Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 46


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Vane dan Rey sudah berada di mobil untuk kembali ke rumah.


"Bagaimana kamu bisa tahu hari ulang tahunku?"tanya Vane menoleh ke arah Rey.


"Aku tidak sengaja melihatnya di buku nikah kita"jawab Rey santai.


Vane tertegun mendengar jawaban Rey, yang artinya Rey begitu memperhatikan dokumen sakral itu.


"Terima kasih untuk kejutannya"kata Vane tersenyum begitu manis.


Rey pun membalas senyum itu, karena dia merasa bahagia bisa melihat senyum tulus dari wanita Kutub itu.


"Oh no..harusnya aku yang bilang makasih. Berkat kamu perlahan-lahan karirku mulai membaik"balas Rey.


"Jangan berterima kasih sama aku, semua ini berkat kerja keras kamu"ucap Vane.


"Tapi semua ini nggak akan berhasil tanpa bantuan kamu." Rey bersikeras.


"Kita baru setengah jalan untuk memperbaiki karir kamu. Kamu bisa berterima kasih sama aku setelah tur delapan belas kota kamu selesai, oke?" Vane langsung menutup topik itu.


"Laki-laki yang kamu sebut sebagai agen rahasia paling seksi itu..seseksi apa sih orangnya?"


Vane terkikik mendengar pertanyaan Rey. Dia tidak menyangka Rey masih stuck dengan komentar yang diberikan beberapa jam lalu itu.


"Uumm kamu sebagai laki-laki mungkin nggak akan ngerti kenapa dia seksi karena pada dasarnya karakternya adalah seorang agen rahasia yang tengil, semaunya sendiri, tapi dia cerdas"jelas Vane.


Rey memberikan tatapan tidak percaya dan Vane melanjutkan, "Oke, kamu mungkin akan lebih bisa melihat jika kamu sudah menonton film itu."


Vane tertawa melihat reaksi Rey yang terlihat seperti dia lebih memilih gantung diri daripada menerima tawarannya.


"Apa tawaran menarik dari kamu agar aku mau menonton film itu?"tanya Rey.


"Humph..ada karakter wanita yang sesuai dengan tipe perempuan yang kamu suka"jelas Vane.


"Maksud kamu?"tanya Rey hampir berteriak.


Tanpa sadar mereka sudah sampai di rumah. Keduanya pun bergegas turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


"You know...wanita seksi, cantik, dan berpakaian minim"kata Vane menambah cengiran di wajahnya.


"Aku suka berbagai jenis tipe perempuan. Nggak harus memiliki karakteristik yang kamu sebutkan"balas Rey tersinggung.


Vane tertawa sejenak sebelum berkata, "Oh come on...seluruh Indonesia juga tahu siapa-siapa mantan pacar kamu dan jujur saja semua seperti berasal dari pabrik yang sama, hampir seperti barbie versi Indonesia. Tinggi, putih, mulus, seksi, rambut panjang, kaki jenjang, dengan ukuran dada di atas rata-rata"jelas Vane dengan entengnya.


"Kamu pikir aku itu laki-laki yang memandang wanita hanya dari fisiknya? Nggak semua hanya dari fisik ada beberapa yang juga pintar"tukas Rey tak terima.


"Oh ya? Yang mana tuh yang pintar?"tanya Vane mengejek.


"Anindya Kusuma Putri. Toh dia pemenang Putri Indonesia"ucap Rey dengan penuh kemenangan.


"Aahh perwakilan Indonesia di ajang Miss Universe. Yang tidak bisa menjawab kapan Candi Borobudir di bangun. Orang buta saja tahu kalau candi itu dibangun di abad ke-8"ucap Vane melirik Rey memberi tatapan seorang jenius.


"Kamu mengatakan ini karena cemburu ya?"ucap Rey.


"WHATT??"teriak Vane sambil menghentikan langkahnya menaiki tangga.


"Kamu cemburu dengan mantan-mantanku, itu sebabnya kamu berkelakuan seperti ini." Rey tidak menghentikan langkahnya saat mengatakannya.


"Itu tuduhan yang paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar"kata Vane mencoba menahan tawa.


Rey terus berjalan menuju lantai tiga tanpa menunggu Vane menghilangkan kekagetannya, "Percaya, aku nggak cemburu dengan mereka."


"You should"tegas Rey menghentikan langkah lalu berbalik badan dengan cepat.


"No...I shouldn't. Manusia diciptakan berbeda-beda. Kenapa aku harus cemburu dengan orang lain. Aku bukan tipe wanita yang mudah iri dengan penampilan fisik wanita lain. Aku sudah cukup bersyukur dengan apa yang Tuhan beri kepadaku"tandas Vane.


"Jangan bilang ke aku kalau kamu nggak pernah meminta kepada Tuhan untuk diberi ukuran dada lebih besar, mungkin."

__ADS_1


Rey sengaja membuat Vane tersinggung, "Tidak. Tapi aku pernah ingin memiliki tubuh yang lebih tinggi lagi."


"Sepertinya Tuhan sedang sibuk saat itu"balas Rey terdengar sinis.


"Actually no. Tuhan memenuhi permintaanku yang lain, yang lebih penting di dalam hidup aku."


"Which is?"


"Lulus kuliah dengan predikat lulusan terbaik."


Rey menatap Vane dengan tatapan heran sebelum berkata, "Kamu adalah orang paling aneh yang pernah aku temui."


"Hhmm.." Vane hanya menjawab dengan dehaman saja.


"Oke aku akan nonton film itu dan membuktikan bahwa aku lebih seksi dari Taron Egerton. Aku tunggu satu jam lagi di ruang TV"kata Rey menantang.


"Oke"balas Vane.


Mereka berdua pun pergi ke kamar masing-masing. Dan setelah satu jam mereka bertemu lagi di ruang TV. Vane memperlihatkan DVD film King's Man pada Rey sembari menjelaskan sinopsisnya. Dan alhasil mereka pun nonton bersama film itu. Vane sudah tewas di sofa tiga puluh menit semenjak film di mulai.


Rey mulai terbiasa dengan kehadiran Vane disisinya. Wanita yang cerdas, mandiri, dan tegas yang selalu membuatnya harus berpikir bahwa dia adalah wanita tipenya. Rey sama seperti laki-laki pada umumnya dia ingin merasa dibutuhkan oleh wanitanya walaupun hanya sekedar menjadi bantalan untuk tidur.


Rey mendengar suara rintihan dari Vane yang sudah menguburkan kepalanya pada pada dadanya, sepertinya Vane sedang mimpi buruk.


"Ssshh..."ucap Rey selembut mungkin sambil membelai rambut Vane, "Just sleep, I'm here,"bisiknya kemudian mencium kepala Vane.


Rey berusaha memejamkan mata agar tidak mengingat bahwa dia sudah cembruu saat Vane mengatakan Taron Egerton adalah laki-laki seksi. Bagaimana dia bisa cemburu dengan laki-laki yang tidak nyata dan hanya bisa dilihat di layar TV.


Rey kembali mendengar suara Vane mendesah dan sekali lagi dia melirik wanita yang sudah membuat hidupnya porak poranda dan berkata dengan pelan, "Apa yang sudah kamu lakukan padaku?"


Dan akhirnya Rey menyusul untuk tidur juga. Mereka sama-sama tertidur di sofa di mana Rey menjadi bantal untuk Vane bahkan Rey tidur sambil memeluk Vane.


*****


Vane tidak tahu apa yang membangunkan dia mungkin karena tangannya terasa kebas. Saat Vane membuka mata betapa terkejutnya dia mendapati Rey tidur di sampingnya di atas sofa panjang itu sambil memeluknya. Ah, baiklah Rey memang jauh lebih seksi dari Taron Egerton, Vane harus akui itu.


Vane beranjak dari sofa dan menyingkirkan tangan Rey secara perlahan-lahan. Dan dia harus berhenti beberapa saat saat Rey menggerakkan tubuhnya dan menghembuskan nafas. Setelah Rey tenang kembali akhirnya Vane bisa pergi.


Beberapa menit kemudian Rey pun terbangun, dia merasa sisi sofa dan tak menemukan Vane di sisinya.


"Ke mana Vane?"lirih Rey sembari mengumpulkan nyawa yang masih nyasar di alam sana.


Setelah yakin semua nyawanya kumpul, Rey beranjak mencari Vane. Dan tak sengaja dia mendengar suara dentuman air di kolam renang. Rey langsung berlari dan melihat sosok Vane berenang di tengah hujan petir.


"Wanita gila!"desisnya sambil melotot.


Walaupun atap kaca rumahnya memakai penangkal petir namun yang namanya bahaya tidak akan ada yang tahu. Dia tidak habis pikir kenapa wanita itu tidak menunggu hingga hujan reda. Tanpa pikir panjang Rey melepaskan sandal, celana dan baju piamanya, kemudian dia menceburkan tubuhnya ke dalam kolam renang.


Rey berenang secepat mungkin lalu menarik pinggang Vane dan menyeretnya ke tepi kolam renang.


"What are you doing?"teriak Vane dan Rey saat bersamaan.


"Aku sedang berenang. Memang ada orang mencangkul di dalam kolam renang"balas Vane berdecak kesal.


"Aku membantu kamu agar tidak disambar petir. Orang gila mana yang berenang saat hujan petir Vane. Kamu mau mati?"teriak Rey di sela-sela batuknya.


"Oh Man! Jangan mencoba mengaturku atau aku akan minta cerai. Tidak peduli apa kata media dan keluarga."


"Kamu nggak punya dasar untuk meminta cerai dari aku sebelum tanggal perjanjian itu berakhir."


"Tentu saja bisa. Aku akan bilang kepada hakim kalau kamu berbuat kasar kepadaku. Mana mungkin pengadilan akan membiarkan seorang istri disiksa suaminya"sarkas Vane.


Rey langsung megap-megap selama beberapa detik. Dia tidak bermain kasar sama sekali. Oke dia memang suka bermain kasar tapi dalam konteks yang lain. Apalagi jika wanita yang memintanya untuk bermain kasar jelas mereka akan berterima kasih sesudahnya. Dan Rey harus menelan ludahnya mati-mati saat melihat bagaimana proposionalnya tubuh Vane menggunakan pakaian renang one piece.


"Aku nggak pernah main kasar"elak Rey.


"YES IT'S YOU!"teriak Vane hendak naik ke atas kolam renang.

__ADS_1


Merasa dirinya dihina, Rey tiba-tiba menarik tubuh Vane dan langsung menguncinya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya mendongakkan leher Vane. Rey langsung menyerang bibir Vane dengan ciumannya yang bergairah memberikan sentuhan pada tubuh istrinya.


Vane tak bisa menolak ketika dirinya sudah dibawa jauh pada perasaan itu. Kini dia melingkarkan kakinya di pinggang Rey bahkan tangannya sudah mulai menyentuh dada bidang Rey.


"Ki...kita..harus berhenti....sekarang"ucap Vane terbata-bata.


"Just one more"bisik Rey yang terus mengeksplorasi tubuh Vane.


Meskipun awalnya Vane ragu, tapi dia tidak bisa menolaknya. Dear God! Rey sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Vane enam bulan ke depan. Dia bisa gila! Rey harus meminta agar Vane mau tidur dengannya. Dia ingin menjadi suami Vane dengan arti sebenarnya. Sayangnya Vane adalah wanita yang sangat menjunjung tinggi kode etik dan harga diri, sehingga Rey harus berpikir bagaimana agar Vane tidak hanya berpikir tentang hubungan intim tapi berpikir juga tentang perasaannya.


"Vane, aku perlu meminta sesuatu dari kamu"bisik Rey yang sedang menciumi daun telinga Vane.


"What?"


"Aku mau tidur dengan kamu"bisiknya lalu mencium bibir Vane.


Vane langsung mengatupkan bibirnya agar Rey berhenti menciumnya. Dia membuka mata dan menatap Rey dengan tatapan dingin.


"Why?"


"Karena aku mau kamu"jelas Rey.


Dia memang penulis lagu yang handal, sekaligus aktor yang hebat saat berakting terutama dalam film romantis. Tapi saat ini dia tidak memiliki kata-kata yang baik untuk mengungkapkan keinginannya. Tanpa disangka-sangka Vane melingkarkan tangannya lehernya, dan meletakkan kepalanya di samping kepala Rey. Setidaknya Rey bisa bernafas lega karena Vane tidak menamparnya atas perkataannya.


"Apa kamu selalu menawarkan tempat tidur kamu pada setiap rekan bisnis kamu?"tanya Vane.


"Semua rekan bisnisku adalah orang berusia di atas lima puluh tahun dengan bau minyak urut di mana-mana"kata Rey.


Vane tertawa mendengar jawaban Rey. Dan dia merasa senang karena Vane tertawa saat mendengar leluconnya. Bahkan hatinya berdesir saat mendengar suara tawa itu.


"Kamu pernah bilang kalau aku bukan tipe perempuan yang kamu suka makanya kamu memilih aku menjadi istri kamu."


"Aku bilang begitu ya?"


"Yep."


"Well, mungkin aku harus menarik kata-kataku. Tak disangkal lagi kamu adalah tipe perempuan yang aku suka."


"Tapi aku tidak ada mirip-miripnya dengan mantan pacar kamu."


"Maka dari itu, aku menikahi kamu bukan mereka."


Vane mempertimbangkan perkataan Rey, "Kalau aku tidur sama kamu maka profesionalitas kita akan berubah, bahkan akan hilang."


"Apa kamu pikir kita masih bisa bersikap profesional setelah kamu membiarkan aku mencium bibir kamu bahkan dada kamu"ucap Rey setenang mungkin.


Vane tertawa hingga getarannya terasa di tubuh Rey, "Aku nggak akan jadi satu lagi perempuan yang bisa kamu pakai sekali dan dibuang begitu kamu bosan. Harga diri aku nggak akan menerima itu."


"Percaya sama aku, kamu beda dengan perempuan lain. Kamu istri aku."


Vane mendengus lalu melepas tubuhnya dari tubuh Rey, "Aku nggak percaya dengan trik murahan kamu agar aku mengiyakan permintaan kamu." Vane menggelengkan kepala, "Untuk kamu mungkin hubungan intim adalah sesuatu yang lumrah dan gampang untuk dilakukan, tapi tidak untuk aku. Aku hanya akan melakukannya dengan suamiku..."


"Aku suami kamu"geram Rey.


"Hanya untuk enam bulan lagi. Setelah kontrak habis kita akan kembali dengan hidup masing-masing dan berpisah secara damai."


"Van, aku ingin hidup bersama kamu selayaknya suami istri tanpa perjanjian atau kontrak jenis apa pun. Kita akan hidup bersama dengan penuh cinta dan kasih sayang. Aku janji akan tetap setia dengan kamu. Gimana?"ujarnya.


Vane mengernyitkan keningnya lalu melangkah naik dari kolan renang dan diikuti oleh Rey.


"Aku perlu waktu untuk mempertimbangkan itu"ucap Vane pelan.


Rey menahan diri agar tidak mendengus, "Oke, sampai kapan?"


"I don't know." Vane dan Rey mengambil handuk yang diletakkan di kursi di pinggir kolam renang.


Mereka sama-sama berjalan menuju lantai empat untuk ke kamar, dan Rey mengantarkan Vane sampai ke depan kamarnya.

__ADS_1


"Coba pikirkan permintaan aku, tapi jangan terlalu lama ya." Rey hendak melangkah pergi namun mengurungkan niatnya, "Cepat bersiap kita akan pergi ke rumah orang tua kamu. Sudah lama kan kita tidak berkunjung ke sana."


Vane hanya diam mendengarkan perkataan Rey setelah dia berlalu pergi ke kamarnya sendiri.


__ADS_2