dan menemukan dirinya sendirian di atas tempat tidurnya yang besar. Dia melirik jam beker dan melihat bahwa hari masih cukup pagi. Dia bertanya-tanya ke manakah Vane pergi pagi-pagi begini pada hari Minggu?
Dia memaksakan tubuhnya untuk bangun dan harus menggeram karena melemaskan otot-otot tubuhnya. Rey kembali teringat kepada hal-hal yang dia lakukan kepada Vane tadi malam, reaksi Vane di bawah sentuhannya dan segala permintaan, permohonan, dan pujian yang dia ucapkan. Hubungan mereka tadi malam mencapai level yang berbeda. Mungkin itu disebabkan karena hampir satu bulan dia tidak menyentuh Vane.
Rey melangkahkan kaki menuju kamar mandi, membiarkan shower menyirami tubuhnya. Setelah keluar dari shower dan baru saja akan mengoleskan sikat gigi, Rey menyadari bahwa ada yang aneh pada meja wastafelnya, untuk pertama kali kelihatan lebih rapih dari biasanya. Perlahan dia mulai menyikat giginya dan hendak berkumur, dia tidak mendapati sikat gigi Vane pada tempatnya, face wash, dan segala benda-benda kewanitaannya juga sudah hilang dari dalam kamar mandi.
"Ke mana semuanya?"tanya Rey yang belum menyadari keanehan di dalam kamar mandi.
Belum menyadari sepenuhnya, Rey berjalan ke kamar tidur dan mengenakan pakaiannya, lalu mengambil jam tangan yang dia tinggalkan di night stand. Dia kemudian sadar bahwa kamarnya begitu rapih, tidak ada buku-buku yang berserakan di sofa atau meja. Dia mulai waswas, dia berjalan menuju lemari pakaian dan membuka pintu lemari dan di sebalah kiri ada pakaiannya...bukan seharusnya itu tempat pakaian Vane. Tidak ada sehalai pakaian Vane yang tersisa. Jantung Rey langsung menabrak tulang rusuknya.
Tanpa sadar dia sudah berlari keluar dari kamar tidur tanpa mempedulikan penglihatannya yang sedikit kabur tanpa softlens dan kacamata, dia menuju lantai bawah. Area kolam renang kosong melompong. Rey berlari menuruni tangga sekali tiga menuju lantai tiga. Di dapur dan ruang makan dia hanya menemukan Mbok Nami. Kemudian dia berlari ke ruang TV tanpa mempedulikan Mbok Nami yang melihat Rey seperti orang kesetanan.
"Di mana Vane?" Rey tidak menemukan Vane di mana-mana.
Memperkirakan bahwa Vane mungkin pergi ke studio, dia langsung berlari ke taman belakang, tapi sekali lagi dia kecewa karena Vane tidak ada di sana. Dia berlari kembali ke dalam rumah dan langsung mengangkat interkom untuk bertamya kepada satpam kalau saja Vane sudah keluar pagi ini, tapi satpam mengatakan bahwa tidak ada yang keluar dari tadi malam. Rey sudah kehabisan ide dan nafas ketika menyadari satu tempat lagi di mana Vane akan berada di sana dan dia segera berlari masuk ke dalam rumah lagi.
*****
Sekali lagi Vane memutar tubuhnya, mencoba memastikan bahwa dia tidak meninggalkan apa-apa di rumah Rey. Semua barangnya sudah tersimpan rapih di dalam beberapa boks besar. Dia hanya tinggal menunggu truk GoBox yang akan mengangkat semua barangnya kembali ke rumahnya. Dia juga sedang menunggu hingga Rey bangun dari tidurnya agar dia bisa pamit kepada calon mantan suaminya itu.
Dia sudah merasakan bagaimana hidup dengan Rey dan dia tidak yakin dia bisa hidup tanpanya lagi, tapi kemudian dia mengingat apa yang Rey telah lakukan padanya dan hal itu membuatnya yakin bahwa dia telah mengambil keputusan yang benar. Selain itu, Vane harus kembali sadar bahwa tujuannya menikahi Rey selain membantu karirnya adalah untuk menjalankan misi, tidak lebih.
Vane juga tidak tahu apakah Rey benar-benar mencintainya, atau hanya memperlakukan dia sama seperti mantan pacar Rey yang terdahulu. Dia mencoba memahami laki-laki satu ini luar dan dalam. Pernah terlintas dipikirannya bahwa setelah misi ini selesai dia ingin merasakan hidup seperti manusia pada umumnya. Merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai oleh orang lain.
BRAAAKK!!!
Vane berteriak terkejut mendengar bantingan pintu kamarnya. Wajah Rey seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya dan dia menatap Vane seakan-akan dia ingin mencekiknya.
"What are these?"tanya Rey saat melirik seisi kamar Vane sambil menunjuk kepada boks-boks yang bertebaran.
"Ini barang-barang aku, Rey"jawab Vane tenang.
"Kenapa ada di boks?"
"Karena sudah siap untuk diangkat kembali ke rumah aku pagi ini.
"WHAAATT!!??"teriak Rey.
Dan Vane bersumpah teriakan itu sudah membuat seluruh rumah bergetar saking kerasnya, dia harus menelan ludah sebelum berkata, "Aku sedang menunggu truk datang dan mengambil semua ini. Dan bagusnya kamu sudah bangun, dan aku bisa pamit."
"Is this a joke?"
__ADS_1
"No Rey, it's not a joke. Aku serius."
Salah satu pembantu Rey melongokkan kepalanya dan berkata, "Mba Vane, ada truk di depan gerbang, mereka bilang Mba yang pesan truk itu."
"Tolong bilang ke satpam supaya dikasih masuk. Dan tolong tunjukin mereka ke sini supaya mereka bisa mengambil boks-boks ini."
"Like hell!"bentak Rey. "Bilang ke satpam jangan kasih truk itu masuk,"perintahnya kepada pembantunya.
"Bisa nggak sih kamu nggak teriak-teriak pagi-pagi begini?"desis Vane dan tanpa menghiraukan tatapan tajam Rey, dia kembali berkata, "Kasih mereka masuk dan bawa mereka ke sini secepatnya."
Pembantu itu kelihatan ketakutan saat mendapat pelototan dari Rey, tapi dengan satu anggukan dan senyuman dari Vane, pembantu itu pergi dari kamarnya secepat mungkin.
"Sesuai perjanjian, aku akan mengajukan gugatan cerai aku ke pengadilan agama besok. Pengadilan tentunya akan minta kita melalui proses konseling selama beberapa kali, tapi kita berdua akan tetap teguh pada pendirian untuk bercerai. Kalau semuanya berjalan lancar, kita sudah akan resmi bercerai tidak sampai satu tahun."
Rey sedang bertolak pinggag sambil menyipitkan matanya, "Oke, aku akan berpura-pura bahwa percakapan ini tidak pernah terjadi. Sekarang aku mau kamu keluarkan semua barang kamu dan kembalikan semuanya pada tempatnya di rumah ini."
"Rey, kontrak kita resmi habis hari ini. Now...kasih aku waktu dua jam untuk pindah, dan setelah itu aku akan keluar dari rumah ini dan kehidupan kamu."
Vane baru akan melangkah menuju pintu ketika lengannya ditarik oleh Rey, "Why are you doing this to me?"
"Doing what to you?"tanya Vane datar.
"Kamu akan meninggalkan aku begitu saja setelah apa yang kita lalui bersama-sama? Setelah tadi malam?"
Sejujurnya, Vane merasa sedikit malu dengan semua hal yang dia lakukan kepada Rey dan apa yang dia bolehkan Rey lakulan padanya. Dia memerlukan sentuhan terakhir yang intens dari Rey, karena dia ingin mengenang saat-saat terakhir itu sebelum menguncinya dengan rapat di bagian otaknya yang bertugas untuk menyimpan memori yang indah.
"Aku yakin kamu akan baik-baik saja"balas Vane dingin.
"No I won't. Goddamn it!"
"Aku hargai kalau kamu berhenti menyumpah di depan aku. Bisa tolong lepaskan lengan aku?"pinta Vane dan dia mendengar Rey menyumpah lagi, tapi dengan lebih pelan sebelum melepaskan lengannya.
"Kamu melakukan ini karena kamu masih marah pada aku soal Clara. Aku sudah jelaskan ke kamu semuanya. Apa lagi yang kamu mau dari aku?"
"Nothing. Aku nggak mau apa-apa dari kamu"balas Vane.
"Jangan bohong. Semua orang selalu mau sesuatu dari aku. Bilang ke aku kamu maunya apa?"
"Ketulusan penuh dari kamu. Satu hal yang nggak kamu akan pernah bisa kasih ke aku atau siapa pun"teriak Vane tajam.
"What are you talking about? Tentu saja aku bisa memberikan ketulusan kepada kamu..."
Vane mendengus sinis memotong kata-kata Rey, "No, you can't, karena kamu bahkan nggak tahu arti kata itu. Bagaimana kamu bisa memberikan sesuatu yang kamu bahkan tidak mengerti artinya atau mampu menghargainya."
Dan Rey merasa Vane seakan-akan baru saja menamparnya. Tentu saja dia mengerti arti 'ketulusan'. Tanpa disangka-sangka, Vane mengulurkan tangan ingin menyalaminya, dan sebelum Vane sadar apa yang terjadi, Rey sudah menarik tubuhnya ke dalam pelukannya dengan erat sehingga Vane bisa merasakan setiap deru nafasnya. Vane merasa pelukan ini membuatnya menyatu dengan Rey. Ya Tuhan, kenapa Vane masih bisa mencintai laki-laki ini setelah apa yang dia lakukan?
"Don't do this. Please...I beg you. Please stay with me. I'll do anything"bisik Rey dengan suara serak.
Andai saja pernikahan bisa sukses tanpa ketulusan dan kejujuran, tapi Vane tahu bahwa itu bukanlah definisi pernikahan yang sebenarnya. Akhirnya Vane hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Vanessa, please..."pinta Rey.
Pada detik itu kru GoBox muncul sehingga Rey harus melepaskan pelukannya pada Vane, yang langsung mengambil langkah menjauhinya. Rey tidak punya pilihan lain selain keluar dari kamar Vane. Vane sadar ketika Rey meninggalkan kamarnya, dan dalam hati dia mengucapkan selamat tinggal kepada satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya bahagia dan meremukkan hatinya pada saat yang bersamaan.