
Pada awal bulan Oktober, Rey untuk pertama kalinya akan memperkenalkan Vane kepada publik secara resmi sebagai tunangannya di acara peluncuran produk ponsel terbaru dari Samsung. Dalam perjalanan menuju The Ritz Calton Hotel, Vane mengalami kesulitan untuk bernafas karena merasa sangat gugup.
Akhir-akhir ini gosip tentang Rey dan Clara agak mereda karena Clara sudah menarik diri dari sorotan media dan memilih untuk pulang ke tanah kelahiran ayahnya yaitu di Shanghai, China. Sebagai gantinya gosip Rey dengan wanita misteriusnya semakin gencar di publik.
Para wartawan yang tadinya sudah mulai bosan, mulai mengikuti Rey lagi. Reaksi Rey yang tetap diam tetapi memberikan senyuman yang kelihatan seperti seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta kalau ditanya soal itu membuat orang semakin penasaran pada identitas wanita ini.
Tapi tidak dengan kedua kakak Vane, yang merasa bahwa mereka sangat perlu mengawasi pergerakan media tentang gosip yang melibatkan adik mereka walaupun identitas Vane belum diketahui oleh publik. Satria sempat bingung saat program penyadapan di HP Rey tidak bisa dia buka. Tapi dengan pintar Vane berkata kalau mungkin itu adalah ulah Adam Millford untuk melindungi anaknya apalagi di tengah gosip yang menerpa anaknya. Dan untungnya Satria percaya dan berhenti untuk memikirkan hal tersebut, dan kembali fokus dengan Vane.
"Pokoknya senyum saja sama wartawan. Besok pagi wajah kamu akan terpampang di mana-mana, jadi jangan kaget." Suara Rey yang tenang seharusnya bisa menenangkan Vane, tetapi kenyataannya tidak bisa membantu degap jantungnya yang sudah tidak karuan.
Selama seminggu ini Vane mendapati bahwa Rey adalah seorang tunangan yang penuh perhatian dengan selalu menyisihkan waktu untuk betul-betul mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat-pendapatnya. Terutama setelah kejadian di mana Rey mencium pipi dia seenak jidatnya tanpa permisi. Vane memang merasa sangat kesal, tapi Vane tidak mau berdebat terlalu lama sehingga dia berusaha tidak peduli dengan kejadian itu. Selain itu, Rey ternyata cukup cerdas dan lucu dan Vane melihat bahwa dia adalah sosok laki-laki biasa yang selalu membuatnya tertawa daripada Rey seorang aktor dan penyanyi paling ngetop di Indonesia. Tapi malam ini, Vane sadar kembali akan status Rey di hadapan publik dan dia merasa sedikit mual.
Vane melirik Rey yang mengenakan jas warna hitam dengan dasi kupu-kupu. Rey kelihatan cukup nyaman mengenakan pakaian resmi itu, sedangkan Vane merasa ingin menarik bagian atas free shoulder dress berwarna merah dengan bentuk seperti kemben ditambah lagi bagian rok long dressnya memiliki potongan cukup tinggi di atas lutut. Vane merasa risih dengan pakaian yang menempel di tubuhnya.
Dia tahu bahwa di dunia nyata, orang tidak bisa mengubah dirinya hanya dengan pakaian, tetapi ini dunia entertaiment, pakaian, make up, gaya rambut, perhiasan, mobil, bahkan laki-laki yang menggandeng tangan mereka mendefinisikan status sosial mereka. I can't do this. I can't do this. I CAN'T, teriak Vane dalam hati.
Vane membayangkan wajah para anggota BIN, klien-klien restorannya, Pak Aron, dan Chef Ronald di restoran besok pagi ketika melihat wajahnya terpampang di tabloid dan acara gosip TV, dan isi perutnya langsung salto beberapa kali. Apa mereka akan percaya pada sandiwara ini? Mereka semua tahu bahwa dia adalah orang yang paling beretika dan sangat profesional yang pernah mereka temui, dia tidak akan pernah tertangkap basah memacari kliennya sendiri.
Dan apa yang akan dikatakan orang tuanya kalau saja mereka tahu akan kebohongan ini? Mereka akan menguncinya di dalam ruang bawah tanah dan tidak memperbolehkannya keluar dari ruangan itu. Atau kedua orang tuanya akan mengirim Vane ke Kutub Utara untuk diasingkan. Rey sebaiknya mencari tunangan yang lain saja karena dia tidak bisa melakukan ini. Sebelum dia kehilangan keberanian, Vane langsung berteriak kepada sopir Rey, "Pak, bisa stop mobilnya di pinggir, saya mau turun."
Rey yang duduk di sebelah kanan terlihat kaget dan meraih lengan kanan Vane. Tangan kiri Vane sudah menggenggam gagang pintu, siap menariknya begitu mobil itu berhenti.
"Van, kenapa?"
"Rey, aku nggak bisa"ucap Vane dengan cepat sambil menunduk, menolak menatap Rey. Kalau saja dadanya tidak terasa seperti akan meledak Vane mungkin akan menghargai betapa lapangnya mobil ini.
"Nggak bisa apa? Ke acara ini? Kamu sakit?" Rey terdengar sangat khawatir.
Vane mengangguk. Dan Rey langsung meminta sopirnya agar menepi yang dibalas dengan, "Wah ini mobilnya nggak bisa gerak, Mas Rey, jalanan macet."
Vane memegangi dadanya untuk mengontrol nafasnya. Ini pertama kali dalam hidup, Vane dalam kondisi super panik hingga tidak bisa mengontrol dirinya. Bukan! Ini bukanlah Vane yang kuat, mandiri, dan tegas. Kenapa Vane menjadi lemah seperti ini? Kalung yang dikenakannya seperti mencekiknya dan dia berusaha melepaskannya dari lehernya.
__ADS_1
"Get this off me. Please get this off"teriak Vane mulai panik ketika dia tidak bisa menemukan kait kalung tersebut.
Rey berhasil melepas kalung itu dengan cekatan dan mengantonginya, tetapi Vane sepertinya tidak sadar akan hal itu karena masih berteriak panik, "Tolong lepasin, saya nggak bisa nafas."
"Vane, kalungnya sudah dilepas." Rey merasakan kepanikan yang menyelimuti Vane. Tanpa menyentuh bagian tubuh Vane sama sekali, Rey berkata, "Van tenang, Vanessa. Oke, nafas pelan-pelan. Bilang ke aku ada masalah apa?"
Rey tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, dia hanya mendengar erangan bahkan isakan dari Vane. Vane bahkan tidak mendengar pertanyaan itu, dia sudah tenggelam dengan kegalauan hatinya sendiri. Bagaimana mungkin dia setuju melakukan ini? Vane tidak siap jika kehidupannya berubah dalam semalam. Di dalam kegelapan mobil, Rey tidak bisa melihat bahwa seluruh tubuh Vane sudah gemetaran, tapi dia menyentuhnya untuk menenangkannya.
"Vane, kamu kenapa gemetaran kayak begini?"ucapnya tanpa ragu-ragu, dia langsung mengangkat tubuh Vane yang ringan ke dalam pelukannya dan duduk di tempat yang tadi dia duduki.
Dia membiarkan kaki Vane menggantung di atas pahanya dan membiarkan terjulur di sebelah kanan tubuhnya. Pertama-tama tubuh Vane masih gemetaran dan tegang, tapi lama-kelamaan nafasnya kembali teratur di dalam pelukannya. Rey terus mengusap punggung Vane dengan tangannya begitu lembut dan sesekali mengecup keningnya penuh pengertian.
Hilang sudah wanita penuh percaya diri yang dia temui setengah jam yang lalu, dan kini hanya ada wanita yang sedang ketakutan di dalam pelukannya. Dalam hati Rey menyumpah. Dia sudah terlalu sibuk dengan rencana memperbaiki imagenya sehingga tidak mempertimbangkan perasaan Vane yang mungkin belum siap untuk berhadapan dengan publik. Apalagi Vane bukanlah selebritis bahkan dia adalah jenis orang yang amat sangat menjaga privasi hidupnya, hal ini pasti sangat menyakiti hatinya.
Sambil mencoba menepikan mobil dari lalu lintas yang padat, Nata, sopir Rey, memerhatikan kejadian yang sedang berlangsung dari kaca tengah mobil. Nata adalah sopir pribadi Ibu Sarah yang sudah bekerja lama dengannya dan dia sudah sangat mengenal Rey sejak Rey masih SD. Tetapi karena malam ini Rey memerlukan sopir, maka dia menawarkan diri untuk membantu.
Nata bersyukur bahwa Rey akhirnya menemukan seorang wanita bukan dari kalangan selebritis, yang kelihatannya baik dan tahu sopan santun untuk dipacarinya. Vane sama sekali tidak menyadari dampak yang dimilikinya terhadap Rey yang pada dasarnya sudah bersusah payah untuk tidak melongo ketika melihat penampilannya pada malam ini.
Vane menarik nafas dan mencium aroma maskulin milik Rey yang sangat menangkan. Percampuran aroma itu dan usapan tangan Rey di punggungnya, membuat dia merasa seperti sedang merasakan kehangatan dari mamahnya saat dia sakit sewaktu kecil dulu bahkan terkadang mamahnya masih melakukan hal yang sama walaupun dia sudah dewasa.
"Mas, apa masih mau pergi, apa mau pulang saja?"tanya Nata.
Tanpa Vane sadari Pak Nata sudah berhasil menepikan mobil dan kendaraan itu kini dalam posisi diam meskipun mesin masih dihidupkan.
"Pulang saja, Pak. Antar Vane dulu balik ke rumahnya"jawab Rey tegas.
"No"ucap Vane lemah sambil menggeleng.
"Van, wajah kamu pucat dan kamu bilang kamu sakit, kita lebih baik pulang saja."
"Nggak, aku sudah baikan." Kali ini suara Vane terdengar lebih jelas. Dia berusaha turun dari pangkuan Rey.
__ADS_1
"Aku sudah berjanji untuk menemani kamu ke acara ini, aku harus menepati janji itu"bantahnya.
"Kamu nggak usah..."
"Kamu sudah menepati janji kamu. Sekarang giliran aku"potong Vane.
Rey mengerutkan keningnya ragu. Vane yakin bahwa dia sedang memperhitungkan konsekuensi yang mereka akan hadapi kalau misalnya dia memutuskan untuk menunda perkenalkan Vane kepada publik, dan Vane mencoba membuat keputusan.
"Just give a minute untuk menenangkan diri"pinta Vane dan memulai mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan-lahan.
Keheningan menyelimuti interior mobil selama beberapa menit. Rey dan Pak Nata dengan sabar menunggu hingga Vane bisa menenangkan diri. Tiba-tiba saja Rey menepuk kening Vane pelan-pelan menggunakan sapu tangannya. Ada butiran keringat di kening Vane yang Rey rasakan saat mencium kening wanita ini tadi.
Vane terlihat terkejut melihat perlakuan Rey kepadanya. Tapi Vane memilih untuk diam dan membiarkan Rey menyelesaikan aktivitasnya. Dengan penuh hati-hati Rey mengusap wajah Vane agar tidak merusak make up di wajahnya.
"Sapu tangan kamu jadi kotor"ucap Vane sendu.
"Tidak masalah, hanya sapu tangan"balas Rey acuh lalu menelungsupkan sapu tangannya ke kantong belakang dari kursi yang diduduki Pak Nata.
Rey memerhatikan bahasa tubuh Vane yang lambat laun mulai lebih relaks. Kerutan di keningnya sudah mulai hilang dan dia tahu detik di mana Vane siap sebelum berkata, "Kamu mau kalung kamu?". Ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya.
Vane menyentuh dadanya, seakan-akan baru sadar bahwa dia tidak lagi mengenakan kalungnya. Dia baru akan meraih kalung itu ketika Rey memegang dua ujung kalung itu.
"Menunduklah, biar aku yang pakaikan"perintah Rey yang langsung diikuti gerakan kepala Vane yang menunduk dan membiarkan Rey memakaikan kalung itu.
Rey menahan nafas selama melakukan ini, karena dia tahu kalau dia menghirup udara, dia akan mencium aroma vanila dari parfum Vane, dan itulah hal terakhir yang dia perlukan malam ini.
Sebelumnya, ketika Vane duduk di atas pangkuannya, dia berusaha sebisa mungkin mengontrol diri. Dia berharap bahwa Vane tidak merasakan detak jantungnya yang semakin cepat terutama saat Vane menguburkan wajah pada lehernya.
Dia hampir saja berkelakuan seperti pasukan Troya ketika menyerang Sparta, tanpa memedulikan perasaan orang yang di serang. Untung saja Rey mengangkat kepelanya dan tatapannya bertemu dengan Pak Nata di kaca tengah. Tatapan Pak Nata seperti mengingatkan untuk menjaga sopan santunnya sebagai laki-laki. Akhirnya dia harus puas hanya dengan mencium kening Vane.
Setelah berhasil memasangkan kalung itu, Rey buru-buru menjauhkan kepalanya dan membiarkan Vane melakukan beberapa perubahan pada letak kalung itu. Dengan satu hembusan napas, Vane berkata, "Oke, aku siap."
__ADS_1
Dan mobil pun bergerak lagi menuju tujuannya.