
Rey tahu bahwa Vane tidak akan langsung setuju begitu saja pada lamarannya ini, oleh karena itu dia sudah mempersiapkan berbagai macam senjata untuk meyakinkannya.
"Aku tahu kalau ini kedengaran agak gila..."
What crazy? It is more than crazy, hujat Vane.
"Coba kamu dengarkan aku dulu"sambung Rey seraya memegang bahu Vane untuk membenarkan posisi duduknya yang sedari tadi sudah memundurkan posisi duduknya seperti orang mau dicekik.
Dia tahu Vane tidak akan langsung mengatakan "iya" atas lamarannya tetapi dia tidak menyangka melihat reaksi ketakutan yang ditunjukkan wajah Vane yang biasanya memasang ekspresi datar.
Entah kenapa, tetapi hal ini agak menyakiti egonya. Selama beberapa detik dia mencoba menenangkan diri dan setelah yakin bahwa dia bisa mengontrol rasa jengkel yang mulai terasa di hatinya, Rey kemudian menatap Vane.
"Kamu nggak harus nikah sama aku betulan, ini cuma pura-pura aja"ucapnya mencoba terdengar meyakinkan.
Vane menatap wajah Rey yang sedang mencoba meyakinkannya.
"HAH???" Adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulut Vane. Otaknya betul-betul tidak bisa memproses semua ini. Bahkan Vane rasanya status nilai IQ dan EQ tinggi yang dimiliki Vane tidak membantu sama sekali. Semakin Rey mencoba menjelaskan maka semakin bingung Vane dibuatnya.
"Cuma untuk meredakan gosipku dengan Clara. Paling lama setahun, sampai soundtrack launching, film dirilis, dan tour 18 kota selesai dilaksanakan"lanjut Rey.
Vane hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak. Ini bukan kedengaran agak gila, tapi memang ini ide tergila yang pernah Vane dengar selama 27 tahun hidupnya.
"I know that this is a lot to ask, but I'm desperate. You are my last resort. I don't know how to get other choices"lanjut Rey.
*Aku tahu bahwa ini banyak untuk ditanyakan, tetapi aku putus asa. Kamu adalah pilihan terakhir aku. Aku tidak tahu bagaimana mendapatkan pilihan lain.
Rey sudah tidak peduli dengan reaksi Vane sebelumnya karena kini dia sedang membenarkan posisi tubuh Vane agar tegak sejajar dengannya.
Vane masih terdiam seribu bahasa. Oh no! Semilyar bahasa. Ini adalah lamaran paling aneh yang pernah dia dengar. Dia bukanlah penyuka hal romantis. Dia tidak mengharapkan ada laki-laki yang melamarnya menerbangkannya ke Paris dengan jet pribadi pada Malam Tahun Baru, kemudian di bawah Menara Eiffel dan taburan bintang berlutut di hadapannya sambil mempersembahkan sebuah cincin berlian empat karat. Lalu akan ada banyak bunga bertaburan yang jatuh ke tanah karena dihamburkan dari atas pesawat jet pribadi.
Tidak, Vane bukanlah tipe wanita seperti itu, tetapi dia tetap wanita yang mengharapkan setidak-tidaknya laki-laki yang melamarnya akan mengatakan bahwa dia mencintainya. Itu sebabnya dia ingin menikah dengannya, bukan karena terdesak dan tidak punya pilihan lain.
Vane menelan ludah sambil bertanya, "Why should me?"
"Karena kamu aman buat aku"jawab Rey yang kini menarik napas dalam-dalam.
"Aman?"tanya Vane bingung.
"Kamu bukan seorang selebritis, kamu pintar, punya pekerjaan yang bagus, dan bukan dari dunia entertaiment, jadi wartawan nggak akan bisa mencecar kamu. Kamu juga kelihatannya perempuan baik-baik yang nggak suka membuat onar. Kamu masih single dan nggak punya pacar, jadi nggak ada orang yang akan keberatan dengan ide aku ini. Kamu plain meskipun kalau dikasih make up mungkin wajah kamu bisa kelihatan menarik. Dan thanks for today, wartawan sudah melihat kamu masuk ke rumahku, jadi mereka nggak akan curiga dengan berita pernikahan kita. Mamahku juga pikir kalau kamu adalah kandidat yang tepat untuk mempertahankan imageku sebagai orang yang bisa dipercaya di depan masyarakat."
Hah? Ternyata Ibu Sarah sama gilanya dengan anaknya, atau bahkan lebih gila lagi.
"Yang jelas kamu bukan tipe aku, jadi nggak akan ada kemungkinan aku jatuh cinta beneran sama kamu. Itu sebabnya kamu aman buat aku"kata Rey mengakhiri argumen terpanjang dalam sejarah hidupnya.
Rey merasa seperti laki-laki paling tidak punya perasaan di bumi setelah mengatakan hal ini. Perempuan mana yang mau menikahi seorang laki-laki yang sudah menghinanya blak-blakan seperti ini? Belum lagi karena itu tidak sepenuhnya benar. Vane memang plain alias wajahnya polos tanpa make up, tapi Rey tidak bisa munafik lagi bahwa dia tertarik dengan Vane. Ada sesuatu dari diri wanita ini yang membuatnya penasaran. Jarang sekali ada wanita yang membuat Rey bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Melihat reaksi ketakutan Vane saat mendengar lamaran gila dari Rey. Intinya dia ingin mengenal wanita ini lebih dekat lagi.
__ADS_1
Vane tidak tahu apakah dia harus lebih tersinggung karena Rey berasumsi bahwa dia tidak punya pacar atau bahwa dia plan dan bukan tipenya? Akhirnya Vane memutuskan untuk berlaku dewasa dan menyatakan fakta yang lebih penting daripada apa yang dikatakan Rey.
"Kamu sadarkan aku itu seorang chef, dan aku bisa kehilangan pekerjaanku karena menikah denganmu"kata Vane menyatukan kedua alisnya.
"Ya aku sudah mempertimbangkan itu"jawab Rey.
Dalam hati Rey tertawa ketika mendengar balasan dari Vane. Perempuan satu ini memang tidak bisa ditebak.
"Kamu nggak peduli kalau aku jobles karena terima lamaran kamu?"
Memang dalam dunia per-chef-an tidak ada aturan yang menyatakan bahwa para chef tidak boleh menjalin hubungan dengan kliennya. Oh bukan itu! Maksudnya Vane akan kehilangan pekerjaannya karena waktunya akan dihabiskan menemani Rey menghadiri acara publik. Secara tidak langsung, hal ini mengharuskan Vane mengundurkan dari restoran. Tempat di mana Vane sudah bekerja hampir satu tahun.
"I hate to lose you as a chef, karena kerja kamu memang bagus, tapi aku lebih terdesak untuk cari istri."
Vane terdiam sejenak mencoba mencerna kata-kata Rey. Diamnya Vane disalahartikan sebagai persetujuan oleh Rey.
"Jadi kamu setuju dengan lamaranku, kan?"
"Aku tidak akan menyetujui apapun, sebelum kamu menjawab semua pertanyaanku"tegas Vane dengan tatapan super horor.
Rey sendiri bahkan tidak menyangka wanita yang sering memasang ekspresi datar kini telah berubah menjadi sosok manusia dengan aura horor dan mengintimidasi.
Vane menyenderkan punggung pada sandaran kursi, menyilangkan kedua kakinya dan melipar kedua tangannya di dada. Sekarang Vane tidak bingung lagi dengan apa yang diinginkan Rey darinya dan Vane sama sekali tidak terhibur dengan lelucon sampah ini.
Rey mengernyitkan dahinya, "Look at me. Aku mengerti kamu kecewa dengan lamaran ini..."
Memang Rey pikir dia siapa? Apa dia pikir karena dia adalah laki-laki paling seksi se-Indonesia maka dia berhak mengatakan semua hal yang dia baru katakan padanya tanpa membuatnya tersinggung? Tentu saja Vane tersinggung.
Rey berusaha menahan senyumnya saat melihat reaksi Vane. Untuk pertama kalinya, dia bisa melihat Vane kehilangan sopan santunnya. Wajahnya memerah karena marah, ditambah warna hijau kebiruan dari urat lehernya terlihat jelas.
Rey tahu pasti ada yang salah dari dirinya. Dan hanya satu yang ingin Rey lakukan adalah mencium wanita itu, semua bagian tubuhnya yang kini berwarna merah.
Vane melihat wajah Rey seperti sedang menertawakannya, dan Vane berusaha menahan diri agar tidak menggerutu atau yang paling kejam adalah memukul wajah Rey.
"Aku bisa membiarkan kamu tetap bekerja di restoran itu. Tapi dengan catatan harus ada pengurangan jam kerja. Kamu tidak bisa lagi bekerja seharian bahkan sampai tengah malam di restoran itu setelah menikah. Aku sudah berencana akan membayar kamu setiap bulan. Dan aku bisa kasih apa yang kamu mau"jelas Rey.
"Okay, let me get the staright..."ucap Vane perlahan-lahan.
*Okay, biarkan aku meluruskan ini.
"Kamu akan membayarku karena menikah dengan kamu?"tanya Vane.
"Plus what do you want. You just name it and it's yours"jelas Rey.
*Plus apapun yang kamu mau. Kamu tinggal bilang dan itu jadi milikmu.
__ADS_1
"Well, that sounds like prostituting to me"balas Vane.
"No no no... It is not like prostituting for you. Kamu nggak perlu berhubungan intim dengan aku sama sekali untuk semua keuntungan yang kamu akan dapatkan dari hubungan kamu dengan aku."
"Apa kita akan tidur satu kamar?"tanya Vane.
"Nggak satu kamar, tapi kita tinggal satu atap."
"Ya berarti di rumah kamu ini kan?"seru Vane sembari menghentakkan kaki ke lantai.
"Yes of course. Itu akan lebih gampang buat aku."
"Waktu kamu merencakan semua ini, apa kamu bahkan mempetimbangkan bahwa aku suka dengan pekerjaanku yang sekarang?"
"Oh, come on, gimana bisa kamu menyukai pekerjaan yang maksa kamu kerja di akhir minggu, yang membuat kamu kesulitan menyiapkan acara ulang tahun kakak kamu, dan yang bikin kamu masih single sampai sekarang?"
Vane membelalakkan matanya seraya ternganga. Rey seakan mengatakan bahwa pekerjaannya membuat dia tidak laku? Oh God! Sumpah, demi alam semesta jika membunuh manusia tidak berdosa, mungkin sekarang Vane sudah memegang pistol dan menembakkannya tepat di kepala Rey. Bahkan Vane masih ingat bagaimana usahanya menghindar dari ribuan lamaran pria yang menyukainya.
Rey meraih tangan Vane sebelum dia bisa bereaksi dan menggenggamnya dengan erat. Dan dengan tatapan dalam yang bahkan bisa mencairkan gunung es di Kutub Utara, dan Rey sedang mencoba mencairkan si gunung es itu.
Rey pun berkata, "Look, kalau kamu bisa bantu aku untuk yang satu ini, aku akan utang budi sama kamu seumur hidup aku. So please help me Vanessa Wibowo."
"Kamu yakin nggak ada orang lain yang bisa kamu nikahi? Gimana dengan teman-teman selebriti kamu? Pasti banyak dari mereka yang mau nikah kontrak sama kamu."
Vane masih berusaha mencari solusi lain untuk menyelesaikan dilema yang dihadapi Rey kali ini agar tidak melibatkannya.
"Aku nggak mau menikah sama orang dari dunia entertaiment, nanti akan mengundang lebih banyak gosip. Lagi pula, urusan perceraiannya bisa kacau nantinya."
"Gimana dengan teman-teman non selebritis kamu?"tanya Vane.
"Nggak ada yang masih mau berbicara dengan aku, karena aku sudah membuat banyak perempuan kesal."
"Kenapa mesti menikah, kenapa nggak dating saja?"
"Kalau cuma dating, bakal kelihatan bohongnya. Tapi kalau menikah kan ada suratnya dan pestanya, yang akan diliput sama media, jadi kelihatan lebih meyakinkan buat masyarakat. Mereka perlu percaya kalau aku laki-laki baik-baik dan dengan aku menikahi kamu, itu semua bisa tercapai. I mean, kalau aku memang seburuk seperti yang sudah digambarkan media, wanita baik-baik seperti kamu nggak akan mungkin mau menikahi aku, kan?"
"And that's mean I will be expose to the media?"tanya Vane.
*Dan itu artinya, aku akan terekspose media?
"Yes, and that will convince the public that we are indeed married"jawab Rey.
*Ya, dan itu akan meyakinkan masyarakat, kalau kita memang sudah menikah.
Vane menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan, menatap mata Rey dan mencoba melihat kejujuran dari matanya. Bukan kejujuran yang Vane temukan dari mata Rey, tapi perasaan putus asa karena terdesak mencari istri. Ditambah lagi gosip tentang Clara semakin santer terdengar di seluruh media.
__ADS_1