Antara Cinta Dan Misi

Antara Cinta Dan Misi
Bab 54


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir bulan Agustus. Pemerintah Prancis sudah mengonfirmasikan bahwa Jade akan dibawa ke Prancis lusa. Sementara pemerintah Amerika belum bisa membawa Rius kembali ke negara asalnya, karena kondisi pria itu memburuk akibat infeksi luka tembak di lengannya. Tinggal di dalam penjara membuat dirinya cukup tidak terurus.


Sekarang Vane sedang berada di studio muay thai milik Bobi. Dia baru saja menyelesaikan pertandingan melawan lima laki-laki berbadan besar dan kekar sekaligus memenangkan pertandingan itu. Sementara kini Rey sedang berada di Singapura untuk mengurus pekerjaannya selama beberapa hari di sana. Oleh sebab itu Vane berusaha menikmati waktu sendiri.


Vane tahu, walaupun ibu mertuanya berada di Solo, dia tidak henti-hentinya menelfonnya untuk memastikan hubungannya dengan Rey sudah membaik. Vane tertawa dalam hati ketika setiap dia melihat HP pasti mamah mertuanya yang menelfonnya. Dia tidak mau mengangkat telfon dari Sarah. Karena dia membutuhkan waktu sendiri tanpa diganggu siapapun.


Bahkan akhir-akhir ini, Rey selalu memberikannya mawar putih sebagai tanda permintaan maaf. Rey sudah tidak mau peduli dengan kasus papahnya, dia menyerahkan semua sepenuhnya kepada pihak yang berwajib. Kini yang dia pikirkan adalah bagaimana membuat Vane mau kembali kepadanya. Rey pikir keretakan dalam hati Vane bisa digantikan dengan setangkai bunga mawar. Tentu Vane bukan wanita semudah itu untuk memaafkan. Tapi Vane lebih memilih diam, dan diamnya Vane membuat Rey harus berusaha melakukan apapun agar Vane benar-benar memaafkannya.


Bobi baru saja kembali dari kantin studionya untuk mengambilkan Vane minum. Kemudian dia duduk di hadapan Vane. Menatap sahabat karibnya yang selama dua bulan ini menghilang seperti setan. Dan Vane sendiri, dia tidak menceritakan kepada Dika dan Bobi bahwa dia dan Rey sudah melanggar klausa perjanjian kontrak pernikahan. Karena Vane sendiri belum yakin apakah dia akan kembali bersama dengan Rey atau tidak.


"Jadi lo udah baikan atau belum sih sama Rey?"tanya Bobi.


"Nggak tahu." Vane hanya menjawab dengan acuh pertanyaan Bobi.


"Lo selama ini menghilang ke mana sih? Whatsapp gue nggak pernah dibales, ngangkat telfon gue aja enggak?"tanya Bobi.


"Gue hibernasi Bob. Apalagi setelah misi penangkapannya papah mertua gue. Rasanya semangat hidup gue hilang, waktu ngelihat mamah mertua gue dan Rey nangis di pelukan gue. Astaga Bob, rasanya gue pengin teriak sambil bilang 'Aku yang sudah menangkap Adam"ujar Vane dengan nada dingin.


"Oh ya sebenarnya, waktu berita tentang foto Rey dengan Clara, suami lo sempet datang ke sini buat nyariin lo. Tapi kan lo nggak ada di sini. Gue marah banget sama dia, alhasil gue nonjok muka dia sekali"kata Bobi mengingat kejadian yang lalu.


"Lo nonjok dia? Serius?"tanya Vane tak percaya.


"Yaps. Orang gila mana yang rela sahabatnya disakitin kayak gitu. Okey, lo emang nikah kontrak sama dia. Tapi bisakah dia menghargai lo selama pernikahan ini berlangsung? Maksud gue, ya apapun yang dia lakukan setidaknya dibicarakan sama lo sebagai istrinya. Dia juga harusnya mikir, kalau lo nggak bersedia menikahi dia, mana bisa karirnya baik-baik aja. Ditambah lagi dengan adanya kasus papahnya"omel Bobi yang membuat Vane tak berkedip menatapnya.


"Ceritain ke gue apa yang terjadi selanjutnya?"lanjut Bobi.


"Ternyata Rey nelfon Amel, dan akhirnya Rey ke rumah buat ketemu gue..."


"Wait, gue tebak pasti dia digebukin habis-habisan sama papah dan kedua kakak lo kan?"potong Bobi memperlihatkan wjah antusias.


"Ya menurut lo, penyambutan jenis apa yang pantas diberikan kepada Rey saat berita dia dengan Clara tersebar di media"sambung Vane.


Bobi tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa bonyoknya wajah Rey saat dipukuli tiga laki-laki keluarga Wibowo. Papah Vane memang sudah berumur tapi Bobi yakin tenaganya masih kuat. Sementara Bima jelas memiliki tampang garang dan menakutkan tentu saja pukulan dari dia sangat nikmat. Dan Satria, di balik wajah agak baby facenya, menurut Bobi, dia adalah laki-laki paling over protektif terhadap Vane, jadi bisa dibayangkan seberapa emosi dia saat memukul Rey.

__ADS_1


"Gue pikir dia bakal langsung dieksekusi saat itu juga"kata Bobi.


"Untungnya enggak. Coba kalau iya, tangan gue juga gatel pengin nge-eksekusi dia"balas Vane dengan sengit.


"Kalau ngobrol seru kayak gini harusnya ada Dika. Dia pasti seneng banget bisa ngehina Rey habis-habisan"sela Bobi.


"Emang, Dika sekarang ada di mana?"tanya Vane.


"Dia lagi ada di Jerman. Nggak tahu tuh katanya ikut konferensi seluruh advokat yang ada di Jerman. Nggak sekalian seluruh advokat yang ada di dunia dan akhirat"timpal Bobi dengan nada kesal.


"Terserah lo!"tandas Vane terkikik.


Mereka sama-sama berbicara dan saling tertawa, dan Vane merasa beban hidupnya sedikit berkurang sebelum kedatangan Dika yang tak terduga.


"Hai guys!" Dika berdiri di ambang pintu kantor Bobi menyapa kedua sahabatnya yang kini sedang menatapnya dengan tatapan terkejut.


"Ngapain lo berdua ngelihatin gue kayak ngelihat Lee Min Ho?"ucap Dika dengen kepercayaan diri penuh.


"Syukurin lo"ejek Bobi tertawa puas.


"Gila, punya teman cewek cantik tapi hatinya kayak setan"balas Dika dengan gaya bicara dibuat-buat.


Dika pun ikut duduk bersama kedua sahabatnya setelah dia meletakkan tas kerjanya di bawah sofa.


"Katanya lo lagi di Jerman? Kok sekarang malah di sini? Jerman pasti menolak kedatangan lo kan?"tanya Bobi.


"Cih, gila lo. Gue udah balik dari Jerman tiga hari yang lalu, cuma habis itu gue sibuk mengurus kasus perceraian salah satu anggota DPR. Buset si istri minta harta gono-gini sampai lima milyar. Untung si suami kaya raya. Kalau duitnya nggak hasil korupsi sih"tutur Dika dengan gaya santai namun menohok.


"Nih yang bikin gue heran sama Dika, bukannya ada kode etik di mana advokat harus menjaga rahasia kliennya. Kenapa lo ngegibahin mereka sama kita?"tanya Vane tertawa.


"Karena nggak mungkin lo berdua, bakal koar-koar ke media. Dan Lo berdua harus tahu betapa pusingnya gue ngurus kasus perceraian manusia-manusia sultan. Mereka lebih peduli sama harta daripada hak asuh anak. Gila kan?"lanjut Dika dengan berapi-api.


"Nah, kira-kira kalau proses perceraian Vane sama Rey bakal jadi drama berepisode-episode nggak? Kayak kasus sianida itu"celetuk Bobi.

__ADS_1


Vane yang awalnya sedang tertawa puas langsung menghentikan tawanya, saat dia kembali dipaksa turun ke bumi mengingat bahwa hubungannya dengan Rey sedang tidak baik. Tiba-tiba Dika menepuk keningnya dengan keras dan memberi ekspresi wajah seperti orang yang mengingat sesuatu.


"Astaga gue lupa, untung gue ketemu Vane di sini." Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Dika.


"Apaan?"tanya Bobi.


"Oh ya Van, kemarin Pak Seto telfon gue, dia bilang kalau kontrak pernikahan lo sama Rey bakal berakhir lusa. Gue mau memastikan bahwa semua klausa yang ada pada kontrak itu masih kukuh dan belum dilanggar oleh kedua belah pihak."


Vane bisa mendengar hatinya hancur berkeping-keping ketika mendengar kata-kata Dika dengan susah payah Vane berkata, "Ya, klausa pada kontrak masih kukuh."


Selama beberapa bulan ini, dia menyangka bahwa Rey sudah mengurus kontrak itu, tapi kemudian Vane ingat bahwa dia tidak pernah menerima dokumen apa-apa dari Dika yang menyatakan bahwa kontrak itu sudah batal. Apa Rey lupa membatalkan kontrak ini? Tapi mengetahui betapa telitinya Rey, Vane mendapati alasan yang tidak masuk akal. Jadi satu-satunya kemungkinan adalah bahwa Rey tidak pernah berniat membatalkan kontrak itu. Rey memang tidak pernah menginginkannya lagi, apalagi mencintainya. Vane menertawakan diri sendiri, betapa bodonya dia menaruh harapan pada Rey.


Samar-samar Vane mendengar Dika berkata lagi, "Oke, kalau gitu, gue akan informasikan hal ini kepada Pak Seto. Coba lo bertahan beberapa hari lagi, setelah itu lo bisa mendapatkan uang kompensasi."


Vane hanya tersenyum kecil dibibir ranumnya, kini bukan keringat hangat seperti dia baru berolahraga, tapi sudah berganti menjadi keringat dingin karena dia merasa tubuhnya melemas.


"Wah gila, 500 juta coy. Buat jajanin orang sekabupaten makan ayam geprek aja masih ada kembalian"celetuk Bobi dengan tawa jahil yang begitu polos.


"Ada-ada aja lo, Bob"balas Dika tertawa.


Vane hanya menatap nanar kedua sahabatnya, dia tidak bisa membayangkan betapa hinanya dirinya jika kedua sahabatnya tahu kebodohan dia selama ini. Mungkin mereka akan menghinanya habis-habisan. Merasa dirinya perlu sendiri, Vane berpamitan untuk pulang dan dia harus meninggalkan kedua sahabatnya ini.


*****


Setelah dia sampai rumah, Vane langsung berlari ke kamar mandi untuk merasakan mandi dengan air dingin agar pikirannya bisa tenang. Lalu ada satu hal yang terlintas dipikirannya, dia ingin membuat sesuatu yang mungkin bisa membuat Rey mengenak sosoknya. Entah kenapa Vane ingin memakai dress putih panjang berbahan chiffon dengan model lengan balon. Vane menggerai rambutnya yang sudah dia curly, dan wajah sudah dia poles dengan make up.


Saat ini Vane sudah berdiri di dalam studio musik milik Rey. Tempat pertama yang membuat dia mengerti apa arti sebuah ciuman dari seorang laki-laki. Di mana untuk pertama kalinya dia melihat betapa berbakatnya suaminya. Vane berkeliling ke seluruh studio, menyentuh setiap inci bagian dari studio. Tak terasa air matanya menetes, dengan cepat Vane menghapus air matanya. Bola matanya lari ke arah piano, dia berjalan menuju piano dan duduk di kursi. Perlahan tangannya menekan tuts piano dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Vane tersenyum ke arah kamera yang sudah dia pasang disela-sela nyanyiannya.


*****


Sekembalinya dari studio musik, Vane menyicil membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam box. Dia juga sudah menelfon GoBox jasa angkut yang akan membantunya membawa barang-barangnya untuk pindah dari rumah Rey dan kembali ke rumahnya. Vane tidak mau memikirkan apa yang akan dilakukan keluarganya kalau mereka tahu dia akan bercerai dengan Rey.


Vane sedikit terkejut ketika HPnya berdering dan melihat nama ibu mertuanya berkerlap-kerlip pada layar HP. Karena dia tidak mau tahu apa yang akan ibu mertuanya katakan, akhirnya dia tidak menghiraukan panggilan telfon tersebut. Dan ternyata Mbok Nami menghampiri dirinya dan berkata bahwa Sarah baru saja menelfon ke telfon rumah untuk menanyakan keberadaan Vane, dan dia diminta untuk membalas telfonnya. Dan Vane tidak membalas satu telfon pun.

__ADS_1


__ADS_2