Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 19


__ADS_3

Dan seminggu setelah pren-nup ditanda tangani, di awal bulan September tepat di hari ulang tahun papahnya Vane.


Vane akan membawa Rey untuk menemui keluarganya. Sebelum pergi ke rumahnya, Rey meminta Vane untuk datang ke rumahnya. Di rumah, Rey sudah mengundang salah satu pemilik toko perhiasan berlian terkenal di Jakarta. Dia meminta Vane untuk memilih salah satu cincin pertunangan untuk dipakai ketika bertemu dengan keluarga Vane.


"Pilih yang kamu suka"pinta Rey.


Vane melirik tiga kotak kaca berisi perhiasan berupa cincin berbagai bentuk, ukuran, dan warna. Vane sampai terperangah melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


"Rey, kamu mau buka toko perhiasan?"tanya Vane datar.


Rey memutar bola mata jengah mendapat pertanyaan dari Vane.


"Aku akan datang menemui keluargamu, dan kamu akan memperkenalkanku sebagai calon suamimu, masa kamu nggak pakai cincin tunangan sih"kata Rey berusaha untuk menahan rasa jengkelnya.


"Tapi kenapa memilihnya di rumah kamu?"tanya Vane.


"Kalau kita pergi ke mall nanti masyarakat melihat kita dan nanti langsung ada gosip tentang PACAR BARU REYVANO MILLFORD. Padahal aku sudah punya rencana lain untuk memperkenalkan kamu ke publik secara baik-baik"jelas Rey.


Vane hanya menanggapi perkataan Rey dengan ber-oh ria sampai mulutnya berbentuk bulat sempurna.


Akhirnya Vane memilih cincin pertunangan berhias berlian empat karat berwarna pink muda. Setelah sesi memilih cincin selesai, Rey pun pergi ke kamarnya untuk bersiap pergi dengan Vane. Tidak ketinggalan juga, Rey juga sudah mempersiapkan tim untuk mendandani Vane.


Beberapa menit kemudian, Rey keluar dari kamar, disusul oleh Vane yang juga keluar dari kamar berbeda yang ada di sebelah kamar Rey. Vane menatap Rey dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rey memakai kaos berwarna hitam dipadu padankan dengan jas berwarna abu-abu lalu memakai celana jeans membuat penampilannya begitu fresh dan menawan.


Begitu juga dengan Rey yang menatap Vane dengan penampilan menawannya memakai dress brokat bermotif bunga-bunga dipadukan dengan ankle strap heels berwarna cream ditambah rambut terurai dengan cantik.


"Sudah selesai menatapnya?"kata Vane membuyarkan lamunan Rey.


Rey berusaha mengontrol ekspresi wajahnya dengan mengangkat kedua bahunya acuh. Vane melirik sebuah kotak hadiah berwarna coklat yang dibawa oleh Rey.


"Itu kado buat papah?"tanya Vane.


"Iyaa...spesial untuk calon papah mertua"ucap Rey dengan bangga.


Vane tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Rey yang menurutnya sangatlah lucu karena tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi.


"Lucu banget sih"ledek Vane masih tertawa.


"Apa yang harus aku persiapkan untuk bertemu keluargamu?"tanya Rey.


Vane melirik ke atas sampai membuat pipinya menggembung sebelah saja dan meletakkan jari telunjukknya ke pipi yang menggembung itu.


"Mental"jawab Vane dengan tatapan membius.


Rey berusaha menebak apa maksud dari tatapan Vane yang terlalu misterius. Banyak hal yang dipikirkan Rey tentang seperti apa keluarga Vane dan bagaimana sambutan dan sikap keluarga Vane terhadap dia.


*****


Sementara di kediaman Vane, satu persatu tamu berdatangan. Tak banyak yang diundang, hanya kerabat terdekat seperti keluarga Ana, keluarga Indah, keluarga Amel, dan teman dekat dari Jatra dan Indah.


"Mah, Vane ke mana? Kok dia nggak ada sih?"tanya Bima.


"Tadi katanya mau cari kado buat papah terus mau ke salon"kata Indah.


"Sejak kapan anak gadis itu ke salon?"timpal Satria.


"Kalian ini ya, anak gadis mamah jadi feminim itu harusnya disyukuri, kan dia jadi cantik"kata Indah.


"Mamah lupa ya, Vane udah cantik dari sananya, mau dia tidur sambil mangap aja dia tetep cantik"kata Bima tertawa.


"Aku telfon Vane dulu, nanya dia posisi di mana"kata Satria mengambil HP di kantong celananya lalu mencari nomor Vane.


Sedangkan, Vane yang baru saja masuk ke mobil Range Rover Sport milik Rey mendengar HP-nya berbunyi. Dengan cepat Vane mengangkat telfon dari Satria.


"Halo kak"


"Kamu dimana? Tamu-tamu udah pada dateng"


"Ini baru aja keluar dari salon. Udah mau jalan ini"jawab Vane berbohong.

__ADS_1


"Oke, cepetan ya"


Satria pun mengakhiri panggilannya yang membuat Vane menghela nafas panjang.


"Siapa?"tanya Rey.


"Kak Satria"jawab Vane singkat.


Rey hanya membalas dengan anggukan lalu dia menjalankan mobil meninggalkan kediamannya.


*****


Butuh waktu 30 menit untuk sampai daerah Bintaro, di mana kediaman Vane berada. Ditambah lagi ini hari Sabtu siang yang jelas membuat jalanan semakin macet.


Vane melirik cincin pertunangan dari Rey, yang dihiasi berlian empat karat berwarna pink, yang sekarang melingkar di jari manis tangan kirinya. Vane menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Rasanya, Vane ingin mengumpat kenapa situasi ini sangat sulit dan rasanya Vane ingin hari ini segera berakhir.


Hari ini dia akan menghadapi "Judgement Day" dengan membawa Rey menghadiri ulang tahun papahnya yang ke-60 tahun Sabtu siang ini. Walaupun usia Jatra sudah 60 tahun tapi jangan salah sebagai seorang perwira negara dia masih cukup gagah dan tangguh secara fisik.


Hari ini, Vane akan menunjukkan kepada keluarganya khususnya kepada mamahnya bahwa dia bisa menentukan keputusan sendiri dalam memilih pasangan. Tapi satu hal yang mengganggu pikiran Vane yaitu reaksi dari papahnya, Kak Bima, dan Kak Satria kalau mereka tahu bahwa Rey adalah pria yang akan menikah dengannya.


"Kamu siap?"tanya Vane dengan agak gugup kepada Rey yang sedang mencoba memarkirkan paralel mobilnya di antara dua mobil mercy.


"Iya, aku siap"jawab Rey pendek.


Vane melihat jejeran mobil yang diparkir di depan rumahnya. Dua sisi jalan sudah penuh dengan mobil parkir. Acara ulang tahun ini memang tidak besar, tetapi sudah seharusnya dia tahu bahwa papah dan mamahnya memiliki banyak teman.


"Pokoknya kita cuma perlu ada di sini selama satu jam saja. Setelah mengumumkan pertunangan kita, kamu bisa pulang," Vane mencoba tidak terdengar panik dan gagal sepenuhnya.


"Oke"balas Rey pendek.


"Keluargaku adalah keluarga besar tapi karena sebagian dari keluarga kedua orang tuaku berdomisili di Jawa Tengah, jadi tidak terlalu banyak yang datang ke acara ini. Tapi karena ada tambahan dari keluarga kakak ipar dan calon kakak ipar, kehadiran mereka sudah cukup membuat suasana rumah berisik seperti di sebuah konser musik EDM"jelas Vane sambil memandang Rey.


Mendengar penjelasan dari Vane, Rey hanya tersenyum tipis sambil mematikan mesin mobilnya.


"Jadi kamu jangan jauh-jauh dari aku karena aku nggak bisa nolong kamu kalau sampai kamu dikeroyok sama mereka."


"Kenapa mereka akan mengeroyok aku?"


"Bukannya kamu baru saja putus dua tahun yang lalu? Masa ini kali pertama kamu membawa laki-laki ke rumah kamu?"tanya Rey.


Vane mendengus ketika mendengar pertanyaan Rey yang serasa seperti cambukan penggaris kayu guru zaman dulu.


Ya aku nggak mungkin cerita dong kalau mantan pacar aku bule semua, gimana mau dibawa ke rumah, batin Vane.


"Ya karena itu sudah lama sekali, jadi mereka pasti akan bertanya macam-macam"elak Vane berusaha tenang.


Ketika Rey hendak membuka pintu mobil, Vane meraih kado yang Rey..(koreksi) dia dan Rey beli untuk papah.


"Aku yakin keluarga kamu nggak akan mengenali aku"ucap Rey cuek ketika dia sudah berdiri di samping Vane menunggu hingga jalanan agak sedikit lengang dari anak-anak kompleks yang sedang bermain sepeda-sepedaan.


"Becanda kamu"kata Vane.


Rey hanya mengangkat bahunya dan tidak membalas kata-kata Vane. Ketika tidak ada lagi anak-anak yang melintas, tanpa disangka-sangka Rey meraih kado yang digenggam oleh Vane dan menggandeng tangan Vane memasuki rumah orang tuanya.


Rey tidak tahu apa yang akan dia hadapi ketika mereka memasuki rumah orang tua Vane. Dia berpikir akan mendengar suara anak-anak kecil berteriak dan percakapan banyak orang pada saat yang bersamaan. Tetapi ketika melangkah ke ruangan yang kelihatannya seperti ruang tamu berukuran besar, beberapa mata langsung mengarah kepada mereka dan perlahan-lahan percakapan mereda, hingga sunyi senyap.


Di dalam genggamannya, Vane meremas tangannya dan ketika Rey melirik, dia melihat Vane kelihatan sedikit panik. Seberapa pun Rey tidak menyukai papahnya karena sering mengabaikan keluarganya, tetapi dia tidak akan pernah kelihatan seperti seseorang yang siap disembelih ketika akan bertemu dengan keluarganya. Dan tiba-tiba Rey merasa bahwa dia harus bisa melindungi Vane, apa pun yang terjadi.


"Daripada kita berdiri di sini seperti tamu tidak diundang, gimana kalau kita masuk dan kamu memperkenalkan aku kepada orang tua kamu"bisik Rey.


Kemudian Vane mendengar suara berat menyebut nama Vane dan perhatian semua orang beralih kepada seorang laki-laki dengan rambut yang belum semua berwarna putih dengan badan yang masih segar berjalan ke arah mereka dengan langkah yang gagah.


Vane menelan ludahnya saat melihat tatapan horor laki-laki itu.


"Papah"ucap Vane dan langsung bergegas menuju orang itu yang tak lain adalah Jatra.


Tanpa ragu-ragu Rey langsung mengikutinya.


"Selamat ulang tahun, Pah"kata Vane memeluk dan mencium pipi Jatra kemudian memperkenalkan Rey.

__ADS_1


"Pah, ini Rey....pacar aku." Suara Vane terdengar seperti tikus terjepit ketika mengatakannya.


PRANGG


Tiba-tiba terdengar suara benda beling yang jatuh ke lantai. Pandangan semua orang beralih ke sumber suara di mana sekarang Bima sedang melongo dengan mata membulat dan mulut ternganga hingga membuat gelas yang dia pegang merosot dari genggamannya.


"Mas kamu itu kalau pegang gelas jangan sambil melamun dong"ujar Ana memgelus lengan Bima.


"Ma...maaf"ucap Bima dengan bibir bergetar.


Ana pun pergi ke dapur untuk menyuruh pembantu membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.


Tak berbeda dari Bima, Satria pun memasang ekspresi yang sama ditambah Amel yang berdiri di sebelahnya menganga dengan mulut berisi potongan kue bolu.


Rey mendengar beberapa orang menarik napas terkejut ketika mendengar pernyataan ini ditambah suara gelas pecah, dan memecahkan keheningan dengan mulai berbicara pada saat yang bersamaan.


Di antara keramaian, Rey menyadari bahwa papahnya Vane sedang menatapnya dengan tatapan sangar seperti singa yang akan memangsanya tetapi beliau tidak berkata apa-apa.


"Selamat ulang tahun, Om." Rey menyodorkan tangannya pasti kepada papahnya Vane dan menyalaminya agak ragu.


Kemudian, "Ini kado dari kami berdua. Vane bilang Om fansnya Nelson Mandela. Ini biografinya"lanjutnya sambil mempersembahkan kado itu.


Calon bapak mertuanya ini langsung mengalihkan tatapannya pada kotak berwarna coklat dan meraih kado itu.


"Saya memang fans beratnya Nelson Mandela"ucapnya dengan suara serak seperti orang yang sedang menahan rasa keterkejutannya.


Kemudian beliau membuka pita berwarna putih yang membungkus kotak itu, lalu membuka kotak tersebut. Kotak itu berisi foto-foto Nelson Mandela, buku biografinya, dan beberapa card berisi kutipan kata-kata bijak dari Nelson Mandela.


Rey mengalihkan pandangannya kepada Vane yang sedang tersenyum kepadanya dan Rey menyalahkan hal ini kepada refleks, dan dia langsung menarik Vane ke dalam pelukannya.


Vane terperanjat saat tiba-tiba Rey menarik tubuhnya. Dengan cepat Vane menstabilkan ekspresi terkejutannya menjadi senyum bahagia.


"Terima kasih ya"kata-kata Jatra menarik perhatian Rey dari wajah Vane.


"Vane kamu kenalin pacar kamu ke kakak-kakak dan mamah kamu. Mamah ada di dapur dan kakak-kakak kamu sudah berdiri di sana"ucap Jatra menoleh ke arah Bima dan Satria yang berdiri tidak jauh dari papahnya.


Kemudian Jatra berjalan menuju teman-temannya meninggalkan Vane dan Rey di tengah ruang tamu.


Mereka baru saja akan beranjak mencari mamahnya Vane ketika orang yang dicari muncul dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, rupanya seseorang sudah memberitahunya tentang kedatangan Rey. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kak Ana.


"Eehh...ada tamu selebritis rupanya"ucap Indah dengan keras sambil berjalan menuju Rey.


Telinga Rey mungkin salah, tapi dia bersumpah bahwa dia mendengar Vane menggeram, "Oh, dear God kill me now."


Mendengar geraman dari Vane, membuat Rey mengeratkan pelukannya kepada Vane agar dia tenang hingga mamahnya berada di hadapan mereka.


"Mah kenalin ini Rey pacar Vane"kata Vane melirik Rey sekilas.


Tak disangka wajah Indah langsung berubah 180 derajat begitu bahagia dan berbunga-bunga seperti orang jatuh cinta. Rey tersenyum melihat reaksi calon ibu mertuanya yang sudah jelas pasti menyukainya.


"Nah gini loh Van, kalau bawa pacar itu yang modelnya begini"kata Indah begitu senang.


Vane refleks memijat pelipisnya dengan jari telunjuk ketika melihat tingkah dari mamahnya. Dia tahu pasti jika mamahnya sedang melakukan drama.


"Hai Tante, perkenalkan saya Rey pacarnya Vane"sapa Rey ramah.


"Hai juga. Ternyata kamu lebih ganteng dilihat langsung dari pada di TV"celoteh Indah.


"Mamah...."desis Vane memberi tatapan jengah agar mamahnya menjaga sikap.


"Oh oke, sepertinya kamu harus berkenalan dengan dua pengawal Vane"ujar Indah menoleh ke belakang ke arah dua kakak Vane yang sudah berdiri melipat kedua tangannya di dada.


Mereka pun meninggalkan Indah dan berjalan menuju Bima dan Satria. Ketiga kakak beradik ini terdiam sejenak dan saling melempar pandangan, layaknya sedang berbicara lewat batin.


"Rey ini Kak Bima kakak pertama aku, dan sebelahnya Kak Ana istrinya"kata Vane menunjuk Bima dan Ana bergantian.


"Satu lagi, Kak Satria kakak kedua aku, dan dia Amel calon kakak iparku sekaligus sahabatku"ucap Vane penuh penekanan seolah-olah mengingatkan Rey pada saat penandatangan pren-nup ketika Rey bertanya soal sahabat wanita Vane.


"Hai Kak, aku Rey pacarnya Vane"balas Rey dengan senyum penuh arti.

__ADS_1


Vane sempat ragu melihat kedua kakaknya yang bersikap bak gunung es Kutub Utara, tapi tak disangka-sangka mereka berdua mengulurkan tangan menyalami Rey bergantian begitu juga dengan Amel dan Ana.


__ADS_2